HIDUP KEMBALI!!! atau lebih tepatnya mengulang kembali, siapa yang percaya akan hal ini, hanya orang tidak waras saja yang percaya.
Tetapi percaya atau tidak percaya itulah yang Viola rasakan sekarang, gadis bernama lengkap Viola Arayla Queensya berusia 22 tahun itu hidup kembali setelah dirinya mengalami kematian akibat ke perbuatannya sendiri.
Di kehidupan sebelumnya Viola adalah gadis yang sangat jahat dan suka menyelingkuhi suaminya yang bernama Sean Algala Frendolem, bahkan dia dan kekasih selingkuhannya yang bernama Deanra berniat ingin menyingkirkan Sean.
Sedangkan Sean adalah pria yang menaruh semua perasaannya pada Viola, Sean rela melakukan apapun agar Viola bisa mencintainya. Tetapi perasaan cintanya itu di balas dengan luka, Viola bahkan secara terang-terangan selingkuh di depannya. Dengan kembalinya Viola ke masa lalu, apakah dirinya bisa memperbaiki semuanya atau tidak?
Selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak adalah Saham Masa Depan
Dua jam kemudian setelah selesai rapat terlihat Ziel yang tengah main dengan mobil-mobilan miliknya dan juga boneka dinosaurus kesayangannya yang diantarkan oleh salah satu penjaga rumah atas permintaan Ziel.
'Boy, jangan di tarik seperti itu. Nanti mejanya jatuh dan mengenai kakimu" Sean menatap was-was putranya yang tengah bermain
'Zieler?" panggil Sean tegas membuat Ziel menoleh sambil menatap takut daddy-nya
'Apa yang daddy katakan tadi?" tanya Sean berjalan mendekat pada Ziel yang menunduk takut
'Lain kali kalau orang yang lebih tua darimu berbicara maka dengarkan Zieler, itu untuk kebaikan mu. Apa kamu paham?" Sean mengangkat Ziel ke atas sofa sambil memberikan aura yang tajam
'Kamu paham?" tanya Sean kembali
'Iya, Iel paham" jawab Ziel pelan
'Yang keras!" ucap Sean dengan intonasi yang sedikit meninggi
'Iya, Ziel paham daddy" jawabnya mulai terisak
Sean menghela nafas berat, di sentak begini saja sudah menangis bagaimana jika dirinya benar-benar marah? Bisa saja putranya itu terkencing-kencing di celana. Sean hanya takut jika meja kaca itu melukai tubuh putranya, wajar saja dirinya khawatir. Orang tua mana yang rela anaknya terluka? Sean rasa tidak ada orang tua yang mau anaknya terluka.
'Ya sudah, daddy ada rapat di luar. Mau ikut atau sama uncle saja?" Sean mengelus rambut Ziel yang masih terdiam
'Mau sama daddy" ucapnya terisak sambil memeluk leher daddy-nya erat
'Maafin Iel, Iel salah" isaknya membuat Sean tersenyum kecil
'Baiklah daddy maafkan, lain kali jangan di ulangi lagi okay?" Sean membalas pelukan putranya
Sean mengingat saat usianya seumuran Ziel hidupnya penuh drama, tidak ada pengakuan dari sang daddy yang membuatnya besar tanpa figur seorang ayah.
'Ayo kita pergi" ajak Sean menggendong putranya
'Bos, sudah mau pergi?" tanya Ray melihat Sean keluar dari ruangannya
'Yeah, aku tidak suka orang yang tidak tepat waktu" jawabnya
'Berkas-berkas kerjasamanya sudah kamu siapkan?" tanya Sean saat memasuki lift
'Tentu saja sudah, kita hanya tinggal menunggu kedatangan Mr. Liam" kata Ray mencubit pipi Ziel yang terlihat ingin tidur
'Kamu berniat membawa Ziel masuk? Kupikir di dalam ruangan itu akan ada beberapa botol wine dude, itu tidak bagus untuk mata Ziel" ujar Ray
Pertemuan kali ini adalah sebuah pertemuan antar dua perusahaan, yang dimana Mr. Liam adalah keturunan Italia-indonesi. Sama halnya seperti Sean. Tentu saja pertemuan ini akan menghidangkan makanan dan minuman yang mengandung alkohol.
'Siapkan sirup berwarna untuk Ziel" ucap Sean
Ray pun buru-buru menghubungi pihak restoran untuk menyiapkan minuman sehat untuk Ray, sehingga Ziel tidak bertanya-tanya nantinya mengenai minuman itu.
Ziel berjalan di samping daddy-nya sesekali menatap interior design restoran itu, menurutnya tidak ada yang menarik. Tiba-tiba saja Ziel merindukan kedua saudara kembarnya yang sepertinya masih sekolah.
'Ada apa boy?" tanya Sean yang melihat wajah sedih putranya
'Iel kangen kakak" ucapnya cengeng
'Mau pulang di antar uncle Ray?" tawar Sean
'Tidak mau, Iel mau sama daddy" jawabnya pelan
'Baiklah, nanti jika rapatnya sudah selesai kita langsung pulang, okay?" Sean tidak mau putranya merasa tidak nyaman
'Okay" jawabnya polos
Ray yang melihat interaksi keduanya hanya bisa tersenyum kecil, kehidupan Sean sangat berbeda dengan sebelum Viola berubah menjadi wanita yang menyayangi Sean. Ray bersyukur kehidupan Sean baik-baik saja, seandainya istrinya dan calon anak mereka masih hidup di dunia ini pasti kehidupannya juga bahagia.
'Maaf membuat Mr. Frendolem menunggu lama" ucap pria yang usianya sekitar 40 tahun bersama dengan asisten pribadinya
'Tidak apa-apa Mr. Liam, kami juga baru sampai" jawab Sean sopan
Keduanya berbincang-bincang dengan asisten pribadi mereka mencatat sesuatu yang penting, sedangkan Ziel kecil hanya mendengarkan sambil menatap Mr. Liam dengan tatapan polos.
'Saya dengar Mr. Frendolem memiliki tiga anak kembar?" tanya Mr. Liam yang lebih cocok sebuah pernyataan daripada pertanyaan
'Mr. Liam bener, Tuhan memberikan saya kesempatan memiliki tiga anak kembar, ini putra bungsu saya namanya Zieler Felix Frendolem. Ayo kenalan dirimu boy" Sean mengelus lembut rambut Ziel
'Halo, namaku Iel" sapaannya dengan wajah tampannya
'putra anda begitu sangat tampan, saya merasa jika Mr. Frendolem sangat beruntung memiliki tiga anak kembar itu artinya Mr. Frendolem memiliki tiga saham untuk masa depan" ucapnya terkekeh membuat Sean mengernyit heran sedangkan Ray sudah memperlihatkan wajah kesalnya tetapi Ray mencoba menahannya
'Apa maksud anda Mr. Liam?" tanya Sean tersenyum sopan
'Mr. Frendolem jangan seperti ini, bukankah di dunia bisnis anak itu adalah sebuah saham" kekehnya membuat Sean langsung diam
'Anak-anak yang lahir di lingkungan orang kaya harus bisa memberikan jaminan dan keuntungan untuk keluarganya di masa depan sebagai bentuk terimakasih, kebetulan saya memiliki cucu perempuan yang baru lahir sebulan yang lewat, bukankah ini sebuah takdir. Saya pikir lebih baik kita menjodohkan mereka saja, bagaimana Mr. Frendolem?" tanya Mr. Liam menawarkan
Sean hanya bisa menahan rasa kesalnya dan amarah yang sudah dia tahan, apa tadi katanya? Anak adalah saham masa depan? Dan anak yang lahir di lingkungan orang kaya harus balas budi atas kelahirannya? Omong kosong macam apa itu!. Sean tidak pernah berpikir jika ketiga anaknya adalah sebuah saham, Sean begitu bersyukur dengan kehadiran ketiganya yang bisa mengobati rasa kesepiannya, baginya kelahiran anak itu sebuah anugerah dan sebuah hadiah dari Tuhan untuk dititipkan pada orang tua dimana pun mereka berada.
'Saya tidak ada pikiran untuk ke arah sana Mr. Liam, bagi saya anak itu adalah sebuah hadiah yang dititipkan oleh sang pencipta untuk kita. Dan mengenai perjodohan, menurut saya ini masih terlalu dini. Putra saya masih kecil untuk mengetahui apa itu perjodohan, dia akan memiliki hidup dan jalannya sendiri, tugas saya menjadi orangtuanya mendidiknya dan memberikan kebutuhan yang layak untuknya, mengenai masa depannya itu tergantung pilihannya" jelas Sean dengan senyuman hangat
Terlihat wajah Mr. Liam yang berubah pias mendengar penjelasan Sean, padahal dia sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari karena menurutnya Sean akan menyetujuinya seperti rekan kerja yang lain.
'Saya pikir kerja sama ini tidak bisa di lanjutkan jika Mr. Frendolem tidak menyetujui ucapan saya mengenai perjodohan antara anak anda dan cucu saya!* ucapnya mengancam membuat Ray kesal sedangkan Sean hanya tersenyum kecil
'Ternyata gosip mengenai Mr. Liam yang suka menjual anak itu memang benar, jika Mr. Liam tidak mau saya bisa apa. Baiklah saya pikir pertemuan ini cukup disini saja" ucapnya berdiri sambil menggendong Ziel yang terlihat mengantuk
'Dan mengenai kerjasama ini, saya pikir Mr. Liam tau bagaimana sistem kerja perusahaan kami. Bagi saya kehilangan satu kolega bisnis tidak akan berpengaruh terhadap perusahaan saya. Saya juga ingin menegaskan, setiap anak itu bebas memilih apa yang akan mereka jalani. Kami permisi" pamit Sean diikuti oleh Ray sedangkan Mr. Liam terlihat begitu marah dengan semua perkataan Sean
🍓🍓🍓
riri-can
Endingnya koq agaq gantung ya 🤭