NovelToon NovelToon
Sebuah Harga Diri

Sebuah Harga Diri

Status: tamat
Genre:Pelakor / Nikahmuda / Selingkuh / Tamat
Popularitas:40.2k
Nilai: 5
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

Amydia telah bertunangan dengan Heru, lelaki pujaan hatinya. mereka telah menjalin kasih sejak masih di bangku SMA, hingga keperguruan tinggi.

Tinggal sebulan lagi, mereka akan mengadakan resepsi pernikahan. Tapi, disuatu malam yang naas, Amydia menjadi korban perkosaan, seorang laki-laki karena pengaruh obat perangsang.

Heru sangat kecewa, tetapi tetap menikahi, Amydia tunangannya. Karena takut disebut lelaki pengecut.

Akankah kehidupan rumah tangga Amydia dan Heru akan berjalan indah, paska Amydia di per**sa. Akankah cinta Heru luntur? Apakah Amydia tau siapa lelaki yang telah melecehkannya?

"Sebuah harga diri" akan mencoba mengupas pergolakan batin seorang Amydia, dalam memperjuangkan harga dirinya dan masa depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Hari H pembukaan tempat pariwisata alam yang di kelola Dinas pariwisata bekerja sama dengan swasta di kota yang lebih di kenal nama Kota Salak, akhirnya tiba.

Panitia begitu sibuk mengurus segala sesuatunya agar berjalan dengan lancar, sehingga para tamu undangan tidak kecewa dengan penyelenggaraan mereka. Mulai dari komsumsi, dekor, dan ***** bengek lain dipersiapkan semaksimal mungkin.

Apalagi dengan hadirnya tamu kehormatan yang disinyalir sebagai insvestor yang telah banyak menanamkan modal demi terwujudnya wisata alam yang akan memberi banyak income untuk daerah setempat.

Terlebih Amy yang menjadi salah satu panitia, yang bertanggung-jawab langsung untuk menyambut tamu dari kota. Sangat antusias menyiapkan berbagai acara, dan demi terselenggaranya setiap kegiatan itu dengan baik, dia mencurahkan perhatiannya tidak tanggung-tanggung.

Selentingan kabar yang sempat beredar, tamu itu adalah pengusaha yang menanamkan modalnya, bekerja sama dengan pemerintahan daerah.Dalam mewujudkan pariwisata alam itu.

Masih muda, tampan, lajang lagi! Itu, cerita yang sempat Amy dengar dari rekannya, Riri, saat bergosip dengan Evi di kamar hias.

"Eh, kamu tau gak, Vi, tamu kita itu seorang pengusaha muda, lo. Lajang n tampan, kaya lagi, hihi...." Riri mulai mengupas bahan gosip.

"Trus, kamu naksir gitu?" cebik Evi sinis, sengaja menyiram bensin.

"Is, kondisikan dulu tuh, bibir. Ntar ada yang liat pada kabur semua," ejek Riri.

"Jangan ngehalu terlalu tinggi, Ri." timpal Farid.

"Suka-suka gua, kok situ yang kevanasan, sih?"

"Ye, dasar. Diingetitn malah bawel."

"Situ yang bawel, omongan cewek di kepoin."

"Sudah, sudah kok malah ribut sih. Fokus sama pakaiannya udah rapi, belum." Amy mengingatkan kostum masing-masing.

"Eh, sortaliku dimana, tadi aku letakin disini," teriak Riri panik.

"Makanya jangan ceriwis, jagain benda kecil aja, gak becus!" ejek Farid. Tuh, jatuh di bawah kakimu."

"Vi, tolong ambilin dong. Aku gak bisa, nih. Aduh! Pakaian ini ribet banget, gue gak bisa bebas gerak." Tangan Riri, meraba-raba dibawah kursi. Tapi karena pakaian adat yang ia kenakan membuatnya tidak bisa bebas bergerak

"Apa susahnya sih, minta tolong." Farid mengambil sortali yang jatuh di bawah kursi.

"Kalo gak ikhlas gak usah diambilin. Gitu aja repot," balas Riri sewot.

"Ya, ampun kedua makhluk astral ini, dari tadi bikin rusuh terus. Kerasukan apa ini. Ayo bergegas, waktunya dah makin mepet." Tegur Bonar, membuat suasana hening.

"Tau, keduanya lagi kesentrum cinta kali," ucap Evi sambil memoles lipstik ke bibirnya. Cantik juga aku, dalam balutan ulos ini," pujinya memantas dirinya di depan cermin.

"Muji diri sendiri, gak boleh," Farid mengingatkan.

"Iya, iya. Tapi benarkan aku cantik?" tanya Evi konyol. Dengan gaya sok santiknya ala Sahrial.

"Dahlah, pada korslet kali semua orang disini. Bikin gerah!" rutuk Farid, ngeloyor pergi.

"Amy, ulos dan pakaian adat untuk para tamu dimana?" tanya Bonar. Dia barusan dapat chat dari Pak Zack.

"Udah aku serahkan sama Bu Wiwik. Tanyain dulu, siapa tau lupa bawanya." sahut Amy, yang sedang mengikatkan sortali ke kepala Riri.

Bonar mengetik di ponselnya, membalas chat Pak Zack.

"Kain ulosnya, ada sama Bu Wiwik, 'kan?" ucap Amy, memastikan.

"Iya, ternyata sudah dikasih Bu Wiwik ke tamu kita. Sekalian membantu mengenakannya."

"Halo, semuanya udah siap, gak. Waktu kita udah mepet ini. Jangan sampai kita keduluan sama tamu." ucap Amy, memeriksa keempat pasangan yang akan menortor menyambut para tamu.

"Oke, yang sudah siap berdandan bisa tunggu di depan. Kalau mau sarapan, boleh, tepat jam enam jemputan akan datang." Amy mengingatkan kembali.

Teng! Tepat jam 8:30 acara penyambutan tamu dimulai. Arak-arakan tamu sudah datang disambut tarian tor-tor. Kilatan lampu blizt dari para wartawan yang meliput acara pembukaan tempat wisata alam saling beradu. Mengabadikan setiap momen.

Masyarakat begitu antusias menyambut dibukanya arena taman wisata alam, "Aek Nauli" yang artinya air yang cantik.

Wisata alam "Aek Nauli itu letaknya sangat strategis. Lokasinya didaerah perbukitan, sehingga jatuhnya air membentuk air terjun yang sangat jernih, dan exotic.

"Selamat datang Pak Pram, Pak Vino dan rombongan. Saya sebagai ketua panitia penyambutan bapak dan ibu sangat senang dengan kedatangan karena telah meluangkan waktu untuk datang secara langsung dalam pembukaan wisata alam, Aek Nauli." potongan pidato Pak Zack mengawali acara demi acara.

"Penarinya cantik-cantik," bisik Vino ke telinga Pram. Pram yang tengah menikmati sajian tor-tor tersenyum saat mendengar bisikan, Vino.

"Pilih saja, salah satu dari mereka. Terus lamar." Saran Pram konyol.

"Gak salah omong nih, aku sudah punya calon. Sepertinya kamu yang masih jomblo," tohok Vino. Membekukan senyum dibibir Pram. Candaan Vino menyelusup sukses ke lubuk hati Pram.

"Sorry, bro. Cuma becanda, serem kali tuh netranya." kekeh Vino.

"Beruntung sekali kamu hari ini. Kalau gak, kamu pasti dah gue jadiin perkedel. Pakaian adat ini, telah meredam amarahku." rutuk Pram lalu kembali memperhatikan tor-tor dihadapannya.

Saat itulah, Pram seperti melihat sekelebat bayangan seorang wanita yang dia rindukan beberapa bulan ini.

Pram mengucek matanya, memperjelas penglihatannya. Namun bayangan itu sudah menghilang. Padahal tadi dia jelas melihat bayangan itu ada diantara kerumunan orang-orang yang menyaksikan pertunjukan tor-tor.

"Kamu kenapa, Pram?" Kamu baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Hanya saja aku seperti melihat seseorang yang kukenal. Ah, sudahlah ini hanya ilusi." Pram menggelengkan kepalanya.

"Emang kamu liat siapa?"

"Amy, Amydia, mantan sekretarisku itu. Sudah enam bulan dia menghilang entah kemana."

"Oh,"

"Kenapa? Emang kamu kenal?"

"Gak sih, hanya saja seperti pernah dengar nama itu." Vino agak gugup menjawab pertanyaan Pram.

"Dimana? Aku, 'kan gak pernah cerita sama kamu? Iya, aku pernah cerita tapi gak nyebut inisialnya. Kok, kamu merasa pernah kenal?" Tatap Pram curiga.

"Hem, aku lupa pernah dengar dimana tapi sepertinya aku memang pernah dengar." Vino berusaha mengingat- ingat, tapi tetap saja lupa.

"Ah, aku ingat sekarang!" sentak Vino tiba-tiba. Lupa kalau mereka tengah di tempat rame. Beberapa tamu mendelik ke arah mereka.

"Pak, tolong fokus pada acara." Bisik Alya dari belakang, mengingatkan.

Vino merangsek ke tempat duduknya.

"Udah, nanti aja kita bicara." Bisik Vino ke Pram. Pram hanya menganguk saja. Mereka kembali fokus melihat tarian tor-tor yang lumayan juga sebagai hiburan.

Aplaus yang diberikan para penonton cukup meriah, bergema mengakhiri pertunjukan tarian tor-tor lalu digantikan acara lain.

Serangkaian acara demi acara berlangsung hikmad, dan terselenggara dengan sukses hari itu. Acara yang direncanakan berlangsung hingga malam.

Jika waktu siang, acara dilaksanakan terbuka untuk umum, acara malam ini khusus untuk kalangan kantor dinas, dan jajarannya. Tujuannya adalah untuk lebih mendekatkan para pelaku utama bisnis pariwisata dan investor.

Pertemuan yang dimulai dengan acara makan malam, terasa lebih rileks. Panitia menyiapkan suasana yang lebih hangat berbeda dengan acara tadi siang yang kesannya lebih semarak.

Pram dan Vino telah duduk satu meja dengan Pak Zack. Mereka menikmati sajian makanan tradisional khas Kota Salak, berupa jajanan pasar. Seperti dodol (alame) yang terbuat dari tepung ketan. Dodol salak, keripik.

singkong, wajik.

Untuk menu makan malamnya, terhidang, Ikan mas bakar, Holat, Pakkat, gulai ikan mas. Bahkan gulai bulung gadung ( daun ubi tumbuk ) yang dipadukan dengan ikan salai.

"Sebentar ya, Pak. Sebelum acara makan malam ini, kita tunggu dulu seseorang datang duduk bersama kita.

Ibu ini adalah staf kami di kantor dinas. Beliaulah yang ada dibalik semua acara ini. Maaf, sepanjang siang tadi beliau tidak sempat kami kenalkan karena kesibukan beliau di balik layar."

"Oh, tidak apa-apa, Pak. Apakah sajian makanan ini juga adalah idenya?" ucap Vino, yang telah menahan air liurnya sejak tadi

"Boleh dikata begitu. Katanya biar lebih khas kota ini."

"Eh, sebentar ya, pak. Sepertinya saya kenal sosok di sana. Permisi, sebentar ya, Pak."

"Gak apa-apa, Pak. Silahkan saja." ucap Pram.

"Selamat malam Pak Heru, sebuah kehormatan Bapak hadir malam ini."

"Selamat malam juga, Pak Zack."

"Mari, Pak, saya antar ke tempat duduknya."

"Trimakasih, Pak." Heru mengikuti langkah Pak Zack ke sebuah meja berseberangan dengan meja, Pram.

"Maaf Pak, saya tinggal dulu. Saya ada di meja sana," tunjuk Pak Zack ke meja Pram.

"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga tengah menunggu seseorang." Pak Zack kembali mengunjungi meja Pram.

"Siapa, Pak?" tanya Pram ingin tahu.

"Tamu undangan kita, juga. Tadi pagi tidak sempat hadir. Baru malam ini beliau sampai."

"Bos, lupa siapa dia?" bisik Arif.

"Hem, emang siapa?" Arif berbisik ketelinga Pram. Sejenak ekspresi wajah Pram berubah. Lalu normal kembali.

"Dia itu manager perusahaan XY, rekanan kerja kita juga. Baru bercerai dari istrinya, jelas Vino berbisik ke telinga, Pram.

"Oh, iya." Pram mengamati sosok Heru, baru kali ini Pram melihat sosok Heru sedekat ini.

Heru yang tidak menyadari kalau dirinya tengah diperhatikan seseorang, melambaikan tangannya ke seseorang yang naru muncul di pintu.

Pram, mengikuti arah pandangan, Heru. Disana berdiri sosok Alya. Alya dengan anggunnya melangkah mendekati meja, Heru. Mereka berbisik sebentar lalu, Alya duduk semeja dengan, Heru.

"Jaga pandangannya, Pram. Orang bisa salah paham nanti?" kekeh Vino. Pram mendengus.

"Nah, tamu yang kita tunggu sudah datang," ucap Pak Zack spontan. Pram dan Vino memandang kearah pintu. *****.

1
Ika Marbun
singkat padat jelas ga bertele-tele
lanjut terus thor
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indahnya
Sungguh mantap sekali 🌹🌹🌹🌹🌹
Terus lah berkarya dan sehat selalu ✌️
Yunerty Blessa
wow... mantap kak thor..
Yunerty Blessa: Sama kasih kak thor
total 3 replies
Yunerty Blessa
betul sekali Pram... nanti dibilang penyibuk 🤣
Yunerty Blessa
Menyatu nya Pram dan Amy ada campur tangan Arya...
Yunerty Blessa
cari kesempatan dalam bilik mandi 🤭🤣🤣🤣
Yunerty Blessa
syukurlah ,Amy telah selamat menjalani pembedahan melahirkan...
Yunerty Blessa
#Heru
Yunerty Blessa
salah sendiri terlalu mencari kesempurnaan, kau rasa diri mu juga terlalu sempurna...
Yunerty Blessa
kasian Heru...beli baju baby untuk teman dan bukan untuk diri sendiri 😒
Yunerty Blessa
berarti kembar lelaki..
Yunerty Blessa
sabar Pram 🤣🤣
Yunerty Blessa
sabar Pram, begitu lah kalau isteri lagi hamil..
Yunerty Blessa
semoga Amy hamil..
Yunerty Blessa
seharian buat baby,apa tak sakit badan 🤭
Yunerty Blessa
malam yang di tunggu² untuk sepasang pengantin baru... olahraga malam untuk mencetak gol 🤭
Yunerty Blessa
sabar Pram...tiga bulan sekejap saja...
Yunerty Blessa
kalau begitu, terima lah lamaran Pram.. apa lagi kedua orang tua Pram juga menyukai mu..
Yunerty Blessa
syukur lah,Amy bisa di terima di keluarga Pram..
Yunerty Blessa
pasti orang tua Pram setuju kerana mereka juga suka dengan Amy..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!