NovelToon NovelToon
Ketulusan Untuk Saliya

Ketulusan Untuk Saliya

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Spiritual / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: El Geisya Tin

Namaku Saliya, aku disukai seorang pria bernama Rizal, yang menurutku terlalu sempurna, aku sempat menolak saat ia mengajakku menjalin hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan. Aku justru memilih mantan pacarku, tapi Rizal tidak menyerah hingga akhirnya kami menikah.
namun, kebahagiaan rumah tanggaku ternyata menyedihkan.
Ayo baca kisah ku di sini, ya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Terberat

Ujian Terberat Bagiku

“Apa itu cuti?” tanya Ziddan dengan polosnya.

“Artinya Ayah libur kerja!”

“Oh! Asyiik!” wajah Ziddan cemberut dan ceria secara bergantian saat bicara. Meskipun tidak rela melepaskan ayahnya, tapi akhirnya ia mengerti dan meneruskan sarapan yang belum selesai.

Lalu, Rizal melangkah ke arahku, memeluk dan menciumi wajahku juga, sama seperti yang dilakukan pada anaknya. Seolah-olah kami baru saja berjumpa setelah sekian lama. Aku jadi terharu dan melankolis, enggan melepasnya, padahal dia bilang cuma mau pergi sebentar saja.

Setelah itu, Rizal menyalakan motor dan menjalankannya keluar halaman sambil melambaikan tangan.

“Ayah pergi dulu, ya!” katanya pada kami yang masih berdiri di teras rumah. Ada seulas senyum yang berbeda ia tunjukkan. Begitu manis, begitu hangat, teduh dan ... entah apa lagi yang bisa menggambarkannya. Ia terlihat lebih tampan dari biasanya.

Aku dan Ziddan mambalas lambaian tangannya dengan enggan, kalau bisa menunda waktu atau jam yang berdetak, maka aku akan melakukannya demi diriku dan dirinya. Perasaan berat dan entah apa yang ada dalam dadaku ini adalah penyebabnya.

Ziddan selesai sarapan, aku langsung pergi ke sekolah usia dini yang ada di desa kami, dengan motor matic milikku sendiri. Aku menunggu sampai sekolah usai seperti biasanya dan anak itu melalui semua rangkaian acara di sekolah dengan lancar dan tanpa drama.

Sampai siang hari, di rumah, aku menunggu Rizal, begitu pula dengan Ziddan yang terus menanyakan kapan ayahnya pulang, karena berjanji hanya sebentar. Aku masih menyiapkan makan siang istimewa, padahal biasanya aku masak seadanya karena hanya berdua. Aku lebih mengutamakan makanan Ziddan saja.

Hatiku tergerak untuk menghubunginya, karena gelisah dan sudah rindu rasanya ingin segera bertemu muka. Maklum, kami biasa melakukan panggilan video setiap pagi. Walaupun tadi kami bertemu secara langsung, tapi tidak puas rasanya kalau tidak menelepon.

Aku menekan nama pada layar gawaiku, dengan sebutan paling istimewa, Rizal My Beloved Qowwam. Ya, karena dialah pemimpin dan penanggung jawab tercintaku.

Sekali panggilan langsung di angkat, seperti itulah Rizal, yang akan selalu meluangkan waktunya demi aku walau, sedang sibuk sekalipun.

“Assalamu’alaikum!” sapaku lebih dulu, begitu benda pipih itu menempel di telingaku.

“Hallo! Selamat siang! Bu?” sapa suara di seberang dan membuatku kaget. Ya, aku terkejut setengah mati karena bukan suamiku yang membalas salamku dengan kalimat seperti itu.

Sekonyong-konyong jantungku berdetak dua, tiga atau empat kali lebih kuat, getarannya merambat ke seluruh tubuh dan otakku. Menimbulkan gelombang kegelisahan yang luar biasa besarnya. Pikiran buruk langsung datang tanpa diminta.

“Maaf! Ini siapa, ya? Ini, kan, hp suami saya!” Aku hampir tidak bisa mengendalikan emosiku. Tentu saja aku tidak suka, siapa yang tidak kaget ada orang lain yang memakai benda suamiku tercinta.

“Apa benar ini, dengan Ibu Saliya, istri dari Bapak Rizal?” kata suara asing itu lagi, dengan intonasi tenang, teratur dan sopan.

“Iya, benar! Ada apa ya, Pak?” tanyaku lagi, penasaran.

“Saya dari kepolisian, Bu!” kata pria di seberang, “Kami informasikan sekarang Bapak Rizal sedang berada di rumah sakit!”

Astaghfirullah! Apa yang terjadi?

Hatiku lebih berdebar lagi. Bahkan, jantungku seolah detakannya berhenti. Aku sudah berpikir buruk hingga mataku langsung dialiri air.

“Apa maksudnya ini, ya, Pak?”

“Jadi, begini, Bu! Pak Rizal menjadi korban tabrak lari, dan setelah ketahuan, langsung kami larikan ke rumah sakit umum Daerah. Tolong segera di cek, Bu. Kami bersedia membantu dan kami tunggu kedatangan Ibu, untuk memastikannya di rumah sakit! Kecelakaan terjadi jam sembilan pagi tadi, di jalan persimpangan menuju tol Jagarani!” polisi itu memberi penjelasan secara resmi.

Tanpa menunggu telepon diakhiri, aku sudah tak kuat lagi berdiri dan telepon itu mati secara sepihak. Dengan tangan dan kaki yang gemetar aku melangkah ke sofa dan menghubungi saudara ibuku yang rumahnya dekat sekali dengan rumah sakit itu.

Alhamdulillah, bude Runi mau datang ke rumah sakit dengan suka rela, untuk mengecek kebenaran beritanya. Sementara aku menutup makanan di meja, dan tanpa memperbaiki penampilan, aku berniat ke rumah sakit, dengan ojek online. Aku tidak sanggup kalau harus bawa motor sendiri. Tubuhku sudah lemas. Keringat dingin sudah membanjiri seluruh badan dan debaran jantungku masih belum normal lagi.

Aku hanya memakai pakaian dan jilbab seadanya, yang aku sambar dari ruang tamu tadi.

Namun, niatku ke rumah sakit, terhalang saat Bude Runi meneleponku dan dia sukses mencegah kepergianku ke rumah sakit. Ia hanya mengatakan kalau aku harus sabar menunggu suamiku di rumah serta aku harus bersiap. Perasaanku semakin remuk redam.

“Apa maksudnya ini Bude? Kenapa aku harus bersiap? Bersiap untuk apa?”

“Sal, kamu harus sabar, suamimu sudah meninggal! Jadi, kamu nggak usah ke sini, pasti lama, kan, rumahmu jauh kalau mau ke rumah sakit! Biar bude saja yang mengurus jenazah suamimu di sini, nanti, ada ambulans yang mengantarnya pulang!”

Ucapan Bude Runi itu sontak saja menghancurkan pijakan kakiku. Merontokkan persendianku dan meruntuhkan bangunan hati, lengkap dengan harapan besar yang aku bangun sejak lama. Dunia ini seolah hanya aku sendiri, sepi, tidak ada orang lain lagi.

Aku segera berlari ke kamar setelah Bude Runi selesai menelepon dan aku menangis sejadi-jadinya di sana. Aku tidak ingin ketahuan oleh Ziddan, dan melihat ibunya menangis. Ibunya cengeng, dan ibunya sedih serta terluka oleh takdir Tuhan yang terasa tidak nyata.

Jiwaku serasa mati sebelahnya dan aku hanya hidup dengan separuh napas saja. Sakit! Sakitnya lebih sakit dari saat putus cinta, atau saat ayah meninggal dunia. Bahkan, lebih sakit dari saat aku mengira Rizal selingkuh dengan teman kantornya.

Ini ujian terberatku, cobaan terbesarku. Kehilangan terhebatku. Kehilangan suami itu seperti kehilangan separuh hati. Apalagi suami seperti Rizal.

Aku mengalami hidup yang sempurna bersamanya, jalan berliku yang aku temui setelah menikah dengannya tidak banyak. Gelombang yang menerpa pun hanya riak-riak kecil saja. Namun, semua tidak lama, hidup bersamanya ternyata hanya sebentar saja.

Sungguh tidak ada hidup manusia yang sempurna.

Takdir membuatku putus dengan Rizki, lalu aku pun menikah dengan Rizal, ternyata hanya sebagai jalan menghantarkan nyawanya di saat kami benar-benar tengah bahagia. Aku tidak percaya, benar-benar tidak percaya kalau Tuhan mengambil nyawanya. Bahkan, di saat anaknya belum dewasa.

Kalau tahu begini, kenapa aku tidak membuat anak yang banyak saja beramanya? Sungguh penyesalan adalah sesuatu yang percuma.

Tangisanku tidak bisa berhenti, aku berteriak sekuat tenaga hanya untuk melepaskan sesak di dada. Aku dalam kondisi denail, tidak menerima kenyataan.

Benarkah ini takdir yang harus aku jalani dengannya? Sungguhkah, harus secepat ini mereguk indahnya membina mahligai rumah tangga? Tidak ada laki-laki seperti dia, Tuhan. Lalu, kenapa justru Engkau memanggilnya? Sementara aku menjadikan dia sebagai satu-satunya tumpuan dan harapan, lantas kenapa bukan orang lain saja?

Pertimbangan Bude Runi benar, aku lebih baik ada di rumah dan mengkondisikan diri sebelum kedatangan jenazah nanti. Kalau aku menyusulnya ke sana, pun hasilnya akan sama saja. Bude Runi bersedia mengurus semuanya dengan cepat, dari pada menungguku datang, akan memakan waktu lebih lama.

Dua jam lebih menunggu, tangisku sudah reda, kalau bukan karena Ziddan, mungkin aku akan menangis seharian di kamar kami yang seluruhnya dipenuhi kenangan bersamanya.

Anak itu membutuhkan aku, aku tidak boleh sedih di hadapannya.

Aku sempat berpikir jernih saat menangis sendiri, sementara Ziddan sedang menonton kartun kesukaannya.

“Wahai diriku, kamu bisa memilih, apakah akan terus terpuruk atau mengikhlaskannya pergi, dia kembali ke pangkuan Tuhan, yang cinta-Nya lebih besar dari cintaku padanya. Membiarkannya memenuhi panggilan Tuhan, yang kasih sayang-Nya melebihi kasih sayangku dan Ziddan padanya!”

Aku pun berdiri kembali, menghapus air mata dan bersikap biasa di depan anakku satu-satunya. Aku tidak boleh lemah di matanya karena akan membuatnya semakin terluka.

“Ibu, Ayah mana?”

❤️❤️❤️❤️

1
luxius
bagus luar biasa
El_Tien
😭😭😭😭😭😭😭😭
El_Tien
iya bener aku setuju
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
ALLAH tau kemampuan hambaNYA. sesakit apapun itu, harus tetap kuat bertahan hingga waktu kita berakhir. 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
AwanMendung26: Assalamu'alaikum. 🌻
Halo, kak. Jika berkenan mampir di cerita aku juga, yuk! Judulnya Jodoh Untuk Syakayla. 🌻

Terima kasih. 🌻
total 3 replies
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
innalillahi.... 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
ziddan anak yg pintar.
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
baguslah rizky sudah berubah. semoga rizal & saliya akur2 ya
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semoga rizal kembali dengan selamat berkumpul dengan saliya & anaknya
🔥⃞⃟ˢᶠᶻ🦂⃟ᴘɪᷤᴘᷤɪᷫᴛR⃟️𝕸y💞hiat
wow ada nama mantan di hape?? apalagi calling,mau ngapaim tuh
AwanMendung26: Assalamu'alaikum. 🌻
Halo, kak. Jika berkenan mampir di cerita aku juga, yuk! Judulnya Jodoh Untuk Syakayla. 🌻

Terima kasih. 🌻
total 1 replies
El_Tien
udah aku revisi
Dede01
cerita yang bagus semoga sukses
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
kenapa harus begitu?
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
zidan koq kampungan sih? Annisa aneh ih.
El_Tien: eh, itu Ilmara, salah tulis nama 👉😊😔
total 1 replies
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
ini bu ibu yaaa... bukannya nasehatin yg bagus2 aja, malah bikin saliya khawatir dengan suaminya selingkuh. kacau ya
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
nariya unik, saliya baik, siapa nama anak saliya?
Elmimar02
cerita yang menarik ayo buruan baca
El_Tien: terima kasih atas dukungannya
total 1 replies
Pipitz👻ᴸᴷ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
bahagia liat dirimu kenapa mantan ya
AwanMendung26: Assalamu'alaikum. 🌻
Halo, kak. Jika berkenan mampir di cerita aku juga, yuk! Judulnya Jodoh Untuk Syakayla. 🌻

Terima kasih. 🌻
total 2 replies
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semoga anak saliya sehat2 ya
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸: alhamdulillah
total 2 replies
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
naria komentarnya memang aneh ya. bukannya kasih selamat, malah begitu
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ: 😁😁😁😁😁😁😁anu banget
total 2 replies
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
pasti rizal ikut menyaksikan saliya melahirkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!