Selena Putri Himawan seorang gadis yatim piatu berusia 18tahun,yang harus selalu bekerja keras untuk hidupan melanjutkan sekolahnya. Untuk semua alasan itu, gadis yang sehari-hari di panggil Selly itu, terpaksa harus bekerja paruh waktu di sebuah restoran.
Suatu hari, Selly tidak sengaja bertemu dengan Alviandi Wijaya, seorang Ceo muda berusia 25 tahun, yang terkenal dengan kecerdasan, ketampanan dan kesuksesannya dalam memimpin perusahaan milik mendiang sang ayah.Yaitu, Wijaya Group hingga menjadi perusahaan nomer 1 di wilayahnya,dengan cara yang kurang menyenangkan.
Semuanya memang di miliki oleh seorang Alviandi Wijaya,tapi ada satu hal sangat penting yang tidak bisa dimiliki seorang yang nyaris sempurna sepertinya. Yaitu, penglihatan.
Satu hari, terjadi kesalahpahaman antara Selly dan Alvin yang memaksa mereka harus menikah.Apakah yang terjadi sebenarnya???, dan apakah pernikahan yang terpaksa itu,akan bisa bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keisya Putr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam pertama
Pagi hari ,Selly membuka matanya perlahan. Ia merasakan nafasnya sedikit sesak dan kakinya yang terasa berat dan mulai kesemutan ,seperti tertindih sesuatu. Selly mengerjabkan mata dan mengumpulkan nyawanya.
whattt?, astagfirulah posisi apa ini??. Pantesan aja gue gak bisa napas!.
Selly membulatkan matanya, setelah menyadari bagaimana posisi tidurnya bersama Alvin saat ini. Alvin tidur dengan memeluk Selly dari belakang. Ah tidak,lebih tepatnya saat ini Alvin sedang menjadikannya sebagai guling super nyaman. Dengan kedua lengannya mendekap leher Selly, dan satu kaki jenjangnya menindih kedua kaki milik Selly, membuat sang empunya tak berkutik.
" Vin,bangun! " Ucap Selly, berusaha melepaskan tangan Kekar yang berada di lehernya.
" Hmmm." Alvin hanya bergumam dan semakin mengeratkan pelukannya sehingga membuat Selly kelabakan.
" Vin,bangun!!, uhuk! ,uhuk!. Lo gila ya?, pagi- pagi gini udah mau bunuh orang?! " Namun sama sekali Alvin tak terganggu dengan ucapan Selly, malah terlihat semakin nyaman dengan mimpinya.
Katanya gak sudi nyentuh gue!. Tapi, coba lihat!, dia bahkan gak mau lepasin gue sama sekali. Malah makin kenceng aja nih tangan!.Gak tau apa gue udah kehabisan napas gara- gara di jadiin guling kayak gini!!.
"Vin, bangun!!. Lo hampir bunuh gue tau gak!.Bangun dong!!,lepasin tangan lo, gue gak bisa napas ini!."
Ocehan Selly sama sekali tidak di dengar oleh Alvin, sehingga membuatnya kesal .Karena benar-benar sudah kesultanan oksigen.
Katanya punya pendengaran super peka,tapi apa? .Nyatanya gue udah ngoceh dari tadi dan sama sekali gak ada pergerakan!.Kita lihat aja Vin, gue yakin lo gak bisa ngelak lagi sekarang.
Senyuman jahil tersungging di bibir Selly, dan sedetik kemudian.
" Alvin!!!, bangun!!!.Dasar kebooo!!!!. "Selly berteriak sambil memutar kepala untuk melihat bagaimana reaksi Alvin .
" Akhhh!,apaan sih Hans?!. teriak- teriak aja pagi-pagi! " Ketus Alvin sambil mengucek matanya.
Apa???? Hans!. Dia kira gue Hans!. Wahhhh ngelantur nih orang!.
" Heh, setan!. Ini gue. Lepasin tangan lo sekarang! ."
" Hah,apa?!! " Alvin tersadar namum tak menyadari bagaimana posisi tidurnya saat ini.
" Lepasin tangan lo!. Gue gak bisa napas tau!. "
" Hah! lepas? "
" Aelah,katanya genius!.Menurut lo apa?, apa lo udah pikun sekarang? "Alvin mencerna ucapan Selly dan mulai mengingat apa yang terjadi padanya.
" Gimana?. Apa udah inget sekarang?. Atau masih loding?. Huh, katanya gak sudi nyentuh gue. Tapi, gue gak yakin sekarang. " Sindir Selly.
" Hah?! " Alvin begitu terkejut setelah menyadari bahwa ia sedang memeluk Selly saat ini .Dengan cepat Alvin melepas kungkungannya dari tubuh Selly dan bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apapun.
" Huh, akhirnya!. Gue bisa napas lagi." Selly mengelus dadanya, sambil tersenyum mengingat ekspresi bodoh seorang Alvin yang baru saja ia lihat.
" Ternyata dia manusia juga ya? .Gue kira orang genius kayak dia gak pernah loding!.Eh, tenyata, londingnya ngelebihin si Alice .hahaha!!" Selly tertawa puas dengan apa yang ia lihat barusan.
Sedangkan di dalam kamar mandi ,Alvin terus meruntuki kebodohannya dalam hati .Sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Sial!.Bisa-bisanya lo meluk tu mampir Vin!!,gak bisa gini. Lama- lama bisa gila gue!.
Dua puluh menit kemudian, Alvin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuhnya sebatas pinggang ke bawah, dan tubuh atasnya yang sempurna terpampang nyata di depan mata Selly, yang baru saja selesai merapikan tempat tidur. Dan mengambilkan baju ganti untuk suaminya.
" Akhhh,mata suci gue!!! " Pekik Selly, refleks menutup matanya dengan tangan.
"Lo, bisa gak sih pake kimono aja kalo mandi? " Ketus Selly.
" Gak! " Jawab Alvin dingin.
" Ishhh, lo!. Ngeselin banget sih! " Kesal Selly, nemilih segera masuk ke kamar mandi .
" Baju lo di atas tempat tidur,kalo gak suka pilihan gue, lo bisa ambil sendiri terserah lo! " Ucap Selly, sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi, yang masih saja ketus.
Sedetik kemudian pintu tertutup dengan kasar oleh Selly .Namun tak di hiraukan oleh Alvin, yang memilih segera memakai bajunya dan bergegas keluar dari kamarnya.
" Vin ,mana istrimu? kenapa kamu tidak bersamanya?." Tanya Rina pada Alvin yang baru saja duduk di sofa.
" Mandi Mi," Jawab Alvin datar.
"Ohh."
" Wessss pengantin baru,udah ganteng aja pagi-pagi! " Goda Hans yang baru saja keluar dari kamarnya, dan duduk di sebelah Alvin.
" Diem lo! " Ketus Alvin, yang setia dengan wajah datarnya.
" Selow bos,selow.Jadi gimana malam pertamanya, berhasil gak lo bobol gawangnya kakak ipar.?? " Tanya Hans, mengangkat kedua alisnya.
Plak!.
" aduh!, sakit woi!!. Nyesel gue manggil lo bos!. " Dengus Hans, sambil mengusap kepalanya yang di hadiahi pukulan cukup keras oleh Alvin. dan tak ada jawaban darinya.
" Tante... Eh, mami! " Ucap Selly, yang baru saja bergabung dengan mereka yang saat ini sudah berpindah ke ruang makan, dan memeluk erat mertuanya.
" Hmmm, menantu mami cantik sekali pagi-pagi. Hayo,apa yang terjadi semalam? " Goda Rina mengedipkan sebelah matanya.
" Emang apa yang terjadi?. Perasaan semalem Selly langsung tidur karena kecapekan ,dan ngantuk banget. Dan apesnya, Selly udah sesek napas aja pagi-pagi, gara-gara di jadiin guling sama anak mami!!. " Ucap Selly, yang masih merasa kesal dan tidak menyadari apa maksud dari pertanyaan Rina, dan juga tidak menyadari apa yang ia ucapkan.
" bBuwaaahahaha!!. Jadi, malam pertamanya gak ada acara jebol gawang nih.?. Pantesan ditekuk aja tuh muka!!. " Ucap Hans sambil mengarahkan dagunya pada Alvin yang duduk berseberangan dengannya.
" Hah!. " Selly membulatkan matanya setelah menyadari apa yang ia ucapkan. Dan tiba-tiba pipinya menghangat.
" Haha. Gak usah malu kakak ipar ku yang cantik,makin imut aja sih kalo pipinya merah gitu." Selly refleks menutup kedua pipinya dan membuat tawa Hans makin menjadi.
Pletak!!
Sebuah sendok mendarat di kepala Hans. Siapa lagi pelakunya kalo bukan Alvin.
"aduh!, sakit Vin!. main lempar- lempar aja lo!" Kesal Hans, sambil memegangi kepalanya sedangkan sang pelaku hanya memasang wajah tanpa dosa. Membuat Selly menahan tawanya.
" Bilang aja ,kalo lo cemburu kan sama gue?! .Lo takut kalo kakak ipar yang cantik ini ,berpaling sama gue karena bosen sama suaminya yang dinginnya kayak kulkas lima pintu! "Cerocos Hans.
" Diem lo! "
" Kakak ipar, kakak ipar sama aku aja ya. Jangan mau sama kulkas ini, nanti beku. Mendingan sama Hans Angkasa Putra yang ganteng ini." Ucap Hans menyombongkan diri.
Selly hanya bisa nyengir kuda menanggapi ucapan Hans yang membuatnya mual.
" Sudah-sudah!.Alvin, Hans!. Kita di sini untuk sarapan .Bukan mau perang sendok!" Ucap Rina menengahi saat Alvin hampir melempar sendok kearah Hans.
" Selly kamu duduk ya ,sebelah Alvin! " Perintah Rina dengan lembut.
" Iya mi, " Selly menuruti ucapan sang mertua dengan senang hati. Karena memang ia sudah sangat lapar.
" Ini makan, udah gue ambilin " Ucap Selly sambil meletakkan sepiring nasi goreng di depan Alvin.
" Hmm." Hanya itu jawaban dari Alvin, yang langsung menyantap makanannya. Selly tak ambil pusing dengan jawaban Alvin, dan memilih melahap makanannya karena sudah sangat lapar. Sementa Rina menatap keduanya dengan senyum bahagia