Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?
Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]
Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Maya Untuk Mengerti
Maya mendengar suara seseorang masuk ke rumahnya, dengan segera Maya mendorong kursi rodanya untuk melihat siapa yang datang dan ternyata itu adalah teman-teman Maya.
Terlihat Ayana sedang membopong Ifraz dan Dilan mengajak Ifraz bermain. Maya merasa lega karena temannya yang datang, awalnya Maya takut kalau orang asing yang masuk ke rumahnya.
''Syukurlah ternyata itu kalian,'' kata Maya seraya mengusap dadanya.
''Kamu sendirian aja, May? Adik kamu mana?'' tanya Dilan.
''Gala pergi kuliah tadi,'' kata Maya, setelah itu Maya mempersilahkan untuk mereka duduk.
''Sebentar aku ambil minuman dulu!'' kata Maya dan Dilan menghentikan Maya.
''Biar aku aja, May!'' ucapnya seraya bangun dari duduknya, sesampainya di dapur Dilan melihat boto-botol berserakan lalu Dilan membereskan itu lebih dulu, mencuci semua botol itu dan Dilan berteriak memanggil Maya.
''May! Kamu mau bikin susu buat Ifraz?''
"Iya,'' jawab Maya dari ruang tengah.
''Makasih ya, kalian datang tepat waktu,'' kata Maya, bibirnya bergetar menahan tangis.
''Nggak apa-apa, May. Jangan menangis, ada kita yang selalu akan nemenin kamu!'' jawab Ayana yang masih menimang Ifraz.
Mendengar itu Maya mengusap air matanya yang lolos dari pertahanannya.
Setelah itu datang Dilan membawakan susu untuk Ifraz. ''Ini untuk Ifraz!'' kata Dilan seraya memberikan susu itu pada Ayana.
''Terimaksih!'' ucap Maya, wanita itu menyunggingkan senyum pada dua sahabatnya. Setelah itu Dilan memeluk Maya, menguatkan wanita yang sedang rapuh itu!
Lalu Ayana menanyakan semua kenapa bisa seperti ini, membuat Maya kembali menangis, melihat itu membuat Dilan dam Ayana saling menyikut.
''May, kalau kamu belum bisa cerita enggak apa-apa kok. Kami enggak maksa,'' kata Dilan dan Maya menjawab dengan menganggukkan kepala mulai menceritakan semua pada dua sahabatnya.
''Kamu masih ingat wanita yang ada di hotel sama Mas Biru?'' tanya Maya pada Ayana.
''Ingatlah masa lupa, maaf May, aku lihat rumah tangga kalian baik-baik saja tapi kok bisa suami kamu nyerong?'' tanya Ayana yang masih menimang Ifraz.
''Dia bilang khilaf dan sekarang perempuan itu hamil!'' lirih Maya, wanita itu memalingkan wajahnya tak membiarkan dua sahabatnya itu melihat Maya menangis, perlahan menghapus air matanya.
''Kamu sabar ya, May!'' kata Dilan, wanita sedikit berisi itu tidak tega melihat sahabatnya terluka.
Setelah mereka saling bercerita dan mendengarkan sekarang Ayana memesan makanan untuk mereka makan siang.
****
Sementara itu, Biru masih menunggu balasan pesan dari Maya, pria itu mendengus sebal membuat Ran yang sedang memeriksa berkas segera bertanya,
''Apakah ada yang salah, Tuan?''
''Ya, apa yang salah dengan Maya sampai dia tidak mau membalas pesanku, lihat semua pesan masuk di ponselku, semua dari Hafizah,'' jawab Biru yang menggerutu seraya menunjukkan isi ponselnya pada Ran.
Melihat itu, Ran hanya menarik nafas dalam. Tetapi hatinya merutuki Tuannya yang bodoh, ''Yang bersalah itu anda bukan nyonya!' Ran pun memilih untuk tidak menanggapi Biru yang terlihat gusar.
Tetapi, lama-lama Ran merasa tidak tahan. ''Lebih baik Tuan pergi untuk melihat Nyonya,'' usul Ran dan Biru tanpa berkata lagi pria itu langsung bangun dari duduknya dan keluar dari ruangannya.
Ran menggelengkan kepala.
****
Biru segera memarkirkan mobilnya, setelah itu, Biru melajukannya perlahan. Pertama Biru ingin mencari buah-buahan dan aneka makanan untuk Maya dan Hafizah tanpa membedakan, semuanya sama pikir Biru supaya adil.
Sesampainya di rumah Maya, Biru segera turun dari mobilnya, berjalan dengan cepat membawakan bingkisan itu untuk istrinya.
''Assalamualaiku!'' seru Biru seraya mengetuk pintu dan seorang wanita muda berpakaian seragam berwarna pink membukakan pintu.
''Maaf cari siapa?'' tanyanya yang baru pertama kali melihat Biru.
''Saya suami Maya, ada?''
''Ada, silahkan masuk,'' wanita itu mempersilahkan Biru dan segera pergi memanggil Maya.
Tetapi Biru begitu lama menunggu Maya, membuat dirinya tidak sabar dan segera menyusul Maya ke kamarnya.
''May, aku datang,'' lirih Biru yang berdiri di pintu.
Maya diam saja, ia masih merajuk pada suaminya, lalu Maya mengambil surat cerai yang sudah ditandatangani olehnya.
''Aku sudah tandatangan, sekarang giliran kamu!'' kata Maya dan Biru membaca surat itu, pria itu merasa kesal setelah mengetahui Maya ingin bercerai darinya.
''Aku tidak akan pernah menceraikanmu!'' jawab Biru dengan tegas.
''Tapi aku mau bercerai, aku tidak mau di madu dan lebih baik kita bercerai karena kamu sudah tidak mengerti aku lagi!''
Setelah mengatakan itu Maya keluar dari kamar meninggalkan Biru yang terduduk di ranjang.
Biru merobek kertas yang berada di tangannya, ''Tidak ada yang akan bercerai!''
Setelah itu Biru mengejar Maya dan berlutut di depannya.
''Maya, bisakah kamu mengerti perasaanku seperti Hafizah? Dia baru mengenalku tapi dia memahami ku, May.''
Sedangkan Maya, wanita itu merasa semakin sakit hatinya telah dibandingkan oleh suaminya.
''Kamu pinter ya, Mas. Kelewat pinter tau nggak!'' ketus Maya seraya menyingkirkan tangan Biru yang berada di lututnya.
''May. Izinkan aku membuktikan kalau aku bisa berlaku adil!''
''Di sini aku tidak mau itu Mas, yang aku mau kamu utuh mencintaiku! Tanpa membagi cinta, keputusanku sudah bulat, kalau kamu tidak bisa meninggalkannya biarkan aku yang pergi, aku mengalah aku merestui kalian! Sekarang aku mau kamu pergi dari sini!'' Maya mengusir suaminya, tetapi Biru tidak mengindahkan permintaan Maya.
Lelaki itu memilih duduk di ruang tengah, bermain dengan Ifraz yang sedang bersama dengan suster.
''Kemarin menolak aku carikan suster sekarang sudah ada suster!'' gerutu Biru dalam hati.
Sementara Maya hanya diam saja, memperhatikan Biru yang sedang melepas rindu dengan anaknya.
''Kenapa, kenapa Mas?'' batin Maya teriris saat melihat Biru menciumi putranya.
''Seandainya kamu tidak mendua, mungkin sekarang keluarga kita bahagia seperti dulu tanpa adanya orang ketiga,'' batin Maya.
Sementara Biru merasa kalau ponselnya terus bergetar dan itu adalah Hafizah yang meminta ditemani untuk kontrol kandungannya.
Biru membuka pesan itu dan membacanya, setelah itu Biru pamit pada Maya kalau dirinya harus mengurus Hafizah.
Maya memalingkan wajahnya, tidak mau mencium punggung tangan Biru membuat Biru menarik kembali tangannya.
''Aku pergi dulu,'' kata Biru yang kemudian pergi meninggalkan rumah Maya.
Dan langkah Biru tertahan saat Maya kembali meminta ponselnya, ponsel yang berharga bagi Maya karena di sana tersimpan banyak kenangan.
''Ya, nanti akan ku bawakan!'' jawab Biru tanpa melihat Maya. DIrinya merasa bodoh karena telah menyalahkan Maya sebelumnya yang tidak membalas pesan itu.
****
Maya kembali menangis di kamarnya, tidak tahan lagi mendengar suaminya menyebut nama wanita lain di depannya.
Tiga jam berlalu, sekarang Maya meminta pada Gala untuk mengikuti suster baru yang membawa Ifraz jalan sore ke taman.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like dan dukungannya ya, biar aku makin semangat lagi up nya, terimakasih bagi yang sudah membaca^^