Afkar Giovani Nararya si ketua kedisiplinan Sekolah SMA N TUNAS BANGSA, di nikahkan dengan Hanindya Kayesa si Ratunya terlambat, dan mereka terkenal tidak akur satu sama lain
Di tambah keseruan teman sekelas yang gila gila mewarnai
Seperti Tom and Jerry bagaimana mereka menjalani bahtera pernikahan mereka?
bagaimana mereka menyikapi situasi yang memaksa mereka menjadi orang dewasa di usia mereka yang masih remaja?
Bagaimana mereka menyembunyikan status pernikahan mereka dari pihak sekolah agar tidak di keluarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon P TututhPern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Hanin meregangkan tubuhnya setelah melakukan perjalan jauh.
" ugh... Dinginn... " Ciara mengusap lengannya sendiri karena udara puncak yang memang sangat dingin.
" makanya Cel, pakai baju tebal " Zain yang baru turun dari mobil ikut berdiri di samping mereka.
" woi... Vilanya mana? " Aryan yang membawa salah satu mobil bertanya karena tidak melihat penginapan.
" di depan lagi "
" lah kenapa singgah? " tanya Aryan. Hanin menatap dua orang di sampingnya
" lah bener, ngapain lo berdua ikut singgah? " tanya Hanin
" gue ikut lo, lah si Zina ini yang ngapain beda mobilkan dengan kita " ucap Ciara. Zain cengir
" yeee... si ege " ucap Hanin dan Ciara bersamaan.
" kalian duluan, gue mau minta kunci dulu " suruh Zain berjalan mendekati sebuah rumah.
" mana gue tau tempatnya, njir... yang punya tempat kan lo " sungut Aryan
" bukan temen gue " ucap Hanin melihat wajah bodoh Zain yang menatap bingung.
" Cia, Hanin masuk mobil " suruh Afkar, dua gadis itu berbarengan masuk " sudah enakan? " tanya Afkar karena memang Hanin sedikit pusing perutnya juga serasa kembung makanya dia minta berhenti.
" Ma, gue bawa minyak kayu putih " Sasya mengambil minyak kayu putih dari ranselnya dan menyerahkan ke Hanin.
karena memang cewek 11 IPS 1 cuma ada lima ekor jadi mereka satu mobil dan dikemudikan Afkar.
Begitu sampai mereka semua saling pandang menatap bangunan besar di depan mereka, berlahan kepala mereka menoleh ke Zain yang fokus membuka kunci gerbang Villa.
" lo... siapa? " tanya Aryan " wah.. lo bukan kompeni gue "
" gue Zain lah. Zain malik mantan personel wandireksion " jawab Zain yang mendapat sorakan para cewek
" gilaaaa.... ini Villa apa istana? " seru Miya " woi serius kita bisa nginap sini? "
" keluarga lo ngak keberatankan? " tanya Hanin
Zain tidak menjawab, Afkar meliriknya dia menghela nafas
" dingin gue ayo masuk " seru Afkar mendorong pelan punggung teman temannya masuk, begitu semua masuk dia mendekati Zain menepuk punggungnya " mereka hanya kaget, it's okey mereka bakal tetap sama "
" WOI NGAPAIN SIH NGERUMPI MULU... DINGIN GUE " seru Hanin di depan pintu yang belum terbuka.
" sana " Afkar mendorong pelan punggung Zain
" peluk papa gih biar ngak dingin " sungut Zain yang mendapat pukulan di kepalanya sama Afkar.
" masih pagi " ucap Afkar, Zain hanya tertawa bodoh
Suasana puncak yang dingin membuat mereka memilih meringkuk di depan tv, malas bergerak.
" Ma... gue lapar... " Baim merengek bodoh menarik narik selimut Hanin
" masak sana " Hanin menepis tangan Baim
" mau makan apa? " Alga berdiri dari duduknya.
" pak Cheefffff... " seru mereka, Alga mendengus
" kami makan apapun yang di masak, racun sekalipun " Miya berseru Dramatis
" dih lo aja " ucap Hanin
" nih cewek di kelas ini ngak ada yang bisa masak apa? anjir ngak guna banget jadi cewek " ucap Alvin menarik selimut menutupi kepalanya
" lo yang lebih ngak guna " Sabrina berujar melemparkan Alvin bantal.
" Cia bisa masak " cetuk Hanin, Ciara meliriknya mendengus " dia yang selalu masak di rumahnya "
" cocok jadi mba mba di rumah gue tuh. tenang saja gue ngak nentuin tinggi bada-akkhhh.... " Zain meringis karena rambutnya sudah di tarik Ciara " Cii... rambut gue rontok.. "
" gue ikut ke dapur deh " Hanin menyibak selimutnya mengikuti Alga yang berjalan lebih dulu." Hah.. nih anak kelas kapan kalemnya sih? "
" Kasih pak Juan, semuanya pasti mingkem " Alga berujar mengambil bahan makanan dari kulkas " Ma, tolong ambilin panci besar "
" mau buat apa? "
" sup " jawab Alga membawa sayuran ke wastafel untuk di cuci " lo mau banymtuin gue "
Hanin meletakka panci di atas kompor " ngak, cuman mau liatin lo doang, kali aja ilmu lo bisa pindah ke gue " cetuk Hanin asal, Alga menggelengkan kepalanya
" makanya sesekali baca buku resep jangan kamus sama rumus mulu " Kata Alga dia mengambil air bersih dan memasukkannya ke panci.
#
" itu si Mama tumben nurut ke dapur " Ciara bertopang dagu menatap ke arah dapur melihat Hanin yang menggerutu karena terus diprotes Alga
Afkar yang mendengar cetukan Ciara melirik ke arah dapur juga, semenjak beberapa hari lalu semenjak insiden masakan asin Hanin, gadis itu sudah lebih serius belajar memasak, bahkan dia lebih banyak menonton acara memasak masak sekarang entah di TV ataupun di youtube.
Afkar berdiri menyusul Hanin dan Alga melihat apa yang akan di masak.
" ditipisin aja, Ma " ucap Alga dia sibuk memasukkan beberapa bahan masakan ke dalam panci
" hidup lo plin plan banget, tadi lo bilang tebalin sekarang di tipisin yang konsisten dong " gerutu Hanin menatap kesal Alga
" gue chef dan lo asisten gue, nurut saja kenapa? "
" anjir " umpat Hanin
" Mulutnya Nin " tegur Afkar, dua orang itu menoleh. Afkar berjalan mendekati Hanin mengambil pisau dan wortel di tangan Hanin " kalau di kasih tau itu denger... bukan membantah " Hanin mendengus kesal.
" ngapain juga lo disini? noh anak anak lo pada menggila di luar " tanya Hanin, Afkar hanya mengedikkan bahunya.
Afkar memotong sedikit dan memperlihatkan ke Hanin sebelum memberikan kembali pisau ke Hanin, cowok itu hanya memberi contoh setelahnya dia hanya bersandar memperhatikan Alga dan Hanin memasak sesekali menegur Hanin.
#
Afkar mengusap lengannya sendiri sambil berjalan keluar kamar, padahal malam sudah larut tapi dia tidak bisa tidur padahal temannya yang lain sudah mengorok semua. Afkar memicingkan matanya melihat perempuan yang sangat di kenalinya duduk menonton Tv
" kenapa belum tidur "
Hanin tersentak dia langsung menoleh dan bernafas lega mendapati itu Afkar.
" kenapa belum tidur? " tanya Afkar lagi dia duduk disamping Hanin
" anak anak cewek lo tidurnya grasak grusuk semua " keluh Hanin
" Nin "
" hm? "
" bagi selimut " Hanin meliriknya kesal tapi membaginya juga, bagi Hanin juga Afkar bersentuhan kulit bukan hal memalukan lagi karena tidak jarang saat bangun pagi posisi mereka berpelukan entah Afkar yang meluk Hanin atau sebaliknya.
" jangan mepet jauh jauh "
" selimutnya kecil ege... " ucap Afkar. " ngapain juga bawa selimut kecil "
" lo yang ngapain keluar ngak bawa selimut ege " Hanin mendengus.
Afkar tidak menyaut lagi dia memilih menyandarkan kepalanya di bahu Hanin dan ikut nonton
" kibul banget ni tv, ya kali jatuh dari gedung tinggi ngak mati. " komentar Hanin
" namanya juga film Nin " Afkar ikut komentar
" tapikan sesekali bikin yang sesuai kenyataan kek, kalau jatuh dari gedung itu sudah pasti badannya hancurlah. jatuh dari lantai tiga saja banyak yang tidak selamat lah ini? lantai tiga puluh coy " Afkar terkekeh mendengar komentar Hanin.
" nonton saja, jangan banyak komentar kasian sutradaranya " ucap Afkar dia meraih tangan Hanin memperhatikan jari jarinya, terutama jari manis tempat cincin nikah tapi Cincin itu tidak di pakai, Afkar yang memakainya sebagai bandul kalung sekalian dengan cincin cowok itu.
" itu cincin gue jangan lo ilangin mahal soalnya " cetuk Hanin tiba tiba.
" tau kok mahal " jawab Afkar " tapi apa gue jual aja ya? "
" coba saja kalau berani " Afkar tertawa dengan gemas dia mengacak rambut Hanin
" ya ngaklah, ya kali gue jual. "
Hanin mengubah posisi duduknya menghadap Afkat tapi karena selimut yang kecil jadinya jarak mereka lumayan dekat. tangan Hanin bahkan menyebrang ke sisi lain tubuh Afkar.
" kata Mama lo yang beli cincinya, bener? "
" hm... asal lo tau saja, Mama itu aslinya pelit " ucap Afkar
" gue laporin entar kalo pulang " Afkar menjitak kening Hanin
" dasar cepu, main lapor "
" woi ngapain lo berdua " Afkar dan Hanin menoleh mereka mendesah lega karena hanya Sabrina " sudah malam ngak usah sok romansa romansa. "
" lo sendiri ngapain bangun, gangguin tau ngak " ucap Afkar, Sabrina memutar bola mata jengah
" gue haus mau minum " jawab Sabrina " kalau mau romantisan tunggu pulang ke rumah. ke gep baru tau rasa "
" gue bawa buku nikah. tidak bakal di arak " jawab Hanin enteng.
" kalian sudah nikah? " Alvin yang hawa keberadaannya sulit dirasakan tiba tiba muncul di belakang Sabrina dengan mata setengah terpejam. " pantas sikap lo berdua aneh " Alvin berujar setelahnya dengan santai ke sofa panjang membaringkan badannya di sana
" lah... kenapa dah tuh anak " komentar Sabrina. Hanin dan Afkar saling pandang sebelum melihat Alvin yang kembali tidur
" ngigo dia "
*****;
tbc
dan 2024 anakku lahir ta kasih nama hanindya😍
kangen sama karya baru nya mak 😂