NovelToon NovelToon
Aku Wanita Terhormat

Aku Wanita Terhormat

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:330.9k
Nilai: 5
Nama Author: Marina Monalisa

Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.

Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31. Tangis Meisa Pecah

Ruangan tampak sunyi, Meisa yang enggan berlalu dari ruangan suaminya memilih untuk melaksanakan sholat di ruangan itu saja.

“Sayang, ingin sholat dengan Mommy?” tanya Meisa lembut pada Naina.

“Mau, Naina mau sekali Mommy Mey.” bocah kecil itu tampak menunjukkan wajah bahagianya setelah beberapa waktu Meisa tak menghiraukan dirinya karena syok.

“Ayo kita ambil wudhu dulu.” Meisa membawa Naina dan meminta pada Aditya untuk menjagakan suaminya.

Untuk yang kesekian kalinya Aditya terpanah dengan jiwa keibuan Meisa. “Mei, andai kita di takdirkan, andai kau tidak memiliki suami.”

Cukup lama Aditya menatap kepergian Meisa yang menggandeng tangan mungil putrinya. Akhirnya ia tersadar dengan bisikan setan itu. “Astaga apa yang aku pikirkan?” umpatnya sembari menggelengkan kasar kepalanya.

Sementara di ruangan yang sama, Rere tampak berbaring memainkan ponselnya menunggu kedua orangtuanya datang. Wajahnya terus menunjukkan kekesalan karena panggilannya masih di abaikan oleh kedua orangtuanya.

“Kemana sih Mamah sama Papah? Apa mereka sama sekali tidak mengkhawatirkan aku?” Panggilan yang kelima puluh kalinya kini masih tak ada jawaban bahkan panggilannya sudah di tolak oleh sang Mamah.

Kemarahan Rere semakin terlihat, napasnya sudah tampak memburu. Aditya yang tidak mengenalnya hanya sesekali memperhatikan kemudian ia kembali fokus dengan laptop miliknya.

“BRAK” Aditya kaget bukan kepalang saat Rere membanting ponselnya hingga berserakan di lantai.

Meisa yang baru selesai melaksanakan sholat di ruangan itu juga melirik ke arah Rere. Masih hening, mereka tidak ingin mencampuri bahkan kepo dengan kehidupan wanita asing itu.

Naina dan Meisa yang baru selesai melaksanakan sholat kini mendekati Aldi dan juga Aditya.

“Daddy, kapan-kapan kita sholat bareng sama Mommy yuk.” Aditya tersenyum mendengar ajakan polos putrinya sembari mengelus puncak kepala Naina.

Sedangkan Meisa menatap dalam penuh harap pada sang suami. “Mas, cepatlah sembuh. aku harap apa yang di katakan wanita itu semua tidak benar. Meski pun ucapannya ada yang membuatku merasa ingin percaya dengannya. Tapi aku yakin, kamu suamiku yang baik. Pernikahan kita sedang di uji. Bangunlah Mas. Berikan aku ketenangan.”

Meisa yang terus terlihat tenang sudah mulai merasakan aura orang asing mendapat pintu di rumah tangganya dengan Aldi.

“Mei, sebaiknya istirahatlah. Aldi akan sadar pasti. Sekarang kau harus menjaga kesehatanmu. Ada janin yang harus kau jaga di sana.” ucap Aditya perlahan setelah menutup laptop kerja miliknya.

“Iya, ucapanmu benar. Aku harus sehat demi anak dan suamiku. Naina ayo tidur sama Mommy sini.” Meisa mengajak Naina untuk merebahkan tubuh di sofa. Sedangkan Aditya akan tidur di sofa yang satunya.

“Enak sekali dia, Aldi begitu menyayanginya. Dan sekarang pria itu juga sangat perduli dengannya. Sementara aku? Tidak Mei. Aku tidak akan membiarkan kau merasakan kasih sayang dari Aldi lagi. Aldi milikku. Kau hanya pendatang di kehidupan kami.” Rere tampak tidak rela jika Meisa akan memenangkan hati Aldi, pria yang selama ini begitu susahnya untuk ia taklukkan dan sekarang telah mendapat jalan, tentu Rere tidak akan menyia-nti akan hal itu.

Perasaan ambisi Rere sepertinya telah menutup hati dan pikirannya saat ini. Bagaimana ia bisa setega itu pada Meisa yang sama-sama sebagai seorang wanita dan tengah mengandung. Tidakkah Rere kasihan membayangkan hancurnya hati seorang istri jika saat ia tengah mengandung dan saat itu juga cintanya hancur karena hadirnya orang ketiga.

Seharusnya sesama wanita ia bisa jauh lebih paham bagaimana sakitnya hati ketika mengetahui suaminya tengah bermain di belakang.

Meisa, Aditya dan Naina sudah terlelap tanpa memperdulikan tatapan sinis dari Rere.

Tok

Tok

Tok

Tiga kali ketukan pintu terdengar, mata Rere sudah bisa menduga jika itu pasti adalah kedua orangtuanya yang baru selesai dengan urusan mereka masing-masing.

“Dari mana saja Mamah sama Pa-“ Belum sempat Rere bertanya dengan kedua orangtuanya, matanya membulat saat melihat sosok wanita paruh baya yang membuka pintu itu.

“Maaf Non, Bibi datangnya telat. Habis siapin barangnya Nona Rere.”

Rere yang semakin kesal benar-benar tidak habis pikir dengan perlakuan acuh kedua orangtuanya. Bagaimana bisa mereka sesibuk itu sementara anaknya masih berada di rumah sakit.

“Mana mereka?” tanya Rere dengan membuang pandangan. Ia enggan menatap pembantunya itu.

Bi Lia, pelayan di rumah Rere yang selalu menjadi pengganti sosok orangtua Rere. Ia tampak tidak tega melihat keadaan majikannya saat ini, namun harus bagaimana lagi. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain menjalankan tugasnya sesuai dengan perintah.

“Tuan dan Nyonya mereka...” Bi Lia tidak tahu harus berbohong apa lagi.

“Sudahlah aku lelah.” Rere memilih untuk memejamkan matanya. Bi Lia terlihat sangat sedih.

“Kasihan anda Non, Bibi tahu anda sangat membutuhkan kasih sayang orangtua anda. Semoga Tuan dan Nyonya segera sadar.”

Jika semua telah terlelap di dalam ruangan itu, kini berbeda suasanya di sisi Bu Nirmala. Wanita itu tampak berpikir keras bagaimana agar Meisa tidak lagi menderita.

Ia duduk di sudut tempat tidurnya sesekali tangannya memijat keningnya. Sungguh malam yang membuatnya lelah karena harus berpikir keras. “Aldi benar-benar tega. Bisa-bisanya selama ini aku dan Meisa sama sekali tidak menaruh curiga dengannya? Apa ini yang membuat Meisa merasa tidak enak terus?”

Ia menatap hampa langit-langit kamarnya, pikirannya terus berputar mencari jalan yang terbaik untuk putrinya. Sudah cukup semua yang mereka alami selama ini. Bu Nirmala tidak ingin hidup mereka menderita lebih lama karena perbuatan Aldi.

Pikiran yang terus berselancar entah kemana, hingga wanita itu tak sadarkan diri telah terlelap dengan posisi duduk.

Waktu berputar begitu cepat, memutari angka yang tertera di benda persegi itu. Dentingan jam yang terus menunjuk angka itu kini sudah berada di angka enam. Menandakan bahwa pagi telah siap menyambut aktifitas seluruh penghuni di muka bumi ini.

Manik mata hitam legam itu kini perlahan membuka, setelah tidur panjangnya membuat otot di tubuhnya begitu tegang akhirnya ia kembali bisa merasakan udara dingin dengan aroma obat sedikit bercampur di ruangan itu.

Meisa yang entah sejak kapan sudah berada di sisinya masih terlelap dengan tenangnya. Namun terlihat jelas mata bengkak yang kini di tangkap oleh netra milik Aldi. Tangan yang masih tertempel jarum infus perlahan bergerak dengan penuh kekuatan yang ia kumpulkan meski terlihat bergemetar.

“Maafkan aku membuatku cemas, Mei.” ucapan Aldi perlahan keluar meski pelan namun terdengar oleh Meisa.

Tangan yang terasa mengusap lembut rambutnya membuat wanita pemilik rambut itu membuka pelan matanya dan mengangkat kepalanya yang tertidur di sisi ranjang sang suami. Wajahnya tak bisa menampik kebahagiaan lagi.

“Mas Aldi, kamu bangun Mas? Mas aku sangat mengkhawatirkan kamu Mas? Kamu jangan pergi lagi, Mas. Aku takut.” tangis Meisa pecah di pagi hari yang masih kabut.

Semua yang ada di ruangan pun bangun karena terkejut. “Hei jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja. Kasihan anak kita, Mei.” tutur Aldi.

Meisa langsung memeluk tubuh sang suami, ia menangis tersedu-sedu. Sungguh ketakutan yang nyata bagi setiap wanita terutama seorang istri jika sang suami mengalami hal buruk. Siapa pun tidak akan kuat menghadapinya.

Melihat tangisan Meisa, rasa bersalah Aldi semakin besar. Bagaimana ia bisa setega itu menghianati sang istri yang mencemaskan dirinya sedangkan ia tengah menikmati pelayanan dari wanita lain yang berstatus istri keduanya?

1
falea sezi
kn bukan anak. aldi ngapain tanggung jawab
falea sezi
karma di byar kontan akirnya si pelacur mati
falea sezi
kapok karma pelakor wanita gatel itu perebut suami orang
falea sezi
g jijik apa ya Mei ma aldi tukang celup
falea sezi
bukannya uda di talak ya males kalo mau. balikan aldi bekasss jalang
falea sezi
mencintai Mei tp enak enak. ma jalang munafik
Erni Nofiyanti
rumit jga tuh hubungan,Rere mulai ada rasa Ama dion,sedangkan kail suka Ama dion.pusing jadinya
siti rohimnah
hemmm mengapa harus berjanji dan kembali dengan Aldi yang kasar hanya karena selaput darah, cowok sok suci 😡
Jue
Jaga-jaga Aldi esok Aldiva benci padamu dan berimbas pada Meisha , Menjadi seorang bapak yang tidak Aldi , Dan Aldi tu bukannya cemburu tapi tiga suku , Lebih baik pasang gerigi besi kurung saja terus si Meisha buat selamanya
Jue
Wah tambah zuriat ni lagi Aldinya subur sungguh , Hai senangnya dalam hati bila beristeri dua fikir Aldi
tata 💕
kata'a tokoh disini pada ancur deh ya aldi & ortu'a, rere & ortu'a, meusya yg g tegas, diana & bimo. yg bener cm ibu nirmala, bu risa dan aditya
tata 💕
ni mah keluarga hancur nama'a
tata 💕
ish..... 😡
tata 💕
thor ko aku jd males y 😕
tata 💕
dah lah Na tinggalin tuh aldi, laki2 egois, g jujur dan g berprinsip, mau'a enak sendiri
tata 💕
kenapa y novel ni kumpulan orang2 bodoh y, maaf y thor
tata 💕
dah lah mending pisah aja nana, tinggalin aldi, lelaki egois 😐
tata 💕
ko menyebalkan y
tata 💕
masih abu2 nih thor
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪
Marlina Lina
kena azab nya tu tooorrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!