NovelToon NovelToon
Little Angel

Little Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:483.8k
Nilai: 5
Nama Author: LeeGo

Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.

"Gue mau mati aja, hiks."

Gendis Mahesa.

Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.

"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."

Dewa Ganesha

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dijebak.

Sepulang dari kantor Dewa tak kembali ke asrama. Ia berencana langsung ke apartemen Gendis yang alamatnya telah di kantongi. Ia sedikit khawatir pada gadis itu karena seharian ini hpnya tidak bisa di telfon. Apartemen Gendis terletak di bagian Jakarta pusat. Kata orangtua Gendis, gadis itu biasanya akan ke apartemen miliknya jika sedang marah seperti sekarang ini. Oke, ternyata selain punya ide kabur-kaburan, anak itu juga punya markas persembunyian.

Dewa memarkirkan motornya di basement dan langsung menuju lantai lima dimana Gendis berada. Suasana apartemen mewah memang tidak jauh-jauh dari kata sepi karena pemiliknya sudah pasti orang-orang sibuk yang hanya menjadikan tempat ini sebagai persinggahan.

Dewa berdiri di depan sebuah unit apartemen nomor delapan. Ia tidak menekan bel karena orangtua gendis bahkan mengirimkan password apartemen itu. Lihatlah, begitu percayanya mereka pada seorang Dewa. Padahal jika mereka tahu bahwa Dewa tak jauh beda dengan lelaki diluar sana ketika melihat putri kesayangan mereka, mungkin mata Dewa akan di colok dan diganti dengan mata sapi.

Tiiiing.

Pintu apartemen terbuka tapi ketika Dewa masuk hanya kekosongan yang ia temukan. Tidak ada jejak yang menunjukan bahwa seharian ini Gendis ada di tempat itu.

"Gendis?” Panggilnya di arah kamar. Ia membuka pintu kamar tapi nihil. Dikamar mandipun demikian. Dewa mulai diserang rasa panik. Si*lan, dimana tuh anak?

Dewa kembali menghubungi nomor Gendis tapi masih tetap sama, tidak terhubung. Pria itu mulai panik. Langkahnya lebar keluar aparteman. Ia harus mencari ke tempat lain. Menghubungi kedua orangtua gadis itupun bukan solusi karena Gendis marah pada mereka sudah pasti akan menutup kontak dari kedua orangtuanya.

"Astagaaaa Bocil. Lo kemana sih?Nggak bisa apa seharian anteng di rumah. Kabur mulu udah kayak buronan lu.” Dewa mendesah resah. Khawatir, jengkel bercampur dalam hatinya. Mereka baru membicarakan ini kemarin bahwa kabur tak akan pernah jadi solusi tapi belum dua puluh empat jam gadis tengil ini lagi-lagi melakukannyan. ARGGGGHH!!

Rasa lelah Dewa bekerja seharian bertambah berkali-kali lipat. Bukan hanya lelah fisik tapi memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi pada gadis itu. Gendis tidak mengenal rasa takut dan minim kewaspadaan, hal itu cukup membuatnya khawatir. Di dunia ini bukan hanya orang baik tapi ada yang namanya orang jahat tapi melihat dari sikap Gendis yang selalu terbuka dan apa adanya, mungkin ia menganggap semua orang di dunia ini baik seperti dirinya.

Drrrrrttt....

Dewa yang baru saja akan menyalakan mesin motor melihat ada telfon dari salah satu penghuni yang menyewa kos-kosannya.

"Ya, Halo?”

"Halo, Pak Dewa. Di depan rumah bapak ada seorang gadis.”

"Seorang gadis?” Tanya Dewa dan langsung berpikir itu pasti Gendis.

"Ia, Pak. Kasian, menangis terus manggilin bapak.”

"Trus dia bagaimana sekarang, Pak?” Dewa menyalakan mesin motornya dan memakai helm.

"Baik sih pak tapi tidak mau diajak masuk ke kosan. Maunya sama bapak katanya.” Jelas penelfon itu membuat tarikan disudut bibir Dewa.

"Oh iya. Saya segera kesana, Pak.” Ujar Dewa dan langsung menutup telfon bergegas ke kos-kosannya.

Tak berapa lama Dewa sudah sampai di kos-kosan miliknya. Ia berjalan dengan langkah lebar menuju lantai dua dimana kamarnya berada.

"Pak Dewa.” Panggil si penelfon tadi. ”Itu anaknya. Kasian capek menangis mungkin.”

"Baik, Pak. Makasih sudah menelfon saya.” Dewa bergegas menghampiri Gendis. Beberapa penghuni kos mengintip lewat jendela. Biasalah orang kepo melihat siapa yang dibawa oleh bapak kos mereka ke kos-kosan. Ini kali pertama mereka melihat ada wanita ke kos-kosan Dewa selain nenek ida dan Vina yang memang sudah dikenal oleh para penghuni.

"Gendis?” Panggilnya lembut, menyentuh bahu gadis itu yang menelungkupkan kepalanya diantara lututnya. Isaknya terdengar putus-putus.

"Ndis, hei!“ Panggilnya lagi kali ini mengusap rambutnya, ”Ini bang Dewa.” katanya.

Gendis mengangkat kepalanya pelan lalu menatap Dewa. Wajahnya basah, matanya bengkak. Entah sudah berapa lama gadis ini menangis disini. Dewa meringis melihat Gendis yang begitu kacau. Lelaki itu membuka pintu kos-kosannya.

"Masuk.” Ajak Dewanya. Ia masuk terlebih dahulu sedangkan Gendis menyusul. Setelah itu ia mengunci pintu.

Dewa berkacak pinggang menatap Gendis yang menundukkan kepala tak mau melihat, ”Udah dibilangin nggak usah kabur-kaburan. Kenapa sih harus kabur?Langsung ke kantor abang kan bisa.” Gendis diam. Hanya isakan gadis itu yang terdengar. Dewa Menghela nafas pendek. Ia berjalan menuju kulkas dan mengambil air mineral, ”Minum.” tapi Gendis tak juga menerimanya. Gadis itu masih setia dengan kediamannya.

Dewa yang tidak tega langsung menariknya pelan dan mengajaknya duduk diatas pinggiran ranjang, ”Kita ngobrol setelah abang mandi.” ujarnya mengusap bahu Gendis yang hanya di tutupi oleh kaos tipis. Melihat dari penampilan Gendis seperti ini Dewa menebak bahwa gadis ini tidak berniat kabur jauh. Tidak ada tas maupun dompet. Hanya memegang hp di tangannya.

"Hp kamu kenapa tidak aktif?” Tanya Dewa. Gendis tak menjawab hanya menyerahkan hpnya pada Dewa dan disitu Dewa tau kalau hp Gendis lobet total. Lagi-lagi Dewa menghela nafas.

"Kamu tenangin diri dulu. Abang mau mandi, gerah.” Dewa berdiri dari sisi Gendis lalu mengambil handuk yang tergantung di dekat kamar mandi.

"Lain kali langsung ke asrama,” Dewa melepas satu persatu kancing seragamnnya, ”Disini tidak ada yang bisa jagain kamu. Kalau diasrama--Aduuuuh”

Dewa terhunyung kedepan saat badannya tiba-tiba di tubruk oleh Gendis. Ia melihat lengan kecil itu melingkari pinggangnya memeluknya dari belakang.

"Ndis, lepas dulu ya. Abang lengket bangat nih. Boleh deh dipeluk kalau udah mandi.” Dewa mencoba bercanda tapi gadis yang memeluinya itu diam saja. Ini nih yang bikin para lelaki pusing. Cewek kalau ada apa-apa sukanya diam, giliran diabaikan bilangnya cuek, tidak peka. Hadeh.

Dewa berbalik untuk melihat Gendis namun secara tiba-tiba gadis itu menyerangnya. MENYERAAANGNYA!!!Dewa terhuyung kebelakang kala Gendis menciumnya membabi buta. Kedua tangan gadis itu menarik kerah seragam Dewa agar lebih menunduk sedang kakinya berjinjit. Dewa yang menahan pinggang Gendis berusaha melepaskan diri namun Gendis entah belajar dari mana mel*mat bibirnya rakus. Dewa yang sejak lama menginginkan daging kenyal pink itu pun terbuai. Tak ingin kalah dari seorang amatiran seperti Gendis ia menarik pinggang gadis itu lebih rapat dan membalas setiap ciuman dan l*matan yang Gendis lakukan. Dewa tak memikirkan apapun lagi. Kepalanya sudah dikuasai oleh hasrat untuk menikmati Gendis. Dirinya memang tidak pernah tahan godaan jadi jika selama ini ia mampu menahan diri untuk tidak menyentuh Gendis itu karena ia ingin menjaganya tapi kali ini Gendis sendiri yang mulai jadi jangan salahkan Dewa jika tidak mau berhenti dari kegilaan ini.

Gendis tersentak saat merasakan punggungnya menyentuh permukaan kasur. Ia sempat gamang namun memikirkan dirinya akan dinikahkan dengan Gerald, ia melupakan fakta bahwa sekarang ia tengah menyerahkan diri pada Dewa. Terlebih saat tangan besar itu menangkup salah satu dadanya, Gendis benar-benar kehilangan akal sehatnya. Dewa tak hanya menciumi bibirnya namun kini bibir lelaki itu sudah merambah di tengkuk, leher bahkan sesekali meng*lum daun telinganya. Gendis mendesah tertahan ketika tangan besar Dewa menyentuh kulit lembutnya.

"Abhaaang” Kedua tangan Gendis meremas seprei kala bibir Dewa menyentuh salah satu puncak dadanya. Menyicipinya, menyentuhnya seperti bayi yang sedang kepalaran. Gendis menggelap, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi ini benar-benar sangat nikmat. Ya Tuhaaaan... Gendis bahkan memindahkan tangannya menekan kepala Dewa semakin rapat kala lidah pria itu bermain di puncak sensitifnya. Gendis menggelengkan kepala menahan sesuatu yang akan keluar dan---

"Bang Dewaaa” Ia kelepasan memanggil nama Dewa dan seketika semuanya terasa bebas dan lepas. Gendis menangis tapi airmata itu entah airmata penyesalan karena membiarkan Dewa menyentuhnya atau airmata kenikmatan yang baru dia rasakan.

"Ndiiis.” Panggil Dewa sarat oleh penyesalan. Astaga Dewa, apa yang sudah kamu lakukan?Dewa melihat gadis yang sedang di tindihnya itu begitu kacau. Baju kaosnya tersingkap melewati dada menampakan kedua puncaknya yang ada bekas-bekas jejaknya terlihat begitu jelas, bibir Gendis yang sedikit bengkak dan merah dan bagian leher gadis itu basah oleh ulahnya. Belum lagi mata Gendis yang menatapnya sayu.

"Gendis, Abang--” Dewa kehabisan kata-kata. Ia menurunkan kaos Gendis menutup dua puncak yang tadi ia bisa sentuh dan cukup pas dalam genggamannya. Dewa buru-buru bangun dan menjauhkan diri. Dirinya pun bahkan masih bisa merasakan keinginan untuk menyentuh Gendis masih begitu berat. Ia langsung balik badan tidak mau Gendis melihat bukti gairahnya.

"Bang Dewa--” Panggil Gendis dengan suara pelan. Dewa bergeming. Ia benar-benar menyesal sudah melakukan hal sejauh ini pada Gendis. Seharusnya ia bisa menahan diri bahkan ketika Gendis memulai tapi kenapa---Aaah Dewaaaa!!!

"Ndis, Abang---” Dewa memberanikan diri menatap gadis kecil yang masih di posisinya yang sama. Ia meringis melihat betapa kacaunya apa yang sudah dilakukan tadi. Dalaman atas gadis itu teronggok diatas lampu nakas entah setan mana yang melemparnya. Dewa meringis pelan. Lo setannya Njiiiing!!!

"Abang harus tanggung jawab.” Ujar Gendis berusaha bangun dan Dewa dengan segera membantunya duduk.

***

Dewa menatap tak percaya gadis manis yang ternyata licik itu sedang menikmati pizza teh hangat tanpa beban. Gendis bahkan tidak repot-repot mengenakan kembali d*lamannya dan brengseknya Dewa malah menatap kearah sana. Dewa menggeram tertahan dan dengan kepala nyut-nyut karena hasratnya tidak tersalurkan, laki-laki itu berdiri dan mengambil selimut lalu di lemparkan pada Gendis.

"Gue nggak dingin, Bang.”

"Iya, lo emang nggak dingin tapi kepala gue yang menguap. Pake!” Sentak Dewa sembari membungkus Gendis seperti dadar gulung.

Gendis tertawa, ”Tergoda ya Bang?” tawanya pecah mengejek Dewa yang gemas ingin memasukan gadis kecil itu dalam kaos kakinya.

Gue bukan lagi kegoda setan kecil tapi udah ngelecehin lo! Bahkan begini saja Gendis belum paham.

"Lo sadar apa yang lo lakuin tadi kan?Gue nyentuh lo tuyul!Astagaaaa!!!” Dewa mengacak rambutnya. Kalau bisa diliat, isi kepalanya juga sekarang ingin dia acak-acak tapi sebelumnya ia akan melakukan itu pada pada gadis kecil yang minim pengetahuan ini.

Gendis menyengir, ”Bukan nyentuh ya bang. Tapi abang ngemut, ngishhmppphhhhh”

"Diem!Diem!Dieeem!!” Gemas Dewa menutup mulut Gendis dengan satu tangannya. Mengapit kepala gadis itu diketiaknya. ”Lo tuh!Argh!!!“ Gue jual juga ni anak. ”Bisa diam?”

Gendis mengangguk. Mata bening itu menatapnya geli. Dewa mengusap wajah kasar. ”Bahaya Ndis. Abang ini brengsek. Kalau lo sodorin diri gitu, abang nggak tau bisa sejauh apa melakukannya.” Dewa terdengar frustasi.

"Abang tinggal nikahin gendis lah. Gampang kan. Dan emang abang harus nikahin gendis.” Katanya mantap.

Dewa menyerah.

“Sudah makan?” Tanya Dewa melirik gadis kecil disampingnya. Ia mengusap pipi rambut tuyul kecilnya itu. Gemes bangat pen gue karungin.

"Udah tapi cuma dikit.” Jawab Gendis. Ia melipat kakinya naik diatas sofa sembari menyandarkan dirinya di dada Dewa.

"Tuh abang bawa permen. Kembalian ngisi bensin tadi.” Ujar Dewa menunjuk tasnya yang ia geletakkan begitu saja diatas meja.

Gendis mengambil tas laki-laki itu mengeluarkan semua isinya, ”Kok nggak ada duitnya?” tanyanya ketika melihat isi tas itu hanya beberapa biji permen dan juga buku kecil serta pena.

"Kan saya bilang tadi permen bukan duit. Buat apaan emang?”

“Gendis mesan pizza tapi gak punya uang kecil. Biasanya kurir nggak punya kembalian.” Jelas Gendis. Ia mengulurkan tangannya ”Minta duit.”

"Lha, lo kan kaya raya. Ngapain minta sama rakyat jelata?” Meski berucap demikian Dewa tetap juga mengeluarkan dompet yang ada di saku belakang celananya. ”Ambil sendiri.” Katanya sembari menyandarkan kepalanya di sandara sofa.

Gendis dengan semangat empat lima membuka dompet Dewa lalu mengeluarkan isinya, ada dua lembar uang merah dan empat lembar uang biru, sisanya seribuan dan dua ribuan yang entah berapa lembar yang pasti membuat dompet pria itu tampak tebal.

"Gendis suka yang ini.” Katanya menunjukkan kartu ATM Dewa.

Dewa melirik apa yang disukai oleh gadis kaya raya itu di dalam dompet seorang kelas menengah sepertinya. Sebuah kartu ATM merah putih yang jarang sekali di pakainya.

"Kamu ya bocil, gue kasih jantung malah minta empedu. Nggak boleh. Itu buat istri abang.” Dewa mengambil kartu itu membuat gendis manyun.

"Tapi gue suka.”

"Yagimana, Ini punya calon istri abang.” Ujar Dewa sengaja memanas-manasi Gendis.

"Tapi kan itu harusnya punya aku.” Katanya memelas.

"Itu kan dulu. Nih, kamu ambil aja nih yang seribu-seribuan. Cukup tuh buat bayar pizza.”

Gendis menggeleng, ”Nggak mau. Maunya yang merah putih biar samaan sama Nad. Abang kok pelit sih, Om Gi aja mau ngasi ke Nad.”

"Kan Nadia istrinya Gibran. Ya jelas dikasi lah. Emang kamu mau jadi istri saya?Kalau mau ya abang kasi, eh tapikan kamu udah nolak ya.” Kata Dewa mengintip Gendis yang menundukkan kepala. Duh, lucu bangat nih tuyul satu.

"Tapi kan--.” Gendis menunduk mengapit kepala diantara kedua lututnya. Lalu tiba-tiba mendongak menatap Dewa dengan senyum licik, ”Nikahin Gendis kalau nggak mau Gendis laporin ke kesatuan!“

Dewa menggeram.

ASTAGAAAA GUE DIJEBAK BOCAH?!

***

1
Munji Atun
Kak Lee 🥰 akhirnya bisa ketemu lagi sama Gendis and the genks 😍 uuh senengnya jgn lama" lagi ya upnya 🥰
makasih banyak ya ❤🥰💪
Miamia
ya salam ndissss bengek aku🤣🤣🤣, kocak , rajin up ya kak Thor 😍
Tita
yaaa habis,kapan lagi ini ketemu gendhis❤️
Tita
habis sedih,terharu sekarang nyengir dah😁
Tita
❤️❤️❤️❤️❤️
Tita
ayo bang dewa mendekat lagi sama Tuhan,gendis bukti sayang Tuhan sama kamu wa❤️
Opi Irbah Salma
lanjut Thor 😍
Deva Santi
bang dewa belum ngumpul sama bang GI sesama bucin bikin mual..., the Genk ngumpul seruhhh banget si Sandra dan leksis Lom dpt jodoh pa g laku si thorrr
Rahayu Kurniasari
maaciihhh kak othoorrr.. 😍😍
Sri Gunarti
waah rami kalau kalian kumpul seru 🥰🥰🥰
Turwaty suketi
Aduuuh om dewa makin ugal ugalan🤣
stnk
thoooor moga rutiiiinnnn....tak tungguuu loooh...
stnk
Om Gi juara berapa Nad...🤣🤣🤣
stnk
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
stnk
Lebaaayyyyyyy....🤣🤣🤣🤣
tintiin21
kumpulan om² bucin parah.... 😆😆😆😆😆
Deva Santi
kebucinan para tentara, seneng liat cerita gendis, Nadia lalu apa kabar aleksis dan sandraaa kak
Iwin Soviyatiningsih
makasih UP nya thor 🙏 next ditunggu
Sri Gunarti
jadi kangen gibdan
Rahayu Kurniasari
pertama..
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!