Sebuah cerita tentang makhluk mitologi yaitu werewolf dan vampire, menyamar dan berbaur dengan manusia untuk menemukan putri yang hilang. Salah satu dari mereka ternyata adalah mate sang putri.
Namun setelah putri yang hilang ditemukan terjadi peperangan besar yang membunuh banyak vampire.
kisah ini menceritakan tentang dua golongan vampire dan juga dua golongan werewolf yang saling memperebutkan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putriifrhm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Feeling
BRAAK
DUGH
Alice terkapar dengan tubuh sobek-sobek, dirinya berusaha bangkit untuk melarikan diri dari Bill, namun pria itu terlalu cepat untuknya. Bill kembali menarik Alice, kemudian ia membantingnya lagi ke lantai. Sungguh, ia sangat kejam. Alice hanya bisa melenguh, saat ia berusaha bangkit, Bill langsung menyeretnya dan membantingnya.
Sakit. Padahal vampire tidak pernah merasakan sakit jika hanya luka serangan langsung, tapi kali ini ia merasakan sakit yang biasanya hanya manusia yang merasakan.
Sementara Alex, ia kini di kurung oleh Kevin dengan kekuatannya, yaitu akar-akar yang biasa ia gunakan untuk menyerang musuh.
Pria berbrewok tipis itu menggenggam kerah baju Alice dan menariknya mendekati wajahnya, "Sekarang kau masih tak ingin memberitahuku apa alasanmu membongkar semuanya pada Alex?"
Alice begitu lemas, ia bahkan tak sanggup membuka matanya.
"Hentikan itu keparat!" pekik Alex.
Kevin yang bahkan adik dari Alice pun tak peduli dengan keadaan kakaknya yang sekarat itu, ia malah terlihat bahagia.
Bill melempar Alice ke dinding lagi, hingga dinding yang sudah beberapa kali terkena Alice itu rubuh menimpanya.
"Bill, aku pikir bukan ide bagus untuk membunuhnya, karena kita akan kekurangan pasukan. Sementara Wetford di luar sana hanya sedikit, Alice adalah salah satu yang terkuat, bukan?" usul Kevin.
Bill menghentikan aksinya, ia menyeret Alice keluar dari reruntuhan yang menimpanya. "Cepat beritahu aku, atau aku akan memutuskan tangan dan kakimu!"
Alice tertawa miris, lengan kirinya mendadak jatuh ke lantai. "Kau mau tahu?!" jeritnya seperti tak merasakan sakit, "Aku cinta Leo!"
Ruangan itu mendadak sunyi, hanya terdengar nafas Alice yang tak beraturan. Bill menjatuhkan Alice begitu saja, kemudian ia bertepuk tangan, hal favoritnya saat dalam keadaan yang menurutnya mengagetkan. "Rupanya wanita iblis ini sudah punya perasaan."
Kevin melongo setelah mendengar penyataan kakaknya itu.
Bahkan Alex juga, ingatannya mendadak kembali walau hanya sedikit. Leo adalah suami adikku, Jane.
"Kevin, lepaskan Alex."
Kevin mengangguk menuruti perintah Bill. Ia menarik kembali akar-akar miliknya ke dalam tanah.
"Dan kau Alex, kau harus memihak kami--"
"Cih, tidak akan!"
Bill meletakkan jari telunjuknya di bibir, "Sshhh, biarkan aku menyelesaikan kalimatku. Kau harus memihak kami, atau orang yang baru saja kau ingat itu akan kuhabisi sekarang. Itu hal yang sangat mudah."
Ia hendak mematahkan leher pria dengan kekuatan api itu, namun Alex menahan tubuhnya.
"Nona Alice, kau juga. Kau bisa berperang walau tanpa tangan kiri, bukan?"
Alice yang sedang duduk itu memalingkan wajah dari Bill dan berdecih.
"Apa masih ada yang tidak setuju?" Bill menatap Alice dan Alex bergantian, namun setelah tak ada jawaban, Bill menaikkan kedua Alisnya dan dan tersenyum. "Baik, aku anggap kalian berdua setuju dengan semua rencanaku."
Di ruangan yang sebelumnya gaduh itu, kini menjadi sunyi. Hanya gesekan-gesekan batu yang terijak yang menjadi suara pendamping keadaan Alex dan Alice.
"Ada apa, Alice? Mengapa kau memihakku?" Alex membantunya berdiri.
Alice berdiri dengan susah payah, rasanya dirinya hancur karena telah kehilangan tangan kirinya. Ia hanya menatap potongan tangannya yang tergeletak di atas puing-puing dinding, bahkan sampai tak mendengarkan pertanyaan Alex.
"Alice?"
"Ah, iya, apa?"
Alex mengehelas nafas, "Mengapa kau memihakku?"
"Kau tak dengar? Aku mencintaimu, bodoh kau pikir aku benar-benar mencintai Leo? Aku salah telah mencintai pria dengan wajah dingin ini, andai vampire tak bisa jatuh cinta," ujar Alice tanpa ekspresi, ia masih menatap lengan kirinya, seolah tak percaya.
Alex diam.
Tersadar. Alice menatap Alex yang hanya diam, seolah tak peduli dengan ucapan Alice. Memang benar Alex menatapnya, tapi tatapan dingin itu membuat sesuatu di dalam diri Alice tercubit. "Ada apa? Mengapa diam? Kau tak memiliki perasaan yang sama bukan?"
Pria di hadapan Alice itu tetap bungkam, perlahan tangannya yang menggenggam bahu Alice merenggang dan lepas. Ia berdiri dan menarik nafas, "Ini bukan waktu yang tepat untuk hal itu," Alex mengantongi kedua tangannya di saku celana dan berjalan meninggalkan Alice.
Sikap dingin Alex membuat Alice tertawa miris, ia tertunduk sambil tertawa dan menangis. "Hmph, bodoh, mana mungkin dia juga punya perasaan yang sama."
.
.
"Aku menyerah!" Leo mengangkat tangannya yang tak di perban.
Seisi ruangan menatap ke arahnya, yap. Mereka tentu saja terkejut mendengar rajanya mengucapkan kata menyerah. Memang benar, semua yang ia lalui begitu berat, sudah pasti siapapun yang mengalaminya lebih memilih untuk bunuh diri.
"Aku tahu ini beban berat, tapi aku yakin kau bisa mencari cara lain untuk menjaga kerajaan ini dari Wetford," Jane menenangkan Leo dengan cara merangkulnya dari samping, ia tersenyum hangat sambil memejamkan mata. "Aku akan selalu ada untukmu."
"Kau tau? Aku merasa beruntung memilikimu, tapi di sisi lain aku menyesal memilikimu. Aku menyesal karena tak pantas untukmu, aku menyesal karena tak bisa melindungimu," ujar Leo dengan senyumannya juga.
Jane segera mengangkat kepalanya dan menatap Leo konyol, "Sejak kapan kau dramantis seperti ini?"
Mendadak senyum Leo berubah menjadi cemberut, "Tidak adil, aku hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiranku."
Jane tertawa kecil, membuat beban yang ada di pikiran Leo luntur. Senyuman seindah pelangi itu benar-benar membuat Leo merasa diberkati. Ia mengecup kening Jane dan berkata; "Aku akan berusaha menyelamatkan kerajaan kita, bagaimana pun caranya."
Jane tak mendengarkan ucapan Leo, ia malah berlari keluar istana dan menuju hutan perbatasan dengan melesat secepat kilat. Langkahnya terhenti tak kala berada di hadapan seseorang yang baunya tak asing, bau minta yang dulu pernah menghantui pikirannya. Wajahnya menatap dada bidang pria di hadapannta dan kemudian mendongak, "Alex? Apa yang-"
"Besok atau malam ini, mereka datang kemari," setelah mengucapkan kalimat yang Jane tak mengerti, Alex langsung melesat ke dalam hutan. Belum sempat Jane mengejar, tangan kekar dan hangat milik Leo menahan lengannya.
Hidung Leo menghirup udara dalam-dalam hingga dadanya mengembang, "Ada apa? Mengapa si wajah datar itu kemari? Apa kau terluka?"
Jane menggeleng, "Dia hanya bilang 'besok atau malam ini mereka datang' dan kemudian ia pergi," Jelasnya dengan mata melihat ke dalam hutan.
"Mengapa dia memberitahumu? Pasti ini salah satu rencana licik mereka."
Jane menatap Leo dengan tatapan tak terima, namun ia tak bisa mengucapkan kata-kata. Pikiran dan hatinya bertolak belakang, hatinya yakin bahwa Alex berkata jujur, ia benar-benar yakin. Sementara pikirannya memikirkan bagaimana jika Alex berbohong. Ia hanya bisa menghela nafas, belakangan ini suasana hatinya benar-benar kacau. Kadang sangat bahagia dan secara tiba-tiba sedih atau marah.
"Ada apa Jane?" tanya Leo.
"Aku... Aku butuh udara segar. Bagaimana jika kita sekarang duduk di taman yang masih utuh?"
Leo hanya mengangguk, ia tahu suasana hati istrinya sedang tidak baik sekarang.
.
.
Di istana Wetford, Alex duduk di pucuk pohon tertinggi di sana. Ia mampu melihat hampir seluruh istana Wetford dan Dryford, mata tajamnya menatap gadis berambut pirang yang bersama werewolf dari kejauhan. Otaknya terus bekerja keras untuk menyatukan kembali "puzzle" yang belum sepenuhnya untuh. Ingatannya tentang Jane dan Leo masih belum jelas, hal itu membuat seribu pertanyaan bersarang di pikirannya.
Alice, wanita yang Alex campakkan begitu saja dengan lengan terluka itu berdiri di bawah pohon yang dinaiki Alex dan sesekali ia menoleh ke atas untuk melihat Alex masih ada atau tidak. "Kau tidak perlu memikirkan ucapanku, anggap saja itu tidak pernah terjadi."
Alex hanya menoleh sedetik ke bawah "Ya,".