Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duduk bersebelahan
"Pinarak mas" Pak RT yang melihat Sholeh berdiri dan saling menautkan pandang dengan Bu Rena membuka suara.
Namun tak ada jawaban, hingga suara deheman pak Sagi yang cukup keras, mampu menyentak Rena dan Sholeh. Mau tidak mau keduanya membuang muka untuk menutup salah tingkah mereka.
"Pinarak riyin monggo mas" (Duduk dulu silahkan mas). Pak RT mengulangi tawarannya.
"Eem, Maturnuwun pak kulo teras mawon, bade kepanggih kalih pak lurah" (Eem terimakasih pak, saya mau langsung saja, mau bertemu dengan pak lurah) .
"Wahh kebeneran banget, kene bae ngeneh jagongan disit. Pak lurah arep rawuh ngeneh, mbok malah slisiban ngko. Ngeneh njagong kene baen, dela maning gutul" ( Waah kebetulan sekali, sini saja dulu duduk. Pak lurah mau datang, takutnya nanti papasan malah. Duduk sini saja, sebentar lagi sampai) " Darsino yang duduk disebelah Rena bergeser, memberi ruang untuk Sholeh duduk.
Ngapain Darsino memberikan tempat duduk buat dia siii, bikin kesel setengah jiwaa
Seketika muka Rena memerah. Menahan kesal sekesal-kesalnya. Memandang Sholeh dengan tajam. Sementara yang di pandang acuh tak acuh, justru menebar senyum pesonanya dan tanpa rasa sungkan duduk di sebelah Rena.
Obrolan kembali terdengar, membahas dari hal kecil seperti pertanian sampai dengan korona yang sedang hangat-hangatnya menjadi perbincangan saat ini.
"Sekolah bagaimana bu Ren? " Pak RT mencoba mengikutkan Rena di dalam pembicaraan mereka.
Rena yang sedari tadi enggan bersuara, mau tak mau harus menjawab pertanyaan pak RT. Rasanya begitu tidak sopan bila di acuhkan.
"Untuk sementara, pembelajaran dari rumah masing-masing pak RT. "
"Untuk tugas bagaimana? "
"Untuk tugas rencananya mulai minggu depane, setiap hari Jum'at saya dan bu Genti akan mendatangi rumah anak, untuk memberikan tugas dan mengambil tugas minggu sebelumnya yang sudah di kerjakan anak. " Rena menjawab sambil meraih segelas teh manis yang berada di sampingnya.
"Muridnya berapa sekarang? " tanya pak RT sambil mengambil pisang goreng.
"18 Pak" Rena menjawab setelah berfikir sejenak.
"Repot nggih bu. " Sholeh tiba-tiba ikut masuk dalam obrolan.
Seketika Rena langsung memandang sinis, diikuti oleh senyum sesaat, menutupi kepada semua orang yang ada bahwa dia membenci Sholeh. Benar-benar membencinya.
"Alhamdulillah selama ini belum begitu, kita berdoa saja agar semua bisa cepat pulih dan kegiatan bisa di lakukan normal lagi seperti sebelum ada korona. Aamiin" Jawab Rena dengan muka malasnya.
Entahlah mimik muka Rena terbaca atau tidak oleh yang lainnya, baginya tidak terlalu penting. Yang terpenting itu adalah bagaimana caranya keluar dari situasi macam ini.
"Enakan tatap muka atau belajar dari rumah si bu Ren? " Pak RT kembali bertanya.
"Kalau saya si enakan tatap muka pak RT. Kita jadi lebih bisa mengeksplorasi kemampuan anak, selain itu anak usia dini juga lebih mudah menerima ilmu baru lewat apa yang mereka dengar dan yang mereka lihat. "
"Ndeloke pas banget gurune ayu, waah tambah semangat banget pokoke, kaya sing neng jejere kue ra kedepan mentakan" (Lihatnya pas banget gurunya cantik, Waah tambah semangat banget pokoknya, sama seperti yang berada di sebelahnya, sampai tak berkedip) Darsino ikut berseloroh dari bawah pohon jambu.
"Rupamu kuwe pikirane sok aneh-aneh Dar.. Dar" (Dirimu itu gilirannya sok aneh-anek) Pak Kaswo menyonor kepala Darsino, dan dibalas tawa oleh semua orang.
Jarum jam menunjukan pukul 10.15. Matahari sudah mulai tinggi, dw
Rena sudah tidak tahan lagi duduk berdekatan dengan Sholeh seperti ini. Bau aroma tubuhnya sudah menyeruak sampai ke pangkal hidungnya sedari tadi. Dia ingat betul dengan parfum ini. Harumnya sama dengan milik suaminya. Mas Banu. Dulu Rena memang sengaja memilihkan parfum ini untuk mas Banu. Entahlah, kala itu dia senang bau parfum yang dia pilihkan untuk suaminya atau dengan bau orang yang memakai parfum ini sebelumnya.
Sungguh rumiitt!!!!!
Itu dulu, sebelum Banu benar-benar bisa masuk ke dalam hatinya, merenggut hatinya dengan kebaikan dan kasih sayangnya. Memperlakukannya dengan sangat manis dan lembut. Dan dirinya masih terbayang-bayangi oleh laki-laki yang ada di sampingnya.
Harus ganti parfum pokoknya.
***********
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...