Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Rangga
Pagi itu Rangga menyempatkan untuk menengok Naya. Ia menjadi sorotan para tetangga Marni ketika ia turun dari mobil. Mereka kagum dengan ketampanan dan semua yang menempel pada tubuhnya yang terlihat mewah dan mahal.
"Assalamu'alaikum!" salam Rangga.
Marni segera menghampirinya dan membukakan pintu gerbang untuknya, "Tuan Muda!" pekik Marni senang. "Mari Tuan, silahkan masuk.
"Naya sedang apa?" tanya Rangga berjalan di sampingnya.
"Dia sejak semalam hanya di kamar. Makannya sedikit dan kondisinya masih lemah," jawab Marni menjelaskan.
Rangga masuk kedalam rumah itu dan membuka tirai kamar Naya, "Sayang," sapanya.
Naya menoleh dan seketika senyumnya mengembang, " Mas!" pekiknya senang. Ia bersegera turun dari ranjang.
Rangga dengan cepat menghalanginya memeluknya dan kembali mendudukkannya, "Istirahatlah sayang," pintanya.
"Aku rindu, Mas...." desah Naya menangis lirih.
"Aku juga rindu."
Keduanya berpelukan erat. Rangga mencium kepalanya dan menghirup aromanya. "Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanyanya.
"Sudah lebih mendingan. Aku sudah lumayan segar," jelasnya jujur.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu."
Naya seperti seorang anak kecil dalam pelukan Rangga. Rasanya ia tak ingin lepas dari pria itu hingga ia meraba dasi yang di kenakan Rangga, "Mas mau ke kantor?" tanyanya tersentak
"Tak apa. Santai saja. Waktuku masih panjang.
"Kalau begitu berangkatlah. Mas bisa telat jika menunda," sergah Naya khawatir.
Rangga mengusap wajahnya. "Baik-baik di sini. Jangan pikirkan apa pun. Yang terpenting kini adalah kesehatanmu."
"Aku tahu. Semua ini hukuman untukku karena kejahatan yang aku lakukan kepada Tias dan anak kita," timpal Naya bersedih. Rangga pun menyeka bulir air matanya yang terjatuh.
"Sudahlah.... Jangan salahkan dirimu terus. Dia juga bersalah dengan semua yang terjadi kini. Aku tahu kamu tak sengaja melakukannya. Yang terpenting sekarang kamu harus sehat dulu, baru setelah itu kita pikirkan langkah apa yang akan kita perbuat," pinta Rangga.
Rangga memberikan sejumlah uang pada Naya dan segera berpamitan. Saat keluar dari rumah itu secara tak sengaja ia bertemu dengan Nirwan yang baru saja tiba membawakan nasi pesanan Naya.
"Nin, Bik. Semoga Naya suka karena hanya nasi ini yang katanya terkenal enak," ucap Nirwan mengulurkan sebungkus nasi kuning kepada Marni.
"Terimakasih, Wan. Kamu juga sarapan gih. Tempe bakcem dan nasi mu sudah Bibi siapkan di meja makan."
Nirwan mengangguk. Sekilas ia melemparkan senyuman kepada Rangga dan masuk kedalam rumah.
"Hati-hati, Tuan. Jangan terlalu banyak memikirkan Naya. Dia akan baik-baik saja selama sama, Bibi," pinta Marni.
Rangga hanya mengangguk singkat dan memasang kacamata hitamnya lalu masuk kedalam mobil.
Marni menatap kepergiannya hingga mobilnya tak nampak.
Naya berjalan keluar kamar dan mendapati Nirwan tengah menyantap sarapannya. Ia sedikit sungkan untuk menyapanya, " Kak?" sapa nya lembut.
Nirwan mengangkat wajahnya. "Nay, sarapan dulu," gumamnya mengangkat sejumput nasi di tangannya.
Naya tersenyum, "Iya, Kak." Ia kemudian duduk di seberang Nirwan.
Marni masuk kedalam rumah lalu menghidangkan nasi bungkus milik putrinya dengan alas piring kaca kehadapan Naya, "Habiskan. Jika kamu masih dalam kondisi ini Rangga akan cemas terus-menerus."
"Iya, Mak, angguk Naya
Nirwan berpikir jika Rangga sangat beruntung memiliki mutiara terindah seperti Naya.
Tengah hari....
Naya mebersihkan diri sejenak dan merapikan tempat tidur ayah dan ibunya. Ia merasa tak enak hati karena telah menempati kamar mereka. Ia pun menatanya secantik mungkin dan membersihkannaya tanpa sepengetahuan Marni yang tengah memasak di dapur. Ia pikir Naya tengah tertidur lelap.
"Mak," panggilnya seraya mendekat.
"Iya, Nay. Emak pikir kamu sedang tidur?"
"Naya akan tidur di kamar tamu. Habis ini Emak istirahat, biar Naya yang beres-beres."
Marni mengehentikan aktivitas tangannya yang tengah menggoreng kacang tanah kesukaan Naya dan mematikan kompor, "Jangan. Tak apa kamu tempati kamar Emak dan Bapak. Kamar tamu sangat sempit dan pasti kamu nggak akan betah. Dan soal bersih-bersih bisa nanti Emak yang lakukan. Kamu rehat saja supaya cepat pulih." Ia pun kembali menyalahkan kompor.
"Ya Allah.... Sejak kecil aku selalu menyusahkan Emak dan Bapak. Sampai kapan aku terus menyusahkan mereka?" batin Naya bersedih. Tanpa Marni sangka putrinya itu memeluk tubuhnya erat. "Maaf, Mak," pintanya berbisik.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya