Bianca Sabian adalah seorang siswi yang sering bermasalah di sekolahnya. Banyak kenakalan yang sudah ia lakukan. Mulai dari bolos sekolah, mengecat rambut, hingga membuat rusuh satu kelas saat guru mengajar.
Tapi hidupnya berubah saat ia harus menerima nasib dipaksa menikah dengan gurunya sendiri. Yang lebih menyebalkannya lagi ternyata sang guru adalah seorang duda beranak satu.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Bianca setelah terpaksa menikah dengan gurunya sendiri??? Apakah sang guru mampu menerima Bianca sebagai istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ian_Zimanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode tiga puluh satu
"Maksudku anak Mas Rava dari istri pertamanya"
Alex manggut-manggut, "Kalau begitu biar kubelikan saja"
"Ng-nggak usah, kamu sudah membelikanku kalung ini. Aku nggak mau merepotkanmu lagi" cegah Bianca.
"Tenang saja, Bi. Selagi aku bertemu denganmu aku ingin menyenangkanmu, setelah ini kita belum tentu akan ketemu lagi 'kan?"
"Tapi Al..."
Sekali lagi Alex tidak peduli dan tetap bersikeras membeli bantal merah muda itu, "Ini..." ujarnya sambil menyerahkan bantal itu ke Bianca.
Alex mengangkat sebelah alisnya ketika Bianca tidak meraih bantalnya, "Ini..." ujarnya lagi sambil menyodorkan bintang itu.
"Aku nggak mau kalau kamu memberikan itu padaku secara cuma-cuma" ujar Bianca.
"Nggak papa, Bi, aku..."
"Aku nggak mau berhutang pada temanku sendiri, Al"
Alex menghela napas, "Ya sudah. Kamu bisa mengganti uangku kapan-kapan"
"Oke" ujar Bianca seraya tangannya meraih bantal itu, "Kalung ini ju-"
"Nggak, kalung itu spesial dariku untukmu, ya?"
"Makasih ya Al,..."
Alex tersenyum seraya mengacak rambut Bianca. Tanpa sungkan-sungkan dia meraih tangan Bianca dan menggenggamnya erat. Bianca sendiri entah sadar entah tidak, yang pasti dia tidak keberatan Alex menggenggam tangannya.
Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba bahu Alex ditarik seseorang. Membuatnya berbalik dan segera saja sebuah pukulan melayang di pipi Alex. Pukulan itu cukup kuat membuat tubuh Alex terjungkal kebelakang.
Bianca terkejut melihatnya, lebih terkejut lagi melihat siapa yang memukul Alex, "Mas Rava! Apa yang kamu lakukan?" pekiknya.
"Brengsek! Jaga tanganmu baik-baik!" seru Rava kasar. Matanya menatap tajam ke Alex yang masih tersungkur di tanah. Sekejap toko cenderamata itu menjadi heboh. Sejumlah pasang mata menatap ke arah mereka.
"Ya Tuhan... Alex, kamu baik-baik saja?" tanya Bianca menundukkan badannya. Tangannya terjulur mengusap pipi Alex yang membiru karena pukulan Rava, "Sakitkah?" tanyanya khawatir.
"Mas Rava, kamu apa-apaan sih? Tiba-tiba datang lalu cari ribut begini"
Rava menatap Bianca tajam. Dia tidak percaya 'istri'nya ini lebih membela pria itu.
Dengan kasar Rava menarik tangan Bianca, "Mas, lepaskan!" pekik Bianca. Tetapi Rava menulikan pendengarannya, ia terus menarik tangan Bianca meski gadis itu terus meronta. Rava sama sekali tidak peduli pada orang-orang yang kini menatapnya.
Rava merasa marah. Sangat marah. Marah karena Alex seenaknya menyentuh Bianca. Dan Bianca yang membiarkan Alex melakukan itu. Baginya Bianca adalah miliknya. Mutlak. Dan tidak seorang pun yang boleh memprotes itu, bahkan Bianca sendiri.
'plakk!'
Bianca membelalakkan matanya tidak percaya ketika Rava menamparnya begitu mereka sampai di kamar.
"Tidak sadarkah kalau kamu ini sudah menikah? Seharusnya kamu menjaga jarak dari orang lain!" bentak Rava.
"Brengsek kamu! Apa hak-mu melarangku? Kamu bahkan pergi dengan para gadis itu!"
"Mereka memintaku untuk mengajari mereka berenang, apa yang salah dengan itu?!"
Bianca mengatur napasnya yang terasa memburu, "Seharusnya kamu menolak mereka!" serunya sambil memukul bahu Rava. Tetapi pukulan Bianca terlalu lemah bagi seorang Rava Pratama, "Kamu meninggalkanku dan lebih memilih mereka!"
"Aku hanya mengajari mereka berenang! Demi Tuhan, jangan seperti anak-anak!"
"TAPI KAMU SUAMIKU!" teriak Bianca frustasi. Bahunya mulai bergetar dan tanpa diinginkan olehnya mata bening itu meneteskan air mata. Bianca menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya berguncang kian keras.
Melihat itu Rava meremas rambutnya frustasi. Frustasi karena amarahnya dan frustasi karena Bianca yang menangis begini.
"Brengsek!" umpat Rava sambil memukul pintu kamar dengan kuat. Dengan kasar Rava lalu membuka pintu dan membantingnya kuat.
Begitu mendengar suara pintu ditutup Bianca langsung tersungkur di lantai. Tubuhnya terasa lemas. Bagaimana pun ia masih shock dengan Rava yang tadi sempat memukul dan membentaknya. Belum lagi sikap Rava yang malah meninggalkannya disaat ia butuh sandaran.
"Pergi sana!" teriak Bianca sambil melempar pintu kamar dengan bantal.
kalau kau Terima berarti novel tidak masalah
tapi kalau kau tidak Terima berarti pemikitan mu ada masalah saat kau tidak suka suamimu baik, sok manis, dan perhatian pada pria lai tapi novel malah Bianca seorang istri sok manis, dan sok perhatian pada pria lain dan kau benarkan kelakuan Bianca ini
renungkan lah, pakai otak untuk berfikir mana salah mana benar, salah ya salah benar ya benar
jangan jadi wanita egois kalau suami yang lakukan selalu salah tapi kalau istri (kalian) yang lakukan kalian benarkan
sadarlah