Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Tunangan Misterius
Nama Revano Hartono muncul di Jakarta seperti badai yang tidak memberi peringatan.
Tiga puluh tujuh hari setelah pemakaman Rayhan, layar-layar berita bisnis di SCBD menampilkan wajah lelaki itu berulang kali. Hartono Group mengambil alih dua perusahaan logistik dalam satu pagi, membekukan jalur ekspor milik tiga keluarga lama, dan menutup celah yang selama ini dipakai Om Herman untuk menghilang.
Tidak ada wawancara panjang.
Tidak ada senyum ramah.
Hanya satu foto dari lobi gedung Hartono Group: seorang lelaki tinggi dengan setelan hitam, wajah tegas yang asing, mata gelap, dan tatapan yang membuat orang merasa pintu sudah ditutup sebelum mereka sempat mengetuk.
Revano Hartono.
Cucu sulung keluarga Hartono.
Lelaki yang disebut media sebagai orang paling berbahaya di Jakarta setelah terlalu lama tidak muncul di depan publik.
Keira melihat foto itu dari layar tablet di ruang makan kediaman Liem Menteng.
Kopi di depannya sudah dingin. Di sebelah cangkir, jam tangan hangus Rayhan terbaring di dalam kotak kaca kecil. Ia menyimpannya di sana karena kalau disimpan di laci, ia akan terus membuka laci itu. Kalau diletakkan di meja, setidaknya ia bisa pura-pura sedang mengawasi benda mati, bukan menunggu pemiliknya pulang.
"Dia yang menutup jalur Om Herman," kata Kevin dari seberang meja.
Keira mengusap layar, memperbesar foto Revano.
Wajah itu bukan Rayhan.
Tentu saja bukan.
Rayhan sudah menjadi abu di kotak hitam yang kini disimpan di ruang doa kecil lantai dua.
Namun ada sesuatu pada cara lelaki itu berdiri, bahu sedikit miring, seolah tubuhnya terbiasa menahan sakit tanpa memperlihatkannya. Keira membenci dirinya sendiri karena memperhatikan hal sekecil itu.
"Hartono tidak pernah bergerak gratis," katanya.
"Tidak ada keluarga tua yang bergerak gratis." Kevin menyesap kopinya. "Tapi kali ini gerakannya membantu kita."
"Membantu atau menagih?"
Kevin tidak menjawab.
Di ujung ruangan, Pak Lim masuk dengan langkah hati-hati. "Nona, Pak Hendrik menunggu di ruang kerja."
Keira menutup tablet.
Kevin mengangkat alis. "Aku ikut."
"Tidak perlu."
"Kalau Papa memanggilmu dengan nada itu, biasanya ada keputusan yang sudah dibuat tanpa meminta izin siapa pun."
Keira berdiri. "Maka aku perlu mendengarnya sendiri."
Ruang kerja Hendrik Liem selalu berbau kayu cendana dan kertas tua. Dindingnya dipenuhi rak buku, lukisan tinta, dan foto keluarga yang diatur terlalu rapi. Di meja besar dekat jendela, Hendrik duduk dengan kemeja putih dan rompi abu-abu, rambutnya sudah banyak memutih, tetapi matanya masih tajam seperti pisau yang disimpan baik.
Keira berhenti di depan meja.
"Papa."
Hendrik menatap putrinya lama.
Selama tiga tahun, ia menepati janji untuk tidak menarik Keira pulang secara paksa. Selama tiga tahun, ia melihat anak perempuan bungsunya dihina, menahan diri karena Keira sendiri memilih menyelesaikan pernikahan itu dengan caranya. Kini Rayhan sudah mati, tetapi wajah Keira justru tampak lebih jauh daripada ketika ia masih tinggal di rumah Sutanto.
"Kamu kurus," kata Hendrik.
"Papa memanggilku untuk menimbang berat badan?"
Hendrik menghela napas. "Duduk."
"Aku lebih suka berdiri."
"Keira."
Nama itu keluar dengan suara seorang ayah, bukan kepala keluarga. Keira akhirnya duduk, tetapi punggungnya tetap tegak.
Hendrik mendorong satu map ke arahnya.
Keira tidak langsung membukanya. "Apa ini?"
"Perjanjian pertunangan."
Ruangan itu mendadak terlalu sunyi.
Keira menatap map itu, lalu menatap ayahnya. "Pertunangan siapa?"
"Kamu."
Senyum kecil muncul di bibir Keira, dingin dan tidak percaya. "Rayhan belum empat puluh hari menjadi abu."
"Aku tahu."
"Papa tahu, tapi masih menyodorkan pertunangan?"
"Aku menyodorkan perlindungan."
Keira tertawa pendek. "Aku punya tiga kakak laki-laki, satu keluarga dengan setengah ekonomi negeri ini, dan sembilan puluh persen Sutanto Corp. Perlindungan macam apa yang tidak bisa kubeli?"
Hendrik tidak terpancing. "Jenis perlindungan yang tidak bisa dibeli dengan saham. Hartono."
Keira menunduk ke map itu.
Ia sudah tahu nama yang akan muncul sebelum membuka halaman pertama.
Revano Hartono.
Tanda tangan lelaki itu ada di bagian bawah. Rapi, tajam, tanpa keraguan.
Keira merasakan sesuatu jatuh di dalam dadanya, bukan karena nama itu, melainkan karena kenyataan bahwa semua orang di sekitarnya terus memindahkan hidupnya dari satu lelaki ke lelaki lain seolah ia properti yang harus diparkir di garasi aman.
"Aku tidak setuju."
"Kamu belum mendengar alasannya."
"Aku tidak perlu."
"S404 berasal dari jalur yang melibatkan keluarga kita. Om Herman belum tertangkap. Harrison belum ditemukan. Nathan Wijaya masih punya akses yang belum bisa kita baca sepenuhnya. Setelah Rayhan mati, semua orang tahu titik lemahmu."
Keira menggenggam map itu. "Jangan gunakan kematian Rayhan untuk memaksaku."
Mata Hendrik melembut sesaat, tetapi suaranya tetap tegas. "Aku tidak memaksamu untuk mencintai Revano. Aku mengikat dua keluarga agar tidak ada orang yang berani menyentuhmu saat kita membersihkan ular di rumah sendiri."
"Papa sudah tanda tangan?"
"Ya."
"Tanpa bertanya padaku."
"Aku bertanya sekarang."
Keira menutup map itu dan mendorongnya kembali. "Kalau jawabanku tidak, apakah kontraknya batal?"
Hendrik diam.
Jawaban itu cukup.
Keira berdiri. "Kalau begitu Papa bukan bertanya. Papa memberi tahu."
"Keira, kamu anakku."
"Aku tahu." Suaranya turun. "Itu sebabnya ini sakit."
Pintu ruang kerja terbuka sebelum Hendrik sempat menjawab. Kevin masuk tanpa mengetuk, wajahnya gelap.
"Papa, serius? Revano Hartono?"
Hendrik menatap putra ketiganya. "Keluar."
"Tidak. Kalau Kei dijual untuk aliansi, aku ingin tahu harganya."
"Jaga mulutmu."
Keira mengangkat tangan. "Ko Kevin, cukup."
Kevin menoleh padanya. "Kau tidak perlu menerima ini."
"Aku tidak menerima."
"Kontraknya sudah dikirim ke Hartono," kata Hendrik. "Pengumuman belum keluar. Masih ada ruang untuk mengatur cara kalian bertemu."
Keira hampir tertawa lagi. Cara mereka bertemu. Seolah itu yang penting. Seolah luka bisa dirapikan dengan jadwal makan malam dan cincin pertunangan.
"Aku baru saja mengubur suamiku," katanya.
Hendrik menatapnya tajam. "Mantan suami."
Keira mematung.
Kevin langsung berkata, "Papa."
Hendrik sadar kata itu melukai, tetapi ia tidak menariknya. Dalam keluarga seperti Liem, kata yang sudah keluar sering dibiarkan berdiri agar semua orang tahu siapa yang memegang kuasa.
Keira mengambil map itu dari meja.
"Baik."
Kevin menatapnya. "Kei?"
"Aku akan bertemu Revano Hartono."
Hendrik tidak tampak lega. Ia mengenal nada putrinya.
Keira memegang map itu di sisi tubuhnya, seperti memegang bukti perkara.
"Aku akan melihat sendiri lelaki macam apa yang cukup percaya diri menandatangani hidupku tanpa pernah menatap wajahku."
Malam itu, nama Revano Hartono resmi masuk ke semua grup WhatsApp keluarga konglomerat Jakarta.
Keira Liem, putri bungsu Hendrik Liem yang baru saja mengguncang Sutanto Corp, dikabarkan akan bertunangan dengan pewaris utama Hartono Group.
Ucapan selamat datang seperti hujan palsu.
Keira mematikan ponsel.
Di ruang doa lantai dua, kotak abu Rayhan diam di bawah cahaya lampu kecil. Keira berdiri di depannya dengan map pertunangan di tangan.
"Kau bilang kalau aku memanggil namamu, kau akan mendengar," bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Ia meletakkan map itu di samping kotak abu.
"Kalau benar kau dengar, Rayhan, marahlah."
Lampu ruang doa tidak bergerak.
Hanya di luar rumah, jauh di balik pagar Menteng, sebuah mobil hitam berhenti selama beberapa detik.
Di kursi belakang, seorang lelaki berwajah asing menatap jendela lantai dua kediaman Liem.
Revano Hartono tidak turun.
Ia hanya menyentuh cincin polos di jari manisnya, lalu berkata kepada sopir dengan suara sangat pelan, "Besok."