NovelToon NovelToon
Lovely Rain, Sweet Heart

Lovely Rain, Sweet Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:589
Nilai: 5
Nama Author: Liana29

Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu tempat yang hilang

Atmosfer kantin sekolah sedang ramai-ramainya saat jam istirahat berlangsung, namun meja yang diduduki Diantha dan Reyhan terasa memiliki dunianya sendiri..

Di atas meja kayu itu, hanya ada satu cup es jeruk milik Diantha, bersanding dengan semangkuk bakso urat yang masih beruap dan segelas es teh manis besar milik Reyhan..

"Oh iya, lupa tadi ajak yang lain ke sini... Aku terlalu fokus sama kamu, hehe," ujar Reyhan di sela-sela kunyahan baksonya. Ia terkekeh pelan, menatap Diantha dengan binar mata yang begitu terang. "Kira-kira mereka pada ke mana ya?"..

Diantha mengaduk-aduk es jeruknya dengan sedotan, menimbulkan bunyi denting es batu yang beradu dengan dinding cup. Rasa canggung dan risih masih menggerogoti perasaannya. Berduaan saja dengan Reyhan seperti ini membuat dadanya terasa sesak dan enggan..

"Mmh, mungkin mereka ke belakang..." sahut Diantha pelan..

Namun, sebelum keheningan canggung itu makin menyiksa, mata Diantha menangkap sosok yang sangat familiar baru saja melangkah memasuki area kantin..

"Eh, itu ada Sari! Sariii, sini Sar!" seru Diantha refleks, melambaikan tangannya cukup tinggi..

Ada helaan napas lega yang teramat sangat keluar dari dada Diantha. Kehadiran Sari ibarat penyelamat hidupnya saat itu. Dengan adanya Sari, Diantha tidak perlu lagi menanggung rasa risih berduaan dengan Reyhan..

Sari yang mendengar namanya di panggil langsung menoleh, menyunggingkan senyum lebar, lalu melangkah menghampiri meja mereka membawa nampan berisi mienya.

Meskipun Diantha berusaha tampak menikmati obrolan bertiga yang mulai mencair berkat kepiawaian Sari membawa suasana, pikiran Diantha sama sekali tidak berada di kantin. Pikiran dan hatinya berkelana jauh... tertuju sepenuhnya pada sosok cowok bernetra pekat yang tadi pagi mematahkan pensilnya di dalam kelas.

Sementara itu, di balik rindangnya tempat rahasia belakang sekolah, suasana begitu hening dan berangin..

Althaf duduk bersandar di bangku kayu panjang dengan kepala menengadah menatap celah-celah daun. Di sampingnya, Rian sedang memangku gitar akustik, memetik senar-senar logam itu secara acak untuk menyuarakan melodi instrumental yang tenang. Mereka berdua sengaja memutar jalan dan memilih membeli minuman di kantin kejujuran dekat laboratorium, kantin yang berada di ujung sekolah lainnya, hanya demi satu alasan, Althaf tidak sanggup melihat Diantha dan Reyhan berada dalam satu bingkai yang sama..

Petikan gitar Rian berganti memainkan lagu bernuansa akustik yang lembut, mencoba menghibur dan mengalihkan fokus sahabatnya.

Namun, Rian tahu usahanya sia-sia. Sosok Althaf memang ada di sebelahnya, tetapi jiwa dan pikirannya melayang entah ke mana..

Althaf menggenggam cup es cokelatnya yang mulai mengembun rapat. Di dalam kepalanya, skenario demi skenario menyiksa terus berputar tanpa henti.

Ia membayangkan bagaimana cantiknya Diantha saat tersenyum manis di depan Reyhan. Ia membayangkan Reyhan yang dengan leluasa melempar gurauan, lalu Diantha menanggapinya dengan tawa halus, tawa yang biasanya hanya Althaf yang bisa menikmatinya saat mereka nongkrong bersama..

Dada Althaf terasa tercubit ngilu. Rasanya baru kemarin tempat rahasia di belakang sekolah ini dipenuhi riuh tawa mereka berempat. Tempat ini biasanya menjadi saksi bisu bagaimana Althaf selalu memastikan Diantha duduk di tempat yang teduh, atau bagaimana Diantha selalu membagi camilannya untuk Althaf. Tapi siang ini, kebiasaan manis itu mendadak menguap, tergantikan oleh jarak dan bayang-bayang kehadiran orang lain di antara mereka.

"Thaf," panggil Rian pelan, menghentikan petikan gitarnya begitu melihat es di cup Althaf sudah hampir mencair seluruhnya tanpa disentuh sedikit pun. "Jangan melamun terus. Es lo meleleh tuh."

Althaf tersentak kecil, lalu menunduk menatap cup di tangannya. Ia menghembuskan napas berat yang terasa panas di dada.

"Dulu... biasanya jam segini kita lagi sibuk rebutan rujak atau mi di sini ya, Ian?" gumam Althaf lirih, suaranya terdengar begitu serak dan lelah.

Rian menatap sahabatnya dengan tatapan prihatin, menyandarkan gitarnya di samping bangku. Ia paham betul, yang meleleh saat ini bukan cuma es batu di dalam cup Althaf, tapi juga ketahanan hati sahabatnya yang terpaksa berpura-pura tegar.

Rian menghela napas panjang melihat raut wajah Althaf yang begitu sendu. Ia memetik satu kord minor di gitarnya, menimbulkan nada sumbang yang seolah mewakili kehancuran hati sahabatnya.

"Gak ada gunanya lo bayangin yang enggak-enggak, Thaf," cetus Rian mencoba menyadarkan. "Lo sendiri yang milih jalan ini. Mau sampai kapan lo nyiksa diri sendiri dengan tetep duduk di sini sambil mikirin Diantha lagi ngapain sama si Reyhan?"

Althaf tak menjawab. Ia hanya menyesap es cokelatnya yang kini terasa tawar karena lelehan es batu. Tenggorokannya terasa begitu sempit untuk menelan cairan manis itu. Di matanya, bayangan Diantha tak jua memudar.

Sementara itu di kantin, kehadiran Sari benar-benar menjadi penyelamat bagi Diantha. Suasana yang tadinya kaku dan penuh keheningan canggung mendadak riuh oleh celotehan Sari yang tak ada habisnya. Namun, di tengah gelak tawa Sari dan Reyhan yang sesekali menimpali, mata Diantha beberapa kali bergulir liar meneliti setiap sudut kantin.

Dia beneran gak datang ke sini? batin Diantha bertanya-tanya.

Ada rasa kecewa yang menyelusup pelan di ulu hatinya ketika menyadari Althaf sama sekali tak menampakkan batang hidungnya. Padahal, separuh dari alasan Diantha mengiyakan ajakan Reyhan adalah untuk melihat bagaimana respons Althaf. Ia ingin melihat apakah Althaf akan menatapnya dengan rasa cemburu, atau setidaknya menunjukkan raut tidak rela. Namun, Althaf justru memilih menghindar sejauh mungkin.

"Tha'.. kok malah bengong?" tegur Sari sambil menyikut lengan Diantha pelan, membuyarkan lamunannya. "Es jeruknya jadi hambar loh nanti kalo esnya meleleh."

"Eh? Enggak kok, cuma agak ngantuk aja," alibi Diantha cepat, memaksakan senyum tipis lalu meminum es jeruknya sampai tandas..

Reyhan yang memperhatikan Diantha sejak tadi menyunggingkan senyum penuh perhatian. "Kalau capek atau ngantuk, nanti habis ini langsung istirahat di kelas aja ya.. Nanti pulangnya aku anterin lagi."

Diantha menatap Reyhan sejenak. Ada ketulusan yang begitu jelas di mata kakak kelasnya itu, hal yang membuat Diantha mendadak merasa bersalah. Reyhan benar-benar berusaha membahagiakannya, sementara dirinya hanya memanfaatkan presensi Reyhan untuk memancing reaksi cowok lain..

Gue jahat banget ya? bisik Diantha pada dirinya sendiri.

Bel tanda berakhirnya jam istirahat akhirnya berbunyi nyaring. Ketiganya berdiri dan berjalan kembali menuju koridor kelas. Di persimpangan jalan menuju tangga lantai dua, Reyhan melambaikan tangannya ke arah Diantha.

"Nanti pas bel pulang aku tunggu di depan kelas kamu ya, Tha!" seru Reyhan dengan binar mata bahagia sebelum menaiki tangga.

Diantha hanya mengangguk samar. Saat ia dan Sari kembali melangkah menuju pintu kelas X-1, dari arah berlawanan, Althaf dan Rian juga baru saja kembali dari tempat rahasia di belakang sekolah.

Langkah kaki mereka serentak terhenti di ambang pintu.

Diantha dan Althaf kembali berhadapan. Tidak ada lagi percakapan hangat atau gurauan saling ejek seperti biasanya. Althaf menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memberikan jalan agar Diantha dan Sari bisa masuk lebih dulu tanpa perlu bersenggolan darinya. Pandangan Althaf tertuju lurus pada lantai, menolak untuk menatap mata Diantha.

Diantha mengepalkan tangannya rapat-rapat. Sikap dingin Althaf yang seolah menganggapnya seperti orang asing membuat hatinya kian membeku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Diantha berjalan melewatinya begitu saja, membawa aroma harum yang sangat dihafal Althaf masuk ke dalam kelas.

Althaf menarik napas panjang saat harum tubuh Diantha menyapu indra penciumannya. Di dalam hatinya, pertahanan yang ia bangun susah payah perlahan mulai retak, menyisakan rasa penyesalan yang kian mendalam..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!