Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.
Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Cinta Dari Zhang Haire
Suasana istana perdana menteri Dong Zhang masih dalam uvoria penobatan pangeran bertopeng sebagai pemimpin pengawal pribadi perdana menteri.
Hari ini sepekan sebelum hari penobatan itu tiba. Putri Zhang Haire dan More sedang mandi di kolam air hangat kusus para putri pejabat istana.
"More, apa aku sudah pantas untuk jatuh cinta?"
"Tuan putri baru berusia 18 tahun. Itu artinya sudah memasuki fase dewasa" More menjawab dengan khas kecentilannya.
"Hai More, jangan memberi jawaban yang penuh teka-teki. Aku malas untuk berfikir" bibir ranum merah delima miliknya dicebikkannya.
Tapi bukannya menjadi jelek, justru menambah pesona kemanjaan yang sangat memikat siapapun pria yang memandangnya.
"Tuan putri adalah putri seorang perdana menteri. Jadi tidak boleh untuk bermalas-malasan. Gunakan otak anda tuan putri" More kembali menyentil putri Zhang Haire untuk merubah kemalasannya.
"Aku bosan More" sambil bermain air hangat di dalam kolam.
"Harusnya anda bersyukur putri Haire" More mencipratkan air ke wajah majikannya itu.
"More!!"
"Dengarkan aku. Banyak orang diluar sana yang hidup dalam keterbatasan. Mereka hanya bisa menikmati apa yang mereka bisa dapatkan. Bahkan ada yang hanya bisa sekedar bermimpi. Dan selamanya bermimpi"
"Apa maksudmu More? Aku semakin pusing" putri Zhang Haire hendak keluar dari kolam.
Seketika itu juga pangeran muda Syah Hang tanpa sengaja melintas di sisi utara kolam itu. Dan tanpa sengaja kedua mata mereka saling beradu.
Meski dari balik topeng, tapi sorot mata pangeran Syah Hang mampu membuat putri Zhang Haire terpaku.
Dan sialnya......
"Tuan putri Zhang, anda tanpa busana!" teriak More yang masih di dalam kolam.
Putri Zhang Haire pun panik begitu menyadari bahwa dirinya dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
"Aaaaaarrhhhhhh.......!" cepat putri Zhang Haire melompat kembali ke dalam kolam.
Berbeda dengan pangeran Syah Hang yang malah sempat terpaku melihat indahnya pemandangan tubuh putri Zhang Haire.
"Pangeran!!" Wai Hang menarik pangeran bertopeng untuk segera pergi dari kawasan kolam hangat kusus para putri itu.
"Apa dia melihatnya? Katakan More katakan dia tidak melihatnya" putri Zhang Haire memejamkan matanya.
"Aku tidak tau tuan putri, sungguh aku tidak tau" More hanya memegangi tengkuk lehernya yang mulus kuning langsat itu.
"Bagaimana ini More? Dia melihatku dia melihat semuanya milikku" dengan masih memejamkan matanya.
~~
Kastil Benteng Barat
Pangeran muda Syah Hang mondar-mandir seperti orang yang gelisah. Topeng Hua Khon yang menutupi wajahnya seolah juga mampu menunjukkan keadaan suasana hatinya.
Rupanya kegelisahan sang pangeran bisa dibaca oleh Wai Hang.
"Apakah pangeran gelisah karena tuan putri Zhang Haire"
Deg.....
Pangeran muda Syah Hang menoleh ke arah Wai Hang yang duduk sambil meneguk arak murni istana tepi barat kota.
"Apa aku terlihat gelisah?"
"Aku pernah muda seperti anda pangeran"
Pangeran Syah Hang pun melepaskan topengnya. Lalu duduk di depan panglima Wai Hang.
"Tuanku, aku ingin tau darimana luka di wajah anda itu?" rupanya Wai Hang masih saja penasaran dengan luka di wajah pangeran muda Syah Hang.
Pangeran muda Syah Hang tidak buru-buru menjawab. Bahkan diteguknya arak putih yang terkenal dari tepi timur kota.
"Luka ini milik Hua Khon" pangeran Syah Hang menyeka wajahnya yang tiba-tiba berkeringat.
"Luka milik Hua Khon?"
"Luka itu milik Hua Khon, dan dia sudah menyatu denganku" pangeran Syah Hang kembali memakai topengnya.
"Lalu bagaimana dengan rencana pangeran selanjutnya?" Wai Hang mengubah topik pembicaraan.
"Kita akan mulai darisini" pangeran bertopeng berjalan menuju kamar tidurnya.
"Semoga kita berhasil pangeran" Wai Hang pun kembali meneguk arak kesukaannya.
Lampu dengan cahaya keemasan memang menjadi ciri khas istana tepi barat kota. Tak beda dengan kamar pangeran Syah Hang yang kini sudah menjadi pemimpin pasukan pengawal pribadi perdana menteri.
Kamar yang mewah dengan hiasan motif naga emas menandai kekuatan kekuasaan kerjaan yang besar dan kuat. Setelah dua puluh tahun dalam pengasingan, akhirnya putra mahkota telah kembali ke dalam lingkungan kerjaan.
Di ranjang yang megah dan mewah itu, pangeran Syah Hang duduk termenung. Pikirannya tiba-tiba saja mengingat kejadian saat dia melihat putri Zhang Haire dalam keadaan polos. Naluri kelelakianya pun membuat bayangan putri Zhang Haire terus saja berkelebat di pikirannya.
"Ohh....tidak.....kenapa denganku ini?" sambil meletakan topeng Hua Khon di atas nakas kamarnya.
"Aku harus menemuinya"
"Tapi apa alasan untuk menemuinya?" kembali pangeran bertopeng alias pangeran Syah Hang mondar-mandir di dalam kamarnya.
~~
Di Paviliun Utama Keputren
"More....aku sungguh malu jika dia benar-benar melihat ku kemarin" putri Zhang Haire sedang berias di kamarnya.
"Tapi tuan putri suka kan?" Ledek More dengan sengaja.
"MORE!!" desisnya dengan pipi yang memerah tomat.
"Jika aku yang dilihatnya, maka aku akan minta dia menikahiku" More tertawa geli.
"Kau bercanda kan More"
"Tidak...aku tidak bercanda putri Zhang Haire"
"Kau ingin mengerjai ku?" mata putri Zhang Haire mendelik ke More si dayang.
"Untuk apa? Pendekar bertopeng yang tampan itu sekarang adalah idola baru bagi para wanita di istana tuanku. Aku pun sangat mengidolakan nya" kembali More bertingkah centil.
"Kau itu More....." putri Zhang Haire melempar bantal pada More.
Meski sejujurnya putri Zhang Haire pun tengah merasakan getaran asmara untuk pangeran bertopeng itu.
"Perdana menteri tiba!!"
Penjaga pintu utama Keputren memberi pengumuman bahwa perdana menteri Dong Zhang tiba di Keputren.
"Ayah...?!" putri Zhang Haire langsung menyambut kedatangan sang ayahanda.
"Bangunlah Zhang Haire putriku" perdana menteri Dong Zhang mengusap kepala putrinya.
"Ada apa ayah kemari?" matanya sambil melirik ke pendekar Wang Wei yang berdiri tidak jauh dari perdana menteri Dong Zhang.
"Ayah kemari untuk mengajakmu menghadiri undangan ulang tahun permaisuri Tsu En"
"Ayah.....Haire malas, lebih baik Haire disini saja ayah"
Seperti biasanya, putri Zhang Haire selalu saja menolak setiap kali diajak untuk pergi ke istana Pusat Kerjaan Hang Dzo.
Bahkan itu sejak dari putri Zhang Haire masih kecil. Dimana ketika umumnya anak kecil senang diajak bepergian. Tapi berbeda dengan putri Zhang Haire. Ia lebih memilih tinggal di rumah daripada ikut bepergian bersama ayah dan ibunya.
"Haire putriku, sekali ini saja. Ini adalah acara permaisuri Raja Hang Dzo. Pasti akan banyak pangeran-pangeran muda dari negeri tetangga yang hadir disana"
"Jadi ayah mengajak ku ke istana hanya untuk mencarikan pria yang mau menjadi pasangan ku begitu?" tatapan putri Zhang Haire terlihat penuh kesedihan.
"Bukan begitu maksud ayah putriku"
"Apa bedanya ayah...ayah pasti berniat mencarikan pria yang mapan, terpandang yang mau menjadikan Haire istrinya kan? Tapi maaf ayah, Haire tidak mau" putri Zhang Haire langsung pergi meninggalkan perdana menteri Dong Zhang.
"Tuan putri" More mengejar majikannya.
"Wang Wei, apa caraku salah sebagai seorang ayah?"
"Maaf tuanku, sama sekali tidak tuanku. Mungkin tuan putri Haire memiliki cara yang berbeda untuk menentukan pasangannya" Wang Wei menjawab dengan bijak.
Kali ini kerutan di wajah Perdana menteri Dong Zhang terlihat sangat jelas. Dan itu menunjukkan ada beban berat di pundaknya tentang masa depan putri tunggalnya itu.
"Terima kasih, selain menjadi pengawalku kamu juga bisa menjadi penasihat dalam situasi kritis seperti sekarang ini" perdana menteri Dong Zhang pun menepuk-nepuk pundak Wang Wei.
"Kita ke Kastil menemui pendekar Hua Khon"
Perdana menteri Dong Zhang dengan Wang Wei pun pergi ke Kastil benteng tepi barat kota.
~~
Di pasar rakyat tepi barat kota
Wai Hang dan pangeran Syah Hang pergi ke pasar untuk sekedar melihat-lihat keadaan penduduk kota. Terutama pangeran Syah Hang yang ingin memastikan bagaimana kondisi penduduk kotanya. Dan itulah sisi jiwa kepemimpinan yang menurun padanya dari sang ayah yaitu Raja Hang Dzo.
"Pangeran, sekarang kita sudah berada di dalam lingkaran istana. Lalu apa yang akan kita lakukan kedepanya?" Wai Hang bertanya planning selanjutnya sambil memilah milih gelang giok di kios pengrajin batu giok.
"Sementara kita disini sampai waktunya tiba" pangeran Syah Hang pun sibuk memilah milih sapu tangan cantik bermotif liontin kecil.
"Wai Hang akan selalu setia, pada tuan pangeran"
"Terima kasih tuan panglima"
"Panglima?" putri Zhang Haire mematung melihat dan mendengar pangeran bertopeng memanggil Wai Hang panglima.
"Tuan putri? Senang bertemu anda tuan putri" pangeran Syah Hang berbasa-basi.
Kegugupan pun menyergap keduanya. Hanya saling diam dan saling tatap satu sama lain. Kejadian di kolam air hangat lalu bermunculan di pikiran keduanya. Dan....
"A_aku...." bibir putri Zhang Haire tiba-tiba terasa kelu.
"A_aku..." sebaliknya pun sama dengan pangeran muda Syah Hang yang menjadi grogi bukan kepalang di hadapan putri Zhang Haire.
"Uhuk....uhuk....uhuuuk....." Wai Hang sengaja berpura-pura batuk.
"Tuan putri ini sudah ketemu" More menunjukkan pakaian dalam wanita ke putri Zhang Haire.
"More...!" putri Zhang Haire dengan cepat menyambar benda dari tangan More dan menyembunyikannya dengan wajah yang semakin merah.
Sedangkan Wai Hang menahan tawa melihat tingkah konyol More si dayang sang putri.