Aruna gadis sederhana dari keluarga biasa mendadak harus menikah dengan pria yang tak pernah ia kenal.
Karena kesalahan informasi dari temannya ia harus bertemu dengan Raka yang akan melangsungkan pernikahannya dengan sang kekasih tetapi karena kekasih Raka yang ditunggu tak kunjung datang keluarga Raka mendesak Aruna untuk menjadi pengganti pengantin wanitanya. Aruna tak bisa untuk menolak dan kabur dari tempat tersebut karena kedua orang tuanya pun merestui pernikahan mereka berdua. Aruna tak menyangka ia bisa menjadi istri seorang Raka yang ternyata seorang Ceo sebuah perusahaan besar dan ternama.
Bagaimana kehidupan mereka berdua setelah menjalani pernikahan mendadak ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Raka duduk di kursi kebesarannya, tampak berwibawa dengan kacamata yang bertengger di wajahnya, menambah pesona ketampanannya. Sorot matanya tajam namun tenang, sepenuhnya terfokus pada layar laptop di hadapannya. Jari-jarinya sesekali bergerak di atas keyboard, menandakan betapa serius ia tenggelam dalam pekerjaan.
Suasana ruang kerjanya hening, hanya terdengar suara halus pendingin ruangan dan ketukan lembut tuts laptop. Dari wajahnya terlihat jelas—Raka adalah sosok pria yang tak hanya memikat secara penampilan, tetapi juga berkarisma lewat kesungguhan dan dedikasinya.
Ketukan pintu terdengar pelan sebelum akhirnya Reno masuk ke dalam ruangan Raka. Dengan rapi ia membawa beberapa berkas di tangannya, wajahnya terlihat serius.
“Maaf mengganggu, Tuan,” ucap Reno sopan sambil melangkah mendekat ke meja kerja. Ia meletakkan map berisi dokumen di hadapan Raka. “Ini berkas yang Tuan minta, sekaligus informasi terbaru mengenai proyek yang sedang berjalan.”
Raka mengalihkan pandangannya dari layar laptop, melepas kacamata dan menatap Reno dengan penuh perhatian. Tangannya meraih berkas itu, lalu membukanya perlahan.
“Baik. Duduklah, Ren. Jelaskan detailnya pada saya,” katanya tenang namun tegas.
Reno segera menarik kursi di hadapan meja Raka, lalu mulai memaparkan isi laporan dengan jelas. Suasana ruang kerja yang sebelumnya hening kini terisi oleh diskusi serius antara atasan dan bawahannya.
"Oh iya Tuan. Kemarin orang suruhan Tuan Besar menemui saya. Mereka menemukan beberapa bukti tentang kasus tabrak lari Ayah Nona Aruna."
Raka melepaskan kacamatanya, "Bisa saya liha ?"
Reno memberikan foto mobil berwarna merah yang tak sengaja di foto oleh orang yang sedang melintas saat kejadian berlangsung.
"Baik. Kamu boleh kembali dulu, saya akan mencari tahu untuk lebih lanjutnya." Reno mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan Raka.
Setelah kepergian Raka, terdengar telefon berbunyi. Dilihatnya layar telefon miliknya tertera nama Oma disana. Tanpa berfikir panjang Raka mengambil telefon miliknya.
"Hallo Oma. Iya, ada apa ?".
[ Kamu datang ke taman kota sekarang juga! ]
"Taman kota ? Ngapain Oma di taman kota ? Oma nggak papa kan ?"
[ Nggak usah banyak tanya. Kamu susul Aruna di taman kota. Oma pulang duluan ]
Raka terdiam, berfikir sejenak. Sebenarnya apa yang sedang di rencanakan oleh Oma nya.
[ Hallo Raka.. Hallo.. Kamu masih disana kan ? ]
"Iya Oma.. Raka jalan kesana."
[ Bagus. Cepat ! Jangan sampai Aruna menunggu lama ]
Raka menutup teleponnya dengan gerakan tenang, lalu menekan tombol shutdown pada laptopnya. Layar hitam menandai selesainya pekerjaannya untuk sementara.
Dengan langkah mantap, ia berdiri dan merapikan jas yang tadi sempat dilepas. Ia pun segera melangkah keluar untuk menyusul Aruna di taman kota.
* *
Di sebuah bangku taman kota, Aruna duduk santai sambil memainkan ponsel miliknya. Cahaya lampu taman memantul lembut di layar ponselnya, menambah kehangatan suasana malam.
Saat dirasa sudah cukup lama Oma Sita pergi ke kamar mandi namun tak kunjung kembali, hati Aruna mulai diliputi rasa cemas. Ia menoleh ke arah jalan setapak berkali-kali, berharap Oma Sita segera muncul. Tapi yang ditunggu tak kunjung terlihat.
Aruna akhirnya berdiri dari bangku taman. “Jangan-jangan Oma tersesat…” pikirnya dengan khawatir. Ia melangkah cepat hendak menyusul ke arah toilet umum di taman itu.
Namun tepat ketika ia beranjak, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Suara itu begitu familiar, membuat langkah Aruna terhenti seketika.
"Duduk saja. Nggak usah dicari, Oma sudah pulang."
Aruna menoleh, dan "Raka.."
Aruna menoleh ke belakang dan menatap heran saat melihat Raka berdiri di sana, tepat di belakangnya. Jantungnya sedikit berdebar, tak menyangka akan bertemu Raka di taman kota malam itu.
Raka tersenyum tipis, menatap Aruna dengan pandangan lembut yang membuat suasana mendadak terasa hangat meski dinginnya angin malam menyapu pepohonan di sekeliling.
“Ngapain sendirian disini ?” tanya Raka dengan suara tenang namun penuh perhatian, seakan ingin memastikan Aruna merasa nyaman.
Aruna menelan ludah, sedikit gugup tapi tersenyum. “Aku nggak sendiri kok. Tadi datang kesini sama Oma. Terus Oma bilang mau ke toilet, tapi sampai sekarang nggak balik-balik. Apa mungkin Oma tersesat yah."
Raka mengangguk pelan, lalu melangkah mendekat. Ia yakin, ini memang rencana Oma meninggalkan Aruna sendiri disini. Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi pesan masuk di ponselnya.
[ Jangan buru-buru pulang. Ajak Aruna jalan-jalan dulu di taman. Nikmati waktu malam kalian! ]
Isi pesan Oma Sita, membuat Raka mendengus lalu menatap Aruna.
"Oma nggak mungkin tersesat. Udah mending kita duduk aja disini." ucap Raka lalu duduk di kursi panjang yang tadi Aruna duduki.
Aruna menoleh, melangkah maju menyusul Raka dan duduk di sampingnya, "Kamu kok santai gitu ? memangnya nggak takut kalau tiba-tiba Oma hilang gimana. Ini kan sudah malam."
Raka menghela nafas, "Oma sudah pulang. Mungkin sekarang juga sudah sampai dirumah."
Aruna terbelalak kaget, "Hah.. Maksud kamu ?"
Belum sempat Raka menjawab, terdengar suara notifikasi pesan di ponsel milik Aruna.
[ Maaf Aruna. Oma tiba-tiba sakit perut, mau ke toilet taman penuh jadi Oma pulang duluan. Maaf ya, Oma nggak pamitan sama kamu. Tapi Oma udah menyuruh Raka menyusul kamu. Dia udah datang kan ? ]
Isi pesan Oma Sita di ponselnya membuatnya melirik Raka. Lalu ia pun membalas pesan Oma Sita.
"Iya Oma. Raka baru saja sampai. Oma istirahat saja di rumah, jangan khawatirkan Aruna". Setelah selesai membalas pesan Oma. Aruna mematikan ponselnya lalu memasukan ke dalam tas.
"Ya udah. Mending kita pulang aja sekarang. Kamu pasti capek kan ?" Aruna menatap Raka di sampingnya.
"Kenapa buru-buru. Berhubung kita sudah disini, kenapa nggak jalan-jalan dulu sebentar. Lagian ini juga belum terlalu malam." Ajak Raka membuat Aruna heran. Sedangkan Aruna tidak ada alasan untuk menolak.
Aruna dan Raka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak di taman kota. Cahaya lampu taman yang temaram memantul di trotoar, menciptakan bayangan lembut di sekitar mereka. Suara gemericik air mancur dan desir angin malam menambah ketenangan suasana.
Sesekali, mereka menoleh ke kanan-kiri, menikmati pemandangan pepohonan rindang dan bunga-bunga yang terlihat indah di bawah cahaya lampu. Tawa kecil terdengar ketika mereka melihat beberapa anak bermain sepeda atau burung malam yang beterbangan.
Mereka berjalan perlahan, menikmati momen yang tenang dan damai, seakan malam itu memberikan ruang untuk mereka hadir sepenuhnya tanpa gangguan. Aruna merasa nyaman berada di samping Raka, sementara Raka tampak santai namun tetap memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Tak sengaja, dari arah belakang terdengar suara deru roda sepeda kecil. Aruna menoleh dan melihat seorang anak kecil meluncur cepat dengan sepedanya, tanpa sempat mengerem.
Dengan sigap, Raka langsung bergerak. Tanpa berpikir panjang, ia menarik Aruna ke dalam pelukannya, menahan tubuhnya agar tak tertabrak. Jantung Aruna berdetak kencang, tubuhnya menempel hangat pada Raka.
Anak kecil itu berhenti mendadak, sedikit terkejut, lalu menurunkan sepedanya. Raka melepaskan pelukan dengan hati-hati, memastikan Aruna aman.
“Aruna… kamu baik-baik saja?” tanya Raka dengan nada khawatir, matanya menatap tajam ke arah Aruna.
Aruna mengangguk, napasnya masih agak tersengal. “I-Iya… terima kasih, Mas.”
Raka tersenyum tipis, menepuk pundak Aruna dengan lembut. "Kamu mau makan sesuatu ? Ayo beli makanan dulu." Ajak nya, lalu menarik tangan Aruna berjalan ke arah penjual makanan di area taman.
Aruna terkejut saat Raka tiba-tiba menarik dan menggenggam erat tangannya. Belum sempat rasanya ia bernafas tadi, saat Raka memeluknya dan sekarang di tambah Raka yang menggenggam tangannya.
Setelah selesai membeli beberapa makanan dari pedagang di pinggir taman, Aruna dan Raka kembali duduk di bangku taman yang sama. Suasana malam tetap tenang, diterangi lampu taman yang lembut.
Aruna mulai memakan corndog yang dibelinya, gigitan demi gigitan membuatnya tersenyum kecil karena rasanya yang hangat dan gurih. Sementara itu, Raka memegang secangkir kopi hangat, sesekali menyeruputnya perlahan sambil menatap taman di depan mereka.
"Enak ?". Tanya Raka saat melihat Aruna begitu lahap saat memakannya.
Aruna mengangguk, "Hm.. Enak. Kamu mau ?" Aruna menoleh menatap Raka.
Raka tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya dengan masih menatap lekat Aruna yang berada di depannya.
Aruna berkedip pelan saat menyadari Raka tiba-tiba mengulurkan tangan, mengusap sisa saus yang menempel di sudut bibirnya dengan jarinya sendiri. Ia sempat terdiam, tak tahu harus bereaksi apa.
Tanpa banyak kata, Raka justru membawa jarinya itu ke bibirnya dan menjilatnya ringan. “Hm… manis,” gumamnya singkat, seolah-olah hal itu wajar saja dilakukan.
Jangan tanya lagi keadaan Aruna sekarang. Pipi Aruna merah merona, dengan degup jantung yang berdetak semakin kencang.
* * *