Flower Florencia hidup dalam tekanan—dari keluarganya yang selalu menuntut kesempurnaan hingga lingkungan universitas yang membuatnya merasa terasing. Di ambang keputusasaan, ia memilih mengakhiri hidupnya, namun takdir berkata lain.
Kim Anderson, seorang dokter tampan dan kaya, menjadi penyelamatnya. Ia bukan hanya menyelamatkan nyawa Flower, tetapi juga perlahan menjadi tempat perlindungannya. Di saat semua orang mengabaikannya, Kim selalu ada—menghibur, mendukung, dan membantunya bangkit dari keterpurukan.
Namun, semakin Flower bergantung padanya, semakin jelas bahwa Kim menyimpan sesuatu. Ada alasan di balik perhatiannya yang begitu besar, sesuatu yang ia sembunyikan rapat-rapat. Apakah itu sekadar belas kasih, atau ada rahasia masa lalu yang mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Cici memandang Flower yang tergeletak di tengah jalan dengan tidak berdaya. Matanya penuh dengan kemarahan, dendam, dan kehancuran yang membara.
"Flower, di dunia ini hanya ada aku, tidak ada kamu," gumamnya dengan suara getir, hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri. Bibirnya bergetar menahan emosi. "Kalau aku tidak bisa kembali ke keluarga Florencia, maka kau juga tidak bisa. Hidupku hancur dan menjadi bahan lelucon publik... Jadi jangan berharap kau bisa hidup dengan baik."
Nada suaranya penuh kepiluan, tapi juga kejam. Tatapannya dingin, seperti orang asing yang tak lagi mengenal belas kasih.
Di sekeliling mereka, kendaraan dan para pejalan kaki mulai berhenti. Beberapa orang berlari menghampiri dengan wajah panik. Mata Flower masih terbuka, tatapannya kosong namun menahan rasa sakit. Ia masih mencoba bertahan, menatap sosok Cici yang berdiri tak jauh di depannya.
“Cici…,” bisik Flower lemah, Namun setelah itu, tubuhnya limbung dan kesadarannya hilang seketika.
Malam hari.
Lampu ruang tamu menyala temaram. Kim duduk gelisah di sofa, tatapannya terus tertuju pada arloji di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam terus berputar, namun sosok gadis yang dinantikannya belum juga muncul.
"Sudah malam begini, kenapa masih belum pulang?" gumam Kim, suaranya terdengar cemas dan lelah. Ia menatap pintu.
Tanpa menunda lagi, Kim meraih ponselnya dan menghubungi nomor Flower. Nada sambung terdengar, tapi tak ada jawaban.
Ia mendecak pelan, lalu segera menekan nomor lain di daftar kontaknya.
"Hallo, Tuan," sapa seorang pria dari seberang sana.
Kim langsung berbicara dengan nada tegas dan panik, “Selidiki di mana Flower saat ini. Nomornya tidak bisa dihubungi. Lacak posisinya sekarang juga!”
Tanpa menunggu balasan, Kim memutuskan panggilan. Ia menggenggam ponselnya erat, keningnya berkerut penuh kekhawatiran.
“Bukankah dia bertemu dengan keluarganya hari ini?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Jadi… ke mana dia sekarang?”
Pikirannya dipenuhi kemungkinan terburuk. Hatinya mulai tak tenang, karena instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
***
Sebuah rumah sakit besar dan ternama di negara itu kini menjadi saksi bisu dari kekacauan yang mendadak menyerang keluarga Florencia. Di luar ruang Unit Gawat Darurat, keluarga terpandang itu berdiri dalam lingkaran penuh kegelisahan. Suasana terasa menegang, udara malam terasa dingin menusuk tulang, namun peluh tetap membasahi dahi mereka karena kekhawatiran.
Zoanna, sang ibu, mondar-mandir dengan mata berkaca-kaca. Ia lalu menatap putra sulungnya dengan tatapan penuh tuntutan.
“Alan, apakah sudah menemukan pelakunya?” tanyanya dengan suara bergetar, berusaha tetap tenang meski jelas-jelas hatinya bergolak.
Alan mengangguk pelan, meski wajahnya tak bisa menyembunyikan kekecewaan. “Masih dalam penyelidikan, Ma. Jangan khawatir. Kita pasti temukan siapa yang menabrak Adik,” ucapnya mantap, mencoba menenangkan hati ibunya sekaligus dirinya sendiri.
Wilson, menghela napas panjang. Sorot matanya penuh luka dan kemarahan. “Selama ini Adik adalah orang yang sangat berhati-hati… Siapa yang menabraknya dengan begitu kejam?” katanya lirih, lalu menatap semua anggota keluarga. “Kalau bukan karena ada seseorang yang menghubungi kita, mungkin kita tidak akan tahu bahwa Flower mengalami kecelakaan.”
Suasana semakin hening saat Yohanes, kepala keluarga Florencia, akhirnya angkat bicara. Suaranya rendah tapi tegas, penuh wibawa dan dendam yang membara.
“Setelah menemukan pelakunya, tuntut dia hingga tuntas. Berani menyentuh putriku… Aku tidak akan melepaskan dia begitu saja,” ucapnya dengan tatapan menusuk, seolah melihat pelaku di depan matanya.
Alan mengangguk cepat. “Baik, Pa,” jawabnya dengan hormat.
Mereka terdiam sejenak, sampai akhirnya Wilson kembali bersuara, kali ini dengan nada lebih lembut. “Sudah larut malam… Flower tinggal bersama Kim Anderson. Aku rasa dia belum tahu soal kejadian ini. Bukankah kita harus memberitahunya?”
Alan melirik Wilson dengan tajam. Wajahnya tampak dingin dan penuh perhitungan. “Lebih baik tidak perlu. Ini adalah kesempatan kita untuk membuat Adik kembali pada kita,” katanya tanpa ragu.
Ia menatap ruang UGD sejenak sebelum melanjutkan, “Sebaik apa pun Kim Anderson terhadap Adik, dia tetap hanya orang luar. Asalkan Adik merasakan perhatian kita padanya, maka cepat atau lambat dia akan luluh… dan ikut kita pulang.”
Wilson tampak ragu. Ia menggeleng perlahan. “Bagaimanapun, Kim Anderson telah melindungi Adik kita dengan sangat baik. Bukankah itu keterlaluan kalau kita diam saja?”
Alan menatap adiknya, kali ini dengan keteguhan seorang pewaris keluarga besar. “Wilson… demi keluarga kita kembali utuh, kita harus pisahkan mereka. Saat ini, Flower butuh perhatian dan dukungan dari keluarga kandungnya. Kita harus melakukan apa pun demi dia. Dengan begitu, Flower akan melupakan pria itu… dan kembali menjadi bagian dari kita, sepenuhnya.”
Tak ada yang membantah. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri, sambil berharap gadis yang kini berjuang di balik pintu gawat darurat itu akan segera bangun—dan kembali, bukan hanya secara fisik, tetapi juga hati dan jiwanya.
“Setelah Flower sadar, kita akan carikan jodoh untuknya. Maka, dia akan segera melupakan Kim Anderson,” ucap Zoanna, memandang lurus ke depan.
Alan, yang berdiri di sampingnya, mengangguk cepat. Wajahnya menunjukkan keseriusan penuh. “Mengenai hal ini, sangat mudah dilakukan,” jawabnya yakin. “Aku memiliki beberapa teman yang kebetulan sedang mencari pasangan. Adik cantik, polos, dan berasal dari keluarga terhormat. Jadi, sangat pantas disandingkan dengan mereka.”
Tatapannya berubah tajam ketika menyebut nama Kim Anderson. “Lagipula, Kim Anderson sudah memiliki seorang tunangan. Maka, dia harus menjaga jaraknya dari Adik.”
Wilson yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara, alisnya terangkat penuh curiga. “Apakah kamu sudah menyelidiki kehidupan pria itu?”
Alan mengangguk mantap. “Benar! Aku ingin tahu lebih dalam tentang siapa dia sebenarnya. Kim Anderson tampak baik di permukaan, tapi ternyata dia sudah bertunangan dan masih saja mendekati Adik. Itu bukan sikap pria yang setia.”
Suara Alan semakin rendah namun penuh penekanan, seolah menahan amarah yang membuncah. “Dia hanyalah pria yang memanfaatkan situasi. Mengambil kesempatan ketika Adik sedang rapuh. Aku tidak akan membiarkan pria seperti itu terus berada di dekatnya.”
Keluarga Florencia telah membuat keputusan—dan mereka akan menjalankan rencana itu sekuat mungkin. Demi merebut kembali Flower, dan memisahkannya dari pria yang dianggap tidak pantas.
Bagaimana dengan hubungan Kim dan Flower, apakah akan ada perkembangan?