NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pak AL

Istri Kontrak Pak AL

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asni Diyanti

Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.

Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.

Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.

Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian yang Tak Diduga

Pagi itu terasa biasa saja. Cika bangun lebih pagi untuk menyiapkan kelas Sabtu, sementara Al masih meringkuk di tempat tidur. Tapi ada yang berbeda dari cara tubuh Cika bergerak. Ia lebih lambat, sering merasa pusing, dan mual mulai muncul sejak dua hari lalu. Awalnya ia kira karena kecapekan, tapi instingnya berkata lain.

Setelah anak-anak pulang dari sesi kelas, Cika duduk di dapur sambil menatap cangkir tehnya yang sudah dingin. Ia mengambil test pack dari laci, benda yang terakhir kali menyimpan harapan dan luka sekaligus.

Beberapa menit kemudian, dua garis muncul. Kali ini jelas. Tegas.

Cika menatap hasilnya lama. Air matanya jatuh, tapi tidak dengan panik seperti sebelumnya. Kali ini, air mata itu mengalir dengan tenang. Ia belum memberitahu Al. Belum saatnya. Ia ingin memastikan semuanya dulu.

---

Senin pagi, Cika pergi ke dokter kandungan tanpa memberi tahu Al. Pemeriksaan dilakukan cepat. Dan kali ini, dokter tersenyum hangat.

“Selamat ya, Bu Cika. Kehamilan Anda sehat. Sudah lima minggu.”

Cika mengangguk pelan, air matanya jatuh kembali. Tapi kali ini, ada rasa lega yang lebih kuat daripada rasa takut.

---

Sore harinya, Al baru pulang dari kantor saat ia melihat Cika duduk di taman kecil belakang rumah, memeluk bantal dan mengenakan sweater tebal.

“Kamu kedinginan?”

“Nggak. Cuma... pengen diem dulu.”

Al duduk di sampingnya. “Kamu kenapa?”

Cika menatapnya. Lalu tanpa banyak basa-basi, ia menyerahkan amplop kecil berisi foto USG.

Al membuka amplop itu perlahan. Matanya menatap layar kecil hitam putih dengan titik kecil di tengah.

“Ini...?”

Cika mengangguk. “Iya. Kita... dapat kesempatan kedua.”

Al terdiam cukup lama. Lalu ia menatap Cika, menarik napas panjang, lalu memeluknya erat. Pelukannya tidak sekadar pelukan—itu adalah pelukan yang menyimpan banyak janji.

“Kita akan jaga dia baik-baik.”

---

Namun di saat mereka mulai merayakan kabar ini perlahan, berita lain datang. Al dipanggil oleh direksi pusat YukBelanja. Ia mendapat tawaran untuk memimpin divisi baru yang akan dibuka di luar negeri—di Singapura. Promosi yang sebelumnya hanya rumor, kini menjadi kenyataan.

“Ini besar, Cik,” kata Al malam itu di ruang makan. “Aku nggak pernah nyangka akan ditawari posisi ini.”

Cika tersenyum kaku. “Tapi itu berarti kamu harus pindah ke luar negeri?”

Al mengangguk. “Setahun. Bisa lebih kalau performanya bagus.”

Cika terdiam. Rumah mereka baru saja menjadi hidup. Kehamilan ini baru saja mereka peluk bersama. Dan kini, jarak kembali datang mengetuk.

“Kalau kamu pergi... aku gimana? Kita?”

Al menatap istrinya dalam. “Aku nggak akan pergi kalau itu berarti harus ninggalin kamu di tengah ini semua.”

“Tapi kamu juga nggak bisa mundur dari sesuatu yang kamu impikan sejak lama. Kamu kerja keras buat ini.”

---

Malam itu mereka tak tidur. Mereka bicara, lama. Membahas kemungkinan. Mempertimbangkan rencana. Bahkan sampai membayangkan bagaimana kalau Cika ikut pindah, atau bagaimana jika Al tetap di Jakarta.

Cika berjalan ke dapur, mengambil air. Saat kembali, ia berkata lirih, “Kita mungkin belum siap jadi orang tua. Tapi aku nggak mau anak kita lahir tanpa salah satu dari kita di sisinya.”

Al memeluknya dari belakang. “Aku juga. Aku mau ada. Dari detik pertama.”

---

Beberapa hari kemudian, Al menghadap direksi dan menyampaikan keputusan berat: ia menolak posisi di luar negeri.

Saat ia pulang, Cika menunggunya di teras. Ia tahu jawabannya dari raut wajah Al.

“Kamu yakin?”

“Yakin. Aku bisa kejar ambisi kapan pun. Tapi kesempatan untuk mendampingi kamu... untuk jadi ayah dari awal... itu cuma datang sekali.”

Cika menangis. Mereka berpelukan lama.

Karena kali ini, mereka memilih cinta. Tanpa keraguan. Tanpa menunda.

Dan untuk pertama kalinya, langkah mereka benar-benar menuju masa depan yang sama—dengan satu harapan kecil di dalam tubuh Cika, yang akan mengubah segalanya.

bersambung....

1
Kevin Wowor
Author, chapter baru kapan? Saya ketagihan nih!
Asni Diyanti: terimakasih! wait tidak lama lagi.
total 1 replies
<|^BeLly^|>
Nggak bisa bayangkan hidup tanpa cerita dan karakter dalam karya ini!
Asni Diyanti: eh gimana maksudnya kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!