"Kamu tidak perlu bertanggung jawab. semua yang kamu takutkan tidak akan terjadi,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Positif
Levin menggenggam tangan Alona menelusuri koridor rumah sakit. Sesekali bibirnya mengecup buku jari Alona.
"Kamu ingin makan dulu?" tanya Levin seraya meraih tubuh Alona dalam pelukannya karena ada dua orang suster yang sedang mendorong bangsal di depan mereka. Levin takut mereka menyentuh Alonanya yang sedang hamil.
Alona menggeleng dan berusaha menjauh karena beberapa tatapan pengunjung rumah sakit terlihat menilai mereka buruk.
Apalagi saat melihat tangan Levin yang tak henti mengusap perut rata Alona. Mereka seolah mengecam bahwa Levin dan Alona adalah sepasang anak muda yang belum memiliki ikatan. Wajar memang karena wajah Alona masih terlihat seperti remaja.
Levin berhenti di depan dua orang wanita yang terlihat sedang menatapnya dan Alona. Matanya sinis dengan mulut tak henti berbisik bersama rekan di sebelahnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Levin dengan suara dalamnya. Levin menarik pelan tangan Levin saat dilihatnya lelaki itu mulai emosi dan tidak nyaman ditatap sedemikian rupa.
"Bukan urusan anda!"
Levin tersenyum miring. Emosi dalam dirinya menjadikan Ia kian mencengkram tangan Alona di sela jarinya.
"Menjadi urusanku karena kalian melakukannya di rumah sakit milikku. Jangan pernah menilai kami!!"
***************
"Temani aku ke suatu tempat ya?" tanya Levin di sela mulutnya yang bergerak untuk menyantap soto babat.
Alona mengangguk dan makan dengan tenang. Ia sama sekali tidak terganggu dengan suasana restoran yang cukup ramai.
"Sampai sekarang aku tidak yakin kalau aku sedang hamil," ucap Alona.
Karena Alona tidak pernah merasakan tanda-tandanya. Masalah nafsu makan berkurang dan mood yang mudah rusak, sepertinya sangat wajar untuknya. Ia tidak menyangka kalau yang dialaminya belakangan ini, dilatar belakangi oleh kehamilannya.
"Aku juga tidak melihat tanda-tanda kehamilanmu. Beruntungnya Mama menyarankan aku untuk membawamu ke Rumah sakit agar kamu diperiksa," ucap Levin dengan mata berbinarnya.
Sorak kebahagiaannya belum juga pudar. Ia tidak sabar bertemu dengan anak sulungnya. Sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi seorang ayah.
"Jaga kesehatanmu, Alona!"
**************
Suara tembakan memenuhi telinga Alona ketika memasuki tempat itu. Tangan Alona mencengkram jemari Levin. Ia ketakutan berada di sana.
Levin yang menyadari pun langsung menoleh dan memperhatikan tautan yang terjalin diantara mereka.
Ia mengusap kepala Alona dengan lembut menggunakan tangannya yang lain.
"Jangan takut seperti itu," ucapnya.
Alona menggeleng. Bagaimana dia tidak takut? Alona belum pernah datang ke lapangan tembak seperti ini.
"Untuk apa kita di sini? aku takut mendengar peluru-peluru itu, Levin!!" cicit Alona.
Levin memakluminya. Tapi Alona harus terbiasa dengan hal yang Ia sukai itu. Sudah cukup lama Levin tidak menembak. Dan sekarang waktunya sangat tepat. Suasana hatinya sedang bahagia maka Ia akan melepas pelurunya dengan bahagia pula.
"Ayo kita ke sana," tangan Levin menarik pergelangan tangan Alona yang langsung ditepis oleh perempuan itu.
"Kamu gila ya?! aku lagi hamil, nanti kalau bayinya juga kaget seperti aku bagaimana?"
Alona malu menunjukkan ketakutannya di mata para lelaki yang menjadi pengunjung tempat itu juga. Tidak banyak perempuan di sana.
"Tidak, sayang. Anakku juga akan menyukainya," ucap Levin dengan sebelah alis terangkat berusaha meyakinkan istrinya.
"Aku ingin pulang!!" ucap Alona tidak ingin dibantah. Namun Levin menggeleng tegas.
"Aku sudah lama tidak menembak. Biarkan aku menembak peluru dalam arti yang sebenarnya. Karena kalau menembak kamu dengan peluru lain, kamu masih malu-malu,"
Alona diam beberapa saat untuk mencerna kalimat itu. Setelah mengerti, Ia memukul kencang lengan Levin hingga suaminya itu tertawa keras.
"Lelaki mesum!!" Alona berusaha menahan teriakan kesalnya.
Levin menahan tangan Alona yang belum puas memukul lengan kekarnya. Levin khawatir tangan Alona yang kesakitan karena harus memukulnya tiada henti seperti itu. Dikecupnya jemari lentik Alona.
"Kamu duduk di sini! Aku akan ke tengah lapangan untuk menembak," ucap Levin sebelum akhirnya kaki jenjang itu meninggalkan Alona.
Alona mengeluarkan ponselnya untuk mengusir rasa bosan. Ia memainkan game apapun yang bisa menghilangkan rasa kesalnya dengan Levin.
Sementara Levin di sana mulai fokus dengan titik incarannya. Matanya menyipit dengan tangan yang memegang erat alat penembak. Manik tajam itu membidik dengan tepat. Hingga peluru yang dilepasnya mampu menembus dan menghancurkan sasarannya.
"Walaupun sudah lama tidak melakukan ini, nyatanya kemampuanmu masih tidak terkalahkan, Levin,"
Levin tersenyum miring ketika salah satu temannya memuji. Levin memang tidak akan terkalahkan dalam hal apapun. Ia ditakdirkan sebagai manusia yang nyaris sempurna.
*************
Up lg niyyy Jgn lupa like, vote & comentnya semuaaaa. Makasi yaaww
mampir jg di bukalah hatimu untukku
Gabungin ja thor sm MCH biar bareng sm triple A.
Khadziya ketinggaln jauh dech si triple A udh pd gede si dziya mlh msh baby 😂