Maira adalah gadis yang menjadi simpanan seorang pria tampan yang kaya raya, sebenarnya Maira juga adalah masa lalu dari pria itu. Mereka berpisah karena sebuah perjodohan yang memaksa pria itu harus meninggalkan Maira, tapi pada dasarnya mereka tetap tak bisa saling melepaskan, mereka bahkan masih sering bertemu tanpa sepengetahuan istri dan keluarga pria tersebut.
Akan seperti apakah perjalan hidup mereka? akankah pria itu mengejar dan memperjuangkan kembali cintanya dengan Maira, atau malah jatuh cinta pada wanita yang saat ini telah menjadi istri sahnya secara hukum?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Terang Masalah Ini
Hari sudah berganti, Maira dan Naura saat ini sedang sarapan di meja makan.
"Sayang nanti pulang sekolah kamu mau kemana? " tanya Maira sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Gak mau ke mana-mana, " balas Naura yang juga sedang makan.
"Emangnya apa kan? " tanya balik Naura.
"Enggak kakak cuman nanya aja, " balas Maira.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka berdua pun selesai sarapan. Naura sudah siap pergi sekolah sedangkan Maira juga akan pergi bekerja kembali di rumahnya Arga.
Saat mereka berdua keluar secara bersamaan tiba-tiba seseorang berdiri di hadapan pintu, sepertinya orang itu ingin mengetuk pintu itu namun keburu di buka oleh Maira dan Naura.
"Ngapain lu ke sini? " tanya Maira sambil menatap pria yang ada di hadapannya itu.
"Mau ngajak lu pergi bareng, " balas Miko, yah pria itu adalah Miko.
"Gue mau kerja Miko, " ucap Maira.
"Iyah, gue anterin, " balas Miko.
"Ken gak ke sini? " tanya Miko sambil menatap Naura.
"Enggak kak, emangnya kenapa yah? " tanya balik Naura.
"Kan kalian bentar lagi pacaran masa gak di jemput sih pacarnya, " balas Miko.
"Apaan sih kak? Kita gak bakalan pacaran kok, kita kan cuman temen, " ucap Naura membantah ucapan Miko.
"Ah udahlah, kakak juga tau kok kalau kalian bentar lagi bakal jadian, " goda Miko.
"Udah ah, gue mau pergi kerja. Kalau mau nganterin gue sekarang yuk, kalau lu mau ngobrol sama adik gue mending lu anterin dia jangan gue, " timpa Maira yang tidak mau lama-lama berada di sini.
"Iyah-iyah, galak banget sih, " balas Miko.
"Aku berangkat dulu yah, " pamit Maira pada Naura.
"Ya udah hati-hati yah, " balas Naura.
Maira dan Miko pun berjalan mendahului Naura, mereka masuk ke mobil Miko. Setelah masuk Miko langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Arga.
"Gue turut berdukacita yah sama Arga, " ucap Miko.
"Belum mati, ngapain berdukacita, " balas Maira tanpa menatap ke arah Miko.
"Tapikan dia sekarang hilang ingatan, " ucap Miko.
"Tapi kan sekarang dia bahagia, walaupun hilang ingatan. Harusnya lu berdukacita nya sama gue, " balas Maira agak sewot sambil menatap Miko.
"Ya ampun Ra, biasa aja kali. Iyah deh gue turut berdukacita yah sama lu, " ucap Miko.
"Udah gak mood, " balas Maira sambil menatap ke arah depan.
"Serba salah gue mah kalau di deket lu, " ucap Miko.
"Emang lu mah salah, " balas Maira.
"Kalau gak mau disalahin lu diem gak udah banyak bicara, " sambung Maira.
Beberapa menit kemudian, mereka kini sampai di depan rumah Arga. Maira turun dari mobil Miko dan berdiri di samping mobil Miko.
"Nanti pulangnya aku jemput yah, takutnya hujan. Nanti lu kehujanan lagi, " ucap Miko.
"Iyah, " balas Maira datar.
"Ya udah aku pergi dulu yah, " pamit Miko sambil melambaikan tangannya ke arah Maira.
"Hati-hati, " balas Maira sambil membalas lambaian Miko.
Setelah Maira tak dapat melihat mobil Miko barulah Maira masuk ke rumah itu, dan mulai berjalan ke arah ruangan ganti. Ia akan memakai seragam kerjanya terlebih dahulu di sana.
Namun saat ia sampai di ruang utama yang berada di sana ia malah menangkap sebuah keharmonisan yang terjalin dalam satu keluarga, hari ini ayah dan ibunya Arga datang untuk menjenguk anaknya.
Mereka tengah bercanda sambil tertawa di ruang utama rumah ini, Maira malah terdiam sambil menatap ke arah sana. Sampai seseorang membuat Maira tersadar dari lamunannya.
"Hey, sedang apa di sini? " tanya seseorang yang membuat Maira berbalik menatapnya.
"Setelah satu tahun lamanya, akhirnya nona Santi bisa merasakan apa yang ia inginkan sedari dulu, " ucap pelayan itu kembali.
"Yah begitulah, mungkin memang Tuhan memberinya kesempatan untuk dekat dengan Tuan Muda, " balas Maira.
"Iyah, kalau sampai gak terwujud parah sih, orang nona Santi udah banyak ngelakuin hal untuk bersatu dengan Arga, " ucap pelayan itu kembali.
"Maksudnya? " tanya Maira yang tidak mengerti.
"Oh Iyah aku lupa, kamu kan orang baru yah di sini? Jadi pasti gak tau, " pelayan itu sadar kalau Maira itu adalah orang baru dan kemungkinan besar Maira tidak tau apa yang Santi lakukan dulu.
"Emangnya Apa? " tanya Maira yang penasaran.
"Dari yang aku tau, dulu yang ngebuat perusahaan Tuan besar bangkrut itu gara-gara nona Santi, terus ayahnya nona Santi datang seolah-olah mau membantu Tuan besar untuk membangkitkan perusahaan, padahal dia sendiri yang bantu anaknya ngejatuhin perusahaan Tuan besar, " jelas pelayan itu sambil tertawa.
"Ternyata gara-gara cinta bisa sampai segitunya yah, " sambung pelayan itu kembali.
"Cuman itu? " tanya Maira yang ingin tau lebih lanjut tentang Santi.
"Yang aku tau juga sih katanya dia dulu pernah nabrak seseorang pakai mobilnya nyonya besar, dia juga gak sendirian di dalam mobil. Dia di sana sama sahabat, yah entah aku juga gak tau siapa sahabat nona Santi, " balas pelayan itu kembali.
"Nabrak? Nabrak siapa? " tanya Maira kembali.
"Gak tau, katanya sampai meninggal, " balas pelayan itu kembali.
"Ya udah ah aku pergi dulu yah, masih banyak yang aku lakukan, " pelayan itu pergi dari samping Maira untuk kembali bekerja.
Kira-kira siapa yang Santi tabrak? Aku harus cari tahu siapa sahabat Santi, siapa tau aja dia punya banyak jawaban dari pertanyaan selama ini. Gumam Santi sambil melanjutkan langkahnya menuju kamar ganti.
Tanpa orang sadari sedari tadi Arga terus menatap ke arah Maira, ia merasa ada hal yang tidak beres dari wanita itu. Arga juga masih merasa ganjal dengan ikatan keluarga ini, ia merasa ada yang salah dengan semua ini.
Namun saat Arga berusaha mengingat semuanya kepalanya terasa sangat amat sakit, ia tidak mampu melakukan itu.
"Arga sayang, kamu kenapa? " tanya Santi sambil menatap Arga, Santi mengikuti tatapan Arga. Namun Santi tidak melihat siapapun di sana, karena Maira sudah pergi dari sana beberapa menit yang lalu.
Arga yang namnya di panggil langsung berbalik dan menatap ke arah Santi, "Kamu memang orang yang aku cintai kan? " tanya Arga yang membuat mereka yang ada di sana langsung menatap ke arah Arga.
"Kamu bicara apa sih? " tanya balik Santi sambil tertawa kecil.
"Aku cuman tanya, kalau kamu gak mau jawab juga gak papa, " balas Arga.
"Aku adalah orang yang kamu cinta setelah ibumu, kamu harus percaya itu. Dulu kita sering bepergian bareng ke sebuah tempat, " ucap Santi berbohong.
"Besok kita pergi ke tempat itu, aku ingin mengulang kenangan bersama mu, " balas Arga datar.
Santi tersenyum, "Baiklah besok aku akan bawa kamu ke sana. "