ikatan pernikahan yang pada umumnya dilakukan oleh manusia normal, adalah ikatan yang memiliki kekuatan dasar yakni tujuan dan perasaan yang sama, keterikatan seseorang dengan pernikahan tentunya sudah melalui proses yang matang dan melibatkan logika yang kuat, tidak hanya emosi semata. seseorang berani mengambil sikap untuk menikah tentunya sudah mempertimbangkan baik dan bahkan buruknya. maka aku melakukan hal yang berbeda. menikah bagiku adalah menikah. tidak ada perdebatan dan pertimbangan karena memang tidak ada yang bisa dipertimbangkan dan diperdebatkan semua seakan sudah harus dipaksa seperti itu, mengalir begitu saja. bahkan aku muallaf pun seakan berjalan begitu saja tanpa ada paksaan dan kesadaran dari diri. semua sudah seperti diskenariokan begitu, aku hanya mengikuti arahan sutradara kemana hidupku akan dibawa dan harus menerima ujian begitu saja, sampai aku harus benar - benar masuk dalam peran dan menjiwai dengan begitu nikmat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Siboro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah yang benar
Mama masuk ke kamar dan duduk.
"Kak...apa harus serumit ini yang harus mama hadapi?",
Mama mulai meneror dengan caranya.
" Mama hanya ingin meminta waktu sehari lagi, tunda dulu, nanti juga sudah pada sibuk, belum tentu bisa ngumpul lagi...mumpung ayah masih ada libur...",
Mama tetap berusaha agar aku berubah pikiran.
" Ma...kan udah dijelasin, kami baru mulai usaha, jadi harus lebih giat lagi ma...lagian jika kelamaan yang ada nanti jadi malas untuk memulainya...",
sahutku.
"Justru itu, mama yakin jika itu sudah berjalan maka kemungkinan waktu untuk bersama seperti ini bakal sulit kak...",
Jawaban mama membuat aku jadi pusing.
" Ya udah ma...aku aja yang pulang besok, biar Aan disini aja...",
Kesabaranku memang setipis tisu.
"Kok gitu kak? jangan egois kak, suamimu pun masih ingin disini kak, dia masih rindu dengan keluarganya, adik - adiknya...janganlah membuat hubungan itu menjadi berjarak gitu kak, setidaknya sehari lagi saja, apa susahnya sih kak",
Mama membuat keadaan makin tidak terkendali.
"Ma...kan sudah aku bilang biar Aan tinggal, besok aku saja yang berangkat. Selesai kan?",
aku mulai sewot.
" Sudahlah, memang sepertinya kamu sengaja membuat jarak antara anak dan orangtuanya!, mama tau kamu memang berusaha untuk menghindari keluarga ini!",
Ucapan mama membuat aku semakin naik darah.
Tidak sedikitpun terniat dihatiku untuk membuat jarak antara orangtua dan anak. Tetapi jika jarak membuat akan lebih baik, mau tidak mau harus dilakukan. Demi kebaikan bersama. Dengan cara itu, aku berharap bisa membentuk seorang anak yang dilahirkan dari rahim ibunya lebih mengerti akan tanggung jawab.
Aku berpikir cara untuk menghormati dan menyayangi orangtua, tidak harus dengan selalu bersama ataupun selalu mengikuti maunya orangtua.
Tetapi seorang anak yang berbakti adalah ketika ia sudah bisa mandiri untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, setidaknya berusaha menghasilkan, bekerja sepenuh hatinya. Jikapun ternyata belum bisa membantu atau memberi ke orangtua setidaknya jangan lagi meminta.
Jika seorang anak yang sudah berumahtangga tetap mengikuti dan menurut kepada orangtuanya, apalagi jika kebutuhan anak istri tetap ditanggung orangtua itu bukanlah anak yang berbakti, melainkan anak yang tidak bernyali dan gagal.
Tidak sedikitpun pernah terlintas dipikiranku untuk menyakiti, tetapi jika dengan menyakiti mampu membuat perubahan yang baik, maka harus aku lakukan.
Biar saja aku disangka jahat atau apapun namanya, tapi kehidupan mengajarkan aku untuk selalu berpikir menyelamatkan diri terlebih dahulu, agar bisa menyelamatkan orang lain.
Begitu pula dalam rumahtanggaku, aku berpikir jika menuruti keinginan mama mertuaku terus- menerus, bukan berarti itu akan menyelamatkan kami, tetapi akan menenggelamkan kami semua, baik mama, suamiku, aku terutama putriku.
Suamiku akan tetap menjadi pria pecundang yang melimpahkan tanggung jawab ke pundak mama.
Mama juga akan tidak mampu terus menerus memenuhi kebutuhan anak, cucu dan menantunya, ketika ia sudah tidak mampu maka akan sangat sulit mengubah kebiasaan yang sudah berakar.
Aku juga tidak akan menjadi seorang istri dan ibu yang baik, manakala semua kebutuhan kami dipenuhi orangtua, dan tidak akan membuat aku bahagia ketika hanya berpikir bahwa semua sudah dipenuhi, yang ada aku akan semakin tertekan dan terkungkung dalam nikmat yang sengsara.
Sementara putriku akan tumbuh menjadi anak yang tidak akan merdeka baik dalam pergaulannya maupun kehidupan pribadinya, karena melihat ayahnya tetap hidup dibawah ketiak neneknya, dan melihat ayah baginya hanya sosok yang tidak berguna.
Apapun akan kulakukan demi kebaikan bersama.
Dalam hidup kita senantiasa diberi pilihan, tetapi untuk mendapatkan yang terbaik pasti harus melalui ujian. Ujian itupun berbeda - beda. Ketika ujian dapat kita selesaikan dengan baik maka itu pilihan terbaik dan sukses namanya, tetapi sebaliknya jika ujian itu tidak dapat kita selesaikan maka itulah kesalahan dan gagal namanya.
Tetapi aku menyakini satu hal, bahwa hidup bisa saja diawali dengan pilihan yang salah tetapi jika kita mau memperbaiki maka itu akan menjadi pilihan yang terbaik, kesalahan akan menjadi kebenaran dengan cara manusia itu sendiri dalam menyikapinya.
Begitu juga dengan kehidupan pernikahanku, ini merupakan total kesalahan, kesalahan dalam menjalin hubungan nafsu sesaat, kesalahan dalam mengatasinya, kesalahan dengan cara menikahnya, kesalahan dalam menjalaninya dan bahkan dengan mengikut agamanya.
Tetapi setelah kupikir, haruskah ini akan berujung dengan kesalahan juga?
Tidak. Semua bisa saja salah tetapi harus ada cara yang kulakukan untuk membuat ini jadi benar.
Makanya harus aku coba memperjuangkan agar ini menjadi kebenaran. Jikapun tidak berhasil menjadi sebuah kebenaran setidaknya aku sudah berusaha untuk mengoreksi kesalahan - kesalahan dengan mencoba untuk meminimalisir kesalahan yang akan terjadi lagi.
Aku pernah mendengar seorang bijak berkata: "Orang baik bukan mereka yang hidup dalam kebenaran tetapi orang baik adalah orang yang mampu belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaikinya".
Namun, siapapun orangnya, bagaimanapun jahatnya, tidak akan ada yang mau hidup dalam kesalahan. Semua ingin hidup dalam kebenaran.
Kebenaran itu membuat kita akan benar - benar hidup tetapi sebaliknya yang membuat kita benar - benar hidup adalah justru kesalahan itu sendiri.
Mungkin terlihat seakan membela diri karena telah berbuat salah, sebagai manusia biasa , iya, Aku memang sedang berusaha membela diri.
Apakah itu wajar? Menurutku itu wajar dan sah saja. Karena setiap manusia punya hak yang sama atas hidup terlepas itu baik atau buruk, benar atau salah, dan sadar ataupun tidak.
Aku mengakui kesalahanku, tetapi aku juga berhak untuk kebenaran diriku. Salah bagiku belum tentu salah bagi orang lain, dan juga sebaliknya benar bagiku belum tentu juga benar bagi orang lain.
Ketika pilihan - pilihan itu telah merujuk pada kesalahan, maka berusahalah memilih yang salah dari yang paling salah. Karena kadar kesalahan juga memiliki tingkatan.
Aku berusaha menyakinkan diriku untuk tidak terpengaruh dengan ucapan mama. Aku harus tetap membuat keputusan tegas sekalipun aku dianggap telah menjauhkan mereka.
Pada akhirnya menjadikan alasan untuk memberikan sesuatu kepada putriku, hanya kedok semata. Tujuannya adalah agar membuat Aan semakin nyaman tinggal dirumah dan akan membuat Aan untuk tidak mau kembali kekontrakan lagi.
"Terserah mama, apapun pikiran mama tentang aku, silahkan...itu hak mama, tetapi sebagai seorang istri dan seorang ibu, aku juga berhak memutuskan apa yang kupikirkan",
jawabku pada mama dengan nada ketus.
Mama pergi begitu saja dari kamar. Aku tau mama marah dan kecewa, tetapi pilihan harus tetap dipilih, biarpun menyakitkan untuk satu pihak daripada menyakiti semua pihak.
Aku merasa hari itu sangat lama berjalan.
Aku gelisah tidak tau apa yang harus kulakukan untuk menunggu esok hari menyapa.
Aku memutuskan untuk keluar kamar dan melihat keadaan, sementara Aan tidak ada kembali semenjak percekcokan kami.
Ayah terlihat baru masuk rumah.
"Kak...sini sebentar,",
Ayah memanggilku dan menyuruh aku duduk di meja makan.
" Ayah mau bicara, mumpung yang lain pada gak ada", ucap ayah.
"Emang pada kemana yah?", tanyaku
"Katanya tadi hanya jalan - jalan didepan, tapi sampai sekarang gak pulang - pulang",
Ayah terlihat santai dan sudah terbiasa dengan keadaan itu.
"Kak, besok kan kalian pulang, ayah tidak ada bisa menyiapkan apa - apa untuk keluarga yang disana, jadi besok tolong kakak aja yang belikan ya untuk oleh - oleh ke keluarga",
Ayah memberiku uang. Aku menolak dengan alasan bahwa keluarga disana juga tidak apa - apa. Namun ayah tetap memaksa, aku menerima uang yang disodorkan ayah.
" Besok sebelum pulang, belanja buah kan?",
tanya ayah lagi.
Aku hanya mengangguk.
Ayah memberiku amplop, aku bingung amplop apa. Ternyata ayah menyisihkan uang untuk tambahan modal kami belanja buah. Aku sangat terharu.
Ayah memang yang paling netral dan adil dalam mendidik anaknya, hanya saja karena kesibukannya seharian bekerja terkadang ayah tidak tau apa yang telah terjadi dibelakangnya.
Melihat sikap dan tanggung jawab ayah, membuat aku jadi bertanya dalam hati, mengapa sifat itu tidak diwariskan ataupun diturunkan pada anaknya?
Ayah segera menyuruhku untuk kembali istirahat.