Dilarang boom like dan tabung bab, tolong baca bab nya satu per-satu tanpa dilompat yah 🙏
Sebuah tragedi membuat seorang wanita bernama Vania Garvita harus terpaksa berpisah dengan putra semata wayangnya, Alvaro Neandra.
Setelah menjalani hukuman selama beberapa tahun, Vania berhasil bebas dan langsung mendatangi putranya di panti asuhan.
Namun, Vania dikejutkan karena ternyata Varo tidak berada di tempat itu. Sampai akhirnya dia tahu jika putranya sudah diambil oleh sepasang suami istri beberapa tahun silam tanpa sepengetahuannya.
Apakah yang sebenarnya terjadi pada kehidupan Vania? Dan siapakah yang telah mengambil putranya dari panti asuhan?
Yuk, ikuti kisah mereka yang penuh dengan perjuangan dan air mata!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Dia Bukan Ibuku!
Brian terdiam sambil menatap ponselnya saat mendapat pesan dari lelaki asing itu. Dia yang biasanya tidak membawa ponsel ke sekolah, kini membawa benda pipih itu karena yakin jika lelaki asing bernama Arsen itu pasti akan menghubunginya.
"Baiklah, sebentar lagi saya akan menemui Anda."
Brian lalu kembali melanjutkan langkah kakinya saat sudah membalas pesan dari Arsen. Hari ini juga dia harus berbicara langsung dengan laki-laki itu mengenai alasan kenapa Arsen mengganggunya. Dia tidak mau jika terjadi masalah dengan sang paman, apalagi kalau sampai menimbulkan masalah bagi kedua orangtuanya.
Sesampainya di kelas, Brian menunggu sampai guru wali kelasnya datang. Jika dia tidak meminta izin, maka guru itu pasti akan menelepon mamanya saat tahu kalau dia tidak berada di dalam kelas.
"Buk guru," panggil Brian saat melihat kedatangan gurunya yang akan masuk ke dalam kelas membuat guru itu menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa, Brian? Apa kau ingin meminta izin untuk keluar?" tanya guru tersebut sambil tersenyum dengan ramah.
Brian tersentak kaget karena tidak menyangka jika guru itu tahu kalau dia ingin izin keluar. "Ah, benar juga. Buk guru pasti kenal dan bekerja sama dengan Arsen." Dia baru ingat jika gurunya sendirilah yang waktu itu bertemu dengan Arsen, jelas saja gurunya pasti bekerja sana dengan laki-laki itu.
"Apa kau mendengar ibu, Brian?
Brian tersadar dari lamunan lalu segera menganggukkan kepalanya. "Saya izin sebentar, Buk."
"Pergilah, bilang saja dengan temanmu kalau kau istirahat di ruang kesehatan karena merasa tidak enak badan," ucap guru itu saat menyadari jika murid-muridnya melihat ke arah mereka dengan penasaran.
Tanpa menjawab atau mengiyakan ucapan guru, Brian langsung saja pergi dari tempat itu untuk bertemu dengan Arsen. Dia tidak mau berbohong pada siapapun, tetapi juga tidak mau menceritakan masalah pribadinya kepada orang lain.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Arsen dan Vania sudah duduk di sebuah kursi yang berada tidak jauh dari ruang kelas Brian.
Sebenarnya Vania merasa heran dan tidak menyangka jika Arsen bisa masuk dan melakukan hal seperti ini di sekolah Brian. Padahal sekolah itu sangat ketat dan tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang, tetapi kenyataannya mudah saja bagi seorang lelaki bernama Arsen.
"Maaf, Tuan. Apa saya boleh bertanya tentang sesuatu?" ucap Vania. Rasa senang karena akan bertemu dengan Brian berganti dengan rasa penasaran dengan apa yang Arsen lakukan.
Sekilas Arsen melirik ke arah Vania lalu kembali melihat ke arah ponsel. "Apa?" Tanyanya dengan datar.
Vania lalu menanyakan tentang apa yang Arsen lakukan sehingga mereka bisa masuk dengan sesuka hati ke dalam sekolah ini, dia juga bertanya apakah aman melakukan hal ini kareba bisa saja nanti keluarga Adijaya mengetahuinya.
"Kau tidak perlu memikirkan itu, fokus saja pada pekerjaan dan juga putramu," ucap Arsen sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Dengan cepat Vania menganggukkan kepalanya karena sadar jika Arsen tidak suka dengan apa yang dia tanyakan.
"Baik," sahut Vania sambil melihat lurus ke depan. Dia lalu kembali memperhatikan kesekitaran tempat itu yang benar-benar sangat mewah dengan fasilitas lengkap untuk menunjang pendidikan dan kenyamanan para murid.
Dari kejauhan, terlihat Brian sedang berjalan ke arah Arsen saat melihat punggung laki-laki itu. Kedua tangannya saling bertautan dengan erat karena merasa takut untuk bicara dengan Arsen, tetapi apapun yang terjadi dia harus tetap menghadapinya.
"Saya sudah datang, Tuan," ucap Brian saat sudah berdiri di belakang Arsen, dia juga melirik ke arah wanita yang saat ini sedang duduk bersama dengan laki-laki itu.
Arsen dan Vania langsung menoleh ke balakang saat mendengar suara seseorang, membuat kedua mata Brian membelalak lebar saat melihat wanita yang pernah datang ke rumahnya dan mengaku sebagai ibu kandung sedang berdiri di hadapannya
Vania sendiri langsung menatap Brian dengan mata berkaca-kaca karena bahagia bisa bertemu lagi dengan putranya itu. Sekuat tenaga dia menahan tubuhnya yang ingin sekali memeluk sang putra dengan erat.
"Kau sudah datang?" ucap Arsen sambil tersenyum tipis membuat Brian tersentak kaget karena sejak tadi terpaku sambil menatap ke arah Vania.
"I-iya," jawab Brian dengan tergagap. "Tapi kenapa dia juga ada di sini?" Dia bertanya sambil menunjuk ke arah wanita yang ada di samping Arsen.
Vania ingin sekali menjawab pertanyaan putranya, tetapi lagi-lagi dia terpaksa menahan diri karena tidak diperbolehkan bicara oleh Arsen.
"Maaf kalau aku mengajak orang lain, tapi dia ini calon istriku," jawab Arsen seraya melingkarkan tangannya di pinggang Vania.
Sontak saja ucapan dan perlakukan Arsen itu membuat kedua mata Vania membulat lebar. Dia langsung melihat ke arah laki-laki itu dengan wajah kaget.
"Kau pasti sudah pernah bertemu dengannya, kan?" tanya Arsen. "Ah, lebih tepatnya waktu itu dia membuat keributan di rumahmu."
Brian terdiam saat mendengar ucapan Arsen. Yah, dia memang sudah bertemu dengan wanita itu, tetapi dia tidak tahu siapa sebenarnya wanita itu. Apalagi tentang ucapannya yang mengatakan jika dia adalah anak kandung dari wanita itu.
"Kalau gitu, kenapa Anda datang ke sekolah ini dan menganggu saya? Apa ada sesuatu yang ingin Anda lakukan?" tanya Brian. Dia tidak mau lagi mengulur waktu, apalagi dia juga merasa tidak nyaman dengan keberadaan wanita itu.
"Aku datang ke sini karena memang ingin bertemu denganmu, Brian. Kau tahu, calon istriku ini kehilangan putranya. Jadi sudah tugasku untuk mencari putranya itu," jawab Arsen, tentu saja jawabannya itu membuat Brian menatap dengan tajam.
Arsen sudah menyadari jika sifat dan karakter Brian jauh lebih dewasa ketimbang anak-anak seusianya. Itu sebabnya dia memutuskan untuk langsung saja mengatakan tujuannya mengganggu anak itu. Lihatlah, bahkan sekarang Brian bergeming saat mendengar ucapannya, jika anak lain pasti akan langsung bingung dan tidak mengerti dengan ucapannya. Atau bahkan akan langsung berlari pergi dari tempat itu.
"Aku bukan anaknya, dan dia bukan ibuku!" ucap Brian dengan tajam dan penuh penekanan. Tidak disangka jika tujuan laki-laki itu mengganggunya karena mengira jika dia adalah anak kandung wanita itu.
Dada Vania berdenyut sakit saat mendengar ucapan putrnya. Namun, dia mengerti jika Varo tidak tahu apapun tentang apa yang terjadi selama ini.
"Kalau gitu lihatlah ini, aku membawa sesuatu untukmu," balas Arsen sambil mengambil sesuatu di dalam saku jasnya, lalu memberikannya kepada Brian. "Periksa sendiri apakah calon istriku ini benar-benar ibu kandungmu atau bukan."
Brian menerima barang pemberian Arsen dengan ragu. Tidak, dia seharusnya tidak menerima barang pemberian itu. Ibu kandungnya adalah mama Belinda dan bukan wanita lain.
"Aku tidak mau!" tolak Brian sambil melempar barang pemberian Arsen ke tanah. "Ibuku sedang ada di perusahaan, ibuku adalah Belinda. Bukan dia!"
•
•
•
Tbc.
beni jadi bima
dan Belinda sebaiknya kamu jujur sama Brian , daripada nanti Brian akan membencimu karena kebohongan mu .
lanjut terus kak... semangat moga sehat dan sukses selalu . saranghaeyo ❤️❤️❤️
helloooo..... Ivan apakah kau lupa bahwa kesempurnaan hanya milik sang pencipta alam semesta ini .
harusnya kamu sadar tekanan yang kamu lakukan pada Brian akan membuat dia menjadi sosok pria yang dingin dan kaku .
lanjut terus kak.... semangat dan moga sehat slalu .
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .
Vania.... aku selalu mendukungmu , misi mu untuk menghancurkan keluarga suamimu pasti lah berhasil dengan dukungan dari Arsen ,
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .