Melati...
Cantik, kan? Tentu saja. Nama itu sesuai dengan parasku.
Cantik, anggun dan berkelas.
Semua ku dapat dalam genggamanku. Semuanya. Tapi tidak dengan kebahagiaan.
Akankah kutemukan kebahagiaan itu? Apakah masih ada jatah bahagia untuk seorang ja lang sepertiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenk kelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diluar Rencana
Semalaman aku tak bisa tidur, berharap malam tak segera berganti pagi. Aku sudah menyusun rencana dengan Dara. Rencana A, plan B, sampai plan C.
Tau-tau sudah jam tiga pagi, aku menyuruh Dara tidur di kamarku. Saat ini dia masih terlelap berselimutkan mimpi.
Sedang aku, tidak bisa memejamkan mata barang sebentar. Cuma bisa bengong sambil ngopi. Mulutku asam, liquid rokok elektrikku habis, aku lupa membelinya.
Jadilah kopi hitam gayo sebagai penyelamat. Dara nggak mungkin kan, punya liquid vape? Huff... Dasar anak baik-baik. Tanpa sadar kita mulai akrab.
Pintu kamarku dibuka, Dara keluar dengan muka kusut.
"Kamu nggak tidur, Mel?" Dia menguap, kelihatannya masih ngantuk berat. Ya iya laahh, praktis nggak ada satu jam dia tidur.
"Nggak bisa tidur gue." Sahutku sambil menyesap kopi.
Dara mengambil air putih ke dapur, lalu terkantuk-kantuk di meja dapur. Ia membasuh mukanya lalu membuka kulkasku.
"Ya ampun, makanan kamu instan semua. Ini nggak sehat loh." Dara bergidik ngeri. Bisa ya, orang makan beginian semua?
"Siapa bilang? Itu ada telor sama sawi." Lirikku ke dalam kulkas.
"Iya, ujung-ujungnya dimasak sama mie instan." Sahut Dara sambil mengambil beberapa telur.
Aku nyengir.
Sebentar kemudian, anak itu sudah menyodorkan sepiring omelette ke hadapanku.
Wow, sarapan sepagi ini? Ini first time di hidupku, jam setengah lima pagi.
"Makanlah." Ujar Dara, ia juga menuangkan fresh milk ke dalam gelas. "Kamu mau susu?" Tawarnya.
Aku menggeleng, "kopiku masih setengah."
"Kasihan lambungmu." Gumam Dara. Aku cuek, pilih asyik nuangin saos tomat diatas makananku.
"Habis ini aku pulang, ya." Ucap Dara sambil menyuapkan potongan omelettenya.
"Rumahmu cuma sebelah, berasa pulang jauh aja." Kekehku.
"Oh iya, lupa." Dara nyengir.
"Mudah-mudahan rencana kita berhasil ya, Dar..." Kataku sambil mencolek saos.
Dara tersenyum, "thanks ya, Mel. Dan maaf, aku pernah menilai kamu buruk."
Aku menaikan alisku, "emang tampangku pantas dicurigai sih. Mana ada ja lang yang baik, hehehe..." Aku terkekeh sendiri. Bukan karena sinis, aku juga tidak sedang meratapi nasib. Aku hanya merasa lucu dengan hidupku ini.
Dara menyentuh tanganku sekilas, aku mendongak. Ya ampun, anak itu sudah pasang muka sedih aja. Mungkin dia nggak enak hati.
"Jangan begitu, kamu harus menghargai diri kamu sendiri. Kamu itu cantik banget, aku aja insecure kalau dekat kamu." Ucap Dara lirih. Aku malah pingin ngakak.
"Iya, tapi bekas orang banyak. Hahaha..." Aku tertawa.
Dara malah tambah nggak enak.
"Santai aja Dar, aku udah kebal kalau cuma makian, cacian, hinaan, apalagi pukulan." Ucapku menenangkan Dara.
"Kamu pasti melalui hari-hari yang berat." Lirih Dara. Mungkin saja kini ia jadi paham, aku terbentuk begini karena berawal dari kesakitan. Ada sebab pasti ada akibat.
Aku mengibaskan tangan didepan wajahku, tak ingin mengingat lagi masa lalu.
"Oiya Dar, apa Brian yang cerita soal profesiku?" Aku lupa semalam mau nanya ini ke Dara. Jadi sekarang mumpung ingat, aku tanyakan saja.
Dara salah tingkah, "Anu, Mel... Kamu jangan marah, ya?" pintanya.
"Maksudnya?" Tanyaku heran.
"Aku nggak sengaja, sumpah, nggak sengaja beneran, waktu Zain ngobrol sama Mas Brian, nggak sengaja aku dengar." Jawab Dara takut-takut.
"Lalu apa yang kamu dengar?" Selidikku heran.
Dara menceritakan kronologi dirinya yang sedang bersih-bersih lantai kamar mandi tapi malah mendengar Zain ngadu ke Kakaknya.
Aku tersenyum mendengar cerita Dara. Itu berarti Zain mendengar obrolan saat Rama dan Dewan datang kemari.
Berarti aku nggak usah susah-susah ngomporin orang tua Brian, pasti Zain pun akan keberatan.
Setelah Dara pamit pulang, aku memastikan CCTV saat kejadian Rama dan Dewan datang kemari. Memastikan telinga Zain terpasang baik saat itu.
Aku tersenyum, Zain yang pintar.
Saat meletakkan ponselku di meja, Dara kembali masuk dengan wajah pucat. Aku menatapnya dengan pandangan penuh tanya.
"Mel... Ada yang nyariin kamu di depan." Ucapnya takut-takut.
"Siapa?" Tanyaku. Jangan-jangan orang suruhan Brian. Aku melangkah menuju pintu keluar. Nekat banget sih ini, baru jam segini juga.
"Nggak tahu, tapi..." Jawab Dara ragu.
Aku mempercepat langkahku, sekali hentakan daun pintu terbuka. Wajah penuh luka itu ambruk didepanku, tepat mengenai ujung kakiku.
Aku memekik kaget, Rama pingsan disana dengan banyak luka di tubuhnya.
***
Jam lima pagi, aku berlari dengan mendorong ranjang rumah sakit Marina Medika, membawa tubuh Rama yang tak sadarkan diri ke ruang IGD.
Dengan dibantu empat orang security apartemen, aku membawa Rama kesini dengan mobilku.
Dara yang gemetaran melihat kondisi Rama, tak mungkin ku ajak. Jadi ku biarkan dia di apartemen. Aku harus cepat, Rama sepertinya sekarat. Dia harus mendapatkan pertolongan segera.
Pintu IGD ditutup, aku tidak di ijinkan ikut masuk. Salah seorang perawat memintaku ke bagian pendaftaran dahulu.
Aku mondar mandir didepan pintu IGD. Dompet Rama tak ada di saku, sedang aku tak tahu identitas anak itu sama sekali.
Berkali-kali ku hubungi nomor Mas Bima, tapi tak bisa terhubung.
"Maaf Mbak, silahkan di isi form ini dulu, ya." Seorang pegawai pendaftaran menyodorkan kertas dan pena ke hadapanku saat aku mendekat.
Ragu-ragu aku bertanya, "sorry Mbak, apa bisa pasien ditangani dulu? Keluarganya belum bisa dihubungi soalnya."
Mbak-mbak itu menatapku sekilas, lalu tersenyum.
"Iya Mbak, pasien sedang mendapatkan pertolongan saat ini. Boleh kami lihat tanda pengenal anda, sebagai orang yang menjamin pasien?"
Tanpa ragu, kubuka dompet dan ku serahkan KTP ku.
Mbak-mbak itu mengrenyit, lalu menatap wajahku. Sebentar kemudian kembali menatap tanda pengenalku. Sedikit berbisik kepada rekan kerjanya.
Satu hal yang membuatku risih adalah saat orang tahu nama besar yang menghiasi nama belakangku.
"Silahkan cantumkan nomor yang bisa dihubungi ya, Mbak." Pintanya.
Aku meraih pena dan mulai menulis di form penanggung jawab.
Saat itu pundakku disentuh seseorang, aku menoleh kaget. Mas Bima sudah berdiri disana dengan muka masam. Spontan ku banting pena dan menamparnya, keras sekali sampai beberapa orang menoleh, menonton kami.
Mas Bima diam saja, bahkan wajahnya tak bergeser sedikitpun akibat tamparanku. Padahal tanganku sudah berdenyut nyeri, ditambah nafasku memburu menahan emosi.
"Gila kamu, Mas? Rama itu anakmu!" Geramku marah. Bisa saja anak itu mati ditangan bapaknya sendiri.
"Dengar Mel, ini tidak seperti yang kamu duga." Jawab Mas Bima, ia menarik tanganku keluar karena beberapa orang mulai asyik mengangkat ponsel, merekam kami.
Mas Bima terlihat berbicara sebentar dengan security, mereka menganggukkan kepala, lalu permisi meninggalkan kami. Sekilas kudengar ia ingin security 'mengurus' orang-orang yang sempat merekam kami tadi.
Bima mengajakku duduk di taman rumah sakit, aku masih emosi. Ku tahan omelanku karena tak ingin mengundang kekepoan orang-orang.
"Bukan aku yang menghajar Rama."
Aku melotot.
***
bang Brian memberi restu kalian ko
brian cuma lg nguji kamu doang biar makin kuat
kamu juga harus ikut memperjuangkan ketulusan. cinta dewan
buat Zain kamu hebat bisa menyadarkan marni
tokoh tokohnya keren
dialognya kekinian membuat para pembaca terkoneksi ke situasinya.
tulisannya menjadi candu yg nikmat terasa saat dibaca.
great job
you're the best Jeng Kelin ❤️🌹
adegan situasinya..
dialognya..
complicated nya..
haa haa haa 🤣
you did it JENG KELIN ❤️🌹