Jodoh, maut, rezeki semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga dengan biduk rumah tangga Airin dan Wiksa, pernikahan yang sudah berjalan selama lima tahun dengan penuh kemesraan meskipun mereka belum di karuniai seorang momongan. Namun, di balik kebahagiaan mereka petaka terjadi saat mereka berdua mengalami kecelakaan dan rumah tangga mereka yang menjadi taruhannya.
Airin tidak menyangka jika kecelakaan yang di alami suaminya akan merubah sikapnya menjadi kasar serta melupakannya. Kedatangan Wina, wanita masa lalu Wiksa, semakin membuat rumah tangga Wiksa dan Airin berada di ujung tanduk. Akankah Airin sanggup bertahan, berjuang dan menyelesaikan prahara rumah tangganya atau sebaliknya Airin akan menyerah dan mengaku kalah begitu saja?
Jangan lupa klik komen, like, faforiit juga hadiahnya.
Ikuti cerita ini terus ya readers.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Ada apa dengan kepalaku ini
"Aku, mohon. Selamatkan bayiku," rintihnya pelan dengan suara serak.
Tubuh Airin tidak berdaya, tetapi dalam kekalutan hatinya ada hal yang membuat Airin sadar, tangan bersimbah darah berusaha menjangkau tangannya. "Airin ...." Sang ibu mertua tidak melanjutkan ucapannya, tangannya jatuh lemas di depan tubuh Airin.
"Bu!" teriak Airin saat sadar siapa yang berusaha menyentuhnya, Airin berusaha merangkak, mendekat untuk merengkuh tubuh sang ibu mertua. "Airin, minta maaf Bu. Airin ...." Airin dengan tangis penyesalannya sebelum tubuhnya jatuh tidak jauh dari tubuh sang ibu mertua tidak sadarkan diri.
Sementara itu, di jalur lain ada mobil yang sedang melaju kencang, mobil yang berusaha lari dan menghindar setelah kecelakaan terjadi. Wajah cantik dengan senyum jahat serta tatapan mata penuh dendam hingga beberapa meter ke depan dan merasa situasi sudah aman, wanita ini memilih memarkirkan mobilnya asal di bahu jalan, netranya terus mengamati keadaan. "Akhirnya, aku bisa melenyapkan dua wanita ini sekaligus," katanya senang dengan wajah puas.
Wanita ini kembali tersenyum penuh kemenangan saat mendengar suara dua mobil ambulans yang melaju kencang. "Selamat Wina, kamu hebat, akhirnya ...." Wina bertepuk tangan untuk merayakan kemenangannya sendiri dengan wajah yang sulit diartikan dan tertawa terbahak.
"Agh ... lega rasanya." Wina perlahan melepas wig yang digunakan, menggerai rambutnya kemudian menyisir menggunakan jemarinya asal hingga terlihat sedikit rapi. Tangannya dengan kasar melepas masker yang di gunakan, mematut wajahnya sebentar di kaca spion dengan senyum puas. "Wina, di lawan," ucapnya sombong pada dirinya sendiri.
Setelah puas mematut wajahnya di kaca spion kini tangannya mulai sibuk mengorek isi tasnya. "Argh ... kenapa kantong plastik ini berwarna putih semua, tangannya kembali mengeluarkan beberapa kantong plastik dari dalam tasnya. Bibirnya tersenyum saat menemukan kantong plastik dengan warna yang di maksud.
"Selamat tinggal barang bukti," ucapnya sembari membungkus wig dengan rapi dan membuangnya asal di tong sampah pinggir jalan dengan senyum penuh kemenangan.
Wina tanpa merasa berdosa sedikit pun langsung melajukan mobilnya. "Mas Wiksa, aku datang," lirihnya gembira.
Hampir satu jam perjalanan Wina akhirnya tiba juga, sesaat manik matanya menelisik heran ketika mendapati rumahnya sepi. "Kemana? Mas Wiksa?" tanyanya pada dirinya sendiri, menilik mobil yang berada di garasi juga tidak ada.
"Argh ...." Wina penuh emosi menggulir ponselnya, "Wiksa, angkat!" teriaknya kesal saat panggilan yang dilakukan tidak kunjung di angkat.
"Argh ... apa? Aku kembali ke Malang lagi? Aku baru tiba di Sukorejo."
Tangannya kembali menggulir ponsel, Wina kembali di buat kesal oleh Wiksa. Entah, sudah berpuluh-puluh panggilan Wina lakukan, tetapi tidak kunjung berbalas. Wina yang merasa terabaikan mulai membanting apa saja yang di temuinya di ruang tamu hingga dirinya merasa puas dan kembali melajukan mobilnya.
Sementara itu, Wiksa yang sudah berada di Rumah Sakit dengan langkah tergesa menuju ruang UGD langkahnya sesaat tertahan karena sang ibu sedang dalam penanganan medis. Wiksa membeku setelah mengetauhi kronologi kecelakaan yang menimpa ibunya dari Perawat yang bertugas.
Menunggu hampir satu jam, hingga seorang Perawat datang memanggil, Wiksa memasuki ruang UGD dengan tubuh gemetar. "Apa? Aku pernah mengalami hal seperti ini?" tanyanya tiba-tiba dejavu.
"Tuan, Wiksa," panggil seorang Perawat ramah.
"Benar, saya," jawabnya yakin.
"Silahkan ikut saya," ajak seorang Perawat masuk lebih dalam ruang UGD.
"Apa? Benar Ibu Kanti ini orang tua Anda? Dari nomor darurat yang bisa saya hubungi adalah nomor ponsel Anda," terang Perawat sembari mencatat.
"Benar, beliau adalah Ibu saya!" tegas Wiksa netranya kini memindai ruang UGD.
"Permisi Tuan," ujar salah satu perawat mengejutkan sembari mendorong bad rumah sakit.
Wiksa tidak kunjung bergeming, netranya kini fokus pada wanita yang terbaring pucat, tangannya terdapat selang infus. "Tuan, permisi," tukas Perawat sedikit tergesa dan mendorong bad ke luar dari UGD.
Wiksa kembali memijat kepalanya yang berdenyut sakit, "ash ...." desisnya untuk sesaat dan netranya langsung membola saat menyadari akan satu hal.
"Di-dia ... bukankah dia ...." Wiksa membeku, sesaat kepalanya berdenyut sakit, "argh ...." Wiksa menggeram kesal saat tubuh wanita itu di bawa pergi dengan tergesa.
Sang Perawat yang sedari tadi memperhatikan merasa bingung hingga dia kembali memanggil dengan suara sedikit keras. "Tuan ... Tuan!" seru Perawat heran saat Wiksa terus meremas kepalanya.
"Tuan ...." Sang Perawat sembari mengguncang tubuh Wiksa untuk menyadarkan sikapnya.
Wiksa langsung menghentikan sikapnya, menatap Perawat dengan tatapan bingung.
"Iya."
"Tuan, tolong urus administrasi dan tanda tangan berkas ini. Agar Ibu, Anda bisa segera di pindahkan," jelas Perawat sembari menyodorkan berkas yang di bawanya.
"Tanda tangan, berkas?" tanyanya ulang tidak urung tangannya menerima berkas yang di berikan padanya.
Wiksa sesaat termenung, memorinya masih tertuju pada wanita yang di lihatnya di atas bad. "Tuan!" seru Perawat mengejutkan.
"Ya," jawabnya bingung.
"Perawat siapa wanita tadi?" tanya Wiksa penasaran.
Sang Perawat menatap Wiksa aneh, "wanita itu juga mengalami kecelakaan di tempat kejadian yang sama dengan Ibu Anda. Anda mengenalnya?" telisik Perawat.
Wiksa hanya menggeleng, "hanya saja, wajahnya mengingatkan saya dengan seseorang," jawabnya pelan dan kemudian memegang dadanya.
Mendengar jawaban Wiksa, Sang Perawat langsung menghela napas, menatap wajah bingung yang ada di depannya. "Apa, Anda akan membiarkan Ibu Anda di ruang UGD?" tanya Sang Perawat.
Wiksa terlonjak seakan sadar dengan tujuan utamanya. "Baik Perawat," jawabnya sembari melangkah ke luar.
Setelah semua syarat terpenuhi Wiksa kembali ke ruang UGD, menyerahkan berkas untuk di tindak lanjuti. Wiksa dengan langkah gontai menuju ruangan ibunya, netranya sesaat mengembun menatap wajah sang ibu terdapat beberapa luka dan kepalanya di balut perban karena benturan yang di dapat, sementara kakinya harus di gips. Wiksa hanya bisa menatap penuh sesal, penolakan yang di lakukan tadi pagi akhirnya berujung pada kecelakaan yang di alami oleh ibunya.
"Maaf 'kan Wiksa Bu, andaikan tadi pagi Wiksa mengantar Ibu, pasti kecelakaan ini tidak terjadi," lirihnya pelan mengenggam tangan ibunya yang terasa dingin.
"Bu ...." Wiksa, berusaha untuk berkomunikasi.
Namun, Wiksa kembali terlonjak saat Sang Perawat menegurnya ramah. "Tuan, Ibu Anda dalam kondisi stabil, sebaiknya kita pindahkan Ibu Anda di ruangan yang lebih nyaman," jelas Sang Perawat kembali mengatur infus dan tidak lama mendorong bad.
Wiksa dengan tergesa ke luar dari UGD, sementara Perawat mengambil jalur khusus untuk mengantar pasien, hingga di belokan Wiksa tanpa sadar menabrak tubuh seorang laki-laki yang berjalan sedikit berlari, laki-laki yang masih memakai seragam dinas lengkap.
"Maaf." Wiksa menghentikan langkahnya, tidak urung tubuhnya terhuyung hingga kepalanya membentur dinding yang di sampingnya.
Adam yang tergesa hanya membantu sebentar kemudian menatap Wiksa sekilas, Adam membeku saat menyadari siapa yang saat ini sedang di tatapnya. "Maaf." Adam terlonjak saat ponselnya terus berdering dan memutus tatapannya begitu saja dari Wiksa memilih melanjutkan langkahnya.
Wiksa hanya mengusap kepalanya yang tiba-tiba terasa berawan dan pusing. "Ash ...." Wiksa mendesis, meraba kepalanya yang terasa sakit.
"Ibu ...." Wiksa sadar akan keberadaan ibunya.
Namun, sepanjang perjalanan menuju ruang rawat Ibunya, Wiksa terus mengusap kepalanya, suara dengungan panjang di otaknya seakan tidak pernah putus hingga otaknya kini serasa menyalurkan berjuta- juta energi listrik yang terus bergerak menjalar hingga membuat kepalanya terus bergerak-gerak.
Tiba di ruangan yang di tuju, Wiksa memilih untuk untuk duduk sejenak, memegang kepalnya agar tidak terus bergerak. "Argh ... ada apa? dengan kepalaku ini." Wiksa menggeram kesal dan terus memegang kepalanya.
"Argh ...." Wiksa berteriak kencang saat dirinya tidak lagi bisa menahan sakit yang tiba-tiba menusuk kepalanya bertubi-tubi.
"Tolong!" teriaknya pada siapa saja yang lewat di depannya, bersamaan dengan tubuhnya yang terkapar begitu saja di bangku rumah sakit.