Dalam imajinasiku, wajah Henri yang bagian kiri sangatlah buruk, jadi dia memakai topeng.
Rania POV
Aku tulus mencintaimu Tuanmuda, walaupun orang menganggap mu hanya seorang monster.
Cintaku tanpa syarat, itulah yang aku rasakan dengan suamiku.Disaat orang - orang menatapnya dengan tatapan takut.
Tapi aku justru,selalu ingin dekat dengannya.Karena aku sangat mencintainya, walaupun ia selalu meragukan perasaanku padanya.
Karena ia mengira perasaan cintaku, hanya rasa kasian ku padanya, akibat wajahnya yang buruk rupa.
Henri pov.
Apakah dia betul-betul mencintaiku, atau rasa kasian,karena kami menikah atas dasar paksaan dariku, sebab orang tuanya mempunyai banyak hutang padaku.
Tapi aku tidak pernah berharap dia mencintaiku, karena aku menyadari kekuranganku,dengan wajahku yang bak monsther, tidak mungkin ada wanita yang mau mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.31.Bingung dengan perasaan sendiri.
🏚️ Kediaman Wilson🏚️
Hari ini, Henri terlihat begitu tampan, penampilannya tak seperti biasanya.
Kumis tebal yang yang biasa menghiasi wajahnya, sekarang sudah dicukur, dan hanya menyisahkan sedikit saja yang menghiasi wajahnya, dan rambutnya yang sedikit panjang, sudah di potong lebih pendek, sehingga menambah ketampanan seorang Henri Wilson. Dan Wanita siapapun yang melihatnya, pasti akan terpesona dengan ketampanan pengusaha kaya itu.
" Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu..?, cepat ambilkan tas kerjaku, karena aku harus segera kekantor. Sebab hari ini, aku ada juga wawancara di salah satu stasiun televisi."
" Baiklah Tuan.." Dengan nada yang terdengar tidak bersemangat.
" Kenapa kau terlihat lesu seperti itu...?"
" Tidak Tuan, aku baik - baik saja. Tuan apakah aku boleh bertanya sesuatu kepadamu..?"
Henri menyerngitkan dahinya, mendengar ucapan Rania.
" Apa yang ingin kau tanyakan padaku..?" Dengan tatapan heran, menatap istrinya.
" Kenapa anda mencukur kumismu Tuan..?, dan kenapa anda memotong rambut..?, Karena tidak seperti biasanya, anda memotong rambutmu, dan mencukur kumis." Tanya Rania, yang terlihat begitu penasaran.
" Memangnya kenapa..?, apakah tidak boleh..?, apakah kau takut, kalau aku terlihat lebih tampan..?" Tanya Henri, dengan nada yang sedikit heran.
" Tidak Tuan, aku senang jika anda berpenampilan seperti ini. Aku hanya penasaran saja."
" Apakah anda akan bertemu dengan seseorang Tuan?, mungkin seorang wanita misalnya?" Tanya Rania, dengan hati - hati.
" Itu bisa saja terjadi, dan hal itu tidak menutup kemungkinan.Karena rekan bisnisku ada pula yang wanita."
" Begitu ya Tuan." Jawabnya, sembari menunduk sedih.
Terdengar suara ketukan pintu, yang mengalihkan kedua pasang mata itu.
" Masuk.." Teriak Henri.
Ana membuka pintu, kamar majikannya.
" Selamat pagi Tuan"
" Selamat pagi Nona"
" Maaf Tuan, Sekretaris Jhon sudah datang. Dia menyampaikan pesan, kalau sudah waktunya anda berangkat."
" Baiklah. Beritahu Jhon, siapkan mobilnya. Sedikit lagi aku akan turun."
" Baiklah Tuan." Jawab Ana, dengan berlalu meninggalkan pasangan Suami istri itu.
Henri mengeluarkan sebuah kreditcard, dari dalam dompetnya. Dan memberikan pada Rania yang tengah menatapnya.
" Ambilah ini, ajaklah Ana keluar bersamamu."'. Sambil memberikan kreditcard
tersebut.
" Buatku Tuan...?" Bertanya, untuk memastikan.
" Heemmm." Jawabnya, singkat.
" Tapi bukan ini yang kubutuhkan Tuan?, yang aku inginkan uang kes, bukan ini."
" Kau sangat bodoh Rania, jangan bilang kau tidak tau ini apa. Ini isinya sangat banyak, dan bersenang - senanglah dengan Ana. Tapi ingat, tidak lebih dari dua jam." Titahnya, dengan nada tegas.
" Apa?, dua jam..?, mana bisa begitu, itu terlalu cepat Tuan. Karena aku harus kesalon, dan juga harus kemembeli baju baru, waktu dua jam terlalu cepat Tuan."
" Kalau begitu 2 1/2 jam." Ucapnya, lagi.
" Tidak bisa Tuan, itu juga terlalu cepat manabisa."
" Kau terlalu banyak bicara Rania, jangan buat aku berubah pikiran. Berterimah kasilah padaku, karena aku mengijinkan kau untuk keluar rumah, atau jangan - jangan kau ingin bertemu dengan kekasihmu..?" Dengan mengernyitkan dahinya, dan menatap tajam istrinya.
" Meeemmm..., ntalah Tuan, itu mungkin bisa saja terjadi."
Seketika Henri langsung menghampiri istrinya, dan mencengkram kuat pergelangan tangan gadis itu.
" Tuan, apa yang anda lakukan tolong lepaskan tanganku, ini sangat sakit.." Seru Rania, dengan meringis kesakitan, dan berusaha untuk melepaskan pergelangan tangannya.
" Jangan buat aku betul.- betul membunuhmu Rania.., kau tidak mau itu sampai terjadi bukan..?" Dengan raut wajah, penuh kemarahan.
" Baiklah Tuan, aku tidak akan pernah melakukan itu." Jawabnya, sambil meneteskan airmatanya.
" Baguss kalau begitu." Dengan nada dingin.
Ketika Henri, akan melangkahkan kakinya keluar dari kamar, tiba - tiba Rania bersuara.
" Tuan.., apakah kau mencintaiku..?" Tanya Rania, dengan menatap punggung Suaminya.
" Deeggg.". Terkejutnya seorang Henri Wilson, dan diapun hanya terdiam.
Tapi begitulah seorang Henri Wilson, egonya begitu tinggi, hingga dia tidak menyadari, kalau ia telah jatuh cinta terhadap istrinya.
.
" Sampai kapanpun aku tidak percaya cinta, karena bagiku cinta itu tidak ada. Jadi jangan pernah bermimpi Rania." Jawab Henri, dengan berlalu meninggalkan kamar mereka.
Hanya menangis, saat mendengar ucapan Suaminya, karena semakin hari perasaannya terhadap Henri Wilson, semakin bertambah.
" Aku mencintaimu Tuan..., aku mencintaimu." Ucapnya Rania, yang menangisi perasaannya terhadap Henri Wilson.
*********
Dalam perjalanan menuju perusahaan, wajah Henri terlihat begitu gelisah. Pertanyaan Rania, masih terus terngiang di telinganya.
" Tidak , tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. " Bathin Henr,i dengan dengan perasaan begitu gelisah.
Jhon yang sedari tadi memperhatikan Tuanmudanya. Langsung bertanya, saat melihat, raut wajah Tuanmudanya, terlihat begitu gelisah.
" Apakah anda sedang tidak sehat Tuan..?"
" Tidak, aku baik - baik saja Jhon.." Jawabnya, dengan tatapan matanya terlihat hampa.
Henri meraih phonshelnya, dan mengirim pesan pada seseorang.
💌 Keluarlah bersama Ana, dan bersenang - senanglah. Aku beri waktu kau 3 jam.
sayang kan kalau cerita bagus, tapi bahasa ga enak dibaca, bikin males.