Apa jadinya jika seorang Ustadz mencintai gadis yang di anggap hanya gadis biasa tapi ternyata penuh dengan rahasia dan yang paling penting dia adalah seorang Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurusysyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Kekhawatiran Fahmi
Fahmi dan Farhan mengantarkan Tasya untuk ke rumah sakit Natas Hospital sesuai permintaan Tasya, di perjalanan Fahmi terus saja menangis, air matanya tak henti-hentinya keluar dari matanya, Fahmi terus memeluk tubuh Tasya dengan erat hatinya begitu terpukul melihat gadis yang kini menjadi istrinya lemah tak berdaya
" Ana kenapa bisa seperti ini " ucap Fahmi di sela tangisnya
" a.. ku.. nggak... pa.... pa.... mas... " jawab Tasya tersendat-sendat
" kamu harus bertahan Tasya, demi aku demi kita dan juga Adiba, " ucap Fahmi
" a.... ku... a... kan... baik... baik... saja... " jawab Tasya
"aku.... tau kamu pasti akan baik-baik saja" ucap Fahmi sembari terus memeluk Tasya
" su... dah... jangan... me.. nangis..., " jawab Tasya
" ustadz kita sudah sampai " ucap farhan memberi tau
Fahmi pun segera turun dan mengangkat tubuh Tasya ke dalam rumah sakit, para perawat pun segera menghampiri mereka
" apa yang terjadi pak" tanya salah satu perawat sembari membawa kursi roda untuk Tasya
" Ce.... pat... panggil Na... Dira.... " suruh Tasya dan perawat pun berlari untuk memanggil Nadira, tak butuh waktu lama perawat pun datang dengan Nadira
" apa yang terjadi " tanya Nadira
" mana... obat ku.. yang.. kemarin.. baru... selesai... ucap Tasya
Nadira pun sudah mengerti dan kembali masuk untuk mengambil obat yang Tasya minta
" nih obat yang kamu minta " ucap Nadira setelah kembali dan segera memberikannya pada Tasya
Tasya pun langsung meminum obatnya, berharap perkiraannya benar karena obat itu belum sempat Tasya coba
" bawa.. aku,. ke... laboratorium.. sekarang,.. ucap Tasya masih terbata-bata
" untuk apa Ana, lukamu harus segera di obati" ucap Fahmi
" iya luka ini sangat parah seharusnya cepat di obati takut akan infeksi nanti " ucap Nadira khawatir
" lukaku tak sebanding dengan racun yang sudah menjalar ke seluruh tubuhku " ucap Tasya pelan
" racun.....!!! teriak Fahmi, Farhan dan Nadira bersamaan
" cepat bawa aku ke laboratorium, aku hanya butuh waktu tiga puluh menit, untuk membuat obatnya, meskipun aku tidak yakin akan berhasil tapi seenggaknya aku akan mencoba" ucap Tasya
" baiklah aku akan membawamu ke laboratorium, " jawab Nadira yang memang sudah tau akan Tasya, Nadira pun mengambil Tasya dari tangan Fahmi dan segera mendorong kursi roda Tasya ke laboratorium
sedangkan Fahmi dan farhan yang tak tau hanya mengikutinya dari belakang dan terus bertanya-tanya di dalam hatinya apa yang akan dilakukan Tasya
dengan keadaan yang sangat lemah Tasya paksakan untuk masuk ke laboratorium tanpa kursi rodanya.
" Ana aku akan ikut dengan mu aku nggak mau kamu kenapa-napa " ucap Fahmi
" maaf mas untuk kali ini aku nggak bisa mengizinkan mas ikut denganmu " jawab tas yang mulai lemah dan wajahnya sangat pucat
" tapi kenapa Ana, aku suamimu " ucap Fahmi
" maaf mas, aku tak punya banyak waktu " ucap Tasya dan langsung menutup pintu sedangkan Fahmi hanya bisa melihat apa yang Tasya lakukan lewat kaca yang ada di pintu
Tasya berjalan tertatih-tatih merambat dari meja ke meja lain tubuhnya mulai gemetar keringat mulai membasahi wajah Tasya wajahnya sudah semakin pucat
" aku harus bisa " ucap Tasya
prangk......... terdengar barang jatuh karena Tasya jatuh karena kakinya mulai tak mampu menompang tubuhnya, pelan-pelan Tasya bangun dan ingin segera membuat obatnya
perlahan-lahan Tasya mulai fokus dengan bahan-bahan dan mulai meracik nya namun sebelumnya Tasya mengambil sedikit darahnya dari ujung jarinya sendiri, meskipun dengan keadaan yang sangat lemah namun Tasya berusaha untuk bisa menemukan penawar dari racun yang ada di tubuhnya
Fahmi terus meneteskan air matanya melihat Tasya yang berjuang sendiri di dalam laboratorium dengan tubuh yang semakin lemah dan wajahnya pucat
" Ana aku mohon buka pintunya, " teriak Fahmi namun tak mendapatkan jawaban dari Tasya
" Ana... aku.. mohon.. buka.. "! teriak Fahmi dan duduk di depan pintu laboratorium
" lebih baik bapak tenangkan diri, " ucap Nadira
" benar kata dokter ustadz " ucap Farhan
" dokter bolehkah aku menemui kepala rumah sakit ini " ucap Fahmi
" untuk apa bapak ingin menemui kepala rumah sakit " tanya Nadira
" aku ingin kepala rumah sakit membukakan pintu ini, karena mungkin hanya dia yang berani membukanya " ucap Fahmi
" bahkan kepala rumah sakit pun tak akan berani membuka pintu ini di kala istri Bapak ada di dalam " jawab Nadira
" emang kenapa, dan apa posisi Ana di sini sampai-sampai kepala rumah sakit tak berani padanya " tanya Fahmi yang mulai kesal
" maaf Pak aku nggak bisa bicara semua pada bapak " jawab Nadira
" kenapa dok, aku suaminya Ana, aku mohon kasih tau padaku" ucap Fahmi memohon
" tapi pak, " ucap Nadira
" aku mohon dok" ucap Fahmi dan terus memohon
" maaf Ana, aku nggak bisa berbohong lagi pada suamimu, aku harap kamu bisa memaafkan ku " batin Nadira
" katakan dok " pinta Fahmi
" karena... kerena Ana adalah pemilik dari rumah sakit ini, dan karena Ana adalah kepala dokter dari rumah sakit ini ,dia adalah dokter Wilona" ucap Nadira tegas
" dokter pasti bohong, semua itu nggak mungkin " ucap Fahmi tak percaya
" seandainya Bapak nggak percaya kenapa Ana bisa masuk ke laboratorium tanpa ada yang mencegahnya, apa itu kurang sebagai bukti " terang Nadira
" bahkan kecerdasan yang saya miliki tak ada apa-apanya dari dokter Wilona , dia selalu membuat obat yang tak pernah di buat oleh siapapun, dan semua yang ia buat terkadang tak masuk logika, tapi itulah dokter Wilona, dokter yang paling di segani di rumah sakit ini " terang Nadira
" Ana aku mohon buka pintunya, aku nggak bisa lihat kamu menderita sendiri " ucap Fahmi setelah berbalik ke arah pintu
" Ana sampai kapan kamu akan di dalam, buka Ana.. buka... " ucap Fahmi dan terus meneteskan air matanya sembari menggedor-gedor pintu laboratorium
Tiga puluh menit sudah Tasya di dalam namun tak kunjung dia keluar, Fahmi begitu sangat khawatir, terlihat dari luar wajah Tasya sudah sangat pucat, bibirnya sudah membiru tubuhnya gemetar dengan keras keringat keluar dengan deras dari setiap pori-pori di wajahnya
" akhirnya aku bisa membuat nya meskipun akan sedikit lama kerjanya namun seenggaknya aku masih punya harapan" ucap Tasya dengan gemetar
Tasya berhasil membuatnya dan dia bagi menjadi beberapa bagian, dan Tasya pun meminum satu bagian, sesaat setelah meminum ramuan itu tubuh Tasya tiba-tiba merasa sangat berat dan akhirnya Tasya terjatuh tak sadarkan diri
Fahmi yang melihat Tasya tak sadarkan diri dengan terpaksa Fahmi mendobrak pintu dan berlari ke arah Tasya
" Ana bangun Ana, bangun, " ucap Fahmi di sela-sela tangisnya dan segera mengangkat kepala Tasya ke pangkuannya
" bapak tenanglah mungkin ini adalah kerja dari obat yang dokter Wilona minum, lebih baik kita bawa dokter Wilona ke kamar miliknya, " ucap Nadira
Akhirnya Fahmi pun menerima saran dari Nadira dan segera membawa Tasya ke kamar yang di tunjukkan oleh Nadira, kamar yang sangat luas, dan sangat rapi itulah kamar khusus milik Tasya saat dia sedang di rumah sakit
Nadira mulai memeriksa keadaan Tasya, dan perawat pun mulai memasangkan jarum infus ke tangan Tasya, setelah memeriksa Tasya Nadira akhirnya merasa lega karena sepertinya Tasya sudah melewati masa kritisnya, dan mungkin dia belum sadar karena masih dalam pengaruh obat yang dia minum tadi
" sudah bapak nggak usah khawatir, dokter Wilona sudah baik-baik saja, mungkin dia belum sadar karena masih terpengaruh dari obat yang dia minum, atau mungkin itu adalah efek samping dari obat itu, kita tinggal tunggu saja dia sadarkan diri, baru kita akan tau hasil dari kerja keras dokter Wilona " ucap nadira
" Baik dok, terimakasih " ucap Fahmi
" Sama-sama Pak" jawab Nadira dan kemudian keluar dari kamar Tasya
" ustadz sepertinya saya akan pulang dulu, untuk mengabari Abi dan Umi " pamit farhan
" baik, terimakasih ustadz sudah mau menemani saya di sini, ucap Fahmi
" sama-sama ustadz, " aku pulang dulu Assalamu'alaikum " ucap farhan
" Wa'alaikumsalam, " jawab Fahmi
setelah kepergian Nadira dan Farhan, Fahmi mendekati dan duduk di kursi sebelah Tasya, di pegangnya tangan Tasya dan Fahmi pun juga mencium tangannya itu, sedangkan Tasya masih saja tak sadarkan diri entah akan sampai kapan Tasya akan sadar
" Ana bangunlah, aku sangat sayang padamu, aku tak mampu melihat kamu seperti ini, " ucap Fahmi disela-sela air matanya
" Ana aku mohon, jangan buat aku khawatir seperti ini, bangunlah " mohon Fahmi
Fahmi terus saja berusaha untuk membuat Tasya terbangun namun usahanya tak kunjung berhasil, karena kelelahan akhirnya Fahmi tertidur dengan kepalanya berada di ranjang Tasya dan tangannya memeluk tubuh Tasya
Perlahan-lahan Tasya mulai membuka matanya dilihat nya sekeliling ruangan ternyata aku ada di kamarku batinnya
Tasya merasa ada benda yang berat yang berada di perutnya Tasya berusaha meraihnya ternyata itu adalah tangan Fahmi yang memeluknya, dilihat nya Fahmi ternyata ia tertidur Mas pasti capek ucap Tasya
Tasya tersenyum melihat Fahmi tertidur pulas
meskipun posisinya tidak baik karena dalam keadaan duduk mungkin karena kelelahan akhirnya membuat Fahmi tertidur
" terimakasih Mas, sudah setia menemaniku di sini, aku sayang sama Mas, " ucap Tasya sembari tangannya mengusap rambut Fahmi
karena merasa ada yang mengusap rambutnya, Fahmi pun terbangun Fahmi begitu senang karena melihat istrinya itu sudah bangun dan tersenyum ke arahnya
" Assalamu'alaikum suamiku " ucap Tasya
" WA.. Wa'alaikumsalam... istriku.. jawab Fahmi dan kembali menitikan air matanya
" kenapa menangis, aku sudah baik-baik saja " ucap Tasya
" aku tau istriku akan baik-baik saja " jawab Fahmi dan langsung menciumi wajah Tasya
" apa kamu tau, ? kau membuatku takut " ucap Fahmi
" ustadz ku yang tampan ini nggak boleh cengeng oke, " ucap Tasya sembari menghapus air mata Fahmi
" dokter Nadira bilang kamu adalah seorang dokter, apakah itu benar " tanya Fahmi
" bukankah waktu pertama kali Mas menungguku saat aku tertembak dulu aku sudah pernah bilang pada Mas, tapi Mas nggak percaya " jawab Tasya
" berarti semua itu benar " ? tanya Fahmi
" semua itu benar, dan aku juga pemilik rumah sakit ini, karena akulah yang mendirikannya " jelas Tasya
" terus apa lagi yang kamu punya, " tanya Fahmi penasaran
" yang aku punya.... "pikir Tasya
" yang aku punya adalah beberapa perusahaan, hotel, kafe, butik, apartemen,rumah, dan juga yang lain , kemarin aku sudah mau bercerita semua tapi malah ada kecoa-kecoa pengacau " ucap Tasya menerangkan
" subhanallah.... apakah semua itu benar " tanya Fahmi dan hanya mendapatkan anggukan dari Tasya
" subhanallah.... berarti istriku adalah orang yang sangat berlimpah harta " ucap Fahmi kagum
" ya seperti itulah, tapi aku mohon sama Mas semua ini hanya Mas yang tau, aku nggak mau sampai ada orang yang tau" pinta Tasya
" baiklah, mungkin itu yang terbaik untuk kita "terimakasih Mas, ... ucap Tasya
" heem..... jawab Fahmi dan kembali. mencium kening Tasya
" kalau boleh tau apa nama perusahaan mu" tanya Fahmi
"namanya.... ANASTA GRUP... terang Tasya
" benarkah...! ! berarti kemarin itu yang di katakan Bu Tania itu menyindir kamu" ucap Fahmi
" iya.... " jawab Tasya singkat
" makasih Ana karena kamu kini perusahaan Papa sudah kembali membaik " ucap Fahmi
" sama-sama, Mas, " jawab Tasya
ORG YG HEBAT BELADIRINYA AKN MMPUNYAI INSTING YG KUAT JIKA ADA BAHAYA MNGANCAM, MSKI ITU SERANGN MNDADAK DARI BLAKANG, TPI TASYA SRING KCOLONGN. DARI VITO, JONES, DN TRAKHIR EVAN & RIDWAN.
AIRIN MMG HRS DILATIH KERAS AGAR JDI WANITA KUAT & TANGGUH, TPI LIAT JUDUL NOVEL CINTA UNTUK AIRIN, DITIAP BABNYA KYKNYA AIRIN MSH BLM TANGGUH, MSH KCOLONGN..