Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Namun bagaimana jika seseorang di tuntut untuk selalu sempurna?
Arkabian Selat Muara. Ketua besar dari ALTARES Gang. Laki-laki yang memiliki paras hampir sempurna di SMANBA. Hal yang paling tidak ia sukai adalah, ada orang yang mengusik kehidupannya.
**
"Menurut lo cinta itu apa?"
"Cinta itu luka, cinta itu sakit. Dunia itu jahat Lun, kita dipertemukan oleh semesta tapi tidak ditakdirkan bersama."
Akankah kehadiran seseorang mampu membuat Arka berubah? Yuk baca dan pergi ke dunia Arka»
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ejubestie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Penyekapan
Setelah melaksanakan ujian, sekolah SMANBA memasuki hari bebas atau di sebut jamkos. Para dewan guru dan panitia OSIS sedang mengadakan rapat untuk acara classmate.
Di kantin SMANBA, ada dua siswi yang sedang merencanakan sesuatu.
Mereka nampak serius dengan perbincangan nya.
"Lo harus bantu gue, kak."
"Emang lo mau ngapain, Lolly?"
"Gue mau nyingkirin Luna, gue nggak rela jika Arka dekat dengan cewek itu." kata Lolly lalu menyantap siomay di depan nya.
Liona fokus pada ponselnya namun ia masih bisa menjawab ucapan Lolly, "Gue males," ujar Liona.
Lolly mengambil ponselnya lalu menunjukkan satu foto pada Liona, "Yakin lo nggak mau ikut, kak?"
Mata Liona melotot dan langsung menyambar ponsel itu, tangan nya mulai mengepal dan wajahnya mulai merah. Itu adalah foto Luna dan Gilang yang tengah menaiki bianglala di pasar malam.
Lolly memang sempat melihat mereka berdua lalu mengambil fotonya secara diam-diam.
"Gue ikut."
Lolly tersenyum puas, akhirnya dia akan menyingkirkan Luna dengan bantuan Liona. "Lo tau tentang Luna nggak, kak?" tanya Lolly.
Liona nampak berpikir, "Setau gue Luna itu punya penyakit asma, magh, alergi, dan masih banyak lagi kayanya." jawab Liona yang memang pernah mendengarnya.
"Oke, gue punya rencana," Lolly nampak membisikan sesuatu ke telinga Liona. Cewek itu memang tidak suka jika seseorang merebut sesuatu yang ia sukai.
"Lo yakin ini nggak keterlaluan?" tanya Liona yang menganggap ide Liona sedikit gila.
"Tenang aja, ini nggak seberapa, kak.''
Liona hanya pasrah dan mengikuti apa yang Lolly mau, sepertinya memang Luna harus di beri pelajaran agar tidak mendekati Gilang.
Oh ya ngomong-ngomong soal Gilang, cowok itu sudah berangkat ke luar negeri tadi pagi. Liona diberitahu cowok itu lewat pesan. Ayah Arka itu orang yang berkuasa di sekolah ini, jadi pria itu dengan mudah membujuk guru untuk mengijinkan Gilang pergi dan tidak mengikuti classmate.
...*****...
"Gimana Semalam, Ra?"
"Gimana apanya?"
"Malam pertama," celutuk Nisa. Gadis itu sangat kepo dengan Nara yang saat ini sudah berstatus suami orang.
"Gue masih perawan." jawab Nara.
Nisa melotot mendengar jawaban Nara, berbeda dengan Luna. Ia nampak santai, mungkin mereka akan melakukan nya saat hanymon, Nara kan memang bercerita seperti itu.
"Berarti lo belum disentuh, Reza?" tanya Nisa pada Nara.
Nara menatap Nisa malas, "Kalau disentuh ya jelas udah, Ca. Kan gue salaman sama Reza, terus cowok itu cium kening gue kemarin."
"Kalau itu si gue tau," kata Nisa lalu beralih pada Luna. "Lun, kok lo bisa bareng Bayu?" tanya Nisa yang mengingat tadi malam Luna mengajak cowok itu.
"Gue yang minta,"
"Emang lo nggak takut kalau-kalau lo di culik lagi?"
Luna nampak diam sebentar lalu kembali berucap. "Ya takut, Ca, tapi setiap orang perlu kesempatan kedua kan. Gue tau Bayu punya sisi baik yang orang lain nggak tahu."
"Hai, Bu bos!" teriak Razi. Inti ALTARES masuk ke kelas MIPA 2 untuk menemui Luna, bahkan Arka ikut dan berjalan di bagian belakang.
Luna tersenyum pada mereka, "Hai." sapaanya.
"Aduh, senyumnya teh manis pisan euy." kata Karlo
Luna nampak senang di kelilingi orang-orang seperti mereka, ternyata duduk diantara mereka tidak semenyeramkan itu.
"Mentang-mentang pengantin baru, jadi nggak mau jauh-jauhan." sindir Okta yang melihat Reza langsung menghampiri Nara.
"Makannya cari pasangan, Ta, biar nggak nyinyir sana sini." kata Nisa pada Okta.
Okta menatap Nisa malas, "Mentang-mentang lo si paling bucin, sekarang seenaknya nasehatin orang."
Nisa selain ratunya ALTARES ia juga ratunya bucin. Entah ini perasaan Luna saja atau bukan, ia melihat Arka meliriknya beberapa kali. Tetapi cowok itu sedari masuk kelas belum mengatakan satu kata pun.
"Bu bos, kapan-kapan kalau ada waktu kita jalan-jalan mau?" tanya Karlo lalu memakan ciki yang di bawa.
Alis Luna terangkat seakan bertanya maksud ucapan Karlo, namun dengan cepat Razi melontarkan sesuatu. "Jalan-jalan bareng ALTARES, Lun. Karlo emang kalau ngomong kadang bikin orang salah paham."
"Boleh sih, lagian gue bosan kalau dirumah terus." jawab Luna.
"Bagus deh, gue udah bikin list apa aja yang bakal kita lakuin nanti." seru Nisa bersemangat. Ngomong-ngomong soal Alga, cowok itu sedang mengikuti rapat osis.
Arka hanya bergumam tak jelas sedari tadi. Cowok itu hendak mengatakan sesuatu namun tertahan.
Devano yang duduk disamping Arka lalu merangkul pundak cowok itu.
"Gimana, Ka, lo mau ikut?" tanya Devano pada Arka.
Arka berdehem sebelum menjawab. "Emang gue boleh ikut?"
"Lo kan ketua ALTARES, sudah pasti lo boleh ikut lah."
Arka melirik Luna sekali lagi, saat Luna menatap nya balik cowok itu justru memalingkan wajahnya. Arka hanya merasa tidak suka jika Luna berdekatan dengan laki-laki lain selain ALTARES apalagi orang itu Bayu.
Cemburu? Arka sendiri tidak tahu ini rasa apa. Yang jelas cowok itu tidak suka.
...******...
Setelah bel istirahat Luna menemukan sepucuk surat di mejanya. Ia nampak kaget karena di situ tertera nama Arka. Isi dari surat itu adalah agar Luna menemuinya sepulang sekolah di gudang.
Luna sempat terkejut, kenapa cowok itu tidak bilang langsung? Atau bisa kan menggunakan ponsel, ini malah menggunakan surat. Tanpa pikir panjang setelah bel pulang sekolah berbunyi, ia segera pergi ke gudang sesuai apa yang tertulis di surat itu.
"Kok sepi, ya?" Luna melihat sekitar yang bahkan tidak ada orang lewat karena lorong ini jarang di lewati. "Bener kan tadi Arka ngajak ketemuan disini?"
Luna berjalan perlahan ke dalam gudang, di sana gelap dan banyak debunya. Sepertinya gudang ini sudah lama tidak dibersihkan. Luna mendengar langkah kaki dari belakang, lalu ia berbalik.
"Arka?" Luna tidak bisa melihat dengan jelas karena kurang cahaya di dalam sana.
Semakin dekat orang itu, semakin membuat Luna panik. Dengan postur tubuh seperti itu Luna yakin jika itu bukan Arka.
"Siapa lo?"
Luna berjalan mundur karena takut. Namun seseorang dari belakang membekap mulutnya dengan kain yang sudah di campur obat bius.
Luna lemas dan perlahan-lahan ia kehilangan kesadarannya.
"Ayo sekarang kita ikat dia, lalu setelah itu kita kunci gudangnya dan tinggalin dia sendiri disini."
"Lo yakin sama ini?"
"Udah percaya deh, nggak akan terjadi apa-apa sama Luna. Paling dia cuma syok nanti. Gue cuman mau ngasih dia pelajaran agar nggak macem-macem sama gue."
Lalu kedua orang itu mendudukkan Luna pada salah satu bangku, lalu mengikatnya dengan kencang. Setelah mereka beres dengan itu, dua orang itu mengunci gudang dari luar dan meninggalkan Luna sendirian.
semangat kak... ☺