Siapa yang mengira.
Pertemuanku dengan seorang pria di sebuah vila, mengubah kisah cintaku.
Dalam sekejap statusku berubah, menjadi pacarnya pak bos. Oh Tuhan... aku hanya meminta bantuannya kenapa menjadi seperti ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertidur dalam Pelukkannya
Adit tetap menarik tanganku, tanpa melihatku dan tak bersuara sedikitpun. Ia membawa ku ke mobilnya. Ku melihat Ajun di dalam sana. Adit kemudian membukakan pintu mobil untukku.
"Masuk.." Pintanya.
Oh tidak.. kenapa kata - katanya terdengar sangat menyeramkan. Dia melangkah masuk dari pintu satunya lagi. Kami duduk di belakang bersama. Sedangkan Ajun di depan mengemudikan mobil ini.
"Kita berangkat sekarang Jun." Pinta Adit pada Ajun.
Ajun menyalakan mesin mobil ini dan meninggalkan tempat ini segera. Masih hening. Adit masih tak bersuara hanya menatap keluar tak melihat diriku. Uhhh.. hati ini kenapa merasa tersiksa melihat sikapnya.
Aku tak paham, salahku di mana. Aku tak sengaja bertemu dengan Revan. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Kenapa situasi ini menyudutkan aku sekali.
Adit juga bersalah menurutku. Dia tak memberitahukan akan kepulangannya. Dia anggap aku ini apa. Ah.. kenapa aku malah mencari - cari kesalahanya.
"Mas.." Panggilku akhirnya.
"Kamu kapan kembali?" Tanyaku kemudian.
"Sore tadi." Jawabnya masih saja tak menatapku.
"Kenapa tidak memberitahukanku?"
Adit tetap diam. Mencari cari alasan atau memang tak mau menjawab pertanyaanku, entahlah.
"Ok.. aku tahu kamu sibuk. Makanya tak ada waktu untuk memberitahukanku. Ajun tahu segalanya, sedangkan aku.. enggak tahu apa - apa. Atau aku memang enggak penting buat kamu." Ucapku kesal.
Duh.. bagus sekali.. aku malah memperkeruh suasana. Menarik kata - kataku kembali rasanya tak mungkin. Malah membawa Ajun dalam permasalahan kami. Oh tidak.. sesalku akhirnya.
Aku tak berani melihatnya sekarang. Hanya bisa mengigit biriku pelan tanda penyesalan. Rasanya aku ingin meninggalkan tempat ini segera.
Namun tiba - tiba, Adit memegang kedua pundakku dan sedikit mengangkat wajahku untuk dapat terlihat olehnya. Adit marah berat sepertinya. Wajahnya yang terlihat letih dan mungkin kesal, ia menatapku sekarang.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
Deg.. aku mesti menjawab apa. Aku terbawa suasana karena Adit mendiamiku sejak tadi.
"Kamu lebih penting dari segalanya, Huhh.. Kenapa jadi kamu yang memarahi aku sekarang." Lanjutnya.
"Karena kamu diam saja dari tadi." Belaku.
"Aku kesal, tadinya mau buat kamu terkejut, malah aku yang terkejut." Ucapnya kemudian.
"Ah.. sudahlah, aku lelah hari ini Ay.. Aku tak bicara karena aku takut malah menyakiti kamu jika ku bicara."
"Maafkan aku karena tidak memberitahukanmu, tapi bukan berarti kamu enggak penting buat aku. Aku janji akan memberitahukanmu apapun itu kelak."
Aku kembali tersentuh dengan kata-katanya. Adit pria tersabar yang pernah ku temui. Memang benar, kadang dikala letih melanda, kita bisa saja terpancing emosi. Adit memilih diam, dia takut akan menyakiti perasaanku. Siapa yang akan mengira, wanita yang ingin ditemuinya segera bersama dengan pria lain. Tapi satu hal yang pasti, aku tak tahu kalau Adit kembali saat ketidaksengajaanku bertemu dengan Revan tadi.
Dalam perjalanan Adit tertidur pulas, Tubuhnya merapat dengan tubuhku, kepalanya bersandar lemah di pundakku, matanya terpejam dengan cepat. Wajahnya sungguh letih.
"Maafkan aku mas, harusnya aku bisa lebih memahamimu." Ucapku dalam hati.
Aku menggenggam tangannya. Aku ikut menyandarkan kepalaku. Memandang kesibukan yang terjadi di luar sana. Sampai akhirnya aku ikut tertidur bersamannya.
🍀🍀🍀
Oh tidak.. di mana aku sekarang? Akupun mengedarkan pandanganku saat ini, Ini kan apartemenku. Kapan aku kembali, kenapa ku tak mengingatnya.
Ku melirik jam dinding yang menempel tepat berada di hadapanku. Pukul 01.00 wib, aku telah tertidur selama ini. Lalu bagaimana dengan Adit.
Pandanganku beralih ke sofa putih milikku. Ku melihat sosok Adit di sana. Dia tidur di sana, hanya dengan sebuah bantal dan selimut yang menemaninya. Akupun menghampirinya memastikan bahwa benar itu Adit.
Sekarang, aku telah duduk di hadapannya. Melihat wajahnya sangat dekat. Adit menginap lagi malam ini. Kenapa dia tidak membangunkanku saja tadi.
"Maafkan aku, aku selalu saja merepotkanmu." Bisikku.
Ku menyentuh wajahnya pelan, berharap dia tidak terbangun karena sentuhanku. Merapikan selimut yang mulai tak menutupi tubuhnya. Akupun kemudian bangkit dari posisiku sekarang. Tiba - tiba tangan Adit meraih tanganku. Dia membuka matanya dan menatapku sekarang.
"Kamu kenapa bangun?"
"Ah.. entahlah aku bangun begitu saja."
Adit bangkit dari tidurnya dan duduk kemudian. Dia menarikku dan menjatuhkan tubuhku padanya. Oh tidak.. aku di pangkuannya sekarang. Adit tepat berada di belakangku. Dia memelukku dan menyandarkan kepalanya pada punggungku.
"Aku minta maaf Ayna, aku minta maaf.." Ucapnya pelan.
Aku merinding mendengar ucapannya. Ini terlalu dekat. Sentuhannya membuatku tak bergerak sedikitpun.
"Aku juga minta maaf mas." Ucapku akhirnya sambil menggerakkan kepalaku sedikit ke arah belakang untuk bisa melihat wajahnya yang masih bersandar di punggungku. Matanya terpejam tapi tangannya memelukku sangat erat.
"Kamu istirahatlah." Pintaku.
"Ya.." Jawabnya.
Kenapa dia masih memelukku seperti ini. Aku memintanya beristirahat, bukan berarti dia tertidur di punggungku terus dan dengan posisi seperti ini.
"Mas.." Panggilku.
"Hemm.. "
"Kamu bisa turunkan aku." Pintaku.
"Aku masih merindukanmu Ay, biarkan seperti ini."
"Tapi mas.. "
Belum sampai ku mengakhiri kalimatku, dia sudah memindahkan tubuhku segera tepat di sampingnya. Haduhh aku tak berani menatapnya, kenapa dia terus melihatku seperti itu.
"Ayna.. " Panggilnya.
"Ya.. "
"Sabtu nanti, ketemu ibuku yah, dia tak sabar ingin mengenalmu."
"Hah.." Teriakku.
Tiba - tiba Adit langsung menarik tanganku kembali dan akhirnya tubuhku jatuh tertidur di sofa ini. Begitu pula dengan Adit. Aku masih terkejut dengan perkataannya ditambah lagi dia menarikku tiba-tiba. Dia memelukku kembali dan aku membelakanginya sekarang.
"Ibumu mengenalku?" Tanyaku.
"Ya, aku menceritakan dirimu padanya." Jawabnya.
"Hah.. Kamu cerita apa saja?"
"Kamu akan tahu setelah bertemu nanti."
"Tapi mas.."
"Tidurlah dan biarkan aku memelukmu seperti ini ya."
Bagaimana bisa aku tidur malam ini, Adit tetap memelukku erat. Dengkuran halus mulai terdengar dari belakang. Adit tampaknya sudah tertidur. Lalu bagaimana dengan diriku.. kenapa juga Adit memberi tahukanku hal besar seperti ini dan akhirnya malah membuatku penasaran.
Tapi.. entah kenapa aku merasa nyaman berada di dekatnya. Nafas dan aroma tubuhnya sangat ku rasakan. Pelukannya sangat ku rindukan. Aku mencoba kembali tepejam. Menuruti kata-katanya. Sedikit menyandarkan tubuhku ke tubuhnya. Mencoba tertidur dalam pelukkannya.
Malam ini langit begitu gelap, sedikit sinar rembulan yang tak sengaja masuk melalui celah kecil dari jendela yang tak sempurna tertutup tirai. Hembusan udara malam terasa hangat dalam dekapannya. Kebisingan ibukota sudah tak terdengar. Hanya hembusan nafasnya yang terdengar menenangkan diriku malam ini. Akupun tertidur dalam pelukkannya.
.
.
.
.
.
Lanjut episode berikutnya ya dears😘.. semoga menikmati ceritanya.
Maafkan saya, terlalu lama UPnya🙏, minggu ini meeting online berbaris 😂 laporan menggunung😅.
dilike ya 😘dan dijadikan favorite
jangan lupa bintang dan vote yang banyak
komentar dan masukan yang baik ditunggu😇
terima kasih..
tetap setia menunggu upnya ya😊😊
lah ngapain teriak2,gak capek teriak2 mulu
dah lah lebih baik putus aja dan jadian ma Adit...
ish ish baru awal msih nyimak perlakuan Rafka ke Ayna.. mungkin cuek krn sibuk..