Mengisahkan tentang kehidupan rumah tangga seorang wanita yang bersama Sari Lestari, ia akhirnya harus menerima kenyataan pahit setelah mengetahui kebenaran jika suaminya telah menghianati bahtera rumah tangga yang sudah lima tahun mereka jalani. Suaminya berselingkuh dengan sahabat baiknya sendiri hingga hamil, yang membuat Ridwan suami Sari harus menikahi sahabat istrinya di belakang sang istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RANU RINJANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Bug!
Aku menutup pintu mobil setelah memarkirkan di pinggir jalan area mall, sengaja tak ku parkirkan di dalam karena tak ingin terlalu lama berada di dalam mall.
Hari ini aku berniat ke mall untuk berbelanja kebutuhan dapur dan beberapa perabotan barang lainnya agar ayah dan ibu mas Ridwan merasa nyaman tinggal di rumah ku, aku juga ingin membelikan ibu perhiasan tapi bukan tanpa sebab aku selalu berbuat baik pada ke dua mertua ku karena mereka berdua juga sudah tulus menyayangi ku dan menerima ku dengan baik seperti putri mereka maka dari itu aku juga sangat menyayangi ayah dan ibu mas Ridwan meskipun putra semata wayangnya itu sudah menghancurkan hati ku. Bahkan kadang aku berfikir jika banyak teman teman ku yang bercerita bahwa mereka selalu bersikap bodo amat dan ingin menjauh dari ayah ataupun ibu mertunya mungkin karena mertua mereka tidak tulus menyayangi menantunya, aku juga sering mendengar tak jarang juga jika si menantu sudah baik dan perduli pada mertua mereka tapi tetap saja mendapat perlakuan tidak baik.
Ah, sudah lah!
Yang terpenting ke dua mertua ku benar benar baik, aku sangat bersyukur memiliki orang tua ke dua lagi setelah ayah ibu ku tiada.
Deg!
Jantung ku berdetak lebih kencang saat ekskalator yang ku naiki sampai di lantai dua, terlihat jelas sepasang laki laki dan perempuan yang sedang berdiri tepat di depan sebuah toko emas yang terletak tak jauh dari tempat ku berdiri sekarang.
Tapi aku tak ingin terlihat lemah di hadapan dua manusia yang tak punya hati ini, segera ku langkah kan kaki ku mendekat ke arah mereka.
"Sari? Ngapain kamu ke sini? Kok kamu tau kalo aku sama Sinta lagi di sini?" ucap mas Ridwan yang mencecar beberapa pertanyaaan.
Sinta langsung menoleh menatap ke arah ku, sedangkan aku hanya diam tak menjawab sedikitpun pertanyaan pertanyaan dari laki laki yang masih sah menjadi suami ku itu.
"Kamu habis dari mana?" tanya Sinta menatap ku dari atas sampai ke bawah.
"Iya, kamu habis dari mana Sar? Kok kamu pake baju kerja lagi, kamu habis ngelamar kerjaan ke kantor kamu yang dulu ya?" tanya mas Ridwan lagi.
"Emang kenapa?" ucap ku santai sembari berbalik badan untuk melihat deretan cincin, gelang, dan kalung yang tersusun rapi di dalam etalase kaca.
"Kok kamu gak ijin dulu sebelumnya ke aku? Aku ini suami kamu loh Sar! Kamu jangan seenaknya dong, gimapun kamu masih sah menjadi istri aku jadi mau gak mau kamu harus nurut perintah suami kamu." ucap mas Ridwan dengan menekan nadanya sembari mendekat ke arah ku.
Aku langsung menoleh menatao Sinta dan mas Ridwan, lalu tersenyum tipis kemudian berbisik di antara ke dua telinga sejoli ini.
"Kamu sendiri juga gak ijin dulu waktu mau selingkuh, apa lagi selingkuhnya sama sahabat baik aku sendiri lagi. He he he he..." bisik ku pelan pada telinga kiri mas Ridwan dan telinga kanan Sinta.
"Sari!" bentak mas Ridwan seketika setelah mendengar ucapan ku.
"Mas, udah dong! Malu tau di liatin orang banyak." bisik Sinta pada telinga suami ku.
Aku tersenyum sinis mendengar percakapan dua orang yang tak punya hati ini masih memiliki malu saat di hadapan orang lain.
"Kamu harus pulang ke rumah sekarang. Mas pengen ngomong berdua sama kamu di rumah, inget sekarang!" ucap mas Ridwan menekan ucapannya.
"Enggak mau deh, aku masih mau belanja cincin sama kalung dulu." ucap ku tersenyum licik.
"Maaaaaasss..." ucap Sinta menggoyang goyangkan lengan mas Ridwan seperti anak kecil yang sedang meminta es krim.
"Sebentar sayang, kamu harus sabar dulu dong." bisik mas Ridwan tapi masih bisa ku dengar.
"Ish!" jawab Sinta sembari menghentakan kaki kanannya kasar lalu berbalik badan dan berjalan menuruni lift.
"Inget, segera pulang sekarang!" ucap mas Ridwan sembari menunjuk ke arah wajah ku, lalu langsung menyusul betinanya pulang.
Alur cerita gk perlu hrs detail kali, tutup bekal ambil wadah, 🤗