Snow Tierra Arashi, seorang host terkenal yang menikah dengan seorang arsitek muda bernama Panutan Aaric Semesta.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika kehidupan pernikahannya ternyata jauh dari kata bahagia, lantara ibu mertua dan adik iparnya selalu ikut campur dalam persoalan rumah tangganya.
Akankah Snow akan bertahan dengan rumah tangganya atau ia justru akan kembali pada Calla Nirwana, mantan kekasihnya yang masih begitu mencintai Snow?
Selengkapnya hanya di novel Snow in Paris.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 31
Tas.
Ketika Snow tengah asik merajut tiba-tiba matanya tertuju pada tempat sampah yang berada di luar gerbang kediamannya, ia menyipitkan matanya agar bisa fokus melihat dengan jelas benda yang tergeletak di dalam kotak sampah. "Itu tasku..."
Sebagai pemilik, tentu Snow tahu betul motif dan model tas miliknya, terlebih tas itu ia buat sendiri dengan tangannya, jadi kemungkinan untuk sama dengan orang lain hampir tidak ada. "Ya benar itu tasku, tas yang sering ibu pakai, tapi kok kenapa bisa ada di sini ya?" tanya heran.
Untuk memenuhi rasa penasarannya, mengapa tas miliknya ada pada tempat sampah kediamannya, Snow beranjak dari tempat duduknya, sembari menaruh rajutannya di tempat duduknya, kemudian ia berlari ke pintu gerbang. Beruntung ibu-ibu arisan sudah tidak ada di kediamannya, sehingga tak ada lagi yang mengganggunya.
"Pak tolong bukain gerbangnya," pinta Snow pada security yang bertugas menjaga gerbang kediamannya.
"Maaf mba Snow, pak Aaric melarang saya membukakan pintu untuk mba Snow. Mba Snow di larang keluar oleh pak Aaric," tolaknya dengan halus.
"Tolonglah pak, kali ini saja. Aku hanya ingin mengabil barang di tempat sampah itu," tunjuknya sembari memohon.
Sang security menoleh ke arah bak sampah yang di tunjuk Snow, ia agak sedikit heran barang apa yang akan di ambil Snow di tempat sampah, atau itu hanya akal-akalan Snow agar bisa kabur dari rumah.
"Tolonglah pak, kali ini saja. Aku janji tidak akan kemana-mana, aku hanya ingin mengambil tas yang ada di tempat sampah itu."
Tak tega melihat Snow terus memohon akhirnya sang security menawarkan solusi lain. "Begini saja mba, biar saya saja yang mengambilkan. Mba Snow tunggu sebenatar di sini!!"
Snow mengangguk. "Boleh deh pak, tas rajut yang berwana pink biru itu ya pak," ucap Snow menjelaskan detailnya, karena tas tersebut sebagian sudah tertutup oleh sampah lainnya.
Di saat sang security mencari tas yang ia maksud, Snow melongok di antara sela pagar, sembari memberi petunjuk. "Itu pak yang di ujung, yang warnanya pink."
"Yang ini mba Snow?" tunjuj sang security.
Snow mengangguk. "Ia pakm yang itu,"ia membenarkan.
Sang security pun membawa masuk tas yang Snow maksud. "Ini mba tasnya," ia memberikan.
Lentera yang kebetulan baru pulang dari kampus melihat pemandangan tersebut dengan sinis, ia membuka kaca mobilnya dan berujar "Dasar gembel. Menjijikan sekali," ujarnya. Ia kembali melajukan kendaraannya menuju garasai.
Tanpa menghirukan hinaan Lentera, Snow menerimanya. "Terima kasih ya pak," ia terkejut mendapati bobot tasnya terasa sangat berat, sesaat Snow mengkocok-kocok tas tersebut, namun ia memutuskan untuk membukanya di kamar lantaran tak mau terus-terusan mendengar hinaan dari adik iparnya.
Snow kembali berlari ke kamarnya, sesampainya di kamar ia membuka isi tas miliknya. Alangkah terkejutnya Snow ketika melihat rantangan milik ibundanya berada dalam tasnya, satu persatu Snow membuka rantangan tersebut. Ia semakin terkejut karena ternyata rantangan tersebut berisi banyak makanan yang masih utuh.
"Siapa yang tega membuang ini di tempat sampah?" gumamnya, Snow memejamkan matanya mengingat kejadian tadi pagi, Aaric tanpak berbeda dari biasanya, suaminya melarangnya mengantaranya ke teras. "Apa jangan-jangan mas Aaric?" Snow menggelengkan kepalanya. "Tidak... Tidak... Mas Aaric tidak mungkin setega itu hiks..." air mata Snow kembali menetes di pipinya.
"Mas Aaric mengapa kau setega itu pada ibuku huhu.... Apa masih tidak puas hanya dengan menyiksaku? Mengapa kau memperlakukan itu pada ibuku, satu-satunya orangtua yang aku miliki huhu....." tangis Snow pecah di depan rantang milik ibundanya.
Bik Nanik turut bersedih melihat kesedihan Snow, ia mengelus bahu Snow dengan lembut. "Yang sabar ya, mba," ucap bik Nanik. " Makanannya masih utuh, bagaimana jika kita makan sama-sama? Mumpung belum basi."
Snow berpikir sejenak, benar apa yang di katakan oleh asistennya, sangat di sayangkan jika sampai makanan ya g di buat oleh ibundanya basi, lebih baik di makan sama-sama bersama para asisten rumah tangganya, karena ibu mertua, adik dan suaminya tentu tidak akan mau memakannya.
Snow mengangguk. "Iya bik, kita makan sama-sama saja di belakang." ia menghapus air matanya kemudian turun ke belakang menemui asisten rumah tangganya yang lainnya.
Di jam sore para asisten rumah tangga sudah lebih senggang, sehingga mereka lebih leluasa berkumpul dan mengobrol bersama. "Kita makan yuk bik," ajak Snow kepada yang lainnya. "Aku ada banyak makanan."
Para asisten rumah tangga saling pandang satu sama lain, pasalnya baru kali ini ada pemilik rumah yang mengajak mereka makan bersama. "Mba Snow yakin mau makan bersma kita?"
Snow mengangguk. "Kenapa tidak, kita makannya di belakang saja yuk, nantiiii..." ia tak perlu melanjutkan kalimatnya, sebab merka sudah tahu ap yang Snow maksud.
"Iya mba kita makan di belakang saja." Mereka sema menggelar makanan di galaman belakang.
Tanpa rasa canggung, Snow berbaur dengan para asistennya. Dunia entertainment membuatnya belajar untuk bisa berinteraksi dengan siapa pun karena para fansnya berasal dari berbagai kalangan masyarakat.
"Menurutku, lebih cantik mba Snow dari pada mba Bella. Mba Bella hanya ketolong make up saja makanya cantik," celetuk salah seorang asisten, di tengah-tengah makan bersama mereka.
"Husst jangan begitu," cegah Snow.
" loh iya mba, wajah mba Snow pucat kan karena habis sakit kemarin. Waktu awal nikah sama mas Aaric, mba Snow tanpa make up bening banget, tidak ada bedanya dengan yang ada di TV."
" Betul, itu," sambung yang lainnya.
"Sudah-sudah kok jadi pada ngegosip, ayo habiskan makananya."
Bik Nanik tersenyum melihat kebaikan hati Snow, padahal ia selalu di jahati oleh Bella namun Snow tak ingin menjelekan orang yang selalu menjahatinya. Bik Nanik pun setuju jika Snow memang jauh lebih cantik jika di banding dengan Bella, hanya saja tekanan yang di terimanya membuat Snow terlihat lebih murung, di tambah sakit beberapa waktu yang lalu sehingga wajar jika Snow kini terlihat lebih pucat.
"Bgaimana makananya enak tidak?" tanya Snow.
Sebetulnya Snow tak perlu menanyakan hal itu, karena dari raut wajah mereka sudah mendeskripsikan bahwa masakan ibunya sungguh luar biasa.
" Enak mba Snow, aku sampe nambah 3X."
" Itu sih namanya kamu rakus, Ida," ucap bik Nanik.
" Enggak apa-apa rakus tapi jujur, dari pada udah habis banyak bilang tidak enak," Ida menyindir Lentera.
Semuanya tertawa, mengerti arah ucapan Ida tertuju pada siapa.
" HEI KALIAN INI BERISIK SEKALI!!!" tegur Astrid yang tiba- tiba muncul, dari balik pintu, ia berjalan menuju arah Snow. "KAMU ITU MEMANG PANTASNYA DI SINI! BUKAN MENJADI ISTRI ANAKKU. DASAR UPIK ABU!!" Astrid tertawa sembari kembali masuk. "Snow upik abu," ledeknya.
Para asisten menggelengkan kepalanya, mereka tak habis pikir, Astrid bisa merendahkan Snow yang notabennya pernah menjadi seorang host terkenal dengan segudang prestasi. " Yang sabar ya mba," mereka smua memberikan support kepada Snow.
cinta akan tetap berpulang pada yang berhak walaupun sudah menikah kalau bukan jodohnya pastinya tetap bercerai juga