Di suatu malam yang kelam, pria bernama Fierce De Lance Tanson mendapati dosennya diperkosa. Wanita muda itu meringkuk sambil menangis, sementara pelaku telah kabur.
Karena perasaan cinta yang sudah cukup lama terpendam, Fierce membawa sang dosen ke rumah sakit dan berjanji akan bertanggung jawab.
Akan tetapi niat baik tak selalu membuahkan hasil. Tawaran Fierce ditolak mentah-mentah oleh wanita bernama Yuna, karena merasa tak pantas bersanding dengan muridnya itu. Terlebih Fierce masih sangat muda, masa depannya masih sangat panjang.
Namun, siapa sangka? Yuna harus menerima kenyataan pahit ketika dirinya dinyatakan hamil. Hingga akhirnya dia bersedia menerima lamaran Fierce.
Bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Akankah berjalan mulus, sementara di hati Yuna hanya ada perasaan bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika identitas si bayi terkuak?
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Sarapan Yang Lain
Setelah konsultasi dengan dokter Erika, akhirnya perlahan Yuna bisa mengendalikan dirinya. Dia terus mengingat semua pesan wanita itu, dan tentunya dengan bantuan Fierce yang selalu siap siaga.
Di saat paling terpuruk dalam hidup Yuna, Fierce selalu sabar meladeninya, hingga dia tidak bisa menggunakan alasan apapun, untuk tidak mencintai pemuda itu.
Hanya dalam kurun waktu seminggu, Yuna sudah bisa bersikap dengan normal. Dia tidak lagi mudah marah ataupun memiliki kecemasan yang berlebih, karena seperti yang Fierce bilang, dia harus menanamkan pikiran positif di setiap keadaan.
Apalagi kini sudah ada Anna yang membantunya mengurus Junior, jadi waktu istirahat Yuna jauh lebih banyak.
Hingga tak terasa hari berganti dengan cepat. Junior tumbuh semakin besar dan terlihat begitu menggemaskan. Tepat dua hari lalu, bayi tampan itu sudah berusia satu bulan.
Di dalam kamar.
Sebelum Fierce berangkat bekerja Yuna menyiapkan semua kebutuhan suaminya. Bibirnya terus melengkung, karena mengingat tentang dirinya yang sudah berhasil melalui masa nifas.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Yuna!" Wanita itu memperingati dirinya sendiri, tetapi senyum itu sama sekali tak tertanggal.
Hingga dia tak sadar saat Fierce keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Ketika melihat Yuna yang hendak keluar, pemuda itu langsung menarik pergelangan tangan istrinya, hingga Yuna menabrak dada bidang Fierce.
"Mau ke mana?" tanya Fierce dengan tatapan yang membuat Yuna waspada. Pemuda itu mengulurukan tangan untuk menyelipkan anak rambut Yuna ke belakang telinga.
Yuna langsung tersipu, entah kenapa setiap Fierce bersikap manis, dia jadi salah tingkah, padahal mereka sudah menikah cukup lama.
"Aku akan membantu pelayan menyiapkan sarapan. Jadi segera pakai bajumu, lalu keluar," balas wanita itu apa adanya.
"Kamu tidak berniat untuk memakaikan pakaian suamimu?" Seketika Fierce melingkarkan tangan di pinggang ramping istrinya. Hingga wanita itu tak bisa lari ke mana-mana.
Ada seringai tipis yang muncul di sudut bibir pemuda itu, membuat Yuna yakin kalau Fierce memiliki rencana kecil untuknya.
"Baiklah, tapi hanya pakai baju, aku tidak mau kita terlambat ke meja makan," ujar Yuna memperingati papah muda itu. Namun, pagi ini tiba-tiba Fierce ingin sekali menggoda istrinya.
"Kenapa?"
"Nanti orang-orang bosan menunggu kita, Fierce!" Yuna jadi bicara dengan ketus, tapi hal tersebut justru membuat Fierce tersenyum semakin lebar.
"Biarkan mereka sarapan lebih dulu. Aku mau sarapan yang lain," kata Fierce dengan ambigu.
Sebelum Yuna menjawab, Fierce lebih dulu mengangkat dagu wanita itu, lalu melabuhkan ciumannya di sana. Dia melumaat habis bibir Yuna, hingga wanita itu kewalahan menghadapi serangan suaminya.
Fierce semakin merapatkan tubuh Yuna, sementara tangannya mulai bergerilya untuk menyentuh apapun yang dia suka.
Mumpung Junior sedang berjemur dengan Anna, jadi Fierce bisa memanfaatkan waktu berdua dengan istrinya.
Bahkan karena saking menggebunya, Fierce sampai menggiring tubuh Yuna ke atas ranjang. Dada Yuna yang tumpah ruah membuatnya mabuk, hingga tak memikirkan apa pun lagi.
"Kapan nifasmu selesai?" tanya Fierce dengan mata yang sudah berkabut hebat, sementara dadanya naik turun.
Ditanya seperti itu, Yuna malah jadi gugup. Sebab ketika sudah membahas masalah yang satu ini, Fierce jadi berubah lebih mesyum.
Secara reflek wanita itu mencengkram kuat kain sprei dan memilih untuk bergeming.
"Yuna ... Yuna Naraya," panggil Fierce dengan mendayu, membuat Yuna langsung meneguk ludah.
"Sudah selesai dari kemarin, Fierce," jawab Yuna terbata, lalu dia reflek menggigit bibir. Matanya yang indah sontak bergerak untuk menghindari tatapan suaminya, padahal dia berencana untuk memberikan hak utuh itu nanti malam, tetapi sepertinya Fierce sudah tidak sabar.
Fierce semakin menyeringai penuh, dia mengusap pipi Yuna yang memerah hingga menyentuh bibir ranum wanita itu.
Ketika Fierce hendak kembali mencium bibir Yuna, suara ketukan pintu malah mengejutkan mereka berdua. Sontak saja Yuna langsung mendorong dada Fierce dan membenahi pakaiannya, karena dia yakin itu Anna.
"Aku bilang apa?!" cetus Yuna dengan raut cemas, dia takut sekali kelakuannya tertangkap basah oleh orang lain.
Namun, lagi-lagi Fierce hanya terkekeh, dia mengambil pakaiannya lalu mengecup pipi Yuna sekilas.
"Aku tunggu malam pertama kita," bisik pemuda itu sebelum berlalu ke kamar mandi. Dan hal tersebut membuat Yuna berubah semakin gugup.
***
Mana votenya oeyyyyy! 🥱🥱🥱