Gabriel Arshaka, pria dengan sejuta pesona yang digilai banyak wanita. Tak ada satupun wanita yang memiliki tahta tinggi dihatinya selain kekasihnya.
Namun karena sebuah kesalahan, ia terpaksa menikahi Jingga, wanita yang menjadi sahabat adiknya dan juga sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Aku tidak akan berhenti mengejarmu, sebelum aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku kak" ~ Jingga Oceana.
"Berhentilah melakukan hal sia-sia, tidak ada dalam kamusku jatuh cinta pada bocah ingusan sepertimu" ~ Gabriel Arshaka.
Akankah cinta tumbuh di hati Gabriel untuk Jingga? Bagaimana caranya Jingga menaklukkan hati Gabriel yang selalu menganggapnya seperti anak kecil?
JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL LIKE, KOMEN, FAV DAN VOTENYA YA KAK. KARENA ITU SANGAT BERARTI BAGI AUTHOR.
*****
Sebuah Spin off dari novel MARRIAGE BY MISTAKE. Menceritakan putra kedua pasangan Bella dan Axel dengan putri dari pasangan Dio dan Karin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Manis.
Keesokan paginya, Eril terbangun terlebih dulu. Ia melirik arah luar yang masih terlihat mendung. Sisa-sisa hujan semalam masih terasa menemani pagi yang sangat sunyi.
Eril lalu melihat Jingga yang masih tertidur memeluknya. Ia tersenyum manis, wanita ini yang pertama kali akan dilihat saat pertama kali membuka mata dan akan menemainya sampai hari tua nanti.
"Bangun," bisiknya mencium lembut pipi Jingga.
"Egh …" Jingga bergumam seraya menggeliat malas, seluruh tubuhnya masih sakit dan matanya sangat lengket. Semalam ia tidak tahu tidur jam berapa karena asyik melepas adrenalin dengan Eril.
"Bangun Jingga, sudah pagi," bisik Eril dengan sengaja terus menguyel-uyel pipi Jingga. Tangannya bergerak perlahan mengelus punggung wanita itu dan lalu turun kebawah.
"Apa sih Kak? Mau lagi? Aku capek," Jingga menyahut seraya menggulingkan tubuhnya membelakangi Eril. Ia tak sanggup jika harus melayani hasrat suaminya yang mengalir tiada henti.
Eril tersenyum lebar, ia kembali memeluk Jingga dari belakang. "Yakin nggak mau bangun? Apa mau aku giniin lagi?" bisik Eril menekan gagang sapu miliknya yang sudah berdiri tegak.
Jingga reflek membuka matanya saat merasakan benda itu menyentuh bokongnya. Ia memutar tubuhnya hingga terlentang.
"Kak Eril mau lagi? Aku capek Kak, ini aja masih sakit," rengek Jingga dengan wajahnya yang begitu imut, apalagi dengan penampilan acak-acakan khas bangun tidur, membuat wanita itu terlihat semakin seksi dimata Eril.
"Apa mau aku obati?" ujar Eril mengusap lembut pipi Jingga.
"Apa obatnya?" tanya Jingga mengernyit.
"Obatnya harus sering melakukannya," ucap Eril mengedipkan sebelah matanya.
Jingga membulatkan matanya, perasaannya mulai tak enak melihat tatapan mata Eril itu.
"Ini masih pagi Kak," kata Jingga mencari-cari alasan agar Eril tak lagi menyentuhnya. Miliknya benar-benar masih perih, sepertinya saat ini membengkak.
"Tidak ada salahnya melakukannya di pagi hari bukan? Justru menurut seseorang, bercinta di pagi hari itu bisa membangkitkan semangat kita. Jadi, ayo lakukan lagi," kata Eril menggulingkan tubuhnya di atas Jingga.
Jingga hanya bisa menatap Eril sebelum memejamkan matanya, menerima kecupan lembut di bibirnya seraya memeluk punggung telanjang suaminya.
Pagi yang masih dingin dan matahari belum menunjukan sinarnya, Eril sudah mengayunkan tubuhnya di atas sang istri. Mungkin jika ada ayam jago di sana, dia akan begitu iri melihat Eril yang begitu rajin menanam benihnya.
"Kak," Jingga mencengkram lengan Eril dengan erat saat merasakan dirinya akan meledak.
"Bersama," bisik Eril memeluk Jingga kembali seraya mempercepat gerakannya. Sesaat kemudian, ia sudah ambruk dengan nafas yang memburu.
"Minggir Kak, aku mau ke toilet," kata Jingga mendorong tubuh Eril yang sangat berat itu.
"Mandi nanti saja, sekalian," ucap Eril menggeser tubuhnya tapi ia kembali memeluk Jingga.
"Enough, aku nggak mau lagi Kak, ini aja masih perih. Kakak ih," sungut Jingga menolak mentah-mentah, ia sudah tahu maksud terselubung suaminya itu.
"Aku janji tidak akan melakukannya lagi, sekarang tidur lagi sini, kamu pasti capek," kata Eril dengan wajah meyakinkannya.
"Udah tahu nanya, ini semua gara-gara Kakak tahu," gerutu Jingga memukul pelan lengan suaminya.
"Aduh, kukumu panjang sekali, punggungku pasti sekarang sudah penuh dengan cakaran mu," Eril mengaduh pelan saat merasakan kuku Jingga yang tak sengaja mengenai lengannya.
Eril ingat jika Jingga selalu mencakar punggungnya atau tidak lengannya saat ia membuat wanita itu tak menjejak bumi. Pundaknya saja masih terasa sangat perih karena semalam Jingga menggigitnya saat ia berhasil memiliki wanita itu.
"Biarkan saja, Kakak tidak tahu saja bagaimana rasanya," sahut Jingga tak mau kalah.
"Nah makanya, kita harus sering melakukannya agar tidak sakit lagi," kata Eril begitu enteng.
"Sekarang Kak Eril sudah mendapatkan apa yang Kakak mau, apa setelah ini Kakak akan meninggalkanku?" tanya Jingga menatap Eril sendu, sejak semalam ia selalu terpikir akan hal itu.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" Eril menautkan kedua alisnya, tak senang saat Jingga bertanya seperti itu.
"Kakak pasti ingat dengan perjanjian yang pernah Kakak buat, waktuku hanya enam bulan Kak," ucap Jingga lirih, menahan sakit dihatinya jika mengingat perkataan Eril.
"Lupakan itu, aku tidak mau membahasnya," kata Eril membuat Jingga langsung menatapnya tak mengerti.
"Maksudku, kau tidak perlu memikirkan jangka waktu yang pernah aku berikan. Kita mulai semuanya dari awal, kau dan aku. Kita lupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu dan membuka lembaran baru," ucap Eril menjelaskan semuanya dengan nada lembutnya.
"Itu artinya, Kak Eril tidak jadi menceraikan ku?" tanya Jingga.
"Bodoh! Tentu saja tidak, lagipula bisa rugi aku kalau menceraikan wanita secantik dirimu," tukas Eril menyentil pelan dahi Jingga.
"Tapi Kak Eril memang pernah berkata seperti itu dulu," kata Jingga ngotot.
"Iya, maafkan aku. Saat itu aku benar-benar bodoh, sekarang aku sudah sadar kalau aku memang tidak bisa kehilanganmu Jingga. Jika kau berpikir aku menyentuhmu hanya karena nafsu, itu semua tidak benar. Percayalah, hanya kau satu-satunya wanita yang pertama kali aku sentuh sampai detik ini." ucap Eril memandang Jingga dengan tatapan seriusnya.
"Benarkah? Bukankah Kak Eril dengan Jenny sudah?" Jingga tak percaya begitu saja, apalagi ia ingat kalau Jenny pernah mengatakan Eril suka bermain dari belakang dan rambut terikat.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Eril terkejut.
"Hanya mengatakan kalau kalian sering melakukannya," kata Jingga jujur saja.
"Dan kau percaya begitu saja?" tanya Eril menggelengkan kepalanya.
"Tentu aku percaya, dia yang lebih dulu mengenal Kak Eril daripada aku," jawab Jingga.
"Sekarang, setelah aku menjelaskannya, apa kau juga akan percaya padanya?" ujar Eril lagi.
"Ehm, sebenarnya aku tidak masalah mau Kak Eril sudah melakukannya atau belum. Aku mencintai Kakak bukan karena Kakak masih ori atau tidak, tapi aku mencintai seluruh yang Kakak punya. Setiap bagian dirimu, aku mencintainya Kak," ucap Jingga memandang Eril dengan begitu tulus, senyuman lembut dan manis itu membuat jantung Eril berdetak kencang.
Eril begitu terharu mendengar ungkapan cinta yang sangat tulus dari Jingga. "Kenapa bisa mencintaiku sebesar ini?" tanya Eril lirih.
"Aku tidak tahu, tapi saat pertama kali Kakak menggendongku saat aku jatuh ketika bermain. Sejak saat itu, aku mulai menyukaimu Kak," kata Jingga tak jemu memandang wajah Eril yang sangat dekat dengannya.
Eril memejamkan matanya singkat, kejadian itu masih lama sekali. Seingatnya Jingga masih begitu kecil dan ia duduk dibangku SMP.
"Terima kasih, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu Jingga," ucap Eril langsung memeluk wanita itu dengan erat. Tak tahu lagi bagaimana harus membalas perasaan cinta Jingga yang sangat besar.
"Jangan menjanjikan apapun Kak, teruslah seperti ini. Begini saja sudah cukup untukku," ucap Jingga menenggelamkan wajahnya di dada hangat suaminya. Mencium dalam-dalam wangi khas tubuh suaminya yang sangat ia sukai.
"Hm, kau bilang Jenny pernah mengatakan sesuatu padamu, apa saja yang wanita itu katakan?" tanya Eril melepaskan pelukannya sejenak, ia cukup penasaran dengan apa saja yang dikatakan Jenny.
"Kenapa Kak Eril kepo sekali?" tanya Jingga mengernyit.
"Aku hanya tidak ingin kau salah paham saja nantinya Sayang," jelas Eril.
"Tidak banyak, hanya mengatakan kalau Kak Eril suka bermain dari belakang dengan rambut terikat," jawab Jingga polos saja.
"Apa? Jenny mengatakan hal itu?" tanya Eril begitu terkejut, bisa-bisanya Jenny mengatakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Ya, apa itu semua benar? Kakak suka bermain dari belakang dengan rambut terikat?" tanya Jingga dengan wajah ingin tahunya.
Eril menahan senyumnya, kenapa Jingga sangat polos sekali seperti ini. Eril merasa semakin gemas dan ingin membuat wanita itu menjeritkan namanya lagi.
"Gaya apapun aku suka, asalkan kau pasangannya," bisik Eril mengigit pelan pundak Jingga.
"Kak!" Jingga berseru kaget.
"Mau praktek sekarang? Kita ganti TKP baru," ucap Eril menunjuk kamar mandi dengan dagunya.
Jingga sempat menolak, tapi Eril pasti mempunyai 1001 satu cara untuk membuat Jingga mati langkah. Akhirnya mereka mengulangi kegiatan yang sama dengan tempat berbeda.
Happy Reading.
Tbc.