Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Tuan Aldo yang terhormat, hidupku yang mana yang belum kau hancurkan hum? YANG MANA?" Balas Kia dengan beraninya. Ia bicara dengan mulutnya yang di cengkram oleh Aldo.
Sakit, tentu saja Kia merasakan sakit di rahangnya. Karena Aldo mencengkram kuat rahang Kia, malah ia sengaja memperkuat lagi cengkramannya ketika Kia dengan beraninya membalas ucapannya.
"Hidupku sudah runtuh ketika kedua orang tuaku meninggal dunia, dan keluarga mu memaksa ku menikah dengan pria kasar seperti mu," sambung Kia yang makin membuat Aldo membulatkan matanya karena marah mendengar ucapan Kia barusan. Ia tersinggung dengan kata-kata yang di ucapkan Kia.
"Kau memang gadis tak tahu diuntung Kia, keluarga ku begitu baik pada mu, dan kau anggap kebaikan mereka ikut menghancurkan hidup mu hum?" Aldo yang marah mengangkat tubuh Kia dengan cengkraman kuat tangannya di rahang Kia.
"Lepaskan aku breng.sek!!" Pinta Kia yang benar-benar merasa kesakitan luar biasa dirahangnya. Entah tulang rahangnya bergeser atau tidak saat ini. Yang pasti rasa sakit setengah mati kini ia rasakan padang rahangnya.
"Lepas kata mu! Aku tak akan mau melepaskan mu sebelum kamu minta maaf pada ku dan mau menikah dengan ku secara suka rela, Kia," balas Aldo yang malah membawa tubuh mungil Kia ke dinding. Ia membeturkan tubuh mungil Kia di sana, hingga Kia makin meringis kesakitan.
"Sakit breng. sek," umpat Kia ketika kepalanya terbentur dengan dinding.
Mendengar umpatan Kia, kemarahan Aldo makin menjadi-jadi. Ia makin memperkuat cengkramannya hingga Kia menjerit kesakitan.
"Dasar pria breng.sek. Apa kau mau membunuh ku hah?" Tanya Kia dengan wajah lebih meringis kesakitan dari sebelumnya, jangan tanya apakah ia menangis atau tidak. Air matanya pun sudah hampir mengering karena sejak tadi, air mata itu terjun bebas begitu derasnya.
"Ya, aku akan membunuh mu, jika kau masih saja terus menolakku,"jawab Aldo dengan mata yang berapi-api menatap Kia.
Tak ada rasa kasihan sedikit pun di hati Aldo pada Kia saat ini. Pria itu kini dikuasai oleh amarah, harga dirinya yang begitu ia junjung tinggi terasa di injak-injak oleh kelakuan Kia padanya. Ya. Kia telah menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Lelaki mana yang terus terima jika ia selalu mendapatkan penolakan demi penolakan yang selalu Aldo dapatkan dari Kia. Apalagi hari ini ia harus menelan pil pahit, karena perusahaan keluarga yang ia pimpin jatuh secara tiba-tiba, tanpa ada angin atau pun hujan. Ia tahu semua ini bersumber dari Kia, tak ada yang lain. Hanya Kia lah sumber kejatuhan dirinya.
"Bunuhlah aku! Jika memang mati adalah jalan yang terbaik," balas Kia yang malah pasrah dengan hidupnya.
"Jangan menentang ku! Aku tak akan membiarkan mu mati dengan cepat Kia," ucap Aldo pada Kia yang memilih memejamkan matanya saat ini. Ia seakan sudah muak melihat wajah Aldo dihadapannya.
Tak lama ia memejamkan mata, tiba-tiba saja terdengar suara pukulan demi pukulan terdengar, bersamaan dengan cengkraman Aldo yang terlepas, hingga membuatnya terjatuh.
"Jangan main kasar dengan wanita, breng.sek!!" Ucap Arka seraya terus memukul wajah Aldo hingga babak belur.
Aldo berusaha melawan Arka, namun Arka yang jago bela diri membuatnya kalah telak. Bukannya melerai. Kia malah menyuruh Arka terus memukuli Aldo.
"Pukul dia sayang, dia sudah menyakiti ku sejak tadi. Bahkan Pak Ujang dan Bibi diusirnya." Ucap Kia yang memanas-manasi Arka.
Melihat Aldo sudah babak belur tak berdaya. Arka meminta Kia mengemasi pakaian dan barang-barang pentingnya. Ia mengajak Kia untuk keluar dari kediamannya.
"Cepat kemasi barang-barang mu sayang! Kita pergi dari rumah ini! Sebelum mereka semua sadar," ucap Arka yang membuat Kia segera berlari ke lantai atas. Ia berlari ke kamarnya mengambil barang-barang dan surat-surat pentingnya.
Arka datang di waktu yang tepat. Hatinya yang terus gelisah memikirkan Kia. Membuatnya memutuskan untuk pergi kerumah Kia. Ia dapati penghadangan ketika ia ingin masuk kedalam rumah Kia. Mau tak mau ia harus melumpuhkan orang-orang Aldo yang menghadangnya. Dengan tangan kosong, Aldo yang memang jago bela diri dapat melumpuhkan anak buah Aldo dengan mudahnya.
Tak perlu waktu lama, Kia turun dengan koper besar yang ia tarik dan juga tas ranselnya yang ia gemblok di belakang punggungnya. Melihat Kia yang kerepotan. Arka segera membantu Kia membawa koper besar yang berisi barang-barang penting Kia dan pakaiannya.
"Buku sekolah tidak ada yang tertinggalkan sayang?" Tanya Arka pada Kia saat mereka berada di anak tangga.
"Tidak ada yang tertinggal, semuanya sudah aku bawa," jawab Kia yang kemudian memeluk tubuh kekar Arka.
"Makasih ya, kamu sudah datang disaat yang tepat."
"Ya sayang, ayo cepat! Kita harus segera pergi, sebelum mereka sadar dan menghadang kepergian kita," ajak Arka yang berjalan terburu-buru menuruni anak tangga, Kia pun demikian, ia mengikuti langkah Arka yang begitu cepat.
Di luar rumah, tepatnya di pekarangan rumahnya, Kia melihat anak buah Aldo tergeletak tak berdaya karena sudah dilumpuhkan oleh Arka.
"Kerennya kekasih ku ini, dia sama sekali tidak terluka, melawan bodyguard yang badannya segede babon alaihim gambreng," gumam Kia yang mengagumi kehebatan Arka.
Arka segera memasukkan barang-barang Kia ke dalam bagasi mobil sportnya, kemudian membukakan pintu untuk Kia yang berada di sebelah kiri mobil,setelah itu ia segera berlari sembari melihat keadaan, ia takut Aldo kembali bangun dan menarik kembali Kia keluar dari mobilnya. Keadaan aman, tidak ada Aldo ataupun anak buahnya yang menarik keluar dari mobilnya. Arka segera memacu kendaraanya, membelah jalan ibu kota dengan kecepatan tinggi.
Di dalam perjalanan, sembari mengendarai kendaraanya, Arka terlihat menghubungi seseorang untuk menghapus segala jejak CCTV yang merekam kendaraannya saat melintas dari rumah Kia. Orang yang dihubungi pun menyanggupi perintah yang diberikan Arka padanya.
Setelah ia selesai menghubungi orang itu, Arka kembali fokus menyetir, ia akan membawa Kia untuk tinggal di rumah Tante Widya. Karena menurutnya disanalah tempat yang aman dan terbaik untuk Kia.
Kia yang duduk di kursi samping pengemudi, memilih diam, selama dalam perjalanan ia tak bersuara sama sekali. Bahkan ia tak bertanya akan di bawa kemana dirinya oleh Arka. Ia seakan pasrah mau dibawa kemana dirinya saat ini. Karena baginya hanya dengan Arka-lah rasa nyaman itu ia rasakan, dan ia percaya Arka tak akan memperlakukan dia sekasar Aldo memperlakukan dirinya.
Sedang Arka, setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan seseorang yang entah siapa itu, juga memilih untuk diam dan fokus pada jalanan yang ia lewati. Jika ditanya mengapa Arka memilih diam. Ia hanya berusaha memberi ruang pada Kia untuk menenangkan dirinya. Pastinya ia masih shock mendapat perlakuan kasar dari Aldo dan melihat dirinya memukuli Aldo membabi buta seperti tadi, hingga darah yang keluar dari bagian wajah Aldo menempel pada buku-buku jari tangannya.