follow igku @zariya_zaya
Refald dan temannya Eric, tak sengaja terjebak di sebuah desa yang penuh dengan misteri. Saat menunggu mobil Refald diperbaiki, ia tak sengaja melihat sosok Kuntilanak mengikuti sepasang muda mudi yang sedang asyik berkencan disebuah warung. Refald merasakan hawa jahat dari sosok Kuntilanak tersebut karena ia adalah salah satu manusia istimewa yang bisa melihat makhluk astral tak kasat mata. Kuntilanak tersebut memberi peringatan keras pada Refald untuk tidak ikut campur urusannya.
Apakah yang akan dilakukan Refald? Mengabaikan pasangan yang sedang dalam bahaya itu ataukah menyelamatkan mereka dari ancaman sang Kuntilanak? Bisakah Refald yang dijuluki sebagai pangeran dedemit ala Edward dan Eric keluar dari desa yang penuh dengan teror?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Dimulai
Siang itu, setelah melewati serangkaian drama ikan terbang ala-ala sinetron-sinetron di televisi antara mertua Refald dan nenek Fey, tiba saatnya Fey pun datang ke rumah sang nenek untuk berpamitan sebelum ia pergi mengikuti kegiatan pecinta alam di sekolahnya tanpa ia tahu, bahwa di rumah neneknya saat ini, sedang berkumpul dua pria yang sangat berarti dalam hidup Fey. Kedua pria tersebut, siapa lagi kalau bukan Refald dan ayah Fey.
Tentu saja, gadis cantik yang merupakan wanita pujaan hati Refald, sangat terkejut bukan kepalang setelah melihat kedatangan Refald dan juga ayahnya. Fey dan pria paruh baya itu sudah lama tak bertemu selama kurang lebih 7 tahun lamanya.
Yah, selama 7 tahun, Fey hidup terpisah dengan ayah dan kakaknya yang berdomisili di Jepang. Sementara Fey sendiri, memilih mengasingkan diri di negara kelahiran ibunya sejak ibunya meninggal 7 tahun lalu. Waktu yang tidak sebentar bagi Fey untuk melalui berbagai macam hal dan serangkaian kejadian sampai akhirnya, Refald datang sebagai orang asing dikehidupan seorang Fey.
Pada akhirnya, momen ini merupakan momen bagi Fey tahu bahwa pria asing yang mengganggu hidupnya selama ini, ternyata adalah tunangannya sendiri. Tunangan masa kecil Fey. Tunangan yang sudah ia lupakan dan kini, Refald kembali datang hanya demi bisa merajut kembali hubungan yang sempat memisahkan keduanya.
“Tidak … i-ini … tidak mungkin,” ujar Fey setelah tahu siapakah tunangannya meski Fey sempat salah mengira siapa tunangannya.
Tadinya, Fey mengira yang menjadi tunangannya adalah sahabat Refald, yaitu Eric. Namun ternyata bukan, gadis cantik itu sungguh malu habis karena salah paham akan siapa tunangannya. Apalagi, Fey sudah terlanjur menyatakan cinta pada Refald di depan ayahnya secara tidak langsung.
Untuk menghindari rasa malunya yang begitu hebat, Fey berkilah marah agar ia bisa segera meninggalkan rumah neneknya dan pergi ke tempat perkemahan tempat berlangsungnya kegiatan caraka.
Awalnya, Refald mengejar kepergian Fey dan bermaksud menjelaskan kesalapahaman yang terjadi diantara mereka, tapi Refald tahu kalau wanita yang dicintainya itu butuh waktu untuk menerima fakta bahwa mereka berdua sudah bertunangan sejak lama dan sudah saatnya membuka lembaran baru demi masa dean hubungan keduanya. Refald terpkasa mmebiarkan Fey sendiri dulu sampai ia dan Eric kembali ke desa tempat di mana Eric harus memulai ritual mereka kali ini.
“Kenapa kau tak kejar dia?” tanya Eric saat melihat Refald kembali masuk ke dalam rumah.
“Aku akan menyusulnya nanti malam. Kau harus segera kembali ke desa dan tunaikan tugasmu di sana," ujar Refald sambil menepuk pelan bahu sahabatnya. Refald berjalan pelan menuju nenek Fey yang sejak tadi duduk diam di kursinya dan sedang berbincang-bincang dengan menantunya setelah permusuhan mereka berakhir.
“Maaf bila saya mengganggu pembicaraan nenek dan ayah. Tapi … ada hal yang harus saya sampaikan pada nenek.” Refald mengeluarkan sebuah catatan kecil dari balik saku jaketnya dan menyerahkan catatan itu pada neneknya Fey.
Terang saja, nenek Fey terkejut setelah menerima pemberian Refald. Matanya langsung berkaca-kaca setelah membaca catatan kecil dari pria yang bakal menjadi suami dari cucunya.
“I-ini … dari mana … kau mendapatkan … catatan suamiku?” tanya Nenek Fey terbata-bata hampir tidak percaya.
“Beliau datang dan memberikan ini pada saya untuk diberikan kepada Anda, Nek. Kabar bahagia untuk Anda berdua karena kakek, akan datang di setiap malam bulan supermoon berikutnya.” Refald menggenggam erat kedua tangan nenek Fey yang langsung menangis bahagia.
Sang nenek bangun berdiri dan berjalan pelan menuju kamarnya sambil memeluk erat secarik kertas berisi catatan cinta dari tulisan tangan almarhum suaminya yang sudah lama tiada. Meskipun keduanya kini telah berada di alam yang berbeda, cinta kakek dan nenek Fey tak pernah pudar selamanya. Mungkin itulah yang dinamakan dengan cinta sejati. Dan sepertinya, kisah cinta itu juga akan terjadi pada Refald dan Fey selanjutnya.
Ayah Fey juga harus segera kembali ke Jepang. Merekapun berpisah sampai di sini dan membuat janji temu lagi. Refaldpun kembali mengantar Eric ke desa.
Ada suatu kebahagiaan tersendiri di hati Refald setelah Fey mengetahui status hubungan mereka. Sepanjang perjalanan, Refald terus menyunggingkan senyumnya.
“Cieee … ada yang lagi berbunga-bunga,” ledek Eric.
“Diam kau!” sengal Refald sambil menyetir. “Jangan rusak suasana hatiku. Konsentrasi saja pada semedimu setelah ini. Dan jangan coba-coba kau menggoda wanita di desa itu.”
“Huh, wanita di tempat ini memang cantik natural, sangat berbeda dengan para wanita yang pernah kita temui sebelumnya. Sekarang, aku paham kenapa kau begitu setia pada Fey dan tak pernah sekalipun melirik wanita lain diluaran sana. Fey memang berbeda dengan wanita lain pada umumnya. Aku sama sekali tidak menyangka, ia malah mengira akulah tunangannya. Disaat semua wanita tergila-gila denganmu, hanya Fey saja yang tak tertarik dengan pesonamu.”
“Dia memang tidak tertarik pada pesonaku, tapi dia jatuh cinta padaku. Bukan karena aku tampan, tajir dan jadi idaman para wanita di seluruh dunia, tapi karena akulah satu-satunya orang yang ditakdirkan hanya untuknya.” Refald mengatakan kalimat itu dengan penuh percaya diri.
“Terserah kau sajalah!” ujar Eric sangat memahami kenarsisan Rafald. Sejujurnya, Eric ikut turut bahagia atas bersatunya Refald dan Fey kembali.
Bertahun-tahun Eric mengenal Refald, baru kali ini ia melihat sahabat luar biasanya itu tersenyum riang gembira seolah Refald telah menemukan apa yang dulu hilang. Fey adalah sumber kehidupan Refald dan demi gadis cantik itulah Refald bisa bertahan hingga sekarang.
Begitu sampai di desa, Refald membantu Eric menyiapkan semuanya. Saat matahari terbenam, Eric harus duduk bersila di depan rumah pak Diki sambil memejamkan mata. Ia tak boleh bicara dan harus tetap seperti itu hingga ayam berkokok di pagi hari tanda matahari terbit kembali. Refald menyalakan beberapa lilin disetiap sudut tempat Eric bersemedi agar tak ada yang mengganggu Eric meskipun Refald tidak ada di desa ini. Tunangan Fey juga meminta salah satu pasukan dedemitnya untuk menjaga Eric dari kejauhan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan begitu, Eric tetap aman dengan perlindungan Refald.
“Semua sudah selesai. Jangan bicara pada siapapun hingga ayam jantan berkokok di pagi hari. Semua penduduk di desa ini juga mendukungmu. Kau ikon desa ini sekarang. Keamanan dan ketentraman desa ini, ada ditanganmu. Kau paham maksudku, kan?” tanya Refald sebelum ia pergi ke tempat Fey berada sekarang.
“Aku paham,” ujar Eric datar. “Selamat untukmu dan Fey, semoga hubungan kalian langgeng hingga hari H pernikahan kalian.”Eric menangkap ketidaksabaran Refald untuk segera menemui wanita pujaan hatinya.
“Tentu, kali ini, aku takkan pernah melepasnya walau apapun yang terjadi. Besok pagi aku akan kembali kemari. Bye!”Refald tampak buru-buru.
“Kau bawa mobil?” tanya Eric sebelum Refald pergi.
“Tidak, lokasi kegiatan Fey tidak jauh dari sini. Aku akan lari, biar lebih cepat sampai.” Refald memamerkan gigi putihnya seraya melambaikan tangan dan menghilang dikegelapan malam.
“Dasar sok pamer!” gumam Eric dan bersiap memejamkan mata untuk memulai semedinya, tapi niatnya urung karena Nana tiba-tiba saja datang mengagetkannya.
“Lah, Mas? Cah lanang ngganteng mau nang ndi? Kok ngilang? Lagek tak gawekno kopi.” (Lah Mas, Pria tampan tadi ke mana? Kok hilang? Baru juga tak buatkan kopi)
“Hadeuh, kumat? Cewek ini mulai ngomong pakai bahasa planet,” gumam Eric. Tapi ia agak sedikit paham setelah melihat ada dua gelas kopi di tangan Nana. Yang artinya, Nana pasti menanyakan keberadaan Refald.
“Mbak, pria tampan yang kau cari itu, pergi menemui calon istrinya. Nggak usah ditanyakan!” terang Eric sambil mengambil satu gelas kopi dari atas baki di tangan Nana lalu menyeruputnya sampai habis.
Mulut Nana langsung menganga menatap Eric, bukan karena kopinya diambil tanpa permisi dulu, melainkan karena Eric tahu arti bahasa yang ia ucapkan.
BERSAMBUNG
***
Maaf baru bisa up ... terus ikuti petualangan kisah Refald n Fey di dunia lain ya ...
kangen