Adis seorang gadis yang sangat membenci laki-laki, entah apa penyebabnya ia juga tidak tahu.
Yang jelas jika ada laki-laki yang mendekatinya, hati Adis bisa menjadi marah. Dan yang mengetahui penyebab itu adalah ibunya, hingga sang ibu memutuskan menyuruh Adis untuk menikah karena hanya itu jalan satu-satunya.
Meski kata menikah dalam benak Adis adalah 'Aneh' namun akhirnya Adis tetap menuruti permintaan ibunya itu meski ia sendiri ragu untuk menjalankan kehidupan berumah tangga.
Rahasia apa yang di sembunyikan oleh ibunya Adis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencuri ciuman
"Kamu mau kemana?" Tanya Bima begitu mereka sudah selesai sholat Dzuhur.
Adis yang hendak menarik gagang pintu terpaksa menoleh ke belakang.
"Mau ke dapur. Makan, udah lapar banget nih." Jawab Adis sambil mengusap perutnya.
"Ya udah bareng aja. Suamimu ini juga sudah lapar." Ujar Bima merangkul pundak Adis.
Mereka sama-sama menuruni anak tangga dan di lantai bawah masih ramai oleh kerabat Bima yang belum pulang, Bu Sari juga masih berada di situ, ternyata Mama Desi tidak membiarkan besannya itu untuk pulang. Dia menginginkan malam ini agar besannya itu menginap di rumahnya. Dan Bu Sari juga iya-iya saja daripada di rumah ia sendirian tidak ada temannya. Lebih baik dia menginap semalam disini saja.
"Pengantin baru kok malah turun harusnya kan istirahat." Ujar Om Bayu, sepupu Papa Adi.
"Kami lapar Om." Jawab Bima lalu menggandeng tangan Adis masuk ke dapur.
Di dapur ada Mbok Jumi dan Mbak Sri sedang mencuci piring. Mereka berdua serempak menoleh begitu mendengar suara langkah kaki masuk ke wilayah mereka.
"Perlu sesuatu Den Bima?" Tanya Mbak Sri menghentikan cuci piringnya sejenak.
"Kami mau makan Mbak." Jawab Bima sambil menarik kursi untuk Adis.
"Udah Mbak, biar Adis saja yang ambil makanannya sendiri. Mbak teruskan saja cuci piringnya. Dengan Mbak..."
Adis menghentikan ucapannya karena belum tahu nama dari kedua wanita itu.
"Nama saya Sri, Non. Dan ini Mbok Jumi." Jawabnya sambil menunjuk Mbok Jumi yang menampilkan senyum ramahnya pada Adis.
"Salam kenal ya Mbak Sri dan Mbok Jumi. Nama saya Adis." Sambil mengulas senyum ramah.
"Salam kenal juga Non Adis." Ucap Mbak Sri dan Mbok Jumi bersamaan.
"Panggil Adis saja. Nggak usah pake selipan Non." Tolak Adis merasa tidak pantas mendapat panggilan seperti itu sambil meletakkan piring berisi lauk pauk di hadapan suaminya.
Bima hanya tersenyum tipis lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Maaf Non. Kami lebih enak manggil itu daripada hanya memanggil nama saja." Ucap Mbok Jumi tidak setuju. Mbak Sri juga mengangguk.
"Sudah, biarkan saja mereka memanggilmu Nona. Katanya lapar tapi sampai dapur malah ngomong terus." Sela Bima. Perkara memanggil saja jadi rebutan.
Adis pun cemberut sambil makan.
"Dasar anak kecil, cemberut mulu kerjaannya." Ledek Bima.
"Kalau tahu anak kecil kenapa dikawinin?" Sahut Adis sinis. Ngeselin banget suaminya itu.
Mbak Sri dan Mbok Jumi menahan tawa mendengar perdebatan kecil dari pengantin baru itu. Selain dingin ternyata majikan mudanya ini suka meledek juga. Apalagi melihat wajah kesal majikan barunya itu. Lucu sekali menurut mereka.
"Dari pada kamu diambil orang. Lebih baik aku ambil duluan." Balas Bima santai.
"Paling bisa deh kalau ngejawab." Ucap Adis sambil memutar bola matanya.
"Den Bima sama istrinya lucu juga ya Mbok." Bisik Mbak Sri.
"Iya, jadi hiburan tersendiri." Kikik geli wanita tua itu. Pengantin baru harusnya kan romantis. Ini mereka kok malah saling meledek?
"Dis, suapin dong." Pinta Bima yang sebenarnya ingin menggoda istrinya.
"Makan sendiri. Nggak usah manja udah tua juga." Ujar Adis dengan mengkerutkan keningnya. Padahal makanan suaminya itu tinggal dikit.
"Den Bima masih muda gitu dibilangin tua sama Non Adis, Mbok." Bisik Mbak Sri lagi sambil tertawa kecil.
Kedua wanita itu masih belum selesai mencuci peralatan makan. Adis dan Bima menoleh begitu Mbak Sri dan Mbok Jumi tertawa.
"Lagi ngetawain apa Mbak?" Tanya Adis.
"Kepo." Sahut Bima.
"Apa sih orang aku lagi nanya Mbak Sri bukan Tuan." Ucap Adis. Kemudian membawa piringnya dan piring Bima untuk dicuci sekalian sama Mbak Sri.
"Nitip ya Mbok." Ucap Adis sambil meletakkan di wastafel.
"Iya Non." Angguk Mbok Jumi.
Bima yang kesal karena Adis masih memanggil dirinya dengan 'Tuan' langsung mencuri ciuman singkat di bibir istrinya itu begitu Adis membalikkan badannya.
Cup.. Seketika mata Adis terbelalak.
"Ciuman pertamaku." Pekik Adis dalam hati. Dia tidak terima Bima menciumnya.
Mbak Sri dan Mbok Jumi yang kebetulan melihat adegan itu menjadi melongo di tempat.
"BIMA..." Teriak Adis geram tanpa embel-embel Tuan. Sontak saja membuat kedua Art itu langsung menutup kedua telinga mereka masing-masing.
Bima yang sepertinya menangkap sinyal dari kemarahan istrinya itu seketika berlari keluar. Adis tak tinggal diam. Dia mengejar suaminya sambil berteriak untuk berhenti.
Bima berlari menuju ke perkumpulan orang sambil tertawa, asyik juga menjahili istri kecilnya itu.
"Bima..." Adis masih memanggil.
"Ada apa ini? Kenapa kalian saling kejar-kejaran?" Tanya Mama Desi mendengar suara Adis yang cukup keras meneriaki nama anaknya.
Bima sudah duduk di sofa di sebelah Papa Adi. Adis melayangkan tatapan jengkel pada laki-laki yang sudah berani menciumnya tadi.
"Anak Mama kok ngeselin banget sih." Adu Adis seperti anak kecil.
"Ngeselin gimana sayang?" Tanya Mama Desi dengan bingungnya sambil menatap Bima. Sedang yang jadi tersangka hanya santai saja.
Adis pun terdiam. Tidak mungkin juga dia mengatakan yang sebenarnya nanti mereka menertawakan dirinya lagi. Kan bagi mereka normal saja kalau suami mencium istrinya.
"Mama nanya tuh." Sahut Bima. Menyadari kalau istrinya itu tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Ah, lupakan saja Ma. Hehe." Jawab Adis.
"Adis permisi ya mau ke kamar." Dan langsung kabur.
Semua orang hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah pengantin baru itu.
"Bima juga mau ke kamar." Pamitnya menyusul istrinya yang sudah menaiki tangga.
"Dasar mereka." Ujar Mama Desi sambil tersenyum.
*
Adis merebahkan tubuhnya di ranjang yang masih bertaburan kelopak bunga mawar sambil menghirup aroma wangi dari bunga-bunga itu. Tak lama pintu kamarnya pun terbuka. Tentu saja Adis sudah tahu siapa yang sudah masuk itu.
Bima juga merebahkan tubuhnya di samping Adis. Kemudian menyangga kepalanya dengan tangan kirinya menatap pada wajah istrinya yang sudah terpejam.
"Aku tahu kamu belum tidur." Ujar Bima.
"Udah ah, jangan ganggu. Aku beneran ngantuk." Sahut Adis lalu memiringkan badannya memunggungi Bima.
"Siapa juga yang mau ganggu kamu. Jangan geer." Sanggah Bima.
Beberapa detik kemudian terdengar dengkuran halus dari Adis. Dengan hati-hati Bima membalikkan badan Adis agar tidak memunggunginya.
Ia tersenyum sendiri, bagiamana tadi sudah berhasil mencium bibir Adis.
"Kamu adalah milikku sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku." Gumam Bima sambil memandangi wajah damai Adis.
Mumpung istrinya ini tertidur nyenyak, Bima mengambil kesempatan untuk kembali mencium bibir Adis. Dan kali ini sedikit lama bahkan Adis sendiri tidak terusik mungkin saking lelahnya sampai-sampai tidak sadar apa yang Bima lakukan.
Setelah dirasa puas Bima pun melepaskan tautan bibirnya.
"Manis." Ucapnya terkekeh.
.
.
Bersambung...