Menikah muda tidak selalu berakhir dengan tragis, meskipun banyak yang berjalan tak manis. Semua itu hanya tentang bagaimana kita menyikapi dan mempertahankannya.
Jadi, tidak perlu takut untuk menikah muda, karena tidak semua pernikahan berakhir dengan kegagalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kabar Bahagia
Beberapa tahun kemudian ...
"PANDU!!!”
Teriakkan dari arah kamar mandi membangunkan Pandu di pagi hari yang dingin ini. Matanya yang masih terasa lengket, karena mengantuk itu Pandu buka dengan paksa. Ia benar-benar merasa panik, takut terjadi apa-apa pada istri cantiknya, membuat Pandu langsung berlari menuju asal suara. Semakin panik saat mendapati istrinya terduduk di lantai dengan tetasan air mata.
“Kamu kenapa sayang? Jatuh? Mana yang sakit, mana?” Pandu bertanya dengan nada panik yang luar biasa. Lyra menatap laki-laki di depannya dan memberikan benda kecil persegi panjang yang sejak tadi berada di tangannya.
“Ini apa?” bingung Pandu membolak-balikan benda tersebut. Lyra mencubit lengan keras Pandu, lalu berdecak kesal.
“Itu namanya tespack, Pandu sayang!” geram Lyra. Semakin geram saat di dapatinya sang suami yang tambah mengerutkan kening dan kembali membalik-balikan benda tersebut dengan wajah polos.
“Itu alat untuk tes kehamilan, dan kamu lihat disitu ada strip dua? Itu artinya aku positif hamil, Pandu." Lyra menjelaskan dengan gemas, karena melihat sang suami yang sepertinya belum juga paham.
“Oh kamu hamil, kirain apa. Aku sampai kaget dengar teriakan kamu taunya cuma ini do… eh bentar-bentar … kamu barusan bilang apa? Hamil? Kamu benar-benar hamil anaknya aku?” tanya Pandu tak percaya. Lyra menganggu.
Melihat anggukan itu Pandu langsung menjerit bahagia dan memeluk Lyra dengan erat. Mengucapkan syukur juga terima kasih pada Tuhan juga sang istri dan melayangkan kecupan-kecupan pada seluruh wajah bulat Lyra.
“Kita cek ke Dokter kandungan sekarang biar tahu berapa usia kandungan kamu.” Lyra hanya menganggukkan kepala, masih syok dengan respon yang di berikan Pandu. Bukan karena tidak suka, tapi Lyra takjub dan tidak menyangka bahwa suaminya akan sebahagia ini. Tahu seperti ini mungkin sejak awal Lyra akan memilih untuk hamil.
🍒🍒🍒
Sepulangnya dari Dokter, Pandu langsung menghubungi keluarganya juga keluarga Lyra, tidak lupa, Luna, Devi, Leo, Dimas dan Amel. Memberi tahu mereka semua kabar kehamilan Lyra dengan semangat, berbanding terbalik dengan Lyra yang hanya diam tak banyak mengeluarkan kata. Memperhatikan Pandu yang sepertinya heboh sendiri. Ada rasa hangat di hatinya, tapi rasa khawatir juga ikut mengiringi pikirannya.
Pandu banyak berkonsultasi dengan Dokter cara menangani ibu hamil, mulai dari makanan yang boleh dan tidak boleh di konsumsi Lyra sampai bagaimana cara dia memperlakukan ibu hamil muda. Lyra sampai menepuk jidatnya sendiri, sedangkan Dokternya tersenyum geli.
“Yang, kamu duduk, ya, aku buatkan susu dulu buat kamu. Jangan turun dari ranjang!” peringat Pandu tegas. Lyra hanya menganggukkan kepala, menyetujui.
Selesai menyeduh susu vanilla khusus ibu hamil yang tadi sempat Pandu beli dengan berbagai macam rasa. Pandu juga tidak lupa mengupas dan memotong-motong buah Apel, strawberry, melon dan kiwi yang kemudian ia bawa ke atas dimana Lyra berada. Senyum tak lunturnya dari bibir tipis Pandu, kemudian duduk di sebelah Lyra yang kini tengah memainkan ponsel.
“Minum dulu susunya selagi hangat.” Pandu memberikan segelas susu yang di bawanya pada Lyra. Meneguk hingga habis setengahnya, kemudian dengan cepat Lyra turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Pandu yang melongo di tempatnya.
Hoeeek … Hoeekk .…
Mendengar suara itu dengan cepat Pandu berlari menuju kamar mandi dan mendapati sang istri yang tengah mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya. Pandu memijat-mijat pelan tengkuk Lyra yang sebelumnya ia olesi minyak angin, merasa sedih karena istrinya itu belum juga berhenti muntah.
“Kamu tunggu sebentar, ya, aku ambilin dulu air hangat.” Lyra hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tak berapa lama Pandu kembali membawa segelas air hangat, tapi laki-laki itu tidak datang sendiri melainkan bersama Linda, Leon, Ratih juga Bayu. Semua orang masuk ke dalam kamar mandi, membuat ruangan kecil ini menjadi sempit.
“Princess, Ya Tuhan kamu pucat sekali, Nak. Masih mual?” tanya Leon dengan lembut seraya merengkuh putri kesayangannya itu, membawanya kembali ke kamar dan membaringkan di tempat tidur.
“Kamu lemas banget sih, Princess. Kalau aja Daddy tahu kamu bakalan kayak gini kondisinya, gak akan deh Daddy izinin Pandu hamilin kamu! Daddy gak tega lihat kamu begini,” ucap Leon yang sedetik kemudian mendapat geplakan di kepala bagian belakang dari ketiga orang yang berada di samping juga belakangnya, siapa lagi kalau bukan Linda, Bayu dan Ratih yang melakukannya.
“Papa lebay banget sih! Mual dan muntah bagi ibu hamil itu biasa. Nanti juga akan hilang dengan bertambahnya usia kandungan Lyra,” ujar Linda meberi tahu sang suami.
“Daddy, Princess pengen rujak Mangga dong?” Pinta Lyra pada Leon. Laki-laki yang usianya hampir setengah abad itu dengan cepat menggeleng tegas.
“Kamu gak bisa makan pedas Princess,”
“Tapi, Baby Princess yang mau, Daddy!” rajuk Lyra seraya menampilkan wajah memohonnya.
“Biar aku beliin bentar, ya, sayang?” Lyra dengan cepat menggeleng saat Pandu hendak turun dari ranjang.
“Pengen Daddy yang beli. Kamu disini aja temani aku,” ucap Lyra dengan manja seraya memeluk lengan besar Pandu, menahan pria itu agar tetap di tempatnya.
“Lah, kok, harus Daddy yang beli? Baby-nya 'kan di adon sama Pandu bukan Daddy?” protes Leon.
“Lo 'kan kakeknya Le, turutin aja kenapa sih?” geram Bayu.
“Ya, lo juga kan kakeknya!” Leon tak ingin kalah.
“Ya udah kedua kakek aja yang beliin, pokonya cepetan! Princess pengen rujak mangga, SEKARANG!” mendengar nada yang di tekankan itu membuat Bayu akhirnya pasrah dan langsung menarik Leon yang hendak kembali melayangkan protesan.
Setelah kedua laki-laki tua itu pergi, kini hanya tinggal Pandu, Lyra, Linda dan Ratih di kamar, duduk di ranjang menemani Lyra yang terbaring lemas. Pandu menyuapi buah yang tadi di potong-potongnya, beruntung karena Lyra tidak kembali mual dan memuntahkannya.
“Terus kuliah kamu gimana, sayang, mau di lanjut apa cuti dulu?” tanya Ratih yang membuat Lyra menghentikan kunyahannya, menatap ke arah Pandu yang juga menatapnya.
“Mungkin kalau mualnya parah Lily akan cuti aja, nanti bisa lanjut kalau udah lahiran. Itu juga kalau gak malas, hehe.” Ketiga orang itu tersenyum dan akan mendukung keputusan yang di ambil Lyra. Pandu memeluk sang istri dan mengecup keningnya dengan penuh sayang. Kedua Mama tersenyum haru melihat keromantisan mereka.
“Pandu, ingat kamu sudah mau jadi Ayah, meskipun usia kamu masih muda, tapi berpikirlah yang dewasa. Menjadi seorang Ayah tidak mudah, bukan soal membiayai yang sulit, karena rejeki kita sudah di atur Tuhan, yang sulit itu mendidiknya. Kamu harus sabar menghadapi istri kamu yang sedang hamil muda, karena ibu hamil hormonnya akan naik turun, emosinya cepat berubah-ubah begitupun dengan mood-nya. Jadi, Mama minta perlakukan istri kamu dengan baik, turuti semua ngidamnya. Dan ingat, jangan pernah membuatnya kesal!”
Petuah-petuah yang Ratih ucapkan di simpan baik oleh Pandu dalam ingatannya. Laki-laki itu berjanji akan melakukan apa pun untuk kebahagian sang istri juga calon anaknya nanti. Tangan Pandu perlahan turun pada perut Lyra yang masih datar dan mengelusnya dengan lembut membuat hati Lyra berdesir hangat.
🍒🍒🍒
Leon dan Bayu sekitar satu jam kemudian kembali dengan kantung hitam berisi rujak manga pesanan Lyra. Linda, Lyra, Ratih dan Pandu sudah pindah tempat ke ruang tengah, menonton televisi dan bercerita yang kebanyakan di dominasi oleh para ibu yang menceritakan masa ngidam mereka dulu, Lyra yang betah berada di dalam pelukan Pandu mendengarkan dengan seksama dan sesekali tertawa saat ada bagian yang menurutnya lucu, tak jauh juga dengan Pandu.
Leon duduk di samping Lyra seraya memberikan piring berisi mangga juga sambalnya, sedangkan yang di bawa Bayu diletakan di atas meja untuk para orang tua. Mata Lyra berbinar dan langsung mengambil sepotong manga muda tersebut yang lebih dulu ia colekkan pada sambalnya, kemudian ia masukan ke dalam mulutnya sendiri dan mengunyah dengan tidak sabaran.
“Hahhh Pedas … Daddy pedas shh… hahh …!”
Pandu dengan cepat memberikan air putih yang berada di atas meja pada Lyra yang wajahnya kini sudah memerah, tapi meski sudah tandas satu gelas Lyra masih saja merasa kepedasan. Apalah daya, Lyra yang memang tidak penyukai rasa pedas sedikit apa pun itu.
“Nih makan pudding biar pedasnya berkurang,” Linda menyodorkan sepotong pudding manga. Lyra menggeleng dan memilih mencium bibir Pandu. Yang dikakukan perempuan hamil itu tentu saja membuay Pandu syok,begitu juga para orang tua. Hendak membalas, tapi Lyra lebih dulu melepaskan pangutannya dan mengakhirinya dengan kecupan singkat.
“Udah gak pedas lagi kok.” Polos Lyra berucap, seraya menyeka keningnya yang sedikit berkeringat, sedangkan Pandu dan para orang tua masih saja melongo.
“Daddy udah tahu anaknya gak suka pedas malah biliin ginian! Untung bibirnya Pandu manis jadi lidah sama bibir Princess gak kebakar gara-gara sambal itu.”Lyra mendelik kesal pada Leon.
“Siapa tadi yang kekeh pengen rujak mangga? Daddy 'kan udah bilang, Princess gak tahan pedas, tapi kenapa masih maksa mau rujak segala, dan sekarang malah salahin Daddy?” balas Leon yang tak terima disalahkan.
“Kan yang pengen Baby-nya, bukan Princess. Daddy kenapa jadi omelin Princes coba?” mata bulat itu kini mulai berkaca-kaca, menatap sedih sang Papa.
“Maafin Daddy Princess, Daddy…”
“Princess 'kan lagi hamil, masa Daddy jahatin sih, hiks.” Air mata Lyra perlahan menetes dan langsung memeluk Pandu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
“Princess, maafin Daddy ...."
“Au ah, Princess marah sama Daddy!” Lyra semakin sesenggukan dan membuat Leon panik, sedangkan Linda, Bayu dan Ratih menonton drama tersebut sambil menikmati rujak mangga, dan Pandu mengelus-elus rambut Lyra untuk menenangkan istrinya yang sedang sensitif itu.
@ ank ips jga😎