Zinu seorang pemuda yang baik budinya dan suka menolong kepada siapa pun, suatu ketika setelah ia memberikan roti kepada seorang pria tua berpakaian kumal, ia bertemu dengan Bee roh berwujud boneka beruang putih yang mengaku sebagai Roh Kebaikan. Dari Bee, Zinu mendapatkan sebuah Sistem di ponsel pintarnya, Sistem itu bernama Sistem Menjadi Kaya.
Jika Zinu berhasil menjalankan tugas yang diberikan Sistem, Zinu akan mendapatkan Poin Kebaikan. Poin Kebaikan ini sendiri dapat Zinu tukarkan menjadi uang. Jika Zinu menukarkan 1000 Poin Kebaikan ia akan mendapatkan uang 100.000 Rupiah.
Ding...
[Sistem Kekayaan :
Agar Pengguna bisa selalu berbuat kebaikan, Pengguna harus tetap hidup!
Hadiah :
10.000 Poin Kebaikan/hari]
Sejak mendapatkan Sistem, kehidupan Zinu mulai berubah, ia mampu memperbaiki ekonomi keluarganya.
Suatu ketika Zinu mendapatkan misi dari Sistem untuk menjadi Youtuber dengan konten berbagi kebaikan. Bagaimana kisah Zinu dengan Sistem yang dimilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi Putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Zinu keluar dari mobil, lalu ia membuka pintu belakang mobilnya itu, di sana ada bungkusan-bungkusan yang berisi nasi kotak, satu bungkus plastik besar itu bisa berisi 10 kotak nasi. Ia mengambil salah satu bungkusan besar itu, lalu menyembrang jalan, di sana ada beberapa orang yang sedang memilah-milah sampah di kontainer sampah. Mereka adalah pencari sampah yang sekiranya masih dapat dijual kembali, seperti kaleng atau botol plastik.
Berbagi makanan seperti ini sudah rutin Zinu lakukan, jika ia ada waktu luang maka ia sendiri yang akan turun langsung berbagi makanan seperti ini. Sementara jika ia tidak sempat, maka ia akan meminta bantuan orang lain. Sudah ada beberapa titik tempat ia membagikan makanan, termasuk di pinggir jalan ini.
“Den Zinu!!” Mereka sudah mengenali Zinu, lalu segera berhenti sejenak dari aktivitasnya, untuk menyambut kedatangan pemuda itu
“Pak, Buk, istirahat dulu ya ini ada sedikit makanan..”
Zinu segera membagikan satu persatu kotak yang berisi nasi, lauk pauk, dan air mineral botol kecil.
“Makasih ya Den..”
“Makasih Den..”
“Semoga rejeki Den Zinu lancar selalu ya..”
“Aamiin..” ucap Zinu sambil tersenyum kecil.
Mereka sangat bersyukur bisa mengenal dermawan seperti Zinu. Kadang kala Zinu bukan hanya membagikan makan, tapi juga sembako, bahkan uang tunai.
Zinu sebelumnya pernah viral karena perbuatannya ini, tapi ia hanya menyikapinya dengan biasa saja. Ia dikabarkan anak dari keluarga kaya yang senang berbagi. Ia melakukan semua itu bukan karena ingin viral dan tenar, ia juga tidak melakukan di balik kamera. Ini ia lakukan karena ia dulu sudah tau rasanya tidak makan seharian itu seperti apa, maka dari itu ketika ia sekarang mempunyai rejeki lebih, selalu berusaha untuk berbagi, baginya dalam rejekinya sekarang terdapat rejeki orang lain juga.
Tanpa Zinu ketahui, dari kejauhuan di dalam sebuah mobil ada yang memperhatikannya. “Bagaimana, apa sudah diketahui identitasnya?” tanya seorang pria tua yang memegangi tongkat sambil melirik ke arah seorang wanita berambut panjang sebahu.
“Begini tuan, dari hasil penyelidikan kami dia merupakan pemilik Female Apartemen Margonda. Kami juga sudah menyelidiki orang-orang terkaya di negeri ini, tapi tidak ada yang merupakan keluarga dari pemuda itu. Kemungkinan dia adalah anak tersembunyi dari salah satu keluarga kaya!”
Pria tua itu memegangi dagunya, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil yang separuh terbuka. “Hemm.. Begitu ya.. Ada informasi lain?” tanyanya sambil memperhatikan seorang pemuda yang akan menyeberang jalan.
“Ada tuan, kami mendapat informasi bahwa pemilik Female Apartemen Margonda ini berencana mendirikan perusahaannya sendiri!” jawab wanita berambut sebahu yang masih menatap pria tua yang ada di sebelahnya.
Si Pria Tua menaikan salah satu alisnya, melirik ke arah sekretarisnya itu. “Pemuda ini ingin mendirikan perusahaan?”
“Benar tuan, dia sedang mencari rekan bisnis yang ingin menanamkan saham dengannya untuk mendirikan sebuah PT berskala besar. Namun pemuda itu hanya menerima 10% saham, yang mana bagi pembisnis lain saham sebesar itu sangat kecil dan beresiko ”
Si Pria Tua mengangguk-anggukan kepalanya, lalu bertanya kembali, “Perusahaan apa yang ingin dia bangun?”
“Perusahaan Kosmetik!”
“Perusahaan Kosmetik? Menarik.. Tapi 10% itu benar-benar sangat kecil. Karena syarat untuk mendirikan sebuah perusahaan itu dibutuhkan minimal 2 orang pemilik saham, sepertinya dia hanya ingin memenuhi syaratnya saja. Namun aku ingin tetap menanamkan 10% saham di sana, pastikan kita yang medapatkannya!”
“Maaf tuan, tapi bukankah saham itu sangat kecil?” tanya wanita dengan raut keheranan. Ia merasa kebingungan karena keinginan bosnya, banyak yang membatalkan niat untuk menanamkan saham sebab total saham yang bisa ditanamkan terlalu sedikit, tapi tuannya ini justru seperti sangat tertarik untuk menanamkan saham.
Si Pria Tua tersenyum tipis. “Benar, tapi aku menanam saham karena ingin kenal lebih dekat dengannya! Dia adalah pemuda yang luar biasa dengan jiwa sosial yang tinggi, aku melihatnya sendiri sewaktu dia memberikan banyak bantuan pada seorang tukang becak waktu itu, pelukannya terlihat begitu tulus, dan yang pastinya tidak ada kamera di sana!”
Wanita itu mengangguk. “Baik tuan, aku usahakan nanti untuk dapat menanamkan saham dengannya!”
Si Pria Tua menatap ke arah depan, dengan wajah yang terlihat puas. ‘Dia sangat cocok untuk Putri, pemuda seperti itulah yang pantas bersanding dengannya!’ batinnya.
***
“Bagaimana Mbak, apakah sudah ada yang mau menanam saham 10% dengan kita?”
Zinu mulai khawatir karena sudah hampir seminggu ia mencari rekan bisnis tapi belum ada yang cocok, padahal syarat untuk mendirikan perusahaan itu harus 2 ada orang yang menanamkan saham. Ia sendiri ingin mendirikan sebuah PT berskala besar, untuk modalnya sendiri memerlukan di atas 10 Miliar Rupiah. Ia menginginkan 90% saham dari perusahaan itu karena ingin punya kendali penuh. Ini ia lakukan karena tau dalam berbisnis itu tentu ada politik tersendiri, bisa saja nanti ia dijatuhkan oleh rekan bisnis jika tidak berhati-hati, maka dari itu lebih besar saham yang dimiliki, besar pula kendalinya. Selain itu, alasannya yang utama sebab ini misi dari Sistem yang di mana ia harus mendapatkan minimal 90% saham yang ada.
Namun sampai sekarang banyak yang menolak bekerja sama dengannya lantaran saham yang diberikan itu terlalu kecil bagi para pembisnis. Mereka juga sadar saham yang terlalu kecil itu sangat beresiko. Zinu mulai berfikir memberikan tawaran saham yang lebih besar kepada calon rekan bisnisnya, walau misi yang diberikan dari Sistem itu akan gagal tentunya.
“Tadi sudah ada yang menghubungi saya Pak, Konglomerat Rudi Hartono siap menanamkan saham dengan perusahaan kita!”
“Rudi Hartono? Salah satu keluarga terkaya di Indonesia itukan? Cukup bagus kalau begitu!”
“Benar Pak!” jawab Irin sambil menganggukkan kepalanya.
Zinu menatap Sekretarisnya itu, ia menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. “Adu Mbak Irin dibilangin juga jangan panggil aku Bapak, umurku aja 6 tahun lebih muda dari Mbak!” ucapnya yang protes karena dipanggil dengan sebutan Bapak.
“Karena Bapak bos saya!” ucap Irin dengan sopan.
“Aku nikah aja belum loh, apalagi punya anak, belom jadi bapak-bapak aku! Panggil nama ajalah..
“Saya gak enak manggil bos saya dengan nama saja, gak sopan hitungannya!” jelas Irin dengan suara lembutnya.
“Hemm.. Yaudah panggil Mas aja, tapi khusus saat jam kerja dan di kantor. Kalau di luar itu panggil nama aja!” tawar Zinu dengan senyum tipis.
“B-baik Pak, Eh maksud saya Mas!”
Zinu hanya menggeleng kecil mendengar itu.
“Terus Mbak Irin santai aja sama aku, toh aku gak makan orang kan?”
“Iya Mas..”
“Oh ya Mbak, Siang nanti temanin aku lagi ya! Aku mau mengunjungi sepasang lansia, kasian banget aku liatnya, Mbak. Udah tua tapi si Kakek harus mulung demi menghidupi istrinya yang terbaring lumpuh...”
“Baik Mas!”
Beberapa hari menemani Zinu, Irin mulai memandang bosnya itu sebagai pemuda yang sangat luar biasa, rasa hormatnya semakin bertambah, ia bahkan sangat mengagumi pemuda itu. Dia kaya, masih muda, cerdas, yang terpenting akhlaknya sangat baik, itulah yang Irin pikirkan.
‘Jika saja aku bisa dapat pasangan seperti Mas Zinu’ batinnya.
\=\=\=\=
Maaf baru bisa Update, aku udah beberapa hari ini dalam kondisi yang tidak sehat. 🙏
Aku cukup senang novel pertamaku ini sudah masuk Rising Star, terima kasih atas dukungan para pembaca setiaku. Jika kondisiku sudah membaik, aku berusaha Up lebih rutin ya..
Bila membaca tulisan typo, mohon dikomentari biar bisa aku perbaiki..
Ini novel pertama aku Si Cumi Putih, jadi mohon berikan dukungan berupa Like, saran dan masukan di kolom Komentar, serta agar tidak ketinggalan jadikan novel ini Favorit-mu
mending sistem seperti semula thor
lebih bagus