Kisah tentang seorang pangeran yang masa lalunya dipenuhi dengan lika-liku kehidupan yang penuh dengan emosi, karena ibundanya yang diperlukan kasar oleh permaisuri ayahandanya. Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Raden Cakara Casugraha tidak tahan dengan perlakuan seperti itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari istana. Namun siapa sangka di luar istana ia menghadapi berbagai masalah. Ayahandanya mendapatkan petunjuk, bahwa anaknya Raden Cakara Casugraha harus masuk Islam untuk mengendalikan amarahnya yang sangat merugi. Sementara ibundanya, ratu Dewi Anindyaswari merasa keberatan. Namun akhirnya Raden Cakara Casugraha masuk Islam karena ingin memperbaiki dirinya.
Hingga kejadian yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun, Yaitunya kematian sang prabu. Dari 7 putra putri yang dimiliki sang prabu, hanya Raden Cakara Casugraha yang pantas menjadi raja
Akan tetapi, ada rahasia yang harus dijaga olehnya. Rahasia yang tidak boleh ia katakan pada siapa saja termasuk ibundanya
bisakah Raden Cakara Casugraha menyimpan rahasia ia hingga akhir hayatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Retto fuaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN PERANG
...***...
Perbatasan kerajaan Daun Bidara.
Malam itu telah menjadi saksi, bagaimana dengan sangat ganasnya Putri Agniasari Ariani menghajar Prabu Maharaja Durgala Sentosa. Bahkan Patih Bumi Perkasa yang membantunya pun?. Ikut terbunuh karena keganasan pedang panggilan jiwa pedang Warna Kehidupan.
"Nimas agniasari ariani." Dengan sekuat tenaga Raden Muhammad Laksa mendekati Putri Agniasari Ariani "Nimas." Raden Muhammad Laksa memeluk Putri Agniasari Ariani, berusaha untuk menenangkannya.
"Lepaskan aku Raden!." Ia meronta sekuat tenaga. "Pedang panggilan jiwa ku ini masih ingin nyawa jahat mereka." Putri Agniasari Ariani mengeluarkan semua gejolak amarah itu.
"Cukup! Hentikan nimas." Raden Muhammad Laksa menahan sakit ditubuhnya, seakan-akan aura merah dari pedang panggilan jiwa menggerogoti tubuhnya. "Apakah nimas tidak lihat? Mereka semua telah tewas di tanganmu." Ucapnya sambil menahan sakit.
Putri Agniasari Ariani memperhatikan pemandangan di depannya. Memang, tidak ada lagi satu orang pun yang berdiri dihadapannya saat itu.
"Kau telah menumpahkan darah mereka semua! Dengan menggunakan pedang panggilan jiwa."
Saat itu juga Putri Agniasari Ariani melepaskan tangisannya, tangisan yang membuat dadanya terasa sesak.
"Nimas agniasari ariani." Raden Hidayat Lasmana yang dibantu Nila Ayu, mereka mendekat Putri Agniasari Ariani.
Malam yang sangat menyakitkan bagi mereka semua, terutama bagi Putri Agniasari Ariani yang telah berhasil menggunakan pedang panggilan jiwa pedang Warna Kehidupan.
...***...
Keesokan harinya.
Saat ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berkumpul di balai pertemuan Istana.
"Saya mewakili keluarga istana mengucapkan terima kasih." Sang Prabu memberi hormat. "Dan permohonan maaf, atas apa yang telah terjadi." Sorot mata sang Prabu terlihat sedih.
"Kami juga mengucapkan terima kasih pada nanda Prabu." Responnya. "Karena masih mau mendengarkan pendapat dari kami yang sudah mulai tua ini."
"Hamba juga mengucapkan terima kasih." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat. "Telah mengundang hamba, untuk mengamankan istana kerajaan suka damai."
"Sama-sama syekh guru." Balas sang Prabu. "Kami yang masih muda ini." Sang Prabu menatap mereka. "Masih terlalu dini untuk mengambil keputusan." Lanjut sang Prabu. "Kami ingin mendengar masukan-masukan, serta pendapat para sepuh!." Tegas sang Prabu. "Yang lebih berpengalaman dari kami dalam siasat berperang."
"Terima kasih sekali lagi nanda Prabu." Ia memberi hormat. "Kami juga merasa terhormat, atas kepercayaan dari Gusti Prabu."
"Namun perang ini melawan saudara Gusti Prabu."
"Meskipun sebelumnya, pernah saudara pernah terjadi di bumi suka damai ini."
"Kita harus menghadapi apapun situasinya." Tegas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Jika ada yang membelot, atau berniat berontak?!." Hatinya terasa sakit. "Maka kita harus mencegahnya."
...***...
Sementara itu, dipihak prabu Rahwana Bimantara juga telah melakukan persiapan. Mereka juga melatih para prajurit agar lebih kuat lagi.
"Lihatlah raka." Ucapnya. "Mereka berlatih lebih keras lagi." Ucapnya puas. "Supaya mereka benar-benar menguasai arena perang."
"Mereka harus ditempa dengan baik." Balasnya. "Dalam setengah purnama ini mereka harus kuat." Lanjutnya. "Agar mereka dengan mudah mengalahkan prajurit kerajaan suka damai."
"Kita juga harus melakukan persiapan dengan baik." Ucapnya percaya diri. "Agar kakek Prabu bangga dengan hasilnya nanti raka."
"Selain itu kita juga memikirkan sesuatu." Raden Gentala Giandra tersenyum aneh.
"Apa maksud raka?." Putri Ambarsari tidak mengerti sama sekali.
"Dia!." Balasnya cepat. "Orang yang bertopeng itu."
"Raka benar." Responnya. "Aku yakin dia pasti akan ikut campur dalam perperangan nanti."
"Kita harus memberi tahu pada kakek Prabu." Ucapnya. "Untuk mewaspadai orang itu." Hatinya terasa gelisah. "Karena dia akan menjadi ancaman terbesar kita nantinya."
"Itu harus raka." Balasnya. "Supaya kakek Prabu waspada saat menyerang istana nanti."
"Namun bukan hanya itu saja rayi ambarsari." Ucapnya lagi. "Masih ada dua orang yang harus kita beri pelajaran." Raden Gentala Giandra terlihat geram. "Hadyan hastanta, dan juga andhini andita." Rasa sakit hati telah membuncah di dalam hatinya saat ini.
"Raka benar." Ia juga ingat itu.
"Akan aku hajar mereka berdua!." Hatinya semakin bergejolak. "Jika aku bertemu dengan mereka nanti? Aku tidak perduli lagi dengan mereka!." Hatinya membara. "Aku benar-benar benci dengan penghianat seperti mereka?."
"Aku juga tidak akan mengampuni mereka raka." Ungkapnya. "Berani sekali, mereka membela musuh kita."
...***...
Pesantren kerajaan Daun Bidara.
Putri Agniasari Ariani mendapatkan perawatan, ia tertidur untuk sementara waktu karena kelelahan. Itu kareba Putri Agniasari Ariani terlalu banyak menggunakan tenaga dalamnya.
"Bagaimana keadaan nimas agniasari ariani ibunda?." Hatinya cemas. "Apakah keadaannya baik-baik saja?."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, untuk saat ini yang ia butuhkan adalah istirahat."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin."
Mereka semua sangat bersyukur mendengarnya.
"Tapi? Bagaimana bisa?." Ucapnya heran. "Ia mengalami luka dalam separah itu?."
"Mungkin karena nimas agniasari ariani menggunakan pedang itu bibi."
Mereka semua melihat ke arah sebilah pedang unik di atas meja yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Pedang apa itu? Aku baru melihatnya."
"Itu adalah pedang panggilan jiwa, pedang warna kehidupan."
"Syekh guru?."
"Kakang Syekh?."
"Ayahanda?."
Mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Syekh Muhammad Arsyad.
"Kakang mengetahui pedang itu?."
"Meskipun tidak pernah melihatnya secara langsung." Jawabnya. "Namun guruku pernah bercerita." Lanjutnya. "Bahwa ia pernah bertemu dengan pemuda, yang merupakan seorang Raja." Ingatan Syekh Muhammad Arsyad kembali pada hari itu.
"Seorang Raja?."
"Syekh guru pernah bercerita." Jawabnya. "Kala di mana ia dikeroyok oleh pendekar jahat." Ingatannya tertuju pada cerita itu. "Ada seorang Raja muda yang menggunakan pedang panggilan jiwa, pedang Warna Kehidupan." Lanjutnya. "Dan pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi secara bersamaan."
Mereka hampir tidak percaya mendengar cerita itu?. Bagaimana mungkin ada seseorang yang menggunakan dua pedang hebat di saat yang bersamaan?.
"Ketika Syekh guru bertanya pedang apa itu? Ia menjawab." Ia kembali bercerita. "Jika itu adalah pedang panggilan jiwa." Matanya menatap ke arah pedang panggilan jiwa pedang Warna Kehidupan.
"Pedang panggilan jiwa?."
Mereka benar-benar tidak mengerti, apa makna pedang panggilan jiwa?.
"Pedang ini adalah pilar berdirinya kerajaan suka damai nantinya." Ucapnya lagi. "Dan pedang ini akan digunakan oleh keturunan ku berdasarkan sifatnya." Syekh Muhammad Arsyad mendekati pedang panggilan jiwa pedang Warna Kehidupan. "Mungkin saja? Selama mengembara?." Ia dapat merasakannya. "Nimas agniasari ariani telah merasakan, bagaimana warna kehidupan itu?." Ia mencoba menggambarkan situasinya. "Sehingga ia berhasil menggunakan pedang ini."
Mereka sedang memikirkan penjelasan dari Syekh Muhammad Arsyad.
"Ya, bisa saja seperti itu."
"Tapi itu sangat luar biasa sekali." Ungkapnya. "Memiliki buyut yang dapat mewariskan pedang panggilan jiwa."
"Ini pedang langka sekali." Ucapnya. "Karena panggilan jiwa tidak mudah diwariskan begitu saja." Lanjutnya. "Tidak semua dari keturunannya, bisa menggunakan pedang panggilan jiwa."
"Rasanya aku semakin penasaran." Ucapnya. "Dengan silsilah keluarga bahuwirya seperti apa?."
"Kalau tidak salah, Syekh guru juga mengatakan." Jelasnya. "Bahwa pemuda itu akan menjadi raja, dengan menggunakan pedang panggilan jiwa." Lanjutnya. "Pedang sukma naga pembelah bumi, pedang utama dari semua pedang panggilan jiwa yang ia miliki."
"Sepertinya nimas agniasari ariani, bukan dari keturunan Raja yang biasa."
"Ya, jika mendengar cerita dari syekh guru? Itu sudah sangat jelas."
Mereka tidak menduga akan bertemu dengan keturunan Raja yang hebat. Lantas?. Apa yang akan mereka lakukan setelah itu?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Istana Suka Damai.
Syekh Asmawan Mulia sedang melatih prajurit di wisma prajurit. Sekitar 200 orang prajurit yang ikut latihan, khusus untuk mengatasi sebuah pasukan di sungai kecil di bagian kawasan Istana nantinya.
"Meskipun bukan saya yang memimpin kalian nantinya." Ucap Syekh Asmawan Mulia. "Saya harap kalian lebih berhati-hati, dan jangan sampai lengah."
"Baik Syekh guru."
"Selalu waspada, dan jangan lupa sebut nama Allah di dalam hati kalian."
"Baik Syekh."
"Kalau begitu, mulailah dengan gerakan ringan."
"Baik Syekh guru."
Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh, menghadapi perang yang sewaktu-waktu bisa datang kapan saja. Mereka harus melakukan persiapan, musuh tidak akan memberikan aba-aba untuk berperang.
...****...
Di sisi lain di Istana.
Jaya Satria dan Raden Hadyan Hastanta sedang melatih Putri Andhini Andita, untuk menguasai beberapa jurus agar bisa bertahan saat perang nanti. Dengan sabar keduanya mengajari beberapa gerakan yang mudah.
"Inti dari gerakan silat yang kita gunakan hanya untuk pertahanan." Jelasnya. "Selain itu hati kita yang mengendalikannya."
Jaya Satria sedikit memberikan arahan pada Putri Andhini Andita.
"Jurus itu berbahaya atau tidak." Lanjutnya. "Kita yang tentukan." Ucapnya lagi. "Hawa murni seseorang akan mempengaruhi sebuah jurus yang ia mainkan." Jaya Satria secara perlahan-lahan menjelaskan. "Jika pikirannya jahat? Maka jurus yang ia mainkan akan mengandung kejahatan juga."
"Jadi? Semua tergantung pikiran kita?." Ulangnya sambil melakukan gerakan jurus memukul di ruangan tanpa udara. Pukulan itu cukup bertenaga, hingga menimbulkan tekanan angin disekitarnya.
"Luar biasa." Ucapnya penuh kekaguman. "Hanya beberapa kali melihatnya? Dan hanya mendengarkan arahan dari jaya Satria?." Ada perasaan aneh juga di hatinya. "Rayi andhini andita menguasai dengan cepat."
Jaya Satria mendekati Raden Hadyan Hastanta, mengamati apa yang telah dilakukan Putri Andhini Andita.
"Aku rasa dia lebih cepat belajar." Ucapnya. "Dan akan menjadi pendekar hebat, jika diasah terus kemampuannya."
"Gusti Putri sebenarnya orang yang cerdas." Balasnya. "Tapi maaf." Jaya Satria memberi hormat. "Hanya saja malas untuk berlatih."
"Hufh!." Raden Hadyan Hastanta menghela nafas dengan lelahnya. "Itulah yang selalu dikeluhkan mendiang ayahanda Prabu." Kembali ia menghela nafas. "Dia memang enggan belajar ilmu kanuragan."
"Sayang sekali, kemapuan hebat seperti itu." Ucap Jaya Satria. "Harus terkubur sia-sia, di dalam diri Gusti Putri andhini andita."
"Aku juga tidak mengerti jaya satria." Respon Raden Hadyan Hastanta. "Aku heran, kenapa dia malas melatih ilmu kanuragan, serta ilmu kadigdayaan yang ia miliki."
Putri Andhini Andita mengatur hawa murninya, ia mendaki mereka dengan wajah cemberut.
"Maaf saja." Sorot matanya sangat kesal. "Aku ini memang seorang putri pemalas." Raut wajah itu sangat tidak enak untuk dilihat.
"Hahaha!."
Raden Hadyan Hastanta dan Jaya Satria tertawa mendengarnya.
"Dan kau jangan membuat aku." Tunjuknya ke arah Jaya Satria. "Seperti orang bodoh jaya satria!." Ada perasaan kesal yang ia rasakan.
"Jangan mudah cepat merajuk rayi." Ucapnya sambil menahan tawanya. "Kau terlihat lucu dengan wajah seperti itu." Raden Hadyan Hastanta tidak dapat lagi menahan tawanya.
"Hmph!." Ia merajuk, dan memalingkan wajahnya.
"Yang dikatakan jaya satria itu benar." Raden Hadyan Hastanta berusaha menenangkan adiknya. "Kemampuan ilmu kanuragan mu, jadi sia-sia karena tidak kau asah selama ini."
"Benar sekali Raden." Respon Jaya Satria. "Apalagi sifat pemarahnya itu." Jaya Satria menghela nafas pelan. "Hamba khawatir dengan lawannya, yang terkena dampak amarahnya nanti." Jaya Satria malah ikutan tertawa.
"Apa kau bilang?!." Putri Andhini Andita langsung bereaksi.
"Hamba yakin tidak akan bertahan lama." Ucapnya lagi. "Jika mereka berhadapan dengan Gusti Putri, karena kemarahannya dapat merusak mental mereka."
"Hahahaha!." Kali ini tawanya semakin keras. "Aku rasa ucapan mu itu ada benarnya jaya satria." Raden Hadyan Hastanta malah tertawa keras mendengarkan ucapan Jaya Satria.
"Kalian ini menyebalkan!." Suaranya terdengar keras. "Akan aku beritahu rayi Prabu! Bahwa kalian berdua telah mempermainkan aku!." Putri Andhini Andita semakin merajuk, ia merasa jengkel karena ditertawakan oleh mereka. "Aku sangat kesal sekali pada kalian!."
"Yah? Malah mengadu pada rayi Prabu." Raden Hadyan Hastanta malah mengejek adiknya. "Kau ini curang sekali rayi."
"Aku tidak peduli!." Balasnya. "Aku sangat kesal pada kalian berdua!."
Putri Andhini Andita yang sedang cemberut, namun malah ditertawakan oleh Raden Hadyan Hastanta dan Jaya Satria. Akan tetapi pada saat itu mereereka terlihat akrab, seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya.
"Rasanya aku sedang berbicara dengan rayi Prabu." Dalam hatinya. "Ketika kami masa kecil, sebelum kami terhasut oleh ucapan ibunda kami." Dalam hati Raden Hastanta seakan merasakan seperti itu.
Entah mengapa berbicara dan bercanda seperti ini dengan Jaya Satria, ia seakan merasakan kehadiran adiknya Cakara Casugraha
"Perasaan aneh apa ini?." Dalam hati Putri Andhini Andita. "Rasanya aku seperti sedang berbicara, dengan cakara casugraha." Dalam hatinya merasakan ada yang tidak biasa.
Dulu mereka sempat akur saat usia sepuluh tahunan. Namun saat mereka beranjak remaja, mereka malah saling bermusuhan, karena ucapan dari ibunda mereka yang tidak pernah bisa bersama.
"Maafkan aku selama ini." Dalam hatinya merasakan penyesalan. "Yang dengan bodohnya tidak menyadari kebenarannya rayi Prabu."
Dalam keadaan seperti ini, Raden Hadyan Hastanta merasa bersalah pada adiknya. Ia sangat ingin dekat dengan adiknya, namun dalam keadaan seperti ini rasanya mustahil. Tapi apakah setelah ini ia bisa melakukannya?. Dalam hatinya ia berharap itu akan terjadi setelah ini.
"Rasanya memang sedang berbicara dengan rayi cakara casugraha." Dalam hatinya merasa yakin. "Dengan keadaan normal, sebelum ia menjadi raja." Putri Andhini Andita juga merasakannya. Ia tidak tahu perasaannya yang mulai nyaman berbicara dengan Jaya Satria.
"Sebenarnya siapa jaya satria?." Dalam hatinya bingung. "Kenapa ia memiliki aura yang sama dengan rayi Prabu?." Dalam hatinya bertanya-tanya. Siapa sebenarnya dibalik sosok bertopeng itu?.
Raden Hadyan Hastanta dan Putri Andhini Andita merasakan perasaan rindu untuk berkumpul dan berbincang-bincang dengan adiknya itu.
...****...
Di Istana Mekar Jaya.
"Jadi orang misterius?." Ucapnya heran. "Yang membongkar kelicikanku itu? Adalah bawahannya nanda prabu?." Prabu Rahwana Bimantara sedikit terkejut, ia tidak menyangka itu.
"Benar kakek Prabu." Jawabnya. "Kita harus waspada terhadapnya."
Saat ini mereka masih terjaga karena mereka membahas siapa saja yang kemungkinan yang akan ikut dalam perang itu.
"Tapi kakek Prabu tenang saja." Ucapnya dengan yakin. "Aku dan raka gentala giandra akan mengatasi orang itu." Lanjutnya. "Dengan jurus yang kami miliki." Putri Ambarsari terlihat percaya diri.
"Ya, kakek Prabu tinggal menunggu beresnya saja."
"Kalau begitu aku serahkan dia pada kalian." Responnya dengan baik. "Anak ingusan itu, biar aku yang mengatasinya."
"Tentu saja kakek Prabu."
Namun di saat mereka sedang membahas masalah persiapan perang, tiba-tiba Prabu Rahwana Bimantara merasakan sakit di bagian perut kirinya. Seakan ada yang menusuk-nusuk di sana. Sang prabu merintih kesakitan, sehingga membuat mereka semua terkejut.
"Kakek Prabu?!." Raden Ganendra Garjitha, juga kedua adiknya panik, mereka tidak mengerti mengapa Prabu Rahwana Bimantara kesakitan.
"Kakek Prabu?!."
Mereka sangat panik karena Prabu Rahwana Bimantara pingsan, tidak sadarkan diri?.
"Bangun kakek Prabu!." Mereka semua berusaha membangunkan sang Prabu, namun tidak ada tanggapan sama sekali.
...***...
Pesantren kerajaan Daun Bidara.
Di alam bawah sadar Putri Agniasari Ariani.
"Hormat ananda eyang buyut Prabu, ayahanda Prabu."
"Ananda agniasari ariani."
"Putriku ananda agniasari ariani."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk erat putrinya. "Kau hebat putriku." Ada kebanggaan di hatinya. "Kau telah mendapatkan pedang panggilan jiwa, pedang warna kehidupan."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, ananda bisa menggunakan pedang panggilan jiwa, pedang warna kehidupan ayahanda." Putri Agniasari Ariani menangis terharu di pelukan ayahandanya. "Terima kasih ayahanda Prabu." Ungkapnya. "Ini semua karena bantuan dari ayahanda."
"Kau lah yang telah berusaha dengan baik, putriku ananda agniasari ariani." Prabu Kawiswara Arya Ragnala melepaskan pelukannya. "Kau yang mendapatkan panggilan jiwa." Senyumannya mengembang begitu saja. "Untuk melindungi semua warna kehidupan yang telah kau lihat." Tangannya mengusap sayang kepala anaknya. "Dalam pengembaraan yang kau lalui."
"Selamat ananda putri, kau telah memiliki sifat itu." Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta tersenyum bangga. "Kau telah melakukannya dengan baik." Lanjut sang Prabu. "Jadi? Aku serahkan salah satu pilar kerajaan suka damai padamu."
"Sandika eyang buyut Prabu." Putri Agniasari Ariani memberi hormat. "Semoga ananda bisa, menjadi salah satu penopang." Ungkapnya. "Berdirinya kerajaan suka damai."
"Ya." Responnya. "Ananda putri harus membantu nanda Prabu, dalam melaksanakan tugasnya."
"Tentu saja eyang Prabu."
"Kalau begitu? Segera lah kembali ke istana kerajaan suka damai." Ucapnya dengan senyuman ramah. "Karena saat ini mereka sedang mengalami masalah."
"Sandika eyang buyut Prabu."
Setelah itu Putri Agniasari Ariani perlahan-lahan membuka matanya, kesadarannya telah kembali.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, nimas telah bangun." Nila Ayu sangat bersyukur ketika melihat Putri Agniasari Ariani telah bangun.
...***...
Malam ini terasa sepi. Putri Andhini Andita masih terbangun, karena ia tidak bisa tidur. Itulah alasan kenapa ia pergi ke taman Istana meskipun sudah larut malam.
"Apa yang dilakukan seorang putri raj, malam-malam di tempat seperti ini?." Jaya Satria duduk di tempat biasa. Namun kali ini putri Andhini Andita dapat melihat senyuman itu.
"Oh? Kau rupanya jaya satria?." Ia tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa melihat kehadiran Jaya Satria sekarang, ia mendekati Jaya Satria dan duduk di sampingnya.
"Haruskah aku berterima kasih padamu?." Ucapnya. "Karena kau telah menyadarkan aku dari kebodohan?." Ia menarik nafas dalam-dalam. "Yang selama ini telah aku lakukan pada rayi prabu?." Ia menatap langit malam yang kadang berkelipan oleh bintang,
Jaya Satria tersenyum mendengarnya. "Hamba hanyalah bawahan raja." Ucapnya. "Gusti Prabu hanya tidak menginginkan perpecahan antara kita semua." Lanjutnya. "Jadi? Sudah menjadi kewajiban hamba untuk melakukannya." Suara itu terdengar tulus, dan menyentuh.
"Jadi maksudmu? Kau melakukan semua ini karena perintah Rayi prabu?."
"Gusti Putri jangan salah faham dulu." Mata itu melirik ke arah putri Andhini Andita. "Ini semua juga keinginan hamba." Ia sangat gugup. "Karena selama ini hamba tidak diperkenankan oleh mendiang Gusti Prabu untuk-."
"Ya, aku mengerti" Ia menganggukkan kepalanya. Matanya menatap teduh ke langit, senyumannya mengembang di wajahnya. "Setidaknya, melalui kau?." Ucapnya. "Rayi Prabu memang ingin kami bersatu, tanpa adanya permusuhan." Tatapan mata itu sangat tulus, juga senyumannya.
"Yunda?." Dalam hati Jaya Satria.
"Aku mengerti sekarang." Ia menopang dagunya dengan bersandar di lututnya. "Jika rayi Prabu yang langsung melakukannya?." Hatinya terasa sedih. "Maka akan semakin besar kebencian kami padanya." Senyum itu berganti dengan kesedihan.
"Yunda andhini andita." Dalam hati Jaya Satria sangat terkesan.
"Aku masih ingat, ketika kau mengubah wajahmu." Ungkapnya. "Menyerupai wajah rayi prabu waktu itu." Jelasnya. "Seketika rasa kebencian di dalam hatiku keluar begitu saja."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, yunda andhini andita memang memahaminya dengan baik." Dalam hati Jaya Satria sangat bersyukur.
"Mungkin rayi Prabu menghindari hal seperti itu." Lanjutnya. "Dengan menyuruhmu untuk menggantikannya." Putri Andhini Andita dapat merasakan itu. "Sedangkan menurut pandangan kami?." Ia menarik nafas dalam-dalam. "Dia seakan berpura-pura tidak peduli pada kami." Hatinya merasa bersalah. "Tapi melalui dirimu? Dia mempercayakan ." Ia menatap mata jaya Satria. "Sungguh, rasanya aku sangat berdosa padanya." Ia mencoba menghela nafasnya.
Jaya Satria senang mendengarnya, ia juga tersenyum melihat ketulusan itu.
"Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana, pasti senang mendengarnya." Ucapnya. "Beliau dengan senang hati, berdamai kembali bersama Gusti Putri, juga Raden hadyan hastanta."
"Ya, semoga saja seperti itu." Balasnya. Putri Andhini Andita melirik ke arah Jaya Satria. "Aku juga berterima kasih kepadamu, karena telah menyadarkan aku." Putri Andhini Andita tersenyum lembut menatap Jaya Satria. "Menyadarkan betapa bodohnya aku." Ungkapnya. "Yang membuatnya menjadi orang pemarah, membuatnya pernah menjadi orang yang buruk di masa lalunya." Penyesalan itu timbul menusuk hati.
"Allah SWT maha pengampun, memaafkan umatnya." Respon Jaya Satria. "Hamba yakin sekali, jika Gusti Prabu mau memaafkan Gusti Putri." Ucap Jaya Satria. "Semua orang pernah melakukan kesalahan, entah itu disengaja, atau tidak disengaja." lanjutnya.
"Tapi kesalahan yang aku lakukan sangat sengaja." Hatinya merasa gelisah. "Sengaja mencari-cari kesalahan rayi Prabu." Kalimat penyesalan itu telah ia ucapkan. "Agar ia selalu salah di mata ayahanda Prabu." Hatinya terasa sesak. "Hingga ia menjadi pribadi yang buruk." Tatapan matanya menerawang jauh. "Namun siapa sangka? Saat masuk Islam?." Ucapnya lagi. "Ia menjadi lebih baik, bahkan lebih baik dari pada aku." Putri Andhini Andita mengingat semua yang ia lakukan pada adiknya. "Walaupun ia hanya beberapa purnama saja berada di istana ini." Jelasnya lagi. "Berada di istana ini, sebelum ia menjadi Raja." Ia mencoba untuk tersenyum. "Namun perubahan itu memang terasa, dan bahkan tidak terpancing amarah sama sekali." Ia merasa kagum dengan sikap adiknya itu. "Aku memang bodoh, dan hanya menuruti keinginan buruk saja."
"Sudahlah Gusti Putri." Balas Jaya Satria. "Tidak ada gunanya menyesali masa lalu." Jaya Satria tidak tega mendengarnya. "Ada hal yang lebih penting sekarang, yaitu memperbaiki kesalahan di masa lalu." Lanjutnya. "Agar bisa melangkah menuju masa depan yang lebih baik."
"Kau benar." Responnya. "Aku akan mencoba melakukan yang terbaik untuk rayi Prabu." Ia tersenyum kecil. "Aku akan memperbaiki semua kesalahan, yang telah aku lakukan padanya." Itulah janjinya.
Malam itu mereka habiskan dengan mengobrol satu sama lain. mengungkapkan kesalahan masa lalu, yang membuat mereka menyadari, bahwa setiap manusia pasti akan pernah mengalami perubahan. Ke arah yang lebih baik, atau ke arah keburukan?.
Tapi dalam hati mereka masih berharap perang ini tidak terjadi. Kenapa?. Karena ada korban tidak berdosa berjatuhan. Siapa mereka?. Yaitunya penduduk yang berada tak jauh dari lokasi perang. Bukan hanya itu saja, ketakutan menghantui pikiran mereka yang takut akan kematian sebagai korban perang. Tidak ada yang baik dari perang. Apakah mereka bisa menghindari perang saudara yang akan terjadi?. Simak terus ceritanya.
****
Semoga crta terbaru bagus ya..