Akulah Al, sang pewaris kekuatan supranatural.
Akulah Al, sang pembuka gerbang dua alam.
Akulah Al, sang mata batin yang akan melindungimu dari ilmu hitam.
Akulah Al, sang paranormal yang tidak pernah diperhitungkan.
Akulah Al, sang petualang alam gaib yang penuh romansa, darah dan kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 31
Aku melewati gudang sebelum naik ke lantai 2, ruangan kerja yang diberikan Dad padaku. Aku melihat Windi dan Hendra sedang berdebat. Aku berpikir bahwa mereka mungkin memang pacaran. Cinta lokasi atau apa namanya karena terjebak di tempat yang sama setiap hari.
Aku memanggil salah satu karyawan yang kutemui sedang melintas di depan ruanganku. Aku memintanya menemuiku, ingin bertanya soal hubungan sesama karyawan.
"Windi mana?" Tanyaku basa-basi. Karena aku banyak berhubungan kerja dengannya, wajar kalau aku menanyakan keberadaannya.
"Di gudang kayaknya tadi, Pak. Ngobrol sama Hendra." Jawabnya takut-takut.
"Maksudmu pacaran?" Tanyaku langsung ke pokok permasalahan.
"Saya nggak tau, Pak. Kayaknya nggak pacaran, soalnya Hendra sudah punya istri dan anak."
Aku menyalakan monitor cctv di ruanganku dan memfokuskan video dalam gudang. Melihat Hendra dengan kasar mendorong Windi hingga menabrak meja, menghimpitnya dan memaksa menciumnya. Dia ikut mendelik menyaksikan mereka berdua di layar televisi 32 inch yang dipakai Dad sebagai monitor cctv. Aku menyuruhnya memanggil mereka ke ruanganku segera.
Tidak lama mereka berdua sudah duduk di depanku. Windi dengan mata sembabnya dan Hendra dengan wajah tegangnya.
"Ada masalah apa di gudang? pribadi atau pekerjaan?"
Mereka serentak menjawab, "Pribadi, Pak."
"Kenapa sampai segitu ributnya? Saya mual lihat kelakuan kalian di gudang barusan." Aku menunjuk monitor cctv yang satu layarnya sedang menyorot tempat mereka bertengkar tadi. "Jelaskan pembelaan kalian atau saya berhentikan kalian berdua sekarang juga!"
"Mas Hendra memaksa saya meminum air degan itu, Pak. Sedangkan saya sedang puasa." Jawab Windi menunjukkan es degan yang dia taruh di mejanya sebelum menghadapku.
"Saya hanya ingin Windi menghargainya Pak, tidak bermaksud memaksa. Itu oleh-oleh dari Gresik, kemarin saya baru pulang kampung." Hendra membela dirinya dengan ketegangan yang tidak diturunkan.
"Win, bawa es degannya kesini!" Perintahku seketika. Dan saat Windi membawakan degannya padaku dengan cuek aku meminumnya.
"Seger," sambungku kemudian. "Surabaya nggak kekurangan degan kayak gini, nanti aku ganti buat buka puasanya Windi!"
Hendra melihat dengan mata hampir keluar dari tempatnya, tentu saja dia kaget karena itu adalah kelapa muda penuh jampi-jampi yang khusus dimintakan untuk Windi. Mungkin dia sadar bahwa kemarin malam Windi terbebas dari jeratan mistisnya sehingga dia perlu mengatur ulang semuanya.
"Jun, belikan saya es degan tanpa gula! Juga belikan untuk semua karyawan sekarang. Khusus Windi belikan dua, karena dia sedang puasa. Uang minta kasir, keluarkan sebagai biaya konsumsi." Aku memerintahkan Junaidi anak bagian kirim lewat interkom untuk membelinya segera.
Windi dan Hendra makin salah paham dan tidak mengerti apa yang aku lakukan. Aku bertanya pada keduanya, "Jadi kalian pacaran? dan ribut hanya karena kelapa muda ini?"
Windi mengangguk sedangkan Hendra menggeleng. Aku tertawa melihat mereka berdua. Lebih menahan tawa ketika Windi bersuara, "Mas, kenapa kamu nggak pernah mau mengakuinya? Kamu anggap apa aku selama ini? Kita sudah kayak suami istri…."
Tawaku menghilang karena Windi menangis mengakui hubungan gelapnya dengan Hendra secara blak-blakan.
"Kenapa kalian tidak menikah saja? Nasi sudah jadi bubur kan? Lagian saya nggak suka masalah pribadi dibawa ke pekerjaan." Tanyaku datar.
"Saya sudah punya istri, Pak. Ada anak satu juga. Saya tidak mungkin menikah lagi," jawab Hendra terbata.
"Lalu perasaanmu pada Windi kamu lampiaskan dengan memperbudaknya sebagai mainan gelapmu?" Aku tau Hendra memahami ke arah mana pembicaraanku.
"Bukan begitu, Pak. Saya hanya tidak bisa menikahinya, Windi tidak mau jika saya masih beristri. Begitu juga istri saya tidak mau dimadu apalagi saya ceraikan."
"Akhirnya kamu berpikir untuk menggantung jodohnya Windi agar kamu bisa menidurinya secara gratis, gitu kan?" Aku tau aku berkata kasar pada pria yang umurnya mungkin 10 tahun lebih tua dariku itu. Pria picik dan brengsek yang hanya mencari kepuasan pada selangk*ngan.
Hendra menekuk wajahnya yang merah padam. Sedangkan Windi tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun, tapi amarah menggelegak dalam dadanya.
"Hendra serah terima gudang hari ini, stok opname dan saya minta sudah selesai sore ini. Mulai besok kamu pindah ke cabang 3 sebagai marketing. Target penjualan akan saya tentukan mulai bulan depan, anggap saja bulan ini sebagai latihan." Putusku kemudian, dia beranjak hanya mengangguk pasrah tapi penuh dendam dan kemarahan.
"Kamu pulang aja, Win. Matamu bengkak, mungkin dibuat kerja moodmu juga sudah berantakan!"
"Saya nggak apa-apa, Pak. Saya kerjakan yang urgent dulu, mungkin saya ijin pulang lebih awal nanti."
"Ya, kamu nggak apa-apa saya pisah tempat kerjanya sama Hendra?"
"Saya senang Pak, tapi saya takut diteror."
Aku mumet, menghembus nafas kasar, "makane rabio!"
"Calonnya belum ada, Pak!"
"Halah, paling juga balikan sama yang lama."
"Saya itu tiga kali tunangan tapi gagal ke pernikahan, Pak. Mereka tiba-tiba memutuskan saya. Saya sudah berusaha menjalin hubungan atau berkenalan dengan yang lain, tapi mereka melihat saya seperti orang yang buruk rupa."
Dengan sedih Windi melanjutkan curhatnya, "Mereka selalu menghindari saya, Pak. Hanya Hendra yang memperhatikan saya, menerima saya dan berjanji menikahi saya. Tapi saya baru sadar tadi, selama 4 tahun ini saya cuma dimanfaatkan."
"Kok aneh tiba-tiba Hendra perhatian gitu sama kamu?"
"Ya itu anehnya Pak. Awalnya dia juga benci sama saya karena saya nolak dia, ya gimana nggak nolak saya udah mau nikah sama tunangan saya. Dia baru mendekati saya setelah nggak ada lagi yang mau sama saya, Pak. Jadi kayak dewa penolong waktu itu buat saya."
"Trus kamu jadi cinta sama dia?"
"Hari ini dari datang tadi saya muak lihat dia, Pak!"
"Oh baru sadarnya hari ini ya?" Tanyaku mesem-mesem nggak jelas.
"Jadi benar Hendra yang bikin saya begini ya, Pak?"
"Lha mbuh!" Jawabku mengedikkan bahu dan melangkah keluar ruangan. "Aku mau pergi sebentar, laporan hasil stok gudang Hendra taruh aja di meja."
Windi melongo mendengar jawabanku. Dia akan segera menikah, kerlipan masa depannya sepintas terlihat dimataku.
***
Tempat Rendy tinggal tidak jauh, karena sebenarnya perumahan kami dalam satu kawasan di Surabaya barat, areanya berhadapan. Tapi aku memang tidak mengijinkan dia yang datang, dan aku mengajak Risa ke rumahnya sebagai teman plus sebagai cadangan untuk pekerjaan yang dia tawarkan. Aku takut dia kalap dan memaksa menciumku jika aku datang sendirian.
Dia menyambut kami dengan berlebihan, membuat kami kikuk sendiri sebagai tamu di rumahnya yang sangat besar ini. Beberapa keluarganya melihat kami dengan aneh walaupun tetap ramah, mungkin Rendy tidak biasa membawa temannya ke rumah.
Aku mengenalkan Risa sebagai arsitek handal yang akan membantunya juga. Dia sama sekali tidak keberatan dan kami mulai terlibat obrolan seputar pekerjaan.
Kadang dia bercerita tentang keluarganya. "Kakakku itu ada 8, tapi semuanya perempuan, Al. Jadi aku paling ganteng di rumah ini selain papa. Kamu bisa bayangkan ramainya orang bergosip di rumah ini. Tapi yang 7 sudah menikah."
"Wow, anak lanang nomor sembilan ya? Anak pujan kamu Ren!"
Dia tertawa senang, "iya, aku kayak raja di rumah ini, Al. Semua memuja dan tunduk padaku. Dalam aturan keluargaku begitu, walaupun bungsu tetap saja aku ini pemimpin semua saudaraku, karena aku anak lanang."
Mamanya menghampiri kami, dan dengan raut penasaran menatapku tajam, membuatku jadi sangat sungkan. Aku mengangguk sopan karena tidak tau harus bagaimana, sepertinya ada yang salah dari ucapanku barusan sehingga Beliau datang untuk memastikan.
"Ren, mama pinjem teman gantengmu ini sebentar ya!" Aku deg-degan dengan permintaan itu, tapi Rendy mengiyakan dengan cepat apa yang dimau ibunya ini. 'Teman ganteng' itu seperti pertanda bahwa mama Rendy tidak keberatan anaknya berhubungan denganku. Duh Gusti.
Beliau memintaku mengikutinya ke taman samping rumah dan duduk di sana untuk mengobrol.
"Kamu tadi bilang Rendy anak pujan, nak?" Tanya mama Rendy penuh nada intimidasi.
"Maaf Tante, saya nggak sengaja. Saya tidak bermaksud menyinggung, saya hanya ingin menyampaikan kalau Rendy anak yang dimanja di keluarga karena laki-laki sendiri dan juga karena dia anak bungsu."
"Tidak banyak anak muda yang tau bahasa anak pujan. Itu memiliki konotasi tersendiri kan?"
Aku menelan ludah, takut salah jawab. "Iya Tante."
"Tante tau kamu tidak sembarangan mengucapkan itu, tapi karena kamu memang mengerti kalau Rendy itu anak pujan."
Aku diam lama dan akhirnya mengangguk saja tidak berusaha lagi membohongi wanita berumur lebih dari 60 tahun yang menatapku tajam ini. Aku mendengar dia bernafas lega, dan mulai bercerita.
"Anak laki-laki dalam garis keturunan keluarga kami itu sangat penting, Nak. Sangat pentingnya hingga ketika kami sudah mendapatkan 8 anak perempuan kami masih belum berhenti untuk mendapatkan anak laki-laki.
Suatu hari kami diramal oleh seorang cenayang bahwa sebanyak apapun kami mencoba akan tetap saja lahir anak perempuan. Padahal kami sudah dikejar umur, dan Tante mulai ketakutan menopause sebelum mendapat bayi laki-laki.
Cenayang itu menyarankan kami untuk melakukan ritual saja, yaitu meminta anak pujan. Sudah pasti nanti lahirnya laki-laki. Akhirnya kami tergoda untuk mengunjungi punden dan bertemu sang juru kunci."
Mama Rendi menceritakan perjalanannya ke punden di salah satu kota di Jawa Timur dan melakukan ritual yang diamanatkan juru kunci. Dengan perjanjian tertentu yang berani mereka sepakati demi mendapatkan anak laki-laki.
"Dan begitulah akhirnya lahirlah Rendy. Sejak kecil Rendy sudah seperti itu, menyukai laki-laki. Awalnya kami mengira karena semua kakaknya perempuan, tapi setelah banyak dokter ahli kami kunjungi kami baru sadar bahwa Rendy adalah bagian dari perjanjian. Dia adalah anak pujan, dan penyakitnya adalah resiko yang harus kami tanggung selama ini."
Aku menyimak tanpa sedikitpun berkomentar. Merasakan betapa pedih perasaan mama Rendy melihat anaknya tumbuh tidak seperti layaknya laki-laki.
"Kami kembali ke punden, juru kunci yang mengurus kami dulu sudah mati dan tidak ada yang bisa membatalkan perjanjian yang sudah disepakati.
Seminggu lalu Tante bermimpi ada cahaya jatuh ke rumah ini, Tante yakin itu jawaban dari doa-doa Tante selama ini, tolong Rendy nak!"
Aku hanya diam, bingung mau menjawab apa. Rendy bisa sembuh, tapi salah satu orang tuanya biasanya mati. Akhirnya aku menggeleng, "Al tidak berani, Tante!"
"Tante dan Papa Rendy sudah siap sebagai pengganti kalau itu yang nak Al takutkan, semua demi kesembuhan Rendy." Ungkap Mama Rendy dengan penuh keyakinan dan kepasrahan diri.
***
"Heh… Penulis Sialan! Masak iya 30 chapter gw cuma ngurusin ilmu hitam? Wulan mana Wulan?" Protes Al pada akhirnya.
"*Sorry Cu*k, ini cerita tentang paranormal muda, bukan tentang bini muda!" Jawab penulisnya sambil menyeruput kopi dari para reader yang baik hati*.
kan kakak dr orgtua kita