NovelToon NovelToon
Atas Nama Sang Macan

Atas Nama Sang Macan

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Petualangan / Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Bruna Mattos

Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.

Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."

Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.

Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rana

Rana (narasi)

Astaga, aku kaget setengah mati waktu penguasa bukit berhenti di sampingku dan menawarkan tumpangan. Aku tahu betul tumpangan macam apa yang dia maksud. Aku nggak mau jadi simpanan bandar narkoba terus tiap hari dipukuli.

Sampai rumah aku mandi, pakai piama, lalu berbaring. Aku kepikiran si Macan itu. Aku tahu dia bukan orang baik, tapi cowok itu ganteng banget, perempuan mana pun pasti tergila-gila ingin bersamanya. Keinginan itu sih ada, tapi aku masih waras dan selalu berpikir panjang sebelum berbuat bodoh. Aku larut dalam pikiranku sendiri sampai akhirnya tertidur.

Aku bangun dengan masih mengantuk, meraih ponsel, dan melihat sudah jam sembilan. Hari ini aku libur, soalnya hari Sabtu aku tidak kerja harian, dan malam ini ada pesta bukit, jadi kedai Pak Mansur tutup.

Aku ke kamar mandi dan mandi lama, lalu mengoles pelembap, memakai celana dalam model celana pendek dan daster tipis yang adem karena cuacanya panas sekali. Rambut kuikat sanggul longgar, kupakai parfum, dan kupakai sandal jepit tipis.

Pakaian Rana 👆

Aku turun ke dapur dan sudah menemukan nenekku sedang mencuci piring.

"Selamat pagi, Nek." Kucium pipinya.

"Pagi, Sayang. Nenek memang menunggumu, tolong belikan roti yang masih hangat buat kita."

"Iya, aku berangkat sekarang."

Aku keluar rumah dan berjalan ke toko roti. Aku melewati beberapa pengecer di jalan, dan tentu saja mereka melempar candaan norak, tapi aku tidak peduli, pura-pura itu bukan buat aku.

Sampai di toko roti, aku langsung berhadapan dengan Macan yang sedang minum kopi di meja kasir. Aku pura-pura tidak melihatnya.

"Selamat pagi, Pak Pardi."

"Pagi, Rana. Bagaimana kabar nenekmu? Bapak dengar kemarin dia kurang sehat," kata si pemilik toko roti.

"Sudah lebih baik, Pak, tapi kami masih belum tahu dia sakit apa. Kami menunggu hasil pemeriksaan."

"Pasti semuanya baik-baik saja, Nak. Harus tetap percaya." Aku mengangguk.

"Mau beli apa hari ini?"

"Delapan roti, sama empat roti keju." Dia pergi mengambilnya. Aku merasakan Macan menatapku. Begitu aku menoleh, dia memang sedang memandangiku, dan aku langsung membuang muka. Pak Pardi menyerahkan pesananku, aku bayar pakai kartu, lalu keluar dan langsung pulang.

"Aku sudah pulang, Nek." Kuletakkan belanjaan di meja.

"Bagus, ayo kita sarapan."

Kami duduk dan sarapan. Setelah itu nenekku masuk untuk berbaring karena badannya kurang enak. Aku mencuci piring dan membereskan dapur. Begitu selesai, aku memutuskan main ke rumah Dinda.

Aku keluar rumah menuju rumah Dinda, dan di jalan aku bertemu si Jagung itu. Dia menghentikan motornya di sampingku dan menyapa.

"Eh, cantik. Kemarin kamu nggak mau kasih nomor karena lagi kerja. Sekarang kan nggak, sini dong, kita tukar nomor aja." Dia mengatakannya begitu saja.

"Kamu ngotot juga ya."

"Memang. Kalau kamu nggak kasih, gue bakal cari cara dapetin sendiri." Dia tersenyum.

"Ya sudah, mana ponselmu, biar kuketik nomorku."

Dia menyerahkan ponselnya, dan aku mengetik nomor lamaku yang sudah tidak kupakai, malah kartunya sudah kubuang.

"Nih. Sekarang aku harus pergi."

"Sip, Tuan Putri." Dia mengedip padaku. Itu satu-satunya hal yang kurang dari hidupku, aku maunya jadi tak kelihatan saja.

Jagung 👆

Sampai di rumah Dinda, aku langsung masuk.

"Diin," panggilku.

"Hai, say, masuk sini." Suaranya terdengar dari dalam.

Aku masuk dan duduk di sofa bersamanya.

"Halo, Tante," sapaku pada ibunya.

"Hai, Rana. Bagaimana kabar nenekmu, Nak?"

"Sudah agak baikan." Dia pun pergi ke dapur.

"Libur hari ini, say?" tanya Dinda.

"Iya, alhamdulillah."

"Kamu ikut ke pesta bukit bareng aku kan?" Dia bersemangat sekali.

"Nggak ah, kamu tahu aku nggak suka acara begitu."

"Aduh, say, tolong dong. Hari ini penting banget buat aku. Kerempeng mau mengumumkan aku ke seluruh bukit. Bayangin muka cewek-cewek jalang itu, pasti mati kesal." Dia tertawa dan aku ikut tersenyum.

"Ya sudah, aku ikut, tapi nggak bisa pulang malam-malam. Kondisi nenekku lagi nggak bagus, nggak enak ninggalin dia tidur sendirian."

"Oke, say. Tapi mukamu aneh banget, ada yang mau kamu ceritakan?" Dia mengangkat alis.

Kuceritakan semuanya, dan dia melongo.

"Say, kamu bikin gempar nih. Jagung itu ganteng, Macan malah seperti dewa Yunani. Kayaknya dia memang suka sama kamu, soalnya aku nggak pernah lihat dia nyamperin perempuan mana pun. Selalu mereka yang mengejar dia."

"Aku tahu, makanya aku mau jauh-jauh dari mereka berdua."

"Tapi terus, kamu beneran kasih nomormu ke Jagung?"

"Kasih, nomor yang sudah nggak ada. Hahaha."

Kami tertawa bareng. Seharian aku di rumahnya, tapi sempat menelepon nenekku untuk menanyakan keadaannya, dan dia bilang sudah lebih baik. Waktu sadar, sudah hampir jam enam sore. Aku pulang untuk melihat apa nenekku butuh sesuatu, lalu bersiap-siap untuk pesta bukit itu.

Macan (narasi)

Gue bangun karena alarm ponsel, langsung ke kamar mandi, mandi cepat, lalu pakai celana pendek jin, kaus tanpa lengan hitam, sepatu kets hitam. Gue semprot parfum, ambil senapan serbu, lalu turun.

"Pagi, Nak." Mak yang menyapa.

"Pagi, Mak. Gue udah mau berangkat." Dia cuma menggeleng, dan gue jalan ke toko roti Pak Pardi, pesan pastel sama kopi susu, lalu makan di meja kasir situ juga.

Tiba-tiba tukang pelet itu datang pakai daster yang bikin burung gue langsung bangun. Bro, dasternya mencetak badannya, dan pantatnya, nungging banget. Dia datang, ngobrol sama Pak Pardi, dan gue cuma mengamati. Dia sempat melirik gue, tapi begitu tahu gue menatapnya, dia buang muka dan pura-pura biasa. Gue nggak tahu apa yang dimiliki cewek ini, tapi dia menggerakkan sesuatu dalam diri gue sampai bikin gue takut. Gue belum pernah ngerasain yang kayak gini.

Dia pergi, dan wangi parfumnya tertinggal di udara. Wah, cewek wangi banget, sialan.

Gue keluar dari toko roti dan ke gudang buat ngecek kiriman narkoba yang datang untuk pesta bukit, nanti gue bantu pilah-pilah buat dibagikan.

Gue lagi di meja memilah barang waktu Jagung masuk dengan wajah senang banget.

"Ada apa, habis lihat cewek cantik di jalan?" tanya gue.

"Bukan, gue lihat yang seksi." Dia tersenyum lebar.

"Gue dapet nomor cewek itu, pelayan di kedai Pak Mansur." Dia nyengir, dan itu bikin gue panas.

"Lo dapet dari mana?" tanya gue, menyembunyikan amarah.

"Ketemu di jalan tadi, dia kasih. Gue langsung kirim pesan nih." Dia mengeluarkan ponsel.

Seperti dugaan gue, dia cuma perempuan lain yang sama kayak semuanya, ngejar duit dan status.

Dia memegang ponsel dan mulai mengetik pesan.

"Lho, pesannya nggak masuk." Gue cuma mengamati.

Dia lalu mencoba menelepon, dan gue lihat mukanya memerah menahan kesal.

"Kenapa, bro?"

"Lo percaya nggak, cewek sialan itu ngasih nomor yang nggak ada. Dia bakal bayar ini." Dia emosi, dan gue ketawa lihat mukanya.

"Kenapa, Macan, lo mau ngetawain gue?" Dia kesal.

"Nggak, gue cuma merasa lucu aja. Cewek itu ngerjain lo dengan santai."

"Cewek jalang itu harus bayar." Dia mengulang lagi.

"Santai aja, bro. Jangan lo apa-apain dia. Kalau dia nggak mau, biarin aja." Gue menatapnya serius, dan dia melihat gue tapi nggak berkata apa-apa.

Gue keluar dari lapak dan hari sudah mulai gelap. Gue pulang buat mandi dan ganti baju, siap-siap ke pesta bukit yang kelihatannya bakal seru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!