NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 03

Hal baru memang tidak selamanya langsung menarik perhatian banyak orang. Apalagi orang-orang disekitarnya. Tapi jika El tidak melangkah untuk mencoba, dia tidak akan tahu sebagus apa hasilnya nanti. Jikapun jilid lembaran ditangannya saat ini bukan miliknya.

Mungkin usahanya saat ini akan sangat membantu rekan kerjanya yang tengah dilanda kebimbangan. Atas kesalahan dari artis yang menjadi tanggung jawab temannya selama bekerja di perusahaan itu.

Tapi yang jelas disini, Elvarrio tidak mencuri ataupun mengambil naskah itu secara sepihak. Elvarrio hanya meminjamnya sebentar dari seseorang yang mungkin akan membuat tubuhnya banyak goresan luka dari kuku-kuku panjang milik penulis.

"Dia akan pasti menyukainya. Dia juga pasti akan mentraktir ku makan siang hari ini." Monolog Elvarrio dalam hati.

Tersenyum tuk membalas sapaan dari beberapa karyawan yang berada di sekitarnya, tanpa menghentikan langkah kaki jenjangnya. Terus berjalan, kini masuk ke dalam ruang kerjanya sendiri.

Berdiri tepat di depan meja kerja salah satu rekan kerjanya. Yudha diam, sedikit mengadahkan pandangannya untuk membalas tatapan Elvarrio.

"Bacalah lebih dulu, mungkin kau tertarik untuk menawarkannya pada artis mu." Cetus Elvarrio, setelah meletakkan satu jilid naskah di atas meja kerja Yudha.

Tidak langsung memberi sahutan. Yudha membuang napas pelan, sembari membenarkan posisi duduknya. Dengan mengambil alih naskah itu. Melihatnya sebentar, sebelum beralih kepada Elvarrio kembali. "Kenapa kau memberikannya padaku? Kau mencurinya dari para penulis? Apa kau tidak lagi butuh uang untuk membeli makan siang mu?" Sungut Yudha yang tidak akan pernah di ambil hati oleh Elvarrio.

Karena kalimat keras, menusuk. Sudah terbiasa menyapa memenuhi pendengarannya. Entah dari seniornya ataupun juniornya. Jadi Elvarrio tidak lagi terkejut dengan prakata seperti itu. Sudah menjadi makanannya sehari-hari.

Kepala Elvarrio mengangguk kecil, dengan bibir yang sedikit mengerucut. Ekspresi ragu tapi tetap membuka suara. "Aku hanya membantumu. Jika kau tidak bertindak, anak nakal itu akan kehilangan pekerjaannya sebagai entertainer."

Elvarrio membuang napas gusarnya. Dan kembali bicara untuk mengimbuhkan perkataannya. "Toh, aku juga punya tanggung untuk anak itu. Aku yang membawanya ke perusahaan. Aku juga yang memohonnya untuk bergabung. Jadi__"

"Kau merasa bersalah?" Sebenarnya Yudha tidak ada niat untuk menyela perkataan dari Elvarrio. Hanya saja, Yudha sudah tahu apa yang ada di kepala Elvarriol. Jadi, mungkin mencetuskan kalimat disaat Elvarrio bicara itu bukan masalah besar.

"Tidak juga!!" Cepat Elvarrio tanpa berpikir. "Aku hanya membantumu. Jikapun anak itu sejak awal sudah diserahkan padamu, saat dia menandatangani kontrak perusahaan. Tapi, sebagai rekan kerja yang baik, aku harus mengulurkan tangan ku padamu."

"Sebelum kau memberikan tangan mu itu padanya." Suara rendah dari kepala ruangan itu membuat Elvarrio maupun Yudha menoleh ke sumber suara yang masih sibuk dengan layar komputernya. "Apa kau sudah menyelesaikan tugas mu?"

"Aku akan mengerjakannya saat ini juga." Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya. Elvarrio kini melangkah keluar dengan semangat, membuat Yudha tersenyum kecil dengan gelengan kepala. Walau sesaat.

Yudha beralih pada naskah didepan matanya saat ini. Pikirannya diselimuti untuk mengikuti kata Elvarrio. Tapi di jalan pikirannya yang lain, Yudha ingin memberi jeda untuk anak nakal itu. Agar artisnya istirahat tuk introspeksi.

"Jika kau bingung, kau bisa meminta solusi pada tim public relations." Suara itu terdengar lagi di pendengaran Yudha. Kini mengarahkan pandangannya pada seseorang yang masih sibuk dengan komputernya.

"Mungkin mereka bisa membantu mu. Dan mereka juga belum memposting ulasan minta maaf, karena mereka masih mencari tahu kesalahan itu siapa yang memulai." Kini orang itu membalas tatapan Yudha dengan penuh keyakinan.

"Kau ingin membantuku untuk hal itu?" Tanya Yudha dengan nada rendah. Berharap jika Tama mengatakan iya.

"Tidak!! Jikapun aku terlibat, aku tidak akan melakukannya." Cepat Tama.

"Kenapa?"

Tama hanya diam, dan memilih pada pekerjaannya. Hal itu membuat Yudha tersenyum nanar. Karena tahu apa alasan Tama tidak mau membantunya saat ini.

"Kenapa kau tidak bisa menghadapinya? Padahal kau sangat menginginkannya." Gumaman yang berubah sindiran dari Yudha, mampu membuat Tama membuka mulut untuk memberi pengelakan. Akan tetapi, Yudha telah berjalan keluar meninggalkan Tama sendiri di ruangan itu.

...***...

Satu kata untuk hari ini, lelah. Yumna ingin pulang, Yumna begitu rindu dengan tempat tidurnya. Yumna ingin sekali menutup matanya untuk berkunjung ke alam mimpinya. Tapi Yuman tidak bisa melakukannya saat ini. Yumna hanya bisa menidurkan kepalanya miring ke satu sisi diatas meja kerjanya. Dengan mulut yang terus mencibir tidak jelas. Dan untungnya hanya ada Yumna di ruangan itu.

"Kenapa ekspetasi ku begitu tinggi?" Lesu Yumna sembari meraih pena di samping keyboard.

"Padahal ini hari pertama ku bekerja. Tapi kenapa ini sangat melelahkan?" Jemari lentik Yumna mulai mencoret-coret tidak jelas di halaman kosong dari lembar kertas notebook, yang mungkin sudah tidak lagi digunakan.

Dan tanpa Yumna sadari, seorang pria masuk kedalam ruangan setelah mengetuk pintu kaca yang terbuka itu. Bodohnya, Yumna tidak mendengar sapaan manis sang pria hanya diam melihat punggung Yuman tanpa ekspresi.

"Aku tidak mau bekerja!!" Suara Yumna terdengar jelas di pendengaran pria itu.

"Bukankah lebih baik bekerja, dari pada menganggur di rumah?"

Seketika Yumna menegakkan punggungnya. Menyingkirkan sebentar helaian anak rambut yang sedikit menutupi wajah lesunya. Sebelum menoleh ke belakang, sembari tersenyum simpul. Untuk menutupi kelelahannya.

Mendapati sosok pria muda dengan lengkungan kecil yang dapat Yumna lihat. Mampu membangunkan rasa kagum dibenak Yumna. Diam, termenung seperti tubuh yang tidak memiliki sukma untuk bertahan demi ketidak pastian dari semesta.

Benar-benar menawan--

Siapa namanya?

"Aku sempat melihat mu tadi pagi bersama Sella. Mungkin ini kedua kalinya aku melihat mu." Ucap Yudha sembari duduk diatas sofa yang ada diruangan itu. "Jadi siapa nama mu?"

Pertanyaan itu memang sederhana. Dan mungkin sering Yumna dengar. Tapi entah kenapa untuk kali ini berbeda, rasa yang dulu Yumna pendam sekarang telah bersemi kembali. Membuat jiwanya yang dulu hampa kini mulai percaya lagi, jika memiliki seseorang yang didambakan itu tidak begitu menyakitkan.

"Yumnallasha." Tercetus dari mulut Yumna begitu saja. Karena kesempatan seperti ini juga tidak akan Yumna sia-siakan. Siapa tahu, pria didepan matanya belum memiliki seseorang yang tengah diusahakan.

"Rumah mu ada di dekat sini?" Seharusnya Yudha tidak mencetuskannya. Tapi Yudha hanya ingin berbasa-basi, sekalian menunggu kedatangan Sella. Karena Yudha sangat butuh bantuan dari Sella.

"Iya." kepala Yumna mengangguk antusias. "Ada di seberang jalan."

"Jika rumah mu ada di sekitar seberang jalan perusahaan. Tidak menutup kemungkinan, bahwa kau mengenal Tama." Ada keraguan yang terselip di kalimat yang keluar dari mulut Yudha.

"Aaa, orang pemalas itu." Tahu, Yumna tahu siapa Tama.

"Pemalas?" Ulang Yudha. Sekilas menaikan sebelah alisnya, dengan kerutan samar di keningnya.

"Ralat!! Orang yang tidak mau bergerak, tapi semua pekerjaannya selesai tepat waktu." Tidak begitu cepat Yumna melontarkannya.

Kepala Yudha mengangguk setuju. Dan itu memang benar, Tama termasuk golongan orang santai akan hal apapun. Sampai Yudha menyimpan rasa iri terhadap rekan kerjanya itu. Yang memiliki pemikiran santai, seperti tidak ada beban.

1
Lepidoptera
Penulisannya unik, semangat jugaaaa❤️
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!