NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Buku Etika

Besok, rupanya giliran pengadilan.

Keira baru tahu pagi harinya bahwa pengadilan di keluarga Hendrawan tidak memakai palu. Mereka memakai teh panas, buku tebal, dan tatapan seorang ibu yang bisa membuat orang merasa bajunya terlalu murah untuk bernapas.

Pavilion Mama berdiri di sisi timur compound, terpisah dari bangunan utama oleh taman kecil dan jalan batu. Rumah itu lebih tenang, tetapi bukan tenang yang nyaman. Di terasnya ada pot bonsai tua, lonceng angin dari logam, dan aroma dupa tipis yang menempel di udara.

Keira datang dengan blus putih yang sama. Ningsih hanya boleh mengantar sampai gerbang kecil.

"Kalau Mbak dipanggil, jawab pelan saja," bisik Ningsih. "Jangan melawan."

Keira menatapnya. "Wajahku kelihatan seperti orang yang suka melawan?"

Ningsih diam.

"Jangan jujur begitu," gumam Keira.

Ia masuk sendiri.

Mama Lian sudah duduk di kursi kayu merah tua. Rambutnya tersanggul rapi, cangkir teh berada di sisi kanan, dan di atas meja ada sebuah buku setebal batu bata. Sampulnya cokelat tua dengan tulisan emas.

Buku Etika Keluarga Hendrawan.

Bi Yang berdiri di belakang kursi Mama Lian. Perempuan tua itu menunduk sedikit ketika Keira masuk, tidak ramah, tetapi tidak tajam.

Keira membungkuk. "Pagi, Tante."

Mama Lian menatapnya beberapa detik.

"Kalau kamu tinggal di rumah ini," katanya, "kamu harus tahu aturan rumah ini."

Keira mengangguk. "Saya akan belajar."

"Belajar bukan berarti sekadar menghafal. Di keluarga besar, satu posisi sumpit bisa membuat orang menilai siapa yang membesarkanmu. Satu panggilan salah bisa dianggap menghina. Satu cangkir teh yang kamu arahkan keliru bisa membuat meja makan berubah menjadi perang."

Keira menunduk lebih dalam.

Ia ingin berkata bahwa di Panti Harapan, perang bisa dimulai hanya karena sepotong telur asin. Namun ia menahan lidahnya. Di tempat ini, cerita miskin tidak membuat orang kasihan. Kadang hanya membuat mereka makin yakin bahwa kau memang tidak pantas.

Pelajaran dimulai dari cara masuk ruangan. Lalu cara berdiri di depan orang yang lebih tua. Lalu cara memegang cangkir teh dengan dua tangan. Lalu cara meletakkan sumpit tanpa menyilangkannya. Lalu urutan menyapa keluarga: Mama, Tante, Om, Ko, Ci, lalu tamu luar.

Keira mendengar, melihat, dan mengulang.

Ia memang tidak pernah sekolah tinggi. Tapi hidup di panti mengajarinya mengingat wajah donatur, jadwal inspeksi, pintu mana yang berderit, dan kapan Bu Wati menyimpan kunci dapur. Ingatan adalah alat bertahan hidup.

Menjelang siang, Felicia datang.

"Mama Lian," sapanya lembut. "Saya dengar Keira sedang belajar. Boleh saya bantu?"

Keira hampir bisa mendengar perangkap dari cara perempuan itu tersenyum.

Mama Lian tidak menolak. "Kalau kamu punya waktu."

"Tentu." Felicia duduk di samping Keira, membuka Buku Etika dengan jemari terawat. "Keira, bagian dasar seperti memegang sumpit tidak perlu terlalu lama. Yang penting kamu tahu tata cara teh. Di keluarga Tionghoa, teh itu paling penting."

"Baik, Ci Feli."

Senyum Felicia melebar sedikit. "Pintar juga kamu memilih panggilan."

Keira ikut tersenyum tipis. "Saya cepat belajar kalau tidak lapar."

Bi Yang batuk kecil, entah menahan tawa atau tersedak udara.

Felicia membalik halaman. Gerakannya cepat, tetapi Keira sempat melihat nomor halaman meloncat. Dari bagian sapaan langsung ke bagian jamuan keluarga. Beberapa halaman di tengah tampak lebih baru, warna kertasnya sedikit berbeda.

"Kalau memberi teh kepada Mama Lian," Felicia menjelaskan, "gagang cangkir menghadap ke kanan kamu. Jangan terlalu tinggi. Jangan menatap mata terlalu lama. Dan jangan bicara sebelum dipersilakan."

Keira mengulang gerakan itu beberapa kali. Felicia memperbaiki posisi jarinya, lalu memperbaiki lagi, lalu tertawa kecil ketika teh menetes ke nampan.

"Pelan-pelan. Kita tidak sedang mencuci piring di warteg."

Keira menggigit bagian dalam pipinya.

Sore hari, Mama Lian meminta ujian kecil.

Di meja rendah, Bi Yang menyiapkan cangkir, teko, dan nampan. Keira berlutut di atas bantal tipis. Lututnya sudah pegal sejak siang, tetapi ia menahan wajah tetap tenang.

Ia menuang teh. Dua tangan. Tidak terlalu penuh. Gagang cangkir ke kanan, seperti yang diajarkan Felicia. Ia mengangkatnya dan menyodorkan kepada Mama Lian.

Ruang itu sunyi.

Mama Lian tidak mengambil cangkir itu.

"Siapa yang mengajarimu memberi teh seperti ini?"

Keira membeku.

Felicia menunduk, menyembunyikan sesuatu di sudut bibirnya.

Mama Lian berkata lebih pelan, "Gagang menghadap penerima. Bukan menghadap dirimu. Kamu sedang memberi, bukan mengambil."

Panas naik ke wajah Keira.

"Maaf, Tante. Saya akan ulangi."

"Buka bukunya."

Keira membuka Buku Etika. Tangannya bergerak cepat ke halaman yang tadi ditunjukkan Felicia. Di sana, gambar cangkir memang menghadap ke arahnya.

Keira berhenti.

Lalu ia membalik beberapa halaman sebelum dan sesudahnya. Warna kertas berbeda. Lem di sisi dalam lebih tebal. Ada bau kertas baru yang tidak cocok dengan buku tua itu.

Halaman itu diganti.

Jantung Keira memukul sekali, keras.

Ia tahu. Felicia yang melakukannya, atau menyuruh orang melakukannya. Tapi di ruangan ini, siapa yang akan percaya anak panti yang baru kemarin makan daging dengan tangan?

Keira menutup buku pelan.

"Saya salah ingat, Tante."

Felicia mengangkat alis, tampak puas.

Mama Lian menatap Keira lama. Di wajahnya ada kekecewaan, tetapi bukan kebencian.

"Kalau salah karena tidak tahu, belajar. Kalau salah karena ceroboh, renungkan. Berlutut di halaman sampai matahari turun."

Bi Yang bergerak sedikit. "Nyonya..."

Mama Lian tidak menoleh. "Dia bilang dia akan belajar."

Keira menunduk. "Baik."

Batu halaman Pavilion Mama panas menyerap matahari Jakarta. Saat Keira berlutut, panasnya menembus kain rok dan langsung menggigit kulit. Sepuluh menit pertama, ia masih bisa menghitung napas. Tiga puluh menit kemudian, lututnya mulai berdenyut. Satu jam kemudian, punggungnya basah oleh keringat.

Felicia sudah pergi entah sejak kapan.

Mama Lian tidak keluar lagi.

Hanya Bi Yang yang sesekali lewat. Pada kali ketiga, perempuan tua itu berhenti di samping pot bonsai, seolah sedang merapikan daun. Tangannya meninggalkan segelas air di balik pot, cukup dekat untuk dijangkau Keira.

"Jangan sampai terlihat," bisik Bi Yang tanpa menatapnya.

Keira mengambil gelas itu ketika tidak ada orang melihat. Airnya hangat, tetapi di tenggorokan terasa seperti hidup.

"Terima kasih, Bi," bisiknya.

Bi Yang sudah berjalan pergi.

Menjelang senja, bayangan pohon di halaman mulai memanjang. Bibir Keira kering. Lututnya terasa seperti bukan miliknya lagi. Namun punggungnya tetap lurus.

Ia tidak akan menangis.

Tidak di rumah ini.

Suara mobil terdengar dari arah jalan utama compound.

Keira tidak menoleh. Ia hanya mendengar pintu mobil dibuka, langkah sepatu mahal di atas batu, lalu keheningan aneh yang turun mendadak di sekitar halaman.

Bayangan tinggi jatuh di depannya.

Keira mengangkat kepala.

Darren berdiri di gerbang Pavilion Mama, masih memakai jas kerja gelap. Matahari senja berada di belakangnya, membuat wajahnya setengah tertutup cahaya.

Tatapannya turun ke lutut Keira, ke keringat di pelipisnya, ke bibirnya yang pecah.

Lalu langkahnya berhenti.

Untuk pertama kalinya, wajah dingin itu berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!