Hidup tak pernah memberi pilihan mudah pada Regatta Aulia, atau yang biasa dipanggil 'Ega'. Dia adalah seorang gadis berusia 21 tahun, yang tumbuh di dalam lingkungan sebuah panti asuhan sejak dilahirkan.
Suatu malam, Ega berhasil menyelamatkan seorang pria. Pria itu adalah Raka Adinata (27 thn), seorang pengusaha muda kaya raya yang baru saja kehilangan segalanya akibat pengkhianatan orang-orang terdekatnya.
Ega hanya berniat untuk menyelamatkan pria tersebut, namun dia tidak menyangka ... jika usahanya malam itu malah menjebaknya di dalam putaran arus kehidupan pria itu lebih dalam.
Di tengah pertengkaran, rahasia masa lalu, perebutan perusahaan, dan perasaan yang perlahan tumbuh, Regatta dan Raka mengerti akan satu hal:
"Keluarga bukan selalu tentang darah, akan tetapi tentang seseorang yang memilih untuk tinggal."
↔ UPDATE 2X SEHARI, JAM 12 SIANG DAN JAM 3 SORE.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PITB - 04.
...꧁✿ 🅷🅰🅿🅿🆈 🆁🅴🅰🅳🅸🅽🅶 ✿꧂...
Sekitar jam sepuluh malam, mobil SUV yang membawa keluarga kecil baru itu pun tiba di parkiran khusus basement apartemen mewah Sudirman.
"Hoaamz ...!"
Raka Adinata terbangun, saat mobil itu berhenti sempurna. Dia mengusap wajahnya dengan gerakan lambat, menyisakan sebuah guratan lelah pada matanya.
"Akhirnya kita sampai juga ..." ujar Raka dengan suara parau, khas orang baru bangun tidur.
Dia melirik ke arah kursi bagian belakang, dimana Triple D masih terlelapdalam pelukan kedua pengasuh barunya.
"Saya akan membawa Dewanta dan Dionata. Kalian bisa bawa semua barang-barang mereka dan sambil menggendong Dewinta," lanjutnya kepada kedua pengasuh itu.
"Tidak perlu, Mas. Biarkan Kalista dan Kaylin yang mengurus mereka. Silahkan Mas Raka pimpin jalan," sahut Regatta, sambil turun duluan dari dalam mobil.
Raka sempat mengernyitkan keningnya, saat melihat betapa cekatannya dua orang pengasuh baru itu.
Mereka menggendong anak-anak dengan tekhnik yang sangat efisien, sedangkan mata mereka bergerak liar memindai setiap sudut basement, layaknya bodyguard, bukan hanya pengasuh biasa.
Namun, karena tubuhnya terlanjur letih, raka memilih untuk mengabaikan rasa curiganya.
Begitu mereka tiba di lantai paling atas, Suster Ratna sudah berdiri menyambut mereka di depan pintu utama dengan wajah gelisah.
"Selamat Malam Tuan Raka, Nona Ega. Biar saya ambil alih anak-anak dan menidurkan mereka di dalam kamarnya," ujar Suster Ratna, dengan tangan yang telah siap meraih si Bontot dari gendongan Kaylin.
"Diam ditempatmu, Suster Ratna!" perintah Regatta dengan nada dingin.
Suster Ratna langsung tersentak, sementara Raka menolehkan kepalanya dengan kening berkerut bingung.
"Ada apa, Ega? Mengapa nada suaramu berubah tajam begitu?" tanya Raka.
Regatta dengan santai masuk ke dalam Penthouse itu, lalu dia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dengan anggun.
"Tugas Suster Ratna selesai malam ini, Mas Raka. Dan kalian berdua, bawalah mereka ke dalam kamarnya sekarang. Pastikan seluruh sudut kamar mereka 'steril'," ujar Regatta, yang memberikan perintah tegas kepada kedua bawahannya.
"Kami mengerti, Nona!" sahut kedua agen terbaik Regall Security itu serempak.
Lalu mereka langsung melesat masuk ke dalam kamar anak-anak, tanpa memperdulikan tatapan syok Suster Ratna.
"Sebentar ... tunggu dulu, Nona Ega! Apa maksudnya dari semua ini?! Saya tidak merasa melakukan salah apa-apa, Tuan Raka!" protes Suster Ratna dengan nada suara bergetar, mencoba untuk mencari pembelaan dari majikan utamanya.
Raka menatap Regatta dengan tatapan meminta penjelasan, karena dia tidak merasa ada masalah dengan gaya mengasuh Suster Ratna yang sudah sempurna.
"Ega, Ratna sudah bekerja denganku selama tiga tahun. Dia tidak pernah melakukan kesalahan dalam kepengurusan si Triplets, kenapa tiba-tiba ingin memecatnya?" tanya Raka.
Regatta mengeluarkan iPad-nya dari dalam tas, mengutak-atik sebentar, lalu melemparkannya ke atas meja.
Brak!
Di sana tertera sebuah salinan rekening koran digital milik Ratna.
"Bekerja selama tiga tahun bukanlah sebuah jaminan dia setia, Mas Raka. Silahkan Mas lihat sendiri semua bukti-bukti tersebut!" ujar Regatta dengan nada datar nan dingin.
"Tiga har yang lalu, ada sebuah aliran dana sebesar 300 juta rupiah masuk ke dalam rekening pribadi Suster Ratna dari sebuah perusahaan 'Cangkang' milik Dwipangga Adinata. Hasil dari laporan diam-diam dia kepada mereka, tentang jadwal harian Triple D dan memastikan Mas Raka tetap dalam kondisi yang tertekan akibat kehancuran. Apakah Mas Raka tetap akan mempertahankan 'Mata-mata' licik seperti dia di sekitar Triple D?" paparnya dengan ekspresi datar.
Wajah Suster Ratna langsung pucat-pasi seperti mayat, tubuhnya langsung bergetar ketakutan dengan hebat.
Setelah membaca semua informasi yang dia dapat dari Regatta, aura membunuh pekat langsung keluar dari dalam tubuh Raka Adinata.
Matanya menatap tajam ke arah si pengasuh, yang ternyata seorang 'musuh dalam selimut' itu.
"Keluar dari sini sekarang, sebelum saya memanggil polisi untuk menyeretmu ke dalam penjara, dengan dugaan 'mata-mata' yang membahayakan anak-anak saya!" ujar Raka dengan nada rendah berbahaya.
Regatta menatap bingung pria yang telah sah menjadi suaminya itu.
"Kenapa dilepaskan begitu saja, Mas? Bukankah dia seharusnya dimasukkan ke dalam penjara?" tanyanya datar.
"Aku ampuni dia sekarang, namun jika dia berani menyentuh kehidupanku lagi, maka dia pantas ... Mati!" jawab Raka dengan wajah mengeras.
"Kau dengar itu, Ratna? Pergilah! Jangan sampai saya berubah pikiran!" ujar Regatta dengan nada tegas.
Tanpa menunggu aba-aba, Suster Ratna langsung keluar dari dalam Penthouse itu, meninggalkan semua barang-barangnya, hanya membawa dompet dan ponselnya saja.
Melihat hal tersebut, Regatta langsung mengetikkan sesuatu di atas iPad-nya.
"Lodra! Awasi pergerakan wanita itu, jangan sampai dia berani menyentuh ketiga anak-anak sambung saya, ataupun mendekat ke wilayah Apartemen ini! Jika dia berulah, habisi saja!"
"Dimengerti, Nona!"
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Setelah badai kecil di ruang tamu selesai, Raka membawa Ega masuk ke dalam kamar utama.
Kamar itu ternyata sangat luas, dengan sebuah dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah gemerlapnya pemandangan Ibukota Jakarta.
Dekorasinya terlihat sederhana, namun terasa nyaman, dengan sebuah tempat tidur mahal berukuran 'King Size' yang berada di tengah-tengah ruangan.
Walk in closet yang besar, serta kamar mandi dalam yang sangat luas, membuat Regatta berdecak kagum.
Padahal dia mempunyai sebuah Villa yang sangat luas di daerah Puncak, namun masih terkagum-kagum melihat kamar pria itu.
"Siapa yang memasak dan membersihkan Penthouse ini, Mas?" tanya Ega tiba-tiba.
"Ada dua pelayan harian yang akan datang setiap pagi sampai sore, lalu mereka pulang saat selesai. Dan Ratna yang akan menghangatkan makanan-makanan itu saat aku pulang," jawab Raka.
"Mulai besok, mereka tidak perlu datang lagi, Mas. Aku akan membawa dua orang pelayan untuk bersih-bersih, dan soal memasak, aku yang akan memasak makanan kalian," ujar Ega dengan nada santai.
"Baiklah, aku akan urus semuanya. Mulai besok, kamulah 'Ratu-nya' di sini. Keamanan anak-anak akan aku serahkan semuanya kepadamu. Mereka sudah mulai masuk 'Kindergarden' Internasional di dekat sini besok, aku harap kamu bisa mengurus mereka dengan baik," sahut Raka.
"Baik, Mas. Aku akan mengurus semuanya."
Raka melepas jas putihnya, menyisakan kemeja hitam yang kancing atasnya sudah terbuka. Lalu dia berbalik menatap Istri kontraknya dengan wajah lelah.
"Satu kamar dan satu tempat tidur, sesuai dengan kesepakatan kita untuk mengelabui mata-mata kedua paman saya, yang mungkin saja mengawasi dari luar sana," ujar Raka dengan nada yang kembali dingin dan formal.
Regatta tidak menjawabnya, dia hanya berjalan menuju tempat tidur. Lalu dia mengambil sebuah guling besar, dan meletakkannya di tengah-tengah tempat tidur itu, membagi menjadi dua area yang sama luas.
"Ini adalah pembatas 'suci' antara kita, Tuan Raka Adinata," ujar Ega dengan nada dingin, sambil menepuk guling tersebut.
"Perjanjian nomor tiga, tidak ada kontak fisik dan hubungan intim. Jika Anda melewati batas suci ini dengan sengaja atau tidak, maka jangan salahkan saya, jika tubuh Anda itu akan merasakan kerasnya lantai dengan sekali tendang," lanjutnya dengan nada peringatan yang tegas.
Raka menatap guling itu, lalu beralih ke wajah cantik nan dingin milik Regatta Aulia.
Tawa hambar pun langsung keluar dari dalam tenggorokannya.
"Hahahaha! Kamu benar-benar wanita yang sangat unik, Regatta ..."
"Kamu tenang saja, saya terlalu sibuk untuk memikirkan cara Dwipangga dan Leonard besok pagi, daripada memikirkan hal-hal macam itu," ujarnya memastikan janji yang dibuatnya.
"Baguslah! Silahkan Anda membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu baru saya ..." ujar Ega dengan nada santai.
"Oke,"
Raka berjalan menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya, meninggalkan Regatta yang kini sedang membuka laptop khususnya, yang terhubung dengan jaringan satelit mandiri milik Regall Security.
Jemari lentiknya menari indah di atas keyboard, memantau pergerakan Bursa Efek Jakarta pra-pembukaan untuk esok hari.
"Besok adalah 'ujian' ringan untuk kesehatan jantungmu, Om Dwipangga ... mari kita lihat, seberapa kuatkah jantungmu itu menahan kejutan indah dariku," gumam Ega sambil menyeringai kejam.
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
Keesokan harinya, tepatnya hari Senin pagi, pukul 08.55 WIB, suasana di dalam kantor pusat Adinata Group yang setengah lumpuh, terasa sangat mencekam.
Raka Adinata duduk di dalam ruangannya yang sunyi, menatap layar monitor yang menampilkan grafik pergerakan saham perusahaannya yang terus merosot tajam.
Para Investor asing terlihat sedang 'berlomba' untuk menarik modal mereka dari sana, akibat rumor kebangkrutan yang disebarkan oleh Dwipangga dan Leonard Adinata.
Sementara itu di Kediaman Utama Keluarga Besar Adinata, Dwipangga sedang menyesap cerutu mahalnya dengan senyum kemenangan.
"Hahahaha! Sembilan belas menit lagi ... sembilan belas menit lagi, Raka! Semua saham perusahaan utama milikmu akan hangus dipukul rata oleh pasar sekuritas! Habislah riwayatmu, anak ingusan! Hahahaha!"
Dan saat tepat pukul 09.00 WIB, pasar saham resmi dibuka.
Grafik saham Adinata Group terlihat terjun bebas dalam tiga menit pertama, namun tepat pada menit kelima, sebuah gelombang aneh terjadi~
BIP! BIP! BIP!
Layar monitor milik Raka, Dwipangga, dan seluruh broker di dalam bursa efek serentak berkedip merah.
Dua akun investor institusi raksasa dengan status 'ANONIM', tiba-tiba masuk ke dalam pasar bursa.
Tanpa aba-aba, mereka langsung melakukan aksi beli bersih (Net Buy) dalam jumlah yang tidak masuk akal.
... 100 Miliar.
... 300 Miliar.
... 500 Miliar!
Hasilnya?
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh lot saham Adinata Group yang dilepas oleh para 'Spekulan' langsung disapu bersih oleh pemilik 'Dana Misterius' itu.
Grafik yang tadinya menukik tajam ke bawah, langsung melesat dengan posisi vertikal ke atas, langsung memicu 'Auto Rejection Atas'(ARA), sebuah kondisi di mana saham tersebut naik hingga batas tertinggi hanya dalam satu hari.
PRANG!
"Apa-apaan ini?!" teriak Dwipangga sambil berdiri dari kursinya, membuat cangkir kopinya tersenggol dan jatuh ke atas lantai.
"Siapa badjingan Anonim yang berani menyuntikkan dana sebanyak setengah Triliun ini?! Cari tahu sekarang!!!" lanjutnya dengan wajah murka kepada tangan kanannya.
"Baik, Tuan!"
Sementara itu dilokasi Raka Adinata berada, dia terpaku menatap layar.
Matanya terbeliak lebar, ketika melihat keajaiban tersebut.
Pondasi perusahaannya yang hampir runtuh tadi pagi, kembali kokoh dalam sekejap, bahkan nilai harga jual sahamnya langsung melonjak lebih tinggi dari minggu lalu.
Raka segera meraih ponselnya, dia hendak menghubungi Direktur pasar bursa, namun sebuah pesan 'WhatsApp' dar Regatta masuk terlebih dahulu.
Gadis Aneh: "Pondasi pertamamu sudah aman, Mas. Silahkan rapikan barisan karyawanmu dari dalam. Untuk urusan luar, percayakan kepadaku. Anggap saja, ini adalah hadiah pernikahan dari rekan bisnismu yang cantik ini. Jangan terlalu banyak berpikir, nanti lambungmu kumat karena stres."
Setelah membaca pesan tersebut, Raka langsung meletakkan ponselnya diatas meja dengan perlahan.
Dia bersandar di kursi kebesarannya sambil menatap langit-langit ruangannya dengan perasaan yang campur aduk.
Ada rasa syok, tidak percaya, dan ... takjub.
Dia menyadari bahwa gadis yang dia nikahi kemarin, menyimpan sebuah 'Misteri' besar dibalik statusnya yang hanya seorang yatim-piatu.
"Regatta Aulia ... Siapa kamu sebenarnya ..??"
...^^^🍃☀†๏ вэ ¢๏и†เиµэ∂☀🍃^^^...