"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Seribu Pedang dan Tempaan Tulang Dewa
Cahaya fajar menyingsing di ufuk timur, membelah kabut tebal yang menyelimuti perbatasan wilayah Jombang.
Ling Chen berjalan menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui, menuju ke arah utara di mana pegunungan menjulang tinggi dengan aura yang mencekam.
Tempat itu dikenal sebagai Hutan Seribu Pedang, sebuah wilayah terlarang yang melegenda.
Konon, ribuan pedang kuno tertancap di tanahnya, memancarkan energi pedang yang sanggup mencabik-cabik jiwa kultivator biasa yang tidak waspada.
Bagi penduduk lokal, hutan ini adalah kutukan dan kuburan tak bertanda.
Namun bagi Ling Chen, ini adalah tanah suci yang paling sempurna untuk memulihkan Dantian-nya yang baru saja bangkit dari mati suri.
Setiap langkah yang diambil Ling Chen terasa semakin berat seiring kedalamannya memasuki jantung hutan.
Tekanan udara di sini berbeda; oksigen terasa tajam, seolah-olah setiap partikel udara telah ditempa menjadi ribuan mata pisau mikroskopis oleh kehendak alam.
Pepohonan di sini tidak memiliki daun hijau yang rimbun, melainkan dahan-dahan perak yang kaku, menyerupai jajaran senjata yang siap menghujam langit.
Ling Chen memejamkan mata sejenak, membiarkan indra kaisarnya menyebar perlahan ke sekeliling. Ia bisa merasakan sisa-sisa kemarahan, kesedihan, dan ambisi dari para pendekar yang tewas ribuan tahun lalu di tempat ini.
"Energi pedang yang cukup murni," gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam desiran angin yang berbunyi seperti logam yang beradu.
"Meskipun kualitasnya telah memudar dimakan zaman, tempat ini masih menyimpan esensi dari perang besar masa lalu. Cukup untuk menjadi tungku pembakar bagi tubuh fana ini."
Ia memilih sebuah area terbuka di tengah hutan, di bawah sebuah pohon raksasa yang batangnya telah membatu menjadi mineral hitam mengkilap.
Pedang hitam karatan yang ia bawa diletakkan secara melintang di atas pangkuannya saat ia duduk bersila.
Kini, tugas utamanya adalah stabilisasi. Meskipun jiwa kaisarnya telah terbangun sepenuhnya, tubuh fisik Ling Chen masihlah tubuh seorang pemuda yang selama ini kekurangan gizi dan sumber daya.
Untuk menampung kekuatan "Kaisar Pedang Surgawi", ia harus menghancurkan fondasi lamanya dan membangun kembali segalanya dari nol.
Ling Chen mulai mengatur napasnya dengan ritme yang sangat spesifik.
Di dalam pikirannya, ia memanggil kembali "Seni Pernapasan Kekosongan Abadi", teknik kultivasi tingkat tinggi yang dulu ia ciptakan di puncak kejayaan semesta.
Seketika, reaksi alam di sekelilingnya menjadi liar. Pusaran energi pedang yang biasanya menyerang siapapun yang mendekat, tiba-tiba menjadi jinak di hadapan Ling Chen.
Energi-energi itu mulai berputar di sekeliling tubuhnya, membentuk tornado perak yang mengerikan. Energi tersebut tertarik masuk melalui setiap pori-pori kulitnya, mengalir masuk seperti air bah yang menemukan muaranya.
Rasa sakit yang menghantamnya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ribuan "jarum" energi yang panas membara menusuk ke dalam pembuluh darahnya secara bersamaan, mengikis setiap kotoran dan sumbatan yang ada.
Namun, Ling Chen tidak bergeming. Alisnya bahkan tidak berkerut. Ia adalah pria yang pernah menempa jiwanya di dalam api neraka semesta; rasa sakit fisik ini baginya hanyalah sebuah "pijatan" kecil menuju keagungan.
Krak! Krak!
Suara tulang berderak keras bergema di tengah kesunyian hutan. Di dalam tubuhnya, tulang-tulang yang tadinya rapuh dan tipis mulai retak secara sistematis, hanya untuk diselimuti oleh lapisan cahaya emas redup dan menyatu kembali dengan kepadatan yang menyerupai baja surgawi. Inilah proses pembentukan Tulang Dewa Pedang.
Tanpa struktur tulang ini, tubuh fananya akan hancur meledak saat ia mengeluarkan teknik pedang tingkat tinggi di masa depan.
Setelah berjam-jam berada dalam kondisi meditatif yang dalam, indra tajam Ling Chen menangkap sebuah gangguan di kejauhan.
Sekitar lima ratus meter dari posisinya, ada getaran energi kehidupan yang kacau dan hampir padam.
Ling Chen membuka matanya. Kilatan biru safir di pupilnya kini jauh lebih stabil, dalam, dan mengintimidasi. Ia berdiri perlahan, merasakan tubuhnya kini berkali-kali lipat lebih ringan namun berisi tenaga ledak yang luar biasa.
Ia melangkah dengan tenang menuju sumber getaran tersebut. Di sebuah celah batu besar yang tersembunyi di balik semak berduri, ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Seekor Serigala Perak Langit—binatang buas tingkat tinggi yang jarang terlihat—tergeletak lemah dengan bekas luka bakar hitam yang mengerikan di sekujur tubuhnya.
Di sampingnya, terdapat sebutir telur berukuran besar yang memancarkan cahaya ungu mistis.
Serigala itu tampaknya telah bertarung habis-habisan melawan musuh alami yang menggunakan elemen api, demi melindungi telur yang bukan miliknya.
Sebuah tindakan pengorbanan yang jarang terjadi di dunia binatang yang kejam.
Melihat Ling Chen mendekat, serigala perak itu mencoba menggeram, menunjukkan sisa-sisa taringnya yang patah.
Matanya menunjukkan ketakutan, namun juga tekad untuk mati demi melindungi telur tersebut.
Ling Chen berhenti tepat di depan binatang itu. Ia tidak memancarkan aura membunuh. Sebaliknya, ia melepaskan sedikit kehangatan dari energi pedang primordialnya.
"Jangan takut, makhluk kecil. Aku tidak memiliki kepentingan pada telur itu. Namun, aku sangat menghargai keberanianmu yang melampaui logika spesiesmu."
Ia mengulurkan tangan kanannya. Cahaya biru lembut mengalir dari telapak tangannya, menyentuh luka-luka sang serigala.
Dengan kecepatan yang mustahil bagi logika medis biasa, pendarahan itu berhenti. Kulit yang menghitam karena terbakar mulai rontok, digantikan oleh bulu perak baru yang mengkilap.
Serigala itu terpaku. Ia bisa merasakan aura yang terpancar dari pemuda ini jauh lebih agung dan menakutkan daripada penguasa hutan manapun yang pernah ia temui seumur hidupnya.
Dengan gemetar, serigala perak itu menundukkan kepalanya dalam-dalam ke tanah—sebuah sumpah kesetiaan abadi kepada sang kaisar.
"Tetaplah di sini dan jaga telur itu," perintah Ling Chen pelan.
"Hutan ini akan segera menjadi ramai. Kehadiranku telah meninggalkan jejak energi yang pasti akan memancing anjing-anjing pelacak itu ke sini."
Benar saja, jauh di kaki gunung, puluhan kultivator berpakaian putih dengan bordir awan biru sedang bergerak cepat menembus kabut.
Mereka dipimpin oleh seorang pria tua berambut putih yang matanya memancarkan api kemarahan yang meluap-luap. Ia adalah Grand Elder Sekte Awan Biru, guru dari Penatua Wu yang sebelumnya dikalahkan Ling Chen.
"Cari sampah kecil itu! Aku tidak peduli jika Hutan Seribu Pedang ini berbahaya. Aku ingin kepalanya digantung di gerbang sekte kita sebelum matahari terbenam!" raung sang Grand Elder.
Mereka tidak menyadari satu hal krusial: di dalam kegelapan hutan yang tajam, Ling Chen tidak sedang bersembunyi karena takut. Ia sedang berdiri tegak, membelai bilah pedang hitamnya yang kini telah "terbangun" sepenuhnya.
"Dengar itu, kawan lama?" Ling Chen tersenyum tipis ke arah pedangnya.
"Mereka datang untuk mengantarkan nyawa. Mari kita tunjukkan pada mereka, kenapa pedang ini pernah disebut sebagai 'Penghancur Langit'."
Malam akan segera tiba, dan Hutan Seribu Pedang akan sekali lagi meminum darah—kali ini, darah dari mereka yang berani menantang kebangkitan sang Kaisar.
...****************...