Bagaimana rasanya jika di hari pernikahan, ternyata pria yang kamu nikahi bukanlah pria yang kamu cintai. Hal ini terjadi pada Rania, gadis malang yang ternyata menikahi Arman, adik dari Adam pria yang dia cintai. Dan kemalangan tak berhenti disana, bahkan setelah pernikahan ternyata Arman memilih pergi meninggalkannya untuk pergi bersama wanita yang dia cintai. Namun na'as, pesawat yang ditumpangi mereka berdua mengalami kecelakaan dan seluruh penumpang dikabarkan meninggal dunia.
Rasa kecewa Rania seketika berubah menjadi duka. Status seorang istri berubah menjadi janda hanya dalam waktu sehari. Namun, setelah semua kejadian itu tidak mudah bagi Rania untuk meninggalkan rumah keluarga Pratama. Karena ibu mertuanya ingin Rania melahirkan keturunan untuk keluarga mereka.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Dan bagaimana kehidupan Rania di rumah keluarga Pratama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Masa idah Rania dimulai, memaksanya untuk menjalani kehidupan yang terisolasi di dalam rumah mewah keluarga Pratama. Rania resmi berstatus janda, tetapi dia juga tinggal di rumah yang sama dengan calon suaminya, Adam. Tiga bulan itu terasa seperti ujian yang panjang bagi keduanya.
Adam sangat menjaga jarak. Dia menghormati Rania untuk menyelesaikan masa idah sesuai ketentuan syariat, bahkan melebihi yang Rania harapkan. Adam tidak pernah sekali pun masuk ke area kamar Rania, atau mengajak Rania berbicara secara pribadi, kecuali jika Ibunya yang memaksanya hadir dalam pembicaraan.
Di hadapan Bu Sofia, Adam dan Rania selalu bersikap profesional dan sopan, membahas rencana pernikahan yang akan segera diadakan, seolah-olah mereka adalah pasangan yang telah lama bertunangan dan tidak terbebani oleh tragedi.
"Rania, kamu harus mulai memilih gaun. Adam, kamu harus mulai memikirkan daftar siapa saja tamu yang akan di undang." Bu Sofia selalu membahas rencana pernikahan mereka dengan antusias, seakan ingin menghapus semua jejak duka yang baru saja menyelimuti rumah itu.
Rania merasa tidak nyaman dengan antusiasme yang berlebihan itu. Ia merasa seperti boneka yang digerakkan untuk melayani agenda keluarga Pratama. Namun, di saat yang sama, dia sangat berterima kasih kepada Adam yang selalu memberikan jeda dan kesempatan baginya untuk bernapas.
Suatu malam, Rania merasa sangat sesak. Bayangan Arman yang kabur, detik-detik saat ia tahu ia menikahi orang yang salah, dan kemudian kabar kecelakaan itu, kembali menghantuinya. Dia lalu memutuskan untuk turun ke dapur mencari air hangat.
Di sana, Rania menemukan Adam yang sedang berdiri di depan jendela kaca besar, memandangi taman belakang yang gelap. Di tangannya ada secangkir kopi, dan dia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Adam menoleh saat mendengar langkah kaki Rania. Keheningan yang canggung menyelimuti mereka.
"Belum tidur, Rania?" tanya Adam, suaranya tenang, tanpa nada menuduh.
"Belum, Mas. Aku... hanya butuh udara segar," jawab Rania pelan.
Adam mengangguk, lalu ia menunjuk ke arah teko. "Ada teh herbal. Buatlah untukmu. Kamu butuh istirahat."
Rania mendekati teko dan mulai menyeduh teh.
"Aku tahu ini sulit," kata Adam tiba-tiba, memecah keheningan. "Menikah dua kali dalam waktu singkat, dengan dua saudara, dan harus melalui masa berkabung yang sangat singkat."
Rania menghela napas. "Lebih sulit karena aku merasa tidak berhak berduka atas kepergian Arman, tapi juga tidak berhak bahagia atas pernikahan ini," ungkapnya jujur. "Kami... kami bahkan tidak sempat berbicara dengan baik sebelum dia pergi."
Adam berbalik, menyandarkan punggungnya ke meja dapur, menatap Rania lekat-lekat. "Arman memang begitu. Dia selalu membuat keputusan impulsif dan tidak peduli pada konsekuensinya. Aku minta maaf atas apa yang Ibu lakukan, dan juga atas apa yang Arman lakukan."
"Mas Adam tidak perlu meminta maaf," kata Rania, memutar cangkirnya. "Mas Adam justru yang paling dirugikan. Mas Adam kehilangan calon istri Mas Adam, dan sekarang harus menikahi janda adik Mas Adam. Aku yang seharusnya minta maaf."
"Jangan bicara begitu," potong Adam cepat. "Kamu tidak pernah bersalah dalam hal ini. Kamu adalah korban. Dan seperti yang aku bilang, aku menikahi kamu karena memang kamu adalah wanita yang aku pilih sejak awal. Kita hanya menempuh jalan yang berliku."
Adam memandangnya dengan tatapan yang lebih hangat dari biasanya. "Setelah tiga bulan ini berakhir, dan kita menikah, aku janji, kita akan memulai lembaran baru. Kita akan melupakan bahwa kamu pernah menikah dengan Arman. Kita hanya perlu berpura-pura di hadapan Ibu dan orang-orang bahwa semuanya berjalan sesuai rencana."
Rania merasa dadanya menghangat. Kata-kata Adam terasa menenangkan. Adam menawarkan ikatan palsu di mata publik, tetapi menawarkan kejujuran dan ketulusan di mata mereka berdua.
"Terima kasih, Mas Adam," kata Rania, akhirnya tersenyum tipis. "Aku akan berusaha dengan baik.
"Tidurlah, kamu harus banyak istirahat untuk menghadapi berbagai masalah di kedepannya nanti."
"Iya, terima kasih. " Ana meletakkan cangkir tehnya dan segera berbalik menuju kamarnya, dam sebelum menaiki anak tangga dia kembali berbalik dan menatap Adam.
"Terima kasih, mas. " ucapnya lagi sambil memegangi dadanya, dia merasakan jantungnya mau copot karena tidak terjs berdetak kencang.
Adam hanya membalasnya dengan sebuah senyuman dan anggukan kepala.
Minggu-minggu berlalu. Kehadiran Adam tidak lagi terasa seperti ancaman atau sumber kecanggungan yang mematikan. Mereka mulai saling bertukar pikiran tentang hal-hal kecil, dari buku yang mereka baca, hingga rencana bisnis Adam. Percakapan mereka singkat, tetapi penuh makna, membangun sebuah ikatan yang tak kasat mata diantara mereka berdua.
Bu Sofia semakin bersemangat. Dia mengatur acara pernikahan dengan efisien dan tanpa kompromi. Bahkan dia juga telah memilih gaun pengantin mewah untuk Rania, memesan katering terbaik, dan mengirim undangan terbatas kepada kerabat dekat, semuanya atas nama "Pernikahan Adam Pratama dan Rania."
Bu Sofia bahkan menyembunyikan kabar bahwa Rania telah menikah dengan Arman. Di luar hanya mengatakan bahwa pernikahan itu tertunda karena tragedi kecelakaan pesawat, dan kini Adam mengambil alih. Untung saja waktu itu, Arman dan Rania hanya menikah secara Agama dan belum mendaftarkan, sehingga akan lebih mudah untuk baginya untuk mengurus perceraian.
Rania dan Adam harus mengikuti sesi pemotretan pre-wedding singkat di taman belakang rumah, hanya untuk memenuhi tuntutan sosial. Di depan kamera, mereka harus berakting sebagai pasangan yang bahagia dan saling mencintai.
Saat fotografer menyuruh Adam memegang pinggang Rania, tangan Adam terasa ragu. Ini adalah sentuhan intim pertama mereka sejak pertama kali saling mengenal. Rania bisa merasakan kehangatan dan ketegangan dari sentuhan Adam, sangat lembut
"Maaf," bisik Adam.
"Tidak apa-apa, Mas," balas Rania, menatap matanya. Di mata Adam, Rania melihat kejujuran, dan kehangatan, bukan nafsu yang dia lihat seperti di mata Arman.
"Hitungan mundurnya sudah hampir selesai," kata Adam. "Satu minggu lagi, kita akan menikah."
"Aku tahu," jawab Rania. "Aku sudah siap menjadi istrimu, Mas Adam."
Rania benar-benar siap. Tiga bulan yang penuh dengan kesendirian dan refleksi telah menyadarkannya dari lamunannya. Mungkin sudah bisa jatuh cinta pada Adam dalam waktu sesingkat ini, tetapi ia sangat menghormati pria itu. Adam menawarkan dirinya, tidak hanya sebag lai suami, tetapi sebagai pelindung, tempat bersandar, dan jalan keluar dari situasi yang akan mereka hadapi Kedepannya bersama.
Pernikahan ini mungkin berawal dari kebohongan dan tragedi, tetapi Rania berharap, di balik nama Adam Pratama, dia akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Rania sudah siap menjadi Nyonya Adam Pratama, menggantikan peran yang seharusnya ia mainkan sejak awal.