[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Jam 9 pagi.
"Selamat datang, CEO," Direktur Katrina menyapa CEO yang baru datang itu. Tubuhnya tinggi dan tegap. Tatapannya dingin dan tenang.
"Terima kasih, Direktur Katrina." CEO itu memandang sekeliling. Semua karyawan rapi dan tertib.
Kami melangkahkan kaki ke ruang direktur, sesampainya di sana, Direktur Katrina menunjukkan dokumen-dokumen yang telah disusun rapi.
"Sama seperti sebelumnya, Direktur Katrina, hanya ada pujian dariku. Dan tahun ini semakin bagus. Terus tingkatkan."
"Terima kasih, CEO, tapi aku hanya ingin mengatakan, ini semua juga berkat sekretaris baru saya. Dia baru bekerja setahun terakhir."
CEO beralih memandangku.
"Siapa namamu?" dia bertanya.
"Diana Xylaria, Tuan," aku menjawab, sambil membungkukkan tubuhku.
"Tak perlu seformal itu, Diana. Namaku Rylan Axelion, CEO Lion Group dari kantor pusat." Dia mengulurkan tangannya, aku menyambutnya. Jabat tangan resmi.
CEO Rylan lanjut memeriksa berkas-berkas penting. Wajahnya tampak serius. Selama jam-jam berikutnya, dia memeriksa setiap sudut perusahaan, tak ada satu pun yang terlewatkan olehnya.
Matanya awas memperhatikan pekerjaan setiap orang. Asistennya setia berjalan di belakangnya. Langkahnya ringan dan nyaris tak menimbulkan suara, membuat beberapa karyawan gugup dan menjatuhkan kertas atau pulpen.
Setelah puas berkeliling, dia pergi ke ruang rapat dan duduk.
"Direktur Katrina, aku ingin melihat semua informasi proyek yang bekerja sama dengan kita. Vino, buatkan aku secangkir espresso."
"Baik Tuan, siap."
"Sebentar, CEO." Direktur Katrina berdiri, lalu berbisik kepadaku. "Diana, rangkum semua informasi proyek yang bekerja sama dengan kita. Rapikan sedikit ya."
Aku mengangguk, segera pergi ke ruanganku. Mengambil semua informasi proyek, lalu menjadikannya satu untuk diketik ulang.
Sekitar 15 menit kemudian, pekerjaanku selesai. Aku memberikan dokumen itu pada Direktur Katrina. Dia tersenyum padaku. Tanda terima kasih.
"Bagus, Direktur Katrina. Kau mengambil proyek-proyek yang menguntungkan perusahaan. Baiklah. Semua sudah selesai di sini. Bagaimana jika aku mentraktir kalian makan siang di luar?"
"Oh, tidak perlu, terima kasih, CEO." Direktur Katrina menolak secara halus.
"Vino, siapkan mobil. Anggap saja ini tanda terima kasihku karena telah menjalankan perusahaan dengan baik. Kau telah menolak berkali-kali sebelumnya."
CEO Rylan melangkah keluar ruang rapat. Dia berjalan menuju mobilnya. Direktur Katrina dan aku mengikutinya dari belakang.
Kami pergi menuju satu restoran bintang lima di pusat kota. Ketika melihat menunya, jantungku serasa ingin copot. Mahal sekali!
"Pesan saja apa yang kalian mau. Jangan sungkan," ucap CEO Rylan.
Tanganku sedikit bergetar menelusuri menu. Mataku beralih cepat, mencari harga menu yang paling murah.
Akhirnya sambil menunggu makanan yang datang, kami berbincang-bincang sebentar. Dari perbincangan ini, aku tahu sekilas masa lalu Direktur Katrina.
Suami tercintanya meninggal di usia pernikahan mereka yang baru 8 tahun karena penyakit jantung, dan Direktur Katrina masih tidak bisa move on.
Yah, kurasa dia tak akan pernah bisa move on sampai kapan pun.
"Bagaimana denganmu, Diana?" CEO Rylan bertanya padaku. Aku menatapnya bingung.
"Ya, Diana. Aku belum pernah mendengar cerita masa lalumu sejak kau bekerja di perusahaan." Direktur Katrina menimpali.
"A-aku?" aku sedikit gugup. Bagaimana ya, menceritakannya?
"Aku yatim piatu sejak kecil, tinggal di panti asuhan, masuk sekolah asrama, dan setelah lulus, aku melamar kerja di perusahaan, dan langsung diterima," aku menjelaskan singkat.
"Astaga, kasihan sekali, Diana. Aku tak pernah tahu kalau kau tak pernah melihat orang tuamu sejak kecil. Dibandingkan kisah hidupmu, aku tak ada apa-apanya," Direktur Katrina tertawa kecil.
"Bukan apa-apa, Direktur Katrina. Bagiku yang penting adalah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya saja..." Aku menatap meja, tak bisa berkata apa-apa lagi.
Selama ini aku juga tak pernah memikirkan betapa menyedihkan hidupku. Seperti apa wajah orang tuaku dulu? Kenapa aku bisa berakhir di panti asuhan?
Jika aku bertanya pada kepala panti asuhan, apa dia masih akan ingat? Itu sudah kisah 20 tahun yang lalu.
Tak ada apa pun yang ditinggalkan oleh keluargaku juga. Apa aku masih punya keluarga lain? Mungkin paman atau bibi gitu?
Aduh. Kepalaku mendadak berdenyut. Apa itu barusan? Entahlah. Lupakan. Aku juga tak ingin memikirkannya lagi. Mungkin lain kali saja.
Memikirkan masa lalu yang menyedihkan hanya akan membuatku tenggelam semakin dalam ke perasaanku.
Lebih baik aku berfokus pada masa depan. Apa yang akan kukerjakan, apa langkahku selanjutnya, itu lebih penting.
Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, sampai Direktur Katrina bertanya padaku.
"Diana?"
"Maaf Direktur Katrina, aku baru saja memikirkan sesuatu yang menyenangkan tadi. Ada apa?"
"Oh, lupakan saja, bukan apa-apa. Aku hanya bertanya apa hidupmu sebelum kau datang ke perusahaan menyenangkan. Itu saja."
"Kalau bisa dikatakan sih... Hmm... Lumayan menyenangkan." Aku bahkan tak yakin dengan jawabanku sendiri. Tapi aku memasang wajah meyakinkan, agar tak ditanyai lebih lanjut.
"Bagaimana perasaanmu setelah bekerja di perusahaan?" CEO Rylan bertanya serius padaku.
"Aku senang bekerja di sini. Rekan kerjaku semuanya baik. Aku suka pekerjaanku, dan aku punya seorang atasan yang masuk akal dan baik hati." Kali ini aku mengatakannya dengan jujur, dari dalam lubuk hatiku.
Direktur Katrina tertawa kecil. "Bisa saja kamu, Diana."
"Apa kau mau dipromosikan, Diana?"
"Hah?" aku sedikit terkejut. Apa tadi? Aku tak mendengarnya dengan jelas.
"Apa kau mau dipromosikan, Diana?" CEO Rylan mengulangi pertanyaannya. "Ada posisi kosong sebagai Wakil Direktur di kantor pusat."
"Maaf, CEO, aku tak bermaksud menolakmu. Tapi aku puas dengan pekerjaanku sekarang."
"Memangnya apa yang terjadi dengan wakil direktur sebelumnya, CEO?" Direktur Katrina bertanya, penasaran.
"Panjang ceritanya. Tapi intinya dia tidak jujur." CEO Rylan menghela napasnya. "Sejujurnya aku juga sudah memikirkan daftar kandidat untuk posisi itu, dari karyawan di semua cabang." Dia tampak berpikir.
"Lalu hasilnya?" Direktur Katrina bertanya lagi.
"Belum dapat. Tapi itu nanti saja. Makanan kita sudah datang. Alangkah baiknya kita makan siang lebih dulu."
Aku menatap makanan-makanan yang tersaji di depanku. Sungguh, dari segi aroma dan art style, ini memang makanan bintang lima.
Aku mengambil bagianku dan mulai makan. Satu sendok pertama masuk dalam mulutku, dan rasanya aku seperti mencicipi arak surgawi!
...----------------...
*Arak surgawi memaksudkan bahwa makanan tersebut sangat enak sampai-sampai tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
...----------------...
Rasa makanan ini sungguh spesial, memang ini adalah makanan orang kaya. Rasanya asin, gurih, pedas, semua tercampur dengan perbandingan yang pas, tidak menghilangkan rasa asli dari makanannya.
"Ingat table manner, Diana." Direktur Katrina berbisik padaku.
Astaga. Saking menikmati makanannya, aku lupa untuk bersikap sopan. Aku baru ingat kalau ini bukan di rumahku.
Aku memperbaiki posisi tanganku, menegakkan tubuhku dan lanjut menikmati makanan yang terhidang.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖