Maliq kumbara, adalah putra tertua dari Rubby dan Edra (Madu Pilihan Istriku).
Ia dengan segala pngorbanan dan kasih sayang kepada semua adiknya, hingga mengesampingkan keingingan pribadinya.
Mengemban tangung jawab dengan Empat orang adik, Maliq terkesan posesif, karena begitu menyayangi mereka. Meskipun begitu, kekompakan, kesolidan dan pengertian masing-masing.
Suatu ketika kekompakan mereka itu diuji dengan adanya masalah. Bram diputuskan oleh kekasihnya karena tak sabar menunggu urutan mereka menikah. Adi yang harus diam-diam menjalin hubungan dengan sekretarisnya. Bayu, meskipun Ia santai, namun tak dipungkiri, Ia pun ingin merasakan seperti sahabatnya yang lain, yang bebas tanpa terlalu banyak peraturan.
Isyana, bungsu yang merupakan satu-satunya wanita diantara mereka lah yang menjadi penentu segalanya. Dimana Maliq baru akan menikah dengan wanita yang mampu menjadi. Teman bagi Isyana dan mau dengan ikhlas membantu merawat kesayangan mereka.
Masalah demi masalah lain muncul seiring berjalanya waktu, kembali menguji kesabaran mereka. Bagaimana cara mereka menghadapi masalah itu bersama? Mampukah mereka mempertahankan keharmonisan yang mereka jaga utuh selama ini bahkan ditengah semua kondisi tersulit dalam hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung jawab
"Apa loe bilang? Siapa yang ngebully gue?" tanya Dhea, dengan wajah kesalnya.
"Tunggu aja, nanti kalau kamu masih ngerjain aku. Abis kamu sama Mas ku."
"Heh, anak manja. Dikit-dikit ngadu sama Mamasnya. Kenapa? Takut, sedih ngga punya temen?"
"Aku ngadu karna aku punya Empat orang Kakak yang sayang sama aku, Dhe. Manafa'atin aja kesayangan mereka itu. Ngga kayak kamu, cari perhatian dengan cara ngebully orang." balas Nana dengan nada tenang.
Dhea hanya bisa diam dengan perkata'an Nana, dan menghentikan sementara aksinya karna mendengar bel masuk sekolah.
Yang dikatakan Nana benar, Dhea adalah tukang bully disekolah, dan Nana adalah musuh terbesarnya disekolah, yang selalu membully Nana karena terlalu kaya, dan selalu punya sesuatu yang Riana tak bisa miliki.
Sementara itu, Bayu dikampusnya sedang asyik dengan mata kuliahnya.
"Bay..." tegur Renita.
"Apa'an lagi, Nit?"
"Cuek bener sama gue?"
"Males... Gara-gara lu kemaren, gue kehilangan jejak Nana. Dan akhirnya... Aaaah, males gue cerita. Udah sana. Kuliah yang bener, jangan gangguin gue." usir Bayu.
"Bay... Gue minta ma'af atas kejadian kemaren. Gue juga ngga sengaja, kan cuma pengen ramah sama loe." ucap Renita.
"Terus?" tanya Bayu.
"Ya, ngga papa. Cuma pengen akrab aja. Ngga boleh?"
"Engga, gue lagi menikmati masa jomblo gue, jadi jangan gangguin dulu. Ntar rencana gue berantakan."
"Ya Allah, Bayu.... Ngeselin emang." ujar Renita, yang kesal lalu meninggalkanya.
"Bodo.... Daripada gue jadi suka ama lu, buyar semua rencana kejombloan gue." gerutu Bayu, dengan memainkan Gawainya.
Bukan hanya karna keinginan, untuk Bayu mempertahankan kejombloanya. Alasanya adalah Ia tak ingin pacaran, Ia ingin menunggu jodoh yang datang dengan cara yang indah, dan mereka akan langsung menikah nantinya. Tapi, semua juga harus menunggu hingga Maliq terlebih dulu menikah, sebagai anak tertua.
Begitu juga Adi, Pria yang baik itu sebenarnya mempunyai gadis idaman. Yaitu Ayu, anak Winda, mantan sekretaris ayahnya. Dan sekarang, Ayu menjadi Asisten Adi untuk pelaksana'an yayasan yang semakin berkembang.
Mereka sering pergi bersama, tapi masih dalam diam untuk perasa'an, karna lebih mementingkan pekerja'an mereka untuk sa'at ini.
"Pak Adi, nanti ada pertemuan, dengan para donatur disebuah hotel bintang Lima." ucap Ayu.
"Hmm... Kamu ikut, kan?"
"Hah? Oke, saya akan ikut." jawab Ayu.
Pov Maliq.
Aku tiba dikantor, dengan semua sambutan dari para karyawan. Baik karyawan baru, maupun karyawan lama ayah.
Di usiaku yang sekarang, memang masih begitu berat mengemban beban mengurus perusaha'an sebesar ini, ketika teman yang lain sedang asyik dengan dunianya.
"Pak... Ini file yang harus diperiksa, dan nanti, ada rapat dengan kolega."
"Jam berapa?"
"Jam Dua siang." jawab Dini, Sang sekretaris.
"Undurkan, saya mau jemput Nana di Jam itu."
"Tapi, Pak."
"Kalu berat, majukan saja. Sekarang pun bisa. Asal tal telat menjemput Nana."
"Baik, Pak. Saya haturkan lagi jadwalnya."
Nana sebagai prioritasku sekarang. Entah kenapa, aku benar-benar tak bisa mengabaikanya, terlebih lagi jika muncul di ingatanku ketika Ibu menangis pilu dengan keada'an Nana ketika bayi.
Aku kadang menyesalkan kenapa aku harus mengucapkan Do'a itu. Yang justru membuatku begitu lembek padanya. Tapi, untung saja Nana tak pernah memanfa'atkan keada'an itu dengan berlebihan.
Aku bukan tak ingin memiliki kekasih. Pernah beberapa kali aku menjalin cinta dengan beberapa wanita, namun mereka selalu menitik beratkan Nana dihubungan kami, dengan berbagai alasan.
Entahlah, mungkin memang sulit mencari yang tulus padaku, serta bisa menjadi pembimbing yang dekat dengan Nana. Setidaknya, sosok seperti Ibu. Adakah yang seperti itu?.
miris.....😭😭😭
saling jaga , sayang , rukun dan berbakti kpd kedua orang tua nggak bertengkar berebut warisan
belum jadi istri saja hrs memprioritaskan dirinya dr pd keluarga mu
menikah itu bukan hanya menikahi kekasihmu saja tapi keluarganya juga