Askana sangat benci pada sosok pria yang sudah menodainya. Sampai pria bernama Rafan itu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, sayangnya Askana menolak karena terlalu benci.
Mampukah Rafan mengambil hati Askana? Dan Membuatnya jatuh cinta, akan seperti apa kisah cinta mereka yang diawali sebuah kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khoirun Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30.
Askana mengucapkan terimakasih kepada Pak Sanjaya yang sudah memberikannya oleh-oleh, tak lupa juga ucapan terima kasih kepada Safira sahabatnya yang sudah datang untuk menjenguknya. Askana membawa semua cemilan yang dibeli oleh Safira menuju dapur untuk ia simpan kedalam kulkas. Safira mengikutinya, ia terus menatap wajah sahabatnya.
"Kenapa sih kamu kemarin malam pulang gitu aja, An? Apalagi sampai tidak bilang kepadaku, kamu tahu gak, An! Aku sangat khawatir banget apalagi di saat ponsel kamu tidak dapat aku hubungi, sebenarnya apa masalah kamu sama Kak Rafan! Apakah kalian saling kenal sebelumnya?" ujar Safira dengan rasa penasarannya.
Askana terlihat diam ia belum juga menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Safira, ia begitu bingung harus menjawab apa atas setiap pertanyaan sahabatnya.
"Jawab dong, An! Kenapa kamu malah diam saja?"
Askana kembali terdiam dia memikirkan ide terlebih dahulu untuk beralasan menjawab pertanyaan dari Safira.
"Aku ga kenal sama Rafan, Fir! Aku hanya gak suka saja sama seorang pria yang selalu dikerumuni oleh para wanita, apalagi mereka cantik-cantik orangnya, kalau sudah punya pacar gimana nanti pacarnya kasian, pasti cowok kayak gitu gak akan setia."
Safira hanya tertawa dan tertawa saja mendengar alasan yang dilontarkan oleh Askana, ia merasa geli mendengar penjelasan sahabatnya itu, juga merasa aneh dengan sikap Askana ko bisa sejealous itu kepada Rafan yang dikerumuni banyak wanita.
"Ya jelas saja, Ana! Dia dikerumuni wanita, profesinyakan sebagai model jadi jelas saja banyak penggemar wanita yang ingin meminta foto bareng bersamanya!" ujar Safira sambil terus tertawa.
Askana merasa jengkel kepada Safira yang tak hentinya mentertawakannya, iapun meninggalkan Safira didapur yang sedang terus tertawa, untuk kembali kedalan rumah.
Safira memanggil-manggil nama Askana. "Iiih! Marah dia." Ujar Safira dengan terus tertawa iapun mengikutinya untuk masuk kembali kedalam rumah.
"Ada apa, Safira? Papah dengar dari tadi kamu hanya terus saja tertawa."
"Tidak ada apa-apa kok, Pah!" ujar Safira kembali tertawa sambil melirik kearah Askana.
Tiba-tiba saja ponsel milik Sanjaya berdering, ternyata sekretaris-nya yang menghubunginya, segera ia mengangkatnya, Sanjaya begitu fokus berbicara dengan sekretaris-nya lewat telepon, setelah selesai ia langsung berpamitan kepada bu Assyifa dan juga Askana untuk pamit pulang karena ada suatu pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Sanjaya mengajak putrinya untuk pulang, namun Safira menolaknya karena ia ingin menginap dirumah Askana.
"Tapikan kamu tidak membawa baju ganti, Fir!" ujar Sanjaya.
"Nanti Safira pinjam baju Askana, Pah! Kan badan Askana juga satu ukuran sama badan Fira."
Sanjaya hanya bisa mengalah dengan keinginan putrinya itu, ia mengatakan akan menyuruh sopir untuk kembali kerumah Askana mengantarkan baju ganti untuknya, Safira pun terlihat sangat senang sekali ia bisa diijinkan oleh papah-nya untuk menginap dirumah Askana.
"Maafkan atas sikap putriku bu Assyifa! Hari ini mungkin akan merepotkan bu Assyifa kembali disini."
"Tidak apa-apa Pak Sanjaya, biarkan Safira disini biar Askana pun mempunyai teman untuk mereka saling berbicara."
"Hanya kata terima kasih yang bisa saya ucapkan, saya pamit untuk pulang dulu. Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam!"
Pak Sanjaya berlalu pergi menaiki mobil-nya menjauhi pekarangan rumah Askana, ia sangat bersyukur Safira bisa memiliki sahabat baik seperti Askana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di apartemen milik Rafan terlihat Bunda Aulia sedang sibuk merapihkan diri untuk bersiap pulang kerumah-nya.
"Bunda yakin mau pulang saja? Padahal Rafan harap bunda bisa menginap lagi di apartemen Rafan."
"Lain kali bunda akan menginap lagi kesini, sekarang bunda harus pulang dulu karena bunda takut ayah sudah pulang terlebih dahulu, rasanya gak baik ketika ayah pulang bunda sedang tidak ada dirumah."
Rafan sangat mengerti akan bunda-nya yang selalu mementingkan kebutuhan suaminya sebagai bakti yang harus dilakukan seorang istri pada suaminya, selagi seorang suami masih dijalan yang benar, seorang isrti wajib mematuhinya.
Rafan sangat bersyukur memiliki bunda yang sangat baik dan pengertian yang selalu memberikan contoh yang baik kepada putra-putra-nya, Rafan begitu menyukai akan sikap bunda-nya iapun berharap ketika ia menikah nanti memiliki seorang istri yang sangat baik dan pengertian seperti bunda-nya.
"Kenapa malah ngelamun begitu Rafan! Nggak baik loh banyak melamun," ujar Bunda-nya sambil mengelus kepala Rafan.
"Rafan pengennya bunda masih nginep di sini! Rafan masih rindu bunda," ujar Rafan dengan wajah sendu-nya.
Tidak ada kata lagi yang bisa diucapkan untuk putranya, Bunda Aulia segera memeluk Rafan mengelus pundaknya dengan penuh kasih sayang, pelukan yang sangat nyaman membuat hati Rafa menjadi sangat tenang.
Cukup lama Bunda Aulia memeluk putranya ia segera meminta Rafan untuk mengantarkannya pulang kerumah, Rafan pun menyetujuinya.
"Don!" panggil Rafan pada sahabatnya, namun tidak ada jawaban. Rafan mencari keberadaan Doni ternyata ia sedang tertidur disofa. "Ni anak dicariin malah tidur lagi."
Rafan berniat untuk menjahili Doni, namun Bunda Aulia melarangnya.
"Kasihan dia, Fan! Bunda lihat kamu itu sering banget menjahili Doni."
"Marahin Bunda! Memang dia suka keterlaluan." Timpal Doni dengan suara seraknya yang tiba-tiba saja terbangun.
"Berisik lo, Don!" ujar Rafan sambil beranjak pergi meninggalkannya.
"Eeh..! Malah pergi dia."
"Kamu mau ikut nggak, Don! Nganterin Bunda?"
"Ikut dong, Bunda!" Doni pun berlari menuju kekamar mandi terlebih dahulu untuk membasuh muka-nya, setelah selesai ia segera menyusul Rafan dan juga bunda yang sudah menunggunya diluar.
"Lama banget sih lo, Don?"
"Lamaan nungguin lo disaat mandi!" ujar Doni sambil tertawa. Doni pun segera mengikuti Rafa dan Bunda masuk kedalam mobil, Rafan segera melajukan mobil-nya untuk mengantarkan bunda pulang kerumah-nya.
Ditengah perjalanan, bunda penyuruh Rafan untuk berhenti terlebih dahulu di supermarket karena ada kebutuhan rumah yang harus iabeli, Rafan menuruti perkataan bunda-nya iapun akhirnya menghentikan mobil-nya disalah satu supermarket terdekat.
Bunda Aulia pun turun dari dalam mobil Rafan ia segera masuk kedalam supermarket, Rafan hanya terfokus memainkan ponsel-nya saja, Doni menepuk-nepuk pundak Rafan sambil memberikan isyarat namun Rafan tak mempedulikannya, dalam pikirannya Doni hanya iseng-iseng saja.
"Sayang!" tak lama terdengar suara seorang perempuan memanggil dengan sangat mesra.
Rafan melirik keasal suara, iapun sangat kaget dengan sosok wanita yang sekarang sudah ada di hadapan-nya.
"Kamila!"
"Sayang! Ko kamu kaget gitu sih melihat ku?"
Rafan tak menjawab pertanyaan Kamila, ia merasa bingung dan takut kalau bunda-nya akan bertemu dengan Kamila, apalagi dengan gaya Kamila yang memakai baju ketat dan terbuka sehingga menampakan lekuk tubuhnya.
"Kamu ko diam saja sih, sayang?" ujar Kamila manja sambil merangkul pinggang Rafan.
Rafan yang merasa risih dengan segera melepaskan tangan Kamila dari pinggangnya, Doni pun ikut panik. Soalnya bunda Aulia tidak mengetahui hubungan Rafan dengan Kamila.