Yogyakarta selalu menjadi saksi hubungan percintaan seorang gadis bernama Clara Audra.
Perbedaan keyakinan, restu orangtua, dan perselingkuhan mewarnai perjalanan cintanya.
Kini hatinya tertambat pada sahabatnya sendiri, seorang arsitek tampan bernama Daniel Ararya.
Namun, masa lalu Ararya yang selalu hadir di tengah hubungan mereka, membuat Clara menaruh keraguan dengan apa yang telah ia jalani selama ini.
Gagalnya rencana pernikahan Ayu (sahabat perempuannya) karena sebuah perselingkuhan, juga menjadikan Clara semakin ragu untuk melangkah maju di detik-detik menuju pernikahannya dengan Ararya.
Akankah Ararya mampu meyakinkan hati Clara untuk sepenuhnya menerima dirinya menjadi pasangan hidup?
Ataukah Ararya akan kembali kepada masa lalunya dan menorehkan luka yang sama pada hati seorang Clara Audra?
Kisah ini diangkat berdasarkan dari beberapa kisah nyata serta dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon margaretha.chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih Bagas ! (3)
Lorong hotel tampak begitu sepi malam itu.
Hanya ada satu perempuan berambut panjang sebahu dan berkulit putih, tampak keluar dari kamar.
Ceklek..
Dugg..
Seorang laki-laki berbaju casual keluar dari kamarnya, sambil membawa handphone dan kunci mobil di kedua tangannya.
"Selamat malam Mas Bagas.." sapa perempuan yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya di tembok sebelah kamar lelaki itu.
Seketika laki-laki itu membalikkan langkahnya ke arah sumber suara yang ada di belakangnya, tentunya sangat tidak asing baginya.
Laki-laki itu hanya berdiri mematung dengan mulut terbuka namun tak bersuara.
Bagas
Ayu berjalan pelan ke arahnya sambil tersenyum tipis.
"Kenapa? Kaget aku ada di sini?" ucap perempuan yang merupakan calon istrinya saat ini.
Ia hanya mampu terdiam , tak bersuara, tak berkutik.
"Ada siapa di dalam sana?" ucap Ayu masih dengan nada pelan, sambil menunjuk pintu kamar itu dengan dagunya.
Ceklek..
Ada perempuan yang memakai hot pants dan tank top keluar dari kamar itu, sambil membawa dompet kartu kecil.
Mata Ayu seketika menatap tajam perempuan itu. "Benar dia Geya Permata !" gumamnya dalam hati.
Lalu pandangan matanya turun ke arah dompet yang digenggam oleh perempuan itu. Ia sangat mengenal dompet itu, dompet yang selalu ada di tangannya saat ia jalan bersama Bagas.
Geya juga berdiri mematung melihat lelaki yang tadi bersamanya kini sudah bersama Ayu di depan kamarnya.
Geya sangat tahu siapa Ayu dan apa hubungan mereka.
Dengan cepat Bagas mengambil dompetnya dari tangan perempuan itu.
"Udah kamu tunggu di dalam aja!" ucapnya sambil mendorong perempuan itu untuk masuk ke dalam kamar.
"Ayo kita ngobrol di tempat lain ya.." ajaknya sambil menarik tangan Ayu menuju ke lift.
"Tunggu sebentar, aku mau ambil tas aku, jangan buru-buru lah, santai aja. Kamu tunggu sini dulu " ucap Ayu tersenyum sambil mengibaskan tangan dengan pelan dari genggamannya dan berjalan menuju ke sebuah kamar.
Seketika matanya membelalak saat melihat calon istrinya masuk ke dalam kamar yang terletak persis berada di depan kamarnya.
Ayu sudah keluar kembali dari kamar itu dengan jaket dan tas selempang kecil.
................
Ayu
Ia memainkan handphone nya membuka salah satu aplikasi untuk share live location ke nomor Arya dan Clara selama beberapa jam ke depan.
Karena saat ini ia tidak tahu ke mana dirinya dan calon suaminya itu akan pergi. Lalu, ia memasukkan kembali handphone nya ke dalam tas. Dan berjalan mengikuti Bagas yang ada di depannya.
Mobil Bagas tampak ada di parkiran itu. Mereka berdua masuk, duduk, dan Bagas mulai menjalankan mobilnya keluar dari parkiran.
Kelihatannya mobil Bagas memang sudah menginap dan mungkin akan menginap dalam waktu yang lama, karena nomor mobil Bagas sudah didaftarkan sebagai tamu hotel menginap, agar bisa free parking.
Mobil outlander putih itu sudah membelah suasana malam kota Jakarta. Dan dua sejoli yang berada di dalamnya masih saling bungkam, tanpa ada yang membuka suara.
Bagas membelokkan setirnya ke sebuah hotel berbintang 4 yang juga masih berada di kawasan Jakarta Selatan.
"Kita ngapain ke sini?" akhirnya dirinya yang pertama kali membuka suara.
"Kita di sini malam ini." jawab Bagas singkat dengan suara pelan.
Ia lebih memilih menuruti apa yang diinginkan calon suaminya itu, kali ini ia tidak ingin berdebat apapun. Ia hanya ingin mendengarkan, mendengarkan semuanya dari awal sampai akhir.
................
Clara
"Mereka ke hotel ini yang, ngapain mereka malah ke hotel?" gumamnya sambil menyantap makan malam dengan tiga menu makanan, di mana salah satunya milik Ayu yang belum disentuh sama sekali, dan tentunya sudah lumayan dingin gara-gara kejadian tadi.
"Biarin aja, mereka mau nyelesain masalah di sana mungkin." ucap Arya santai, walaupun sebenarnya hatinya juga masih campur aduk saat ini.
"Ya tapi emang harus di hotel?" ucapnya bersungut-sungut.
"Ya mungkin kalau mau ngomong panjang lebar di malam hari gini, juga mau ke mana lagi. Lebih enak di hotel. Kalau di kos, mungkin Bagas nggak enak sama tetangga kamarnya, kalau sampai mereka ribut." jelas Arya, yang akhirnya mampu diterima oleh kekasihnya itu.
"Udahlah, Ayu akan baik-baik aja, Bagas juga nggak mungkin macam-macam. Tapi kalau masalah ending nya bagaimana ya itu hak mereka." imbuh Arya lagi, sambil menggenggam tangan Clara.
................
Bagas dan Ayu sudah memasuki salah satu kamar di hotel itu.
Bagas membuka pintu, lalu mempersilakan Ayu untuk masuk terlebih dahulu.
Ayu merebahkan dirinya di atas kasur empuk itu dengan kaki menjuntai ke bawah. Badannya terasa sangat lelah saat ini, begitu pula pikirannya.
Bagas
Ia melihat perempuan itu memejamkan matanya sebentar, wajah Ayu terlihat sangat lelah, matanya terlihat sembab, dan ia yakin itu pasti karena ulahnya.
Buku menu room service terlihat di atas meja, ia mengambilnya dan memberikan ke calon istrinya yang masih berbaring di kasur.
Ia sangat yakin Ayu belum makan, pasalnya saat ia datang sebelum masuk ke kamar Geya, ia melihat ada room service baru masuk di kamarnya.
"Kamu belum makan kan? Ini pesan dulu.." suaranya langsung membuyarkan pejaman mata Ayu.
Ayu mengubah posisinya, sekarang ia duduk di tepi ranjang, sambil membuka buku menu itu.
Ayu
Dirinya sadar hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, bahkan hubungannya pun sudah di ujung tanduk.
Tapi ia bukan perempuan bodoh yang akan meratapi kisahnya dengan malas makan atau hanya menangis saja.
Justru saat ini yang ia inginkan adalah makan, ia perlu ekstra tenaga untuk mendengarkan Bagas. Bualan atau kenyataan nantinya yang akan didengarnya, entahlah.
Bagas
Dirinya mengakhiri panggilan dengan room service yang akan melayani menu makanan mereka.
Ia berjalan menghampiri Ayu yang masih berdiam di tepi ranjang, ia sangat tahu perempuan itu menahan amarah dan tangisnya yang nantinya pasti akan meledak.
Itulah salah satu alasannya mengajak Ayu untuk bermalam di hotel saat ini. Hanya ini satu-satunya tempat yang mampu menjadi saksi bisu dari pertengkaran hebat mereka.
Ia berlutut di depan perempuan itu,
"Maafin aku yang.." ucapnya dengan nada penuh penyesalan.
Wajahnya ia benamkan ke dalam lutut calon istrinya itu, namun Ayu masih diam saja tak mengeluarkan respon apapun.
Matanya yang mulai memerah dan menahan air mata supaya tidak jatuh ke pipinya, mendongak ke atas menatap wajah Ayu yang juga membuang pandangannya ke arah sudut kamar itu.
"Yang, maafin aku, aku mohon...Aku mohon jangan tinggalin aku.." ucapnya dengan suara parau.
Air matanya sudah tidak mampu lagi ia bendung. Baginya ini pertama kalinya ia meneteskan air mata untuk seorang perempuan.
Hatinya benar-benar kacau, saat ini ia sangat takut, perempuan yang ada di depannya itu mengakhiri semuanya dan meninggalkannya.
Bagaimanapun Ayu sudah 3 tahun mengisi hidupnya. Mereka dulu bertemu saat ada meeting kantornya dari beberapa cabang.
Dulu mereka bernaung di bawah satu nama perusahaan perbankan, hingga akhirnya Ayu mengalah dan memilih untuk resign enam bulan yang lalu karena peraturan perusahaan yang tidak memperbolehkan sesama pegawai saling menikah.
Namun apa yang ia lakukan, dirinya malah menghancurkan hubungan yang telah susah payah ia bangun, hanya karena mantan kekasihnya yang tidak sengaja bertemu tiga bulan lalu saat acara reuni kampusnya.
......................
suka dech
sakha putra
reno-teman sakha
ardhana- kkak angkat Clara
narendra
arya
akeh e 😅
siapa ituuuuu,,,,,
jreng jreng jreeeeeeeeengggggggg😜😜😁😁
gooodds
gue suka gaya lo mas bro arya😜