Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Di dalam mobil Rania dan pria itu ngobrol santai karena memang pada dasarnya mereka udah kenal lama dan bisa dibilang cukup akrab. Jadi Rania gak ada rasa canggung sikit pun saat ngobrol dengan pria tampan itu.
"Kakak kok bisa lewat depan halte sih, kan kantor kakak gak arah sini" tanya Rania.
"Tadi tu kakak rencananya mau kerumah kamu, mau jenguk bunda. Kan udah lama juga kita gak jumpa karena kesibukan kakak ditambah lagi kakak kan kemaren ke luar negeri" jawabnya.
"Nah pas udah mau dekat rumah, kakak liat kamu lari larian ke arah halte. Yaudah kakak ikutin aja kamu, karena kakak udah nebak kamu pasti telat makanya lari larian gitu." sambungnya sambil menatap sekilas ke arah Rania dan tersenyum.
"Ooh gituu. Untung aja kakak liat aku, kalau enggak aku pasti masih di halte ni sekarang mondar mandir gak jelas."
"Emangnya kamu gak punya pacar yang bisa antar jeput kamu, ha?"
"Hehe..ada sih kak. Tapi dia juga pagi kerja jadi gak mungkin kan dia antar aku. Kalau pun dia mau aku pasti nolak, gak enak ganggu jam kerjanya" jawab Rania sambil tersenyum dan melihat keluar kaca.
Senyum pria itu seketika surut saat mendengar kalau Rania sudah punya pacar. Dia merasa hatinya sakit dan sedih mendengar hal itu. Karena dia sudah lama memendam perasaan pada Rania tapi dia terlalu pengecut untuk mengatakannya. Lagian dia pikir saat ini Rania masih sekolah, jadi dia berencana akan mengatakan pada Rania tentang perasaannya nanti saat dia sudah lulus sekolah. Tapi takdir berkehendak lain.
"Ooh..jadi kamu udah punya pacar ya. Masih kecil kok pacar pacaran sih" di netralkannya suaranya agar Rania tidak curiga.
"Hehe baru juga jadian kak. Belum ada 2 bulan deh kayaknya".
"Bunda tau kamu udah punya pacar?"
"hehe..belum sih kak. Rencananya aku mau kasi tahu bunda nanti pas udah lulus sekolah" Rania menggaruk kepalanya.
"Ya udah. Kamu jangan ke asyikan pacaran sampe lupa sama sekolah ya. Besok hari terakhir kamu santai kan, lusa udah ujian jadi harus rajin belajar" pria itu memberi nasehat pada Rania walaupun hatinya masih terasa perih.
"Dan yang paling penting, kakak gak mau liat kamu nangis cuma gara gara cowok. Kalau pacar kamu bikin kamu nangis, kakak gak akan segan merebut kamu dari dia" pria tampan itu mengatakan dengan tegas dan dari hatinya.
"Ha? Eh ii..iya kak. Dia orangnya baik kok kak..hehe" Rania canggung mendengar ucapan pria itu.
"Kakak serius Ran, kakak akan merebut kamu dari dia kalau dia berani nyakitin perasaan kamu ataupun kasar sama kamu."
Ciiit
"Udah sampe, turun gih masih ada waktu t menit lagi sebelum masuk" ucapnya setelah mereka sampai di depan sekolah.
Rania yang masih terbengong heran dengan ucapan pria itu seketika sadar dan langsung membuka seat belt. "Aduuh payah banget sih bukanya, kok macet sih kak" tangannya masih berusaha untuk membuka seat belt.
Rania menahan nafasnya tatkala pria itu mencondongkan badannya ke arah Rania. Mata mereka saling bertemu, Rania gugup berada di situasi seperti itu.
klik
"Udah tu. Kamu udah bisa bernafas sekarang" dia tersenyum sambil menggeleng melihat wajah Rania yang berubah memerah.
"Eh..mmmh..makasih ya kak" Rania pun bergegas turun dan berlari ke arah sekolah karena penjaga sekolah mulai menutup gerbangnya. Untung aja Rania tiba tepat waktu, kalau enggak pasti bakalan gak bisa masuk dia.
Pria itu terus memandang ke arah Rania dengan tatapan serius sampai Rania menghilang ke dalam sekolah. "Aku akan terus berusaha mendapatkan hati kamu Ran walaupun kamu udah punya pacar. Kalau dia berani nyakitin kamu, aku janji akan merebut kamu dari dia dengan cara ku sendiri. Selama kamu belum jadi istrinya, aku juga masih punya hak untuk memilikimu".
Setelah berbicara sendiri dia pun melajukan mobilnya ke perusahaannya sebelum ke rumah sakit. Karena selain CEO dia juga adalah seorang dokter spesialis.
Dikantor
"Aaakh siaaaal...ngapai Rania naik ke mobil tu orang. Apa mereka saling kenal? Gak mungkin mereka saling kenal karena yang gue tau selama ini dia di luar negeri. Aaaakh.." Hardin membanting barang yang ada di mejanya sampai berserakan kemana mana.
Ceklek
"Woi man lu kenapa ha? datang datang udah kusut aja tu muka. Berantem lu sama Rania?" tanya Harry yang langsung masuk ke ruangan Hardin setelah mendengar suara gaduh di dalam ruangannya.
"Bukan. Gue tadi liat Rania naik ke mobil cowok lain. Dan apa lu tau tu mobil punya siapa" jawabnya dengan nafas yang masih memburu karena marah.
"Ya mana gue tau, yang liat kan elu bukan gue..gimana sih lu"
"Mobil Andra maan mobil Andra. Aakh siaal banget sih ah" Hardin kembali emosi saat menyebut nama sahabtanya yang pernah menjadi rivalnya juga dulu.
"Lah terus ngapa? kok jadi lu yang marah"
Keplak!
Hardin melempar buku yang lumayan tebal kekepala Harry karena kesal dengan ucapan be** sahabatnya itu. Harry hanya bisa meringis sambil menggosok gosokkan kepalanya dengan tangan.
"Ya jelas gue marah lah ta*. Dia pasti berniat ngerebut cewek yang gue suka lagi. Kali ini gue gak bakalan ngalah sama tu kepa***. Gue gak bakalan ngelepasi Rania buat dia, Rania cuma punya gue!!"
"Eh tunggu, lu gimana ceritanya bisa mergokin mereka?"
"Haah...jadi tadi tu rencananya gue mau langsung kantor pagi pagi. Tiba tiba gue kepikiran sama Rania, makanya gue putusin sebelum ke kantor singgah ke rumah dia berharap dia belum berangkat sekolah jadi gue bisa anterin dia. Eh sebelum nyampe rumahnya gue ngeliat dia di halte lagi ngobrol sama orang yang di dalam mobil. Pas gue perhatiin gue kayak kenal sama tu mobil, dan gue yakin kalau itu mobil andra" dia mendesah frustasi dan menyapu rambutnya ke belakang.
"Lu udah coba tanya sama Rania tentang ini?"
"Ya belumlah. Dia pasti lagi belajar jam segini. Lagian gue mau dia yang ceritain ke gue tanpa harus gue tanya dulu. Gue mau tau dia jujur ke gue gak" ujar Hardin sambil menatap keluar jendela.
"Ya gak bisa gitu juga kali man. Lu punya hak kok buat nanya ke dia daripada lu uring uringan kayak gini. Kali aja kan mereka emang udah saling kenal atau mungkin mereka sodaraan." Harry mencoba memberi pengertian pada Hardin karena dia tahu sahabatnya itu sangat posesif dan juga keras kepala.
Hardin tidak memperdulikan ucapan Harry. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya.